Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 91


__ADS_3

Nara memejamkan matanya saat mendapat pelukan hangat meski mereka tengah basah dan kedinginan.


Tangannya tergerak ingin membalas pelukan Dannis, namun urung ketika menyadari bahwa mereka bukanlah siapa-siapa sekarang.


"Tuan Dannis, maaf bisakah kau melepas ku? aku mohon jangan seperti ini".


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu lagi tidak akan pernah", jawab Dannis terdalam, pria itu masih memeluk Nara erat.


"Apa? tuan Dannis jangan bercanda, ayo kita bisa bicara baik-baik jangan peluk pelukan di sini malu dilihat orang", ucap Nara lagi berusaha melepas paksa namun sungguh Dannis memeluknya hingga terkunci.


"Aku tidak peduli".


"Huh..... tuan Dannis kau ini kenapa? ayo lepaskan aku".


"Tidak mau", jawab Dannis lagi menatap wajah Nara yang tampak bingung, namun kedua tangannya masih melingkari tubuh mungil Nara.


Nara membalas tatapan elang milik Dannis yang menyiratkan seribu makna.


"Tuan kau kenapa? apa kau sedang sakit?", tanya Nara kesal, ia berusaha melepaskan tangan Dannis dari pinggang nya, namun tentu saja sia-sia.


"Tidak, aku tidak akan melepaskan mu sekarang bahkan selamanya".


Dannis tersenyum, sungguh hatinya berbunga mendengar suara istrinya itu, bahagia Dannis sungguh bahagia akan pertemuan yang telah lama ia angankan.


"Apa kau sudah gila? apa kau tidak malu memeluk jandamu sendiri? ayo lepaskan aku, asal kau tahu tuan Dannis aku bukan janda murahan", Nara memukul dada Dannis dengan geram.

__ADS_1


Sungguh Dannis menikmati pemandangan wajah marah Nara yang menggemaskan yang telah lama tidak ia jumpai.


"Kau tidak akan menjadi janda sayang".


"Apa? sayang? tuan Dannis sadarlah? aku bukan nona Naya atau nona Nesya aku rasa kau sedang mabuk, aku Nara Nara Khinara....", bentak Nara kesal, ia mengira Dannis sedang bercanda sekarang.


"Berhenti mengoceh", jawab Dannis meraih wajah cantik istrinya mengecup bibir Nara dengan lembut, penuh perasaan, benar saja Dannis merasa sangat gila sekarang.


Nara mendapat kecupan itu membesarkan matanya terkejut, jantungnya benar-benar ingin lepas dari dada.


Dannis hanya mengecup meski cukup lama, ada pesan rindu tersirat di sana hanya saja Nara belum bisa mengartikannya.


Pria itu melepas bibir Nara lalu mengusapnya pelan dengan ibu jari, tatapannya tidak terputus, sungguh Dannis menyerah pada Nara, benar-benar bertekuk lutut akan perasaannya pada perempuan itu.


"Tuan Dannis, jangan seperti ini..... jangan membuat perasaan ku maju mundur, sadarlah aku ini Nara bukan perempuan yang kau cintai, bukan pula istrimu yang menyebalkan itu", ucap Nara menatap jelas manik hitam milik Dannis.


Dannis menggeleng.


"Kau benar-benar membuatku gila Nara", lalu Dannis mengecup lagi bibir Nara, perempuan itu marah, ia ingin berkata namun Dannis kembali membungkamnya dengan kecupan-kecupan kecil lagi dan lagi.


Membuat Nara benar-benar marah akan hal itu.


"Tuan Dannis, hentikan kenapa menciumku? Bagaimana jika ada yang lewat, ya ampun kenapa aku bertemu pria gila seperti mu di sini", bentak Nara memukul lengan Dannis.


Pria itu terus saja tersenyum.

__ADS_1


"Lepaskan aku".


"Tidak akan".


"Tuan Dannis, aku mohon.... kita bisa bicara baik-baik jangan seperti ini, aku bukan nona Nesya sadarlah.... sadarkan dirimu, aku bukan istrimu", ucap Nara berulang kali.


"Aku bukan majikanmu, berhenti memanggilku tuan.... aku suamimu, juga jangan sebut wanita lain saat kita berdua".


"Aku rasa kau tidak gila tapi hilang ingatan, kita sudah bercerai tuan Dannis apa kau lupa? nona Nesya tentu dia yang jadi istrimu sekarang bukan?".


"Nesya? istriku? Nara, aku yang gila atau kau yang hilang ingatan? istriku adalah kau, Khinara Aldaniah saja bukan Nesya atau yang lain dan tidak akan ku ganti sampai kapan pun", Dannis terkejut mendengar pernyataan Nara tentang Nesya.


Nara terdiam, ia menajamkan pendengarannya saat ini.


"Apa? apa maksudmu tuan Dannis?".


Dannis menangkup wajah Nara dengan kedua tangannya.


"Kita tidak berpisah, dan tidak akan pernah.... aku bahkan enggan ucapkan kata laknat itu, kau istriku masih istriku dan akan selalu seperti itu sampai kita tua nanti", jawab Dannis serius.


"Apa? tuan Dannis jangan membuat ku bingung. Ayolah jangan bercanda".


"Aku tidak sedang bercanda Nara, kita masih suami istri.... aku bahkan menantikanmu dalam tiga bulan ini setiap hari aku kemari mencarimu, menunggu mu, sekarang kau di hadapan ku dan tidak akan ku lepas lagi, tidak akan pernah", jawab Dannis yakin.


Nara tercengang, ia bingung sungguh bingung.

__ADS_1


__ADS_2