
...Selamat membaca πΈ...
...π§π§π§...
"Kamar sebelah tumben dibuka pintunya ma. Rapi lagi. Mau dipakai apa?" tanya Dion pagi itu di sela sarapan bersama keluarga.
"Kamar Hana. Mama sengaja minta si mbak siapin kamar di sana saja. Kasihan kan kalau harus menempati kamar tamu di atas. Kondisi hamil muda begitu gak baik naik turun tangga." jawab mama Herna.
"Tapi,,,"
Dion berusaha menyela tapi tangan Karin menghentikannya. Gelengan kepala Karin juga menegaskan untuknya tidak membantah lagi. Masih terlalu pagi untuk ribut atau adu pendapat dengan mama Herna.
"Baiklah. Mama atur saja. Yang jelas Dion gak mau keberadaan Hana di sini dilebih lebihkan. Dia hanya tamu di sini. Titik."
"Mana bisa begitu? Hana itu bukan tamu Dion. Hana itu,,,"
"Sayang. Antar om papa ke depan yuk. Udah waktunya om papa berangkat kerja. Ada meeting pagi hari ini jadi om papa gak mau terlambat."
Tanpa bermaksud bersikap tidak hormat pada mama Herna, Dion memotong bicara mama Herna dengan cara bicara pada Karin.
"Iya om papa. Karin antar. Pa,,Ma,, Karin antar om papa ke depan dulu ya." pamit Karin kemudian.
Baik papa Hengki dan mama Herna hanya mengangguk saja karena papa Hengki tengah menyeruput kopinya dan mama Herna memangnya bisa apa lagi selain mengangguk?
Meski kesal,,, Karena alasan Dion pergi dan menghindar dari pembahasan itu adalah untuk kepentingan kerja, maka mama Herna pun kalah. Tau betul sifat putranya kalau urusan kerjaan jangan diganggu gugat.
"Om papa. Lain kali jangan begitu dong. Kan gak sopan namanya sama mama." tegur Karin sambil mereka berjalan menuju ke pintu depan.
"Mama udah keterlaluan sayang. Ya masak iya sih dia suruh Hana tidur di kamar sebelah. Sengaja banget deh si mama. Om papa kesal saja."
"Kan mau mbak Hana di kamar mana pun kita sudah sepakat untuk tidak akan menganggapnya penting. Selama hati om papa teguh,,, sekali pun mbak Hana di kamar kita, tidak akan terjadi apa apa." ucap Karin.
"Karin tuh gak mau kalau gara gara ini hubungan kita sama mama jadi terganggu."
__ADS_1
"Sayang,,," Dion menghentikan langkahnya, bergeser ke depan Karin, memandangnya lekat lekat dan memegang kedua bahu Karin.
"Mama itu udah nyakitin kamu dengan memaksakan keberadaan Hana di antara kita. Tapi kamu masih saja menempatkan mama di posisi terbaiknya. Om papa hanya heran,,, terbuat dari apa hati kamu ini sayang? Om papa jujur malu sama kamu. Om papa gak bisa berikan mama mertua yang baik lahir batinnya untukmu." ucap Dion.
"Husst,,, gak boleh ngomong gitu om papa." Karin meletakkan telunjuknya di bibir Dion.
"Bagaimana pun juga,, mama itu tetap yang terbaik. Ini hanya bagian dari ujian kesabaran dari tuhan untuk Karin. Kalau Karin lulus ujian,, Inshaallah ke depannya jalan Karin akan lebih dipermudah menghadapi ujian ujian berikutnya. Karin harap om papa tidak pernah merasa malu atau bersalah pada Karin. Percayalah,,, sejauh ini om papa adalah suami terbaik."
"Dan inshaallah akan selalu jadi yang terbaik untukmu sayang. Papa terbaik juga untuk baby D dan baby baby kita selanjutnya." bisik Dion nakal.
"Memangnya mau nambah lagi??" Karin mengerutkan dahinya.
"Jelas dong. Gak akan om papa kasih itu rahim istirahat sampai om papa yang loyo sendiri." tegas Dion.
"Jahatnyaaaa,,,," sungut Karin sambil mencubit pinggang Dion.
"Adududuuuuhhh,,," Dion kelojotan.
"Katanya buru buru ada meeting. Kok masih cekikikan saja di sini?" tegur mama Herna sedikit terdengar memprotes.
"Ini juga udah mau berangkat ma." sahut Dion sambil meraih tas kerjanya dari tangan Karin.
"Berangkat kerja apa saling menggoda?" sungut mama Herna.
"Keduanya ma. Mama ini lagian kayak gak pernah lihat Dion godain Karin saja. Ingat ma,,, Menggoda istri itu salah satu yang disunahkan oleh nabi lho. Jadi mama jangan suka protes. Anak mau cari pahala kok diprotes sih." tegur Dion.
"Ya sekalian tambahin pahalamu dengan menikahi wanita yang statusnya jadi janda hamil setelah kamu tabrak suaminya." sindir mama Herna.
"Kalau begini terus,,, Kapan kalian berangkatnya?" papa Hengki muncul dan menegur keduanya.
"Om papa berangkat dulu sayang."
Karin mengangguk dan mencium punggung tangan Dion dengan khidmat. Memberikan seluruh penghormatannya pada tangan yang sudah bekerja keras menafkahi dirinya dan semoga ke depannya tidak ada wanita lain yang mendapatkan nafkah dari suaminya itu juga.
__ADS_1
Lahir batin Karin tidak rela berbagi apa pun tentang suaminya dengan wanita lain dan karenanya,,, Karin akan berjuang.
"Mama juga berangkat dulu Rin. Kamu baik baik di rumah sama si mbak. Mama gak lama kok. Jemput Hana saja langsung pulang."
Karin mengangguk dan bergantian menyalami papa dan mama mertuanya. Si mbak membantunya berjalan ke dalam lagi selepas semua sudah berangkat.
"Mbak Karin,,, boleh gak mbak tanya?" si mbak sambil menggandeng Karin masuk ke dalam memberanikan diri bertanya.
"Tanya apa mbak?"
Karin memang selalu mengakrabkan dirinya denhan asistennya itu. Selain karena usia mereka sebaya,Karin juga tidak pernah menganggapnya sekedar asisten yang harus jaga jarak atau menghormatinya layaknya majikan.
"Nyonya kok suruh bu Hana tinggal di sini sih? Mana kamarnya di sebelah mbak Karin lagi. Apa mbak Karin gak khawatir? Bu Hana dulu sama pak Dion bukannya dulu suami istri mbak? Mbak Karin gak cemburu? Gak takut direbut? Maaf lho mbak,,, bukannya lancang tapi saya sedih aja nanti kalau sampai hal yang seperti itu menimpa mbak Karin. Mbak Karin ini orang baik jadi saya gak rela aja gitu kalau mbak Karin jadi korban."
"Terima kasih ya mbak sudah begitu peduli sama Karin. Inshaallah Karin akan baik baik saja. Rumah tangga Karin juga inshaallah akan tetap kuat dan lebih diperkuat lagi sama baby D. Aamiin,,," ucap Karin sambil mengelus perutnya.
"Aamiin. Adik baby cepat lahir ya. Mbak udah gak sabar pengen kenalan nih. Nanti bakalan mbak yang selalu jagain adik ya." asisten itu turut mengelus perut Karin.
"Makasih mbak. Nanti adik janji gak nakal dan nurut sama mbak." Karin bersuara bak anak kecil dan itu membuat keduanya tergelak.
...πΈπΈπΈ...
"Kita pulang ya Han. Mama sudah siapkan kamar terbaik untuk kamu." ucap mama Herna.
"Terima kasih ma. Hana minta mama jangan pernah berhenti anggap Hana ini anak mama sendiri ya. Hana udah gak punya siapa siapa lagi. Hanya mama yang sayang Hana."
Mama Herna langsung memeluk wanita yang tengah menjual penderitaannya demi mendapatkan hal yang diinginkannya itu.
...π§π§π§...
...Sudah senin lho,,, Tau kan author pasti ngarepin sesuatu dari kalian πππ...
Dukung author dengan vote, like, hadiah dan juga komen ya.
__ADS_1