Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 9


__ADS_3

Khinara memantapkan hati meninggalkan desa nya menuju kota, entah apa yang ada di pikiran gadis ini, ia hanya ingin jauh dari ibu dan Ranti yang telah menghancurkan segalanya, begitupun Reno pria itu tak lagi menemuinya setelah hari itu.


Di perjalanan menuju kota, Nara yang tengah duduk di bus bagian tengah di sebelah jendela, lama ia merenungi nasibnya hingga mengantarkan keberanian ingin memulai perantauan yang saat ini ia lakukan.


Hiruk pikuk kota besar yang menjadi tujuannya sudah di hadapan mata, wajah cantiknya terlihat sayu dan lelah sebab belum juga satu hari pulang kampung kini gadis itu harus kembali ke kota untuk memulai hidup baru, terasa hampa memang yang ia rasakan.


"Aku tidak pernah merasa sendiri seperti ini sebelumnya, meski ibu tidak menyukaiku tapi ibu tidak pernah menyakitiku", gumam Nara meraba pipinya mengingat tamparan keras yang diberikan ibu padanya kemarin.


Lalu gadis ini pun mengingat wajah pria sang empunya dompet yang ia pegang saat ini.


"Jika ingin bekerja tentu harus punya ijazah minimal SMA bukan? namun dengan dompet ini aku rasa bisa mendapatkan pekerjaan karena rasa terimakasih telah mengembalikannya, jika tidak aku bisa memohon sampai tuan Dannis memberiku pekerjaan, aku rasa dia pria yang mudah percaya pada seseorang", gumam Nara dengan senyum tipis di wajahnya.


"Setidaknya aku masih punya harapan, jika tidak aku tidak akan berani kembali ke kota", oceh Nara lagi.


Tanpa ia sadari bahwa telah sampai ke terminal bus, itu artinya ia harus kembali bertanya pada seseorang di sana apa dan harus bagaimana lagi agar ia bisa mencapai tujuan perjalanannya.


Setelah bertemu seorang perempuan sebayanya yang berbaik hati menunjukkan jalan dan angkutan kota yang bisa ia naiki sampai alamat kantor yang tertera di kartu nama yang ia pegang saat ini.


******


Dannis berdiri dengan setangkai mawar di tangannya, menatap dalam penuh arti sebuah batu nisan bertuliskan nama perempuan yang masih sampai saat ini menguasai hatinya.


Dannis berjongkok lalu menaruh mawar itu di sana, ada banyak mawar di sana yang ternyata pria inilah penyebabnya.


Pada kenyataan bahwa Dannis mengunjungi makam tunangannya Naya setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, hari ini ia ditemani oleh Nesya kakak dari Naya.


Perempuan dengan wajah yang mirip dengan adiknya Naya itu menyentuh pundak lelaki yang juga ia sukai selama ini.

__ADS_1


"Hei..... aku akan menunggu di mobil oke?", ucap Nesya pada Dannis yang masih menatap dalam gundukan makam di hadapannya.


Pria itu hanya mengangguk saja tanpa menoleh, Nesya lalu meninggalkan Dannis menuju mobil.


Dari mobil Nesya menatap Dannis dari kejauhan, "Apa akan seperti ini seterusnya Dannis? tidak bisakah kau menerima ku untuk menggantikan dia di hatimu? Naya tidak akan hidup lagi bukan? aku percaya akan ada saatnya kau membuka hatimu untukku".


Dannis tersenyum sambil berdiri, "Aku datang lagi sayang, lihatlah aku sudah mulai menerima atas kepergianmu, namun hatiku hingga saat ini masih dikuasai oleh mu saja Khanaya Saraswati, hanya namamu saja.... aku juga tidak tahu sampai kapan, namun sekarang aku akan berusaha untuk kembali menjalankan kehidupanku seperti biasa tanpa mu, percayalah aku akan terbiasa nantinya".


Dannis melangkah pergi meninggalkan pemakaman menuju mobilnya berada, di sana Nesya menyambutnya dengan senyum manis mirip Naya.


"Kau sudah siap ke seminarmu hari ini?", tanya Dannis sambil memakai sabuk pengaman.


Nesya mengangguk, "Tentu saja siap, aku akan bergelar S2 hari ini, aku akan mulai memimpin perusahaan papaku bