
"Astaga.....apa aku sedang bermimpi? Apa benar yang dikatakan Nazli tadi? Alea mencintaiku...." Abrar terus saja mengulum senyum sejak tadi.
Ia masih fokus menyetir menuju arah rumah mertuanya, ia pikir Nazli benar bisa saja Alea pulang kesana karena kejadian hari ini.
"Maafkan aku Alea, aku memang pria pengecut lagi bodoh. Aku bahkan tidak peka terjadap perubahan sikap dan penampilanmu akhir-akhir ini jika dirumah" Abrar sesekali mengepalkan tangannya geram sendiri akan sikap bodohnya selama ini.
Abrar memarkirkan mobilnya dihadapan rumah mertuanya, namun ia heran tidak ada mobil Alea disana.
Abrar turun dari mobil, ia menghampiri Delila yang tengah duduk di teras rumah sambil membaca buku.
"Bang Abrar? Datang sendiri? Mana kak Alea?" tanya gadis itu.
"Apa kakakmu tidak kemari?" tanya Abrar heran, ia mulai gusar.
"Tidak....memangnya ada apa? Kenapa abang tidak tahu istrimu kemana, apa sudah dihubungi?"
"Ponselnya mati, baiklah Delila....abang rasa dia sudah pulang kerumah, maaf mengganggu, jangan bilang jika abang kemari pada papa dan mama" ucap Abrar bingung.
"Kenapa? Apa kalian bertengkar?"
"Tidak....kami baik, bahkan sangat baik sekarang, abang pamit ya" jawab Abrar dengan cepat dan segera berlari ke arah mobilnya kembali.
Meninggalkan sebuah tanya bagi adik iparnya yang masih mematung kebingungan.
"Aku rasa mereka memang bertengkar, astaga....aku harus bilang mama tidak ya?"
*****
Pada kenyataannya Alea pulang ke rumah mereka sendiri, gadis ini langsung mengurung diri dalam kamar mandi.
Alea menumpahkan tangisnya disana, dibawah guyuran shower yang membasahinya. Ia menangis terisak dan sesekali meraung agar melepas sesak di dadanya mengingat Abrar masuk kamar hotel bersama sekretaris seksi itu.
Lelah menangis, Alea mandi dan berendam dalam bathup agar lebih tenang, setidaknya sedikit membantu melegakan perasaannya walau sementara.
Alea menyelesaikan ritual mandinya, ia memakai handuk kimono seperti biasa, ia menatap wajahnya di cermin.
"Aku memang menyedihkan, bahkan dia belum pulang hingga sekarang, apa mereka benar-benar bercinta? Oh tidak.....aku tidak mau suamiku dicicipi wanita lain" kembali Alea menghentakkan kakinya dilantai dengan geram
"Awas saja kau bang Abrar, akan ku adukan ke papaku....biar kau dibunuh sekalian, aku tidak bisa lagi menahannya" Alea berjalan membuka lemarinya, ia mengeluarkan koper dan mengisi semua pakaiannya dengan perasaan tidak menentu.
Ia berniat akan kembali ke rumah orangtuanya.
"Ayo kita akhiri drama ini bang Abrar, aku sudah tidak tahan akan ku adukan juga ke papa Ricko awas saja kau, biar kau dibunuh oleh papaku dan papa Ricko" Alea terus saja meracau tidak jelas sambil terus mengeluarkan isi lemarinya.
"Tapi....jika bang Abrar mati, aku bagaimana? Aaaa....aku tidak mau jadi janda" rengek Alea bicara pada dirinya sendiri.
Tanpa ia sadari, Abrar tersenyum-senyum mendengar celotehan gadis itu dari ambang pintu, iya Abrar mendengar semuanya, pria ini benar- benar bahagia bagaimana kesabarannya menunggu balasan cinta dari Alea akhirnya terjawab sudah.
"Benarkah?" jawab Abrar sambil berjalan mendekat.
Alea terkejut, bagaimana bisa Abrar sudah berada dikamarnya saat ini.
"Bang Abrar?" Alea tercekat.
"Kenapa? Kenapa tidak kau saja yang membunuhku sekarang?" ucap Abrar kembali dengan raut sulit diartikan.
"Huh....kau menyebalkan, abang jahat padaku, pasti kau sudah menghapus jejak wangi perempuan itu kan?" Alea kesal ia mencium badan Abrar mencari sisa wangi wanita dari hotel yang ada dalam pikirannya namun tidak ada wangi parfum wanita dipakaian Abrar.
__ADS_1
Abrar kembali tersenyum.
"Kau bercinta dengan sekretaris sialan itu, kau mengabaikan istrimu bahkan kau sama sekali belum menyentuhku, aku muak padamu bang Abrar, kau lelaki jahat...." Alea kembali menangis sambil memukul dada Abrar.
Abrar menangkap tangan Alea, dan pria ini masih diam dan sangat menikmati curahan hati Alea yang semakin membuatnya gemas.
"Kau jahat....tapi aku mencintaimu, aku mencintaimu bang Abrar, tidakkah kau sadar itu, kau menyebalkan, mari kita akhiri saja drama ini, aku akan pulang ke rumah orangtua ku, jadi kau bisa bebas bersama wanita lain yang kau sukai, kau memang hanya menganggapku saudara saja bukan, baiklah mari kita bersaudara saja setelah ini" ucap Alea sendu sambil menunduk, namun tanpa ia sadari ia terus berjalan mundur karena Abrar terus mendekatinya hingga mencapai dinding.
Sampai Abrar mengunci pergerakan Alea, gadis itu tidak berusaha menghindar, ia hanya merasa gugup yang luar biasa mendapat tatapan dan nafas hangat Abrar yang menerpa diwajahnya yang hanya berjarak tidak sampai sepuluh senti saja.
"Coba kau ulangi ucapanmu?"
"Ucapanku yang mana? Aku akan pulang ke rumah orangtuaku?" tanya Alea polos.
"Bukan" jawab Abrar yang masih tidak bisa menyembunyikan raut bahagianya.
"Terus yang mana? Bicara yang jelas, apa kata mari kita akhiri saja drama ini?"
Kembali Abrar menggeleng.
"Lantas kataku yang mana yang perlu ku ulangi? Atau kata-kata aku mencintaimu?" tanya Alea kesal.
Abrar sudah tidak bisa menahannya, istrinya memang sangat menggemaskan, ia meraih wajah Alea dengan lembut, ia membenamkan bibirnya disana yang mana membuat Alea melebarkan mata.
Dengan degup jantung yang bersahutan, Abrar tidak melepas tautan bibir mereka, ia sungguh gila hanya dengan ciuman saja.
Pun Alea, gadis ini tidak berkutik, ia membuka mulutnya agar Abrar bebas mengakses isinya.
Alea bahkan melingkarkan kedua tangannya memeluk Abrar, sampai mereka sama-sama susah bernapas dan Abrar melepasnya dengan pelan.
Tangan pria ini mengusap bibir Alea lembut dengan tatapan penuh cinta.
Alea terdiam, ia mencari kebenaran lewat manik mata suaminya.
"Abang mencintaiku?"
"Bahkan sejak kau SMP" jawab Abrar tersenyum.
"Apa? Apa itu artinya perempuan yang kau cintai selain mama Bella adalah aku?" tanya Alea yang meneteskan airmata.
Abrar hanya mengangguk pelan.
"Kau benar-benar jahat bang Abrar, kenapa tidak bilang....lantas kenapa bisa kau dikamar hotel dengan nona Gina?" Alea kembali kesal akan hal itu.
"Kau salah paham sayang, aku meeting dengan klien ku dari Jepang tuan Nakagami, beliau sedang sakit ketika sampai disini jadi kami terpaksa meeting di kamarnya, kau saja yang salah artikan" jawab Abrar.
"Astaga...maafkan aku, aku kembali terlihat bodoh bukan?" Alea kembali mengerucutkan bibirnya kedepan.
"Aku mencintaimu Alea, sangat mencintaimu jadilah milikku selamanya, aku ingin menua bersama mu....maaf aku telat mengatakannya, aku memang pria pengecut"
"Iya....tapi aku sungguh mencintai pria pengecut ini" jawab Alea yang langsung kembali meraup bibir suaminya dengan mesra.
