
...Selamat membaca ...
...š§š§š§...
"Lihat deh sayang matanya,,, Kayak mata kamu. Tapi hidungnya kayak papanya. Mancung." Dion menyomot hidung mungil baby Del yang tengah sibuk dengan asinya hingga bayi itu sedikit terkejut dan menggeliat.
"Om papa. Pelan pelan dong. Kan kaget baby Del." Karin memperingatkan.
"Lucunya kamu nak." ucap Dion lagi begitu melihat baby Del menggeliat dan mencari cari lagi asinya. Lalu saat menemukan apa yang dicarinya itu ia pun langsung melahapnya kembali dan dengan rajin mengenyotnya.
"Bagi bagi dong nak sama papa. Papa kan juga mau mik cucu,,," Dion mengerucutkan bibirnya membentuk huruf U dengan lucunya.
"Nggak yaaa,,, Cucunya mama cuma punya baby Del." sahut Karin dengan tak kalah manja.
"Pelit ah kamu nak,,," sungut Dion manja.
Betapa hatinya berbunga bunga untuk pertama kalinya bisa memiliki keturunan yang lucu begini. Lahir dari rahim wanita tercinta yang rela menukar nyawanya demi bisa melahirkan putra baginya. Wanita yang dengan segala kekuatan yang dimilikinya mengejan dan kesakitan di ruang bersalin hanya demi menjadikannya seorang papa.
Dan kini melihat wanitanya itu juga tersenyum bahagia disertai ekspresi kegelian saat lidah dan bibir mungil itu mempermainkan putingnya membuat kebahagiaan Dion terasa lengkap.
"Terima kasih bidadariku." Dion meraih puncak kepala Karin dan mengecupnya.
Karin sedikit heran kenapa tiba tiba suaminya memperlakukannya begitu namun detik berikutnya ia paham suaminya tengah berbahagia dengan kelahiran putra mereka dan putra mereka ini kelak akan menjadi penguat tali cinta mereka berdua.
"Jadi papa yang baik buat baby Del ya om papa. Dan pastinya tetap jadi suami terbaik juga buat Karin. Lindungi keluarga kecil kita ini dari gangguan yang muncul dari celah mana pun." ucap Karin kemudian.
"Inshaallah sayang. Om papa akan berusaha sebaik baiknya. Demi kamu dan baby Del. Kalau om papa mulai lalai,,, ingatkan selalu ya sayang. Karena om papa sadar om papa ini hanya manusia biasa yang tidak luput dari kelalaian. Dan untuk itulah tuhan menciptakan pasangan. Agar bisa menjadi pengingat di kala salah satunya kehilangan arah."
"Iya om papa. Kita saling mengingatkan ya." Karin tersenyum manis lalu membelai kepala baby Del yang masih terus mengenyot asinya.
Kebersamaan keluarga kecil itu terasa menyenangkan namun harus terganggu oleh dokter yang melakukan kunjungan.
"Apa kabar ibu Karin? Halo baby tampan,,, Sudah diberi nama belum?" sapa dokter dengan ramah.
"Baik dok. Sudah dok. Namanya Delvara. Nama pilihan papanya." sahut Karin dengan bangganya.
__ADS_1
"Wah bagus sekali namanya. Pandai sekali papanya memilih nama yang Cocok untuk bayinya." puji dokter.
"Ah dokter bisa saja." yang dipuji tersipu malu tapi diam diam juga bangga dalam hatinya.
"Bagaimana ibu Karin,,, Apa ada keluhan sejauh ini? Masih sakit atau ada rasa apa mungkin?"
"Nyeri sedikit saja sih dok. Tapi saya rasa itu wajar bukan kalau habis lahiran normal?" tanya Karin.
"Benar ibu. Nyeri yang diakibatkan luka yang dijahit itu normal. Besok sudah boleh pulang ya kalau memang tidak ada keluhan lainnya."
"Terima kasih dok." jawab Karin senang.
"Mm dokter,,, jadi istri saya kapan nih boleh dipakek?" tanya Dion tanpa malu malu dan to the point saja.
"Om papaaaa,,, Malu ih." Karin pipinya langsung bersemu merah.
"Kenapa malu? Kan wajar tanya begitu. Iya kan dok? Namanya juga suami istri dan hal seperti itu kan lumrah." jawab Dion tanpa malu.
Dokter pun hanya mengulas senyumnya dan bersikap tetap profesional karena memang benar apa yang dipertanyakan oleh Dion adalah lumrah dan bukan kali ini saja ada suami yang bertanya begitu setelah istrinya melahirkan.
"Tidak apa apa ibu. Tidak perlu malu. Bapak bukan satu satunya yang bertanya demikian kok." ucap dokter kemudian.
"Tuh kan,,,"
Karin hanya mencubit pinggang Dion gemas.
"Jadi kapan dok bisa dipakainya?" ulang Dion setelah mengaduh kesakitan akibat cubitan Karin.
"Begini bapak,,, Jahitan perineum biasanya sudah mulaiĀ sembuhĀ dalam kurun waktu 3-4 minggu pascaĀ melahirkanĀ normal. Setelah dua bulan, rasa sakit atau nyeri pada **** ** dan perineum akibatĀ jahitanĀ setelahĀ melahirkanĀ normal umumnya sudah hilang." jelas dokter.
"Artinya?? Masih harus puasa lagi dua bulan dok?" wajah Dion terlihat lemas dan itu membuat Karin tak bisa menahan tawanya.
"Tergantung pada ibu saja pak. Kalau memang ibu merasa sudah lebih baik dan pulih sebelum dua bulan maka hubungan intim sudah bisa mulai dilakukan kembali. Selama tidak ada keluhan apa pun semua bisa dilakukan secara normal."
"Yes,,, Cepat sembuh pokoknya ya sayang. Gak kasihan sama om papa apa? Gak kangen Joni apa?" Dion memelas sekaligus memaksa halus.
__ADS_1
...Hahahaha Dasar Dion,,, Upss author gak tahan mau komen di sini š¤...
Dokter yang masih di sana hanya tersenyum dan memahami apa yang Dion rasakan. Kemudian dokter yang sudah selesai urusannya pun pamit meninggalkan keluarga kecil itu kembali merasakan kebahagiaannya.
"Om papa ini,,, Karin malu sekali tau." sungut Karin seperginya dokter.
"Ah cuek aja sayang. Dokternya juga paham kok. Kalau gak sama dokter sama siapa lagi coba om papa musti tanya yang begitu? Daripada gak tanya dan gak tau gimana aturannya dan nanti malah salah hayooo,,,"
"Iya juga sih." Karin manggut manggut.
"Jadi kapan nih mau sembuh? Joni udah kedut kedut loh,,," bisik Dion genit.
"Ihhh tahan dulu. Masih perih dan masih luka ini. Baru juga sehari ini belum seminggu,,," Karin gemas sekali.
"Habisnya kamu suka bikin om papa dan Joni klepek klepek sih,,," goda Dion.
"Hadeeehhh,,, di depan anaknya juga bahas Joni. Tuh nak papa kamu tuh,,, gak tau malu sekali kan??" Karin mengajak baby Del bicara.
Baby Del hanya mengerjap ngerjap belum paham dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.
"Yeee gini gini juga Delvara lahir karena ada joni dan papa yang perkasa ya nak yaaa,,, Mama aja yang sok malu malu mau,,, Lihat aja ntar kalau udah sembuh juga pasti mama yang mau cepat cepat dibikinin adik lagi yaaa,,," Dion tak mau baby Del hanya terbiasa dengan suara mamanya saja.
Karin hanya menepuk bahunya gemas mendengarnya bicara begitu.
"Oh ya,,, papa sama mama mana ya om papa kok belum kesini juga? Mereka sudah dikabari kan?"
Dion menghentikan aksinya bicara dengan baby Del lalu mimik wajahnya langsung berubah. Dia tak mungkin menyampaikan apa yang jadi keinginan mama Herna untuk mengajak baby Del tes DNa
"Om papa kok diam?"
...ā¤ļøā¤ļøā¤ļø...
...Om papa keselek becak apa yaa kok diam š...
Kirim hadiah, like, vote dan komen yaaa ā¤ļø
__ADS_1