Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 56


__ADS_3

Dannis melanjutkan perjalanan menuju rumah orangtua nya, ia tidak banyak bicara setelah dari pemakaman begitupun dengan gadis di sebelahnya.


Nara hanya diam menatap ke arah luar jendela mobil, pikirannya melayang entah kemana.


Dannis sesekali melirik Nara sekilas, ia heran gadis itu hanya diam saja sejak tadi.


"Apa kau ingin membeli sesuatu?", tanya Dannis basa basi membuka obrolan.


Nara menoleh dan menggeleng pelan.


"Kau kenapa? apa kau belum makan? kita bisa makan dulu sebelum sampai rumah mama", ajak Dannis.


Namun lagi-lagi Nara menjawab hanya dengan gelengan kepala.


"Setidaknya kita harus beli sesuatu jika berkunjung ke rumah orangtua ku", ucap Dannis kesal.


"Terserah kau saja tuan, aku menurut saja", jawab Nara pelan dengan tatapan kosong.


"Kau kenapa? apa kau sedang cemburu?", tanya Dannis begitu enteng.


Nara menelan ludah mendengarnya, ia menoleh dengan mata kecilnya menatap Dannis tak kalah kesal.


"Tidak, kenapa aku harus cemburu pada sebuah makam, lagipula aku tidak berhak cemburu pada siapapun", jawab Nara polos.


Dannis terkekeh.


"Bukankah aku suamimu?".


"Iya, suami di atas kertas aku tidak akan lupa tuan".


"Bagus..... aku kira kau lupa", ucap Dannis bercanda.


Namun tidak bagi gadis itu, ia menganggapnya serius kemudian mereka kembali hening hingga mobil yang mereka kendarai sampai pada rumah besar tempat orangtua Dannis tinggal bersama adik-adiknya.


Mereka di sambut dengan hangat oleh keluarga yang sudah lama tidak bertemu, lama bercengkrama saling bertukar kabar, akhirnya Dannis pamit dan menjelaskan niatnya untuk meninggalkan Nara di sana selagi ia pergi untuk menghadiri reuni akbar sekolah SMAnya.


Mama El sudah menawarkan agar Nara ikut dengan suaminya, namun tentu saja Nara menolak karena tidak berani sebab pria itu tidak pernah berbasa basi untuk mengajaknya pergi.


Sheira senang bisa kembali bertemu dengan ipar kesayangannya itu, gadis ini baru saja turun dari kamarnya.


"Nara?", panggil Sheira kegirangan.


Mereka berpelukan lama, Sheira menarik tangan Nara menuju tempat lain dari jangkauan orangtuanya.


"Hei kita seperti sedang punya rahasia saja, kenapa menjauh Sheira?", tanya Nara heran.


"Iya, kita memang selalu punya rahasia Nara, aku begitu cemas ketika mengetahui kak Reno adalah mantan tunanganmu, maafkan aku Nara.... aku yang memberitahu kalian menikah, aku tidak tahu tentang kalian sebelumnya sampai mama menjelaskan padaku", ucap Sheira panjang lebar.


Nara menarik napas dalam ia sudah menduga bahwa Reno mengetahui kebenaran pernikahannya dari Sheira.


"Iya, aku rasa kau bisa menebak apa yang terjadi, Reno memukul kakakmu tempo hari", jawab Nara jujur.


"Maafkan aku Nara, tapi kak Reno pasti akan mengetahuinya juga nanti dari pada dia mengetahui saat kalian resepsi lebih baik tahu sekarang bukan? setidaknya dia tidak akan membuat kekacauan pada saat kalian di pelaminan", ucap Sheira tertawa.


Nara hanya tersenyum tipis mendengar kata pelaminan, iya tahu setelah Sheira menikah nanti maka tidak jauh berselang akan diadakan resepsi pernikahan nya seperti pada rencana awal mama El.


Namun entah mengapa Nara mulai meragukan langkahnya sejak dari pemakaman, tidak tahu apa ia merasa cemburu atau tidak namun perasaannya menjadi sedih saat melihat Dannis begitu manis menaruh mawar merah tanda cinta mendalam pria itu terhadap makam kekasihnya.


"Nara", kejut Sheira heran.

__ADS_1


"Ah iya kenapa?", tanya Nara berbalik.


"Kau yang kenapa Nara? kau melamun".


"Tidak.... baiklah kau ingin mengatakan apalagi? ayo kita bergabung bersama mama", ajak Nara lagi.


"Oh iya, aku lupa kenapa kau kemari? bukankah hari ini kak Dannis ke reuni SMA kami dulu, kenapa kau tidak ikut saja?".


Nara menggeleng.


"Tidak.... aku tidak ingin ikut, nanti kakakmu merasa tidak nyaman pergi bersamaku, terlebih tidak ada yang mengetahui pernikahan kami".


"Tidak boleh seperti itu Nara, kau harus ikut suamimu. Kalian juga akan melakukan resepsi nantinya setidaknya berkenalanlah dengan para teman-teman suamimu di sana".


Nara menggeleng lagi.


"Huh....baiklah jika kau tidak ingin pergi bersama kak Dannis, bagaimana jika kau pergi bersama ku saja?".


"Pergi kemana?", tanya Nara polos.


"Ke reuni tersebut sayang.... kau pikir kemana lagi?".


"Apa kau juga di undang?".


"Nara, asal kau tahu itu acara reuni akbar yang artinya reuni para alumni beberapa angkatan sekaligus termasuk angkatan ku juga", jelas Sheira.


Nara terdiam, ia sungguh tidak ingin pergi ia takut Dannis akan marah jika melihatnya di sana.


"Ayolah, aku memaksa dan tidak menerima penolakan, kita bisa jadi mata-mata suamimu, dia banyak pengagum saat SMA dulu, kau harus tahu pergaulan suamimu oke".


"Sayang sekali kak Alea tidak bisa ikut, Azzam sedang sakit jika tidak kita bisa pergi bersama", ucap Sheira lagi.


Nara masih diam dan belum mengiyakan ajakan iparnya itu.


Nara menghentikan langkah.


"Tapi Sheira, kau tahu aku tidak punya baju bagus nanti kau malu pergi bersamaku".


"Tenanglah kita bisa membelinya sebelum ke hotel, aku berlangganan di butik tidak jauh dari hotel, kau bisa langsung bersiap dari sana", ucap Sheira enteng, membuat Nara menghela napas dan kembali hanya bisa mengangguk.


******


Dannis dengan enggan menceritakan tentang pernikahannya pada Alan sebelum mereka pergi ke acara.


"Oh aku tidak percaya ini teman, aku kira bibi Eliana hanya mengerjaiku saja kemarin", ucap Alan terperangah saat Dannis mengiyakan kebenaran itu.


"Seperti yang ku katakan, itu hanya pernikahan di atas kertas saja, tidak lebih", jawab Dannis datar.


"Tetap saja itu pernikahan teman, tapi aku heran kau menurutinya begitu saja, aku penasaran siapa wanita itu".


"Kau tahu orangnya", jawab Dannis malas.


"Aku tahu? apa maksudmu? siapa dia? apa salah satu teman kita?", tanya Alan penasaran.


"Kau bisa melihatnya jika kau berkunjung ke rumah ku, aku tidak keberatan pula jika kau ingin mendekatinya", jawab Dannis santai.


"Apa benar kau sama sekali tidak tertarik padanya? namun kalian menikah, ini benar-benar konyol dan apa katamu? apa kau sedang menjual istrimu Dannis?", Alan kembali geleng kepala.


Dannis hanya menghardikkan bahunya saja, "Jika kau bisa membelinya silahkan saja", jawab Dannis terkekeh.

__ADS_1


"Kau benar-benar pria gila Dannis".


"Aku hanya bercanda bodoh, jika suatu saat aku tak juga bisa membuka hati aku rasa aku akan melepaskannya bukan menjualnya".


"Sudah berhenti membahas hal yang tidak penting, ayo sekarang saatnya bernostalgia acaranya akan dimulai tidak lama lagi", ajak Dannis menyudahi pembicaraan mereka sore itu.



Dilain tempat, Sheira sudah berada pada sebuah butik langganan kakaknya Delila ketika masih tinggal di kota yang sama.


Pada kenyataan bahwa selera Sheira dalam berpenampilan sama dengan kakaknya Alea meski feminim namun keduanya tidak berlebihan dalam bergaya, berbeda dengan Delila yang punya selera tinggi dan semua hal tentang penampilan ia tidak ingin ada minus sekecil apapun dan harus selalu sempurna bak seorang artis ternama yang serba memakai barang mewah, tidak heran ia dijuluki princess Syahrini nya keluarga pasangan Eliana Kemal.


Di butik yang sekarang Nara dan Sheira berada itulah menjadi salah satu butik langganan anak perempuan Kemal yang sekarang telah menikah dengan seorang dokter TNI dan ikut suaminya dibelahan pulau Kalimantan.


Nara menelan ludah ketika memasuki butik besar yang ia yakini adalah tempat belanjanya para orang kaya.


"Ayo", ajak Sheira menarik tangan Nara yang enggan masuk sejak mereka turun dari mobil.


Mereka baru saja akan memilih-milih, tidak sengaja mereka bertemu seseorang di sana.


"Sheira kau di sini?".


"Oh kak Nesya? kau juga di sini? iya aku bersama Nara", jawab Sheira seraya ekor matanya mengarah pada seorang yang sedang mencoba beberapa gaun didampingi pramuniaga butik itu.


"Oh....", Nesya hanya ber oh ria menatap punggung Nara dari jauh.


"Kau kenapa kemari? apa kau juga akan belanja dan bersiap dari sini untuk acara kita nanti?", tanya Sheira.


"Iya kau benar sekali, aku kemari untuk itu", jawab Nesya penuh arti.


Nesya pun langsung meneruskan niat memilih pakaian yang akan menjadi penampilannya di acara reuni itu.


Sheira sibuk dengan ponselnya, membuat Nara heran dan mendekati iparnya itu.


"Ada apa Sheira?".


"Oh sayang maafkan aku, sepertinya aku tidak jadi pergi Iqbal menghubungi ku orangtuanya baru saja sampai dan kami harus menjemputnya di bandara, aku mengira mereka akan sampai nanti malam tidak tahunya sekarang", sesal Sheira.


"Tidak apa, ayo pulang saja jika begitu".


"Tidak, aku akan mengantarmu saja ke hotel di sana kau bisa bersama kak Dannis saja oke".


Nara menggeleng.


"Aku ingin pulang saja, aku malu di sana bukan tempatku Sheira".


"Di sana ada suamimu, kau harus mendampingi kak Dannis tidak boleh tidak, aku ingin kak Dannis mengenalkan mu pada teman-temannya di sana", bujuk Sheira lagi.


"Dia bisa pergi bersamaku Sheira jika kau sedang terburu", Nesya datang menyela pembicaraan mereka seraya melirik Nara penuh arti.


Gadis itu menguping percakapan antara ipar tersebut.


"Oh terimakasih banyak kak Nesya, kalian bisa pergi bersama jika begitu, aku akan pergi sekarang, ini kartuku kau bebas memilih yang mana Nara buatlah dirimu cantik dengan memakai pakaian dari butik ini, kau tidak boleh menolak", paksa Sheira memberikan sebuah kartu di tangan iparnya.


Nesya mengangguk pasti seakan ikut memberi dukungan, membuat Nara tidak bisa berkata-kata lagi.


"Ayo ku bantu kau memilih, ini tidak cocok untuk mu.... kau harus terlihat lebih istimewa jangan lupa kau harus berpenampilan baik disaat bertemu para teman Dannis di sana", ajak Nesya menarik tangan Nara berniat mengganti gaun sederhana pilihan gadis polos itu.


####

__ADS_1


Jadi terjawab ya sayang yang pernah tanya si inces Delila kemana, dia sudah ikut suaminya hijrah ke pulau kalimantan, suaminya seorang dokter TNI.


Lanjut ya.... kira-kira si Nesya tulus ga ya?????


__ADS_2