Mereka berciuman lumayan lama, dengan napas sama-sama memburu dengan tubuh kian menempel, Abrar menggiring tubuh Alea ke arah ranjang.
"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Abrar ketika mereka sudah sampai ranjang dengan tubuhnya setengah menindih Alea.
"Kau terlalu banyak basa basi bang Abrar, aku istrimu....tubuh ini milikmu seutuhnya, kau saja yang membuatku menganggur selama ini" jawab Alea mengusap bibir Abrar pelan dengan tatapan penuh cinta.
__ADS_1
Abrar tidak bisa berkata-kata lagi, setelah Alea dengan berani membuka kancing kemeja pria itu dengan lembut sambil terus menautkan bibir mereka.
Mereka terlarut dalam perasaan yang sama hingga mereka benar-benar menyatu seiring mengalirnya airmata Alea karena menahan sakit akibat melepas mahkota yang ia jaga selama ini.
Alea bersyukur bahwa ia telah menjadi perempuan yang sesungguhnya malam ini dimana ia menyerahkan diri pada pria yang menjadi suaminya dengan sepenuh hati.
Setelah sama-sama basah oleh peluh tubuh mereka, entah berapa lama mereka menyatu dalam keheningan malam itu hanya suara derit ranjang dan desah-desah seksi dari bibir Alea yang menghiasi kamar yang sudah berantakan oleh pakaian dan koper yang terabaikan sejak tadi.
Abrar menyelesaikan permainannya dengan memberi kecupan hangat di kening Alea.
"Terimakasih sayang....kau menjaganya dengan baik" ucap Abrar dengan napas yang masih terengah.
Alea hanya mengangguk pelan, Abrar ingin melepaskan diri namun ditahan oleh istrinya.
"Jangan dilepas, biarkan saja seperti ini aku menyukainya" ucap Alea tanpa malu-malu.
Abrar terkekeh mendengarnya.
"Apa kau mulai tergila-gila padaku karena ini?"
"Iya...aku akan menggilainya setiap hari" jawab Alea seraya menantang.
"Astaga....istriku pandai menggoda, tapi pasti masih sakit sekarang?"
"Iya....sungguh sakit, tapi aku menikmatinya, aku tidak mau menyia-nyiakan malam pertama kita, ini hanya terjadi sekali seumur hidupku..." jawab Alea mengecup bibir Abrar lembut.
Abrar tidak bisa berkata-kata, ia membalikkan posisi Alea diatas, karena ia tidak ingin istrinya merasa berat oleh badannya jika tetap menyatu.
"Apa kau pernah meniduri wanita lain?" tanya Alea dengan leluasa membelai wajah suaminya.
"Jangan asal bicara sayang, aku masih perjaka tidakkah kau merasakannya?"
Alea terkikik geli.
"Bagus....aku tidak tahu apa yang akan ku lakukan padamu jika kau sudah tidak perjaka lagi, tidak adil bagiku yang masih perawan ini"
"Astaga....aku bisa gila" Abrar berdecak gemas dengan apa yang dibicarakan istrinya.
Alea mencium bibir suaminya lagi dan lagi hingga ia merasakan gairah keduanya kembali.
"Ingin melanjutkannya lagi?" tantang Alea dengan sedikit memberi rangsangan pada Abrar.
"Kau benar-benar nakal" jawab Abrar sambil membalikkan posisinya seperti semula yang Alea kembali terhimpit badan besarnya.
"Ayo bertaruh....siapa yang tidak bisa berjalan besok?" tantang Alea seraya berbisik dengan mesra.
"Bersiap untuk ronde berikutnya?" jawab Abrar menggoda.
"Kau terlalu banyak bicara sayang" Alea langsung memulainya dengan menautkan bibir mereka kembali.
******
ayo kurang apalagi? episodnya panjang kan...puas deh bacanya sambil meram melek.
hi hi hi auto nyari suami abis baca ini.
ayo bertaruh siapa diantara mereka yang ga bisa jalan besok?
__ADS_1
jangan lupa jejaknya yaaaa.