
Nara yang semula tersenyum saat Dannis membawanya dalam pelukan, seketika pudar mana kala pria itu mengatakan sesuatu yang mampu membuat dadanya terasa seperti terhimpit beban berat.
Nara terdiam, tangannya yang semula membalas pelukan Dannis mulai ia turunkan perlahan.
Menahan nyeri tak kasat mata Nara menjawab dengan nada pelan.
"Tuan Dannis.... ini aku Khinara".
Dannis mendengarnya, perlahan ia lepaskan tubuh perempuan yang tengah berdiri memakai gaun pengantin itu.
Mata pria ini menatap lama wajah Nara, ia mulai tersadar bahwa benar gadis di hadapannya ini bukanlah perempuan yang ia rindukan.
Dannis canggung.
"Kau? hmmmm..... maafkan aku Nara, aku hanya merasa sedang melihat kekasih ku dalam dirimu saat kau mengenakan gaun pengantin ini", jawab Dannis dengan tatapan lain.
Nara hanya tersenyum tipis seraya mengangguk.
"Aku mengerti, aku rasa kau lelah.... beristirahat lah, maaf jika aku membuatmu teringat sosok nona Naya, aku tidak bermaksud membuatmu sedih tuan, aku akan kembali berpakaian", ucap Nara pelan dengan nada sedih yang ia tahan.
Dannis tidak menjawab, namun tatapan nya masih terfokus pada Nara.
Nara pamit ingin membuka gaun itu di kamar mandi dimana Dannis hanya bisa mengangguk saja.
Namun ketika Nara ingin melewatinya, Dannis menahan lengan gadis itu.
"Kau cantik mengenakannya", ucap Dannis yang mampu membuat Nara kembali merasa nyeri pada dadanya atas pujian Dannis yang bahkan adalah yang pertama kali untuknya.
Nara menghapus airmatanya ketika menghadap cermin di kamar mandi, ia menanggalkan gaun itu lalu beralih memakai piamanya kembali.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu ku tangisi, bukankah memang jelas tuan Dannis tidak pernah melihatku dalam pernikahan ini".
Nara keluar kamar mandi setelah berdiam diri cukup lama di sana, ia menatap Dannis yang sudah terlelap karena pria itu memang sudah mengantuk dan lelah.
Nara menghampiri suaminya itu, ia menanggalkan sepatu yang masih melekat di kaki milik Dannis, membuka jaket hingga hanya tersisa kaos dalaman putih saja, Dannis benar-benar telah tidur.
Gadis yang sudah resmi menjadi istri itu mengambilkan handuk yang ia basahi dengan air hangat lalu mulai mengelap kaki Dannis pelan hingga ia rasa sudah bersih agar Dannis nyaman dalam tidurnya sebab tentu pria itu tidak mandi malam ini.
Nara melakukannya dengan baik, memperbaiki posisi tidur Dannis yang masih tampak sembarang, saat ia hendak berdiri dari samping pria itu, ia dibuat terkejut saat Dannis meraih tangannya dengan mata tetap terpejam.
Nara tersenyum, ia membelai tangan besar itu seraya mengecupnya sekali lalu ia letakkan lagi pada posisi yang nyaman.
"Selamat tidur tuan Dannis, berkelanalah bersama mimpi indahmu", Nara mengusap rambut suaminya beberapa kali sebelum ia berdiri menuju sofa tempatnya menyusul ke alam tidur.
Baru juga gadis itu masuk ke alam mimpi, namun ia terganggu saat sayup-sayup ia mendengar Dannis berbicara sendiri.
Nara membuka matanya lagi, segera ia berdiri dan berjalan kembali mendekati Dannis yang sudah tampak berkeringat dingin.
"Tuan, tuan Dannis sadarlah", Nara mencoba membangunkan namun tidak juga membuat Dannis membuka matanya.
Nara mengelap keringat yang membasahi kening Dannis dengan tangan lentiknya.
"Kita akan menikah besok, ayo bangunlah Nay.... Naya ayo bangun sayang, kau tidak akan meninggalkan ku bukan?", Dannis terus meracau tidak jelas.
Membuat Nara harus menelan ludah mendengarnya, ia tahu Dannis sedang bermimpi tentang kecelakaan itu lagi, entah kenapa ia merasa bahwa Dannis benar-benar tidak tersentuh oleh wanita manapun kecuali perempuan yang hampir menjadi istrinya satu hari lagi jika tidak mengalami kecelakaan.
"Aku mencintaimu Nay", ucap Dannis pelan seraya memeluk Nara yang berada sangat dekat dengannya saat ini.
Nara tersenyum sungging, "Aku tahu tuan, kau hanya mencintainya saja, bangunlah.... tuan Dannis, tuan Dannis ini aku Nara", jawab Nara seraya memegang wajah Dannis dengan kedua tangannya.
__ADS_1
Dannis tersentak saat mendengar Nara memanggilnya.
Dengan dada kempang kempis Dannis membuka mata menatap langsung wajah perempuan yang berbeda dari mimpinya itu, keringat masih bercucuran.
Pria itu menarik napas berulang kali, ia tahu bahwa ia tengah bermimpi buruk lagi malam ini, tersadar akan ada Nara di hadapannya tanpa berkata-kata lagi Dannis meraih tubuh Nara memeluknya erat.
Pada kenyataannya Dannis memang hampir setiap malam masih dihantui rasa bersalah akan kecelakaan yang merenggut nyawa calon pengantinnya itu, maka darinya Dannis lebih memilih tidur dini hari untuk menghindari mimpi buruk yang kerap menyapanya, namun malam ini entah kenapa matanya begitu mengantuk dan lelah hingga ia bisa tertidur lebih cepat dari biasanya.
Dan benar saja, mimpi itu datang lagi.
"Tenanglah tuan, kau hanya sedang bermimpi buruk saja, apa kau ingin ku ambilkan minum? ayo tenangkan dirimu, ini sudah larut kau bisa tidur kembali", ucap Nara seraya mengusap punggung Dannis dengan perasaan empati.
Dannis melepas pelukan, ia menatap wajah Nara lama lalu menggeleng.
"Tidurlah bersamaku, aku lelah dan mengantuk", Dannis kembali berbaring di pangkuan Nara, ia peluk erat pinggang gadis itu seraya membenamkan wajahnya di perut rata milik istrinya itu tanpa basa basi lagi.
"Apa?", Nara terkejut mendengarnya namun Dannis tidak menunggu jawaban gadis itu melainkan ia tetap memejamkan matanya di sana.
"Tapi tuan?", bantah Nara heran, namun sungguh ia merasa geli saat Dannis meringkuk nyaman memeluknya.
"Jangan membantah, bernyanyilah agar aku bisa tidur lagi".
"Apa?".
Dannis tidak menjawab, ia dengan mudahnya kembali terpejam meski baru saja bermimpi buruk.
Nara tersenyum tipis, ia melihat Dannis telah lelap barulah ia mencoba melepaskan tubuhnya dari pria itu.
"Jangan coba lari", ucap Dannis tiba-tiba membuat Nara mengurungkan niat untuk kembali ke sofa.
__ADS_1
Siapa sangka, malam ini mereka benar-benar tidur bersama dengan posisi Dannis yang mengunci pergerakan istrinya itu.
Lelap, bahkan Dannis tidak pernah tidur selelap ini begitu pun Nara, mereka tidur pulas hingga pagi pun terlewati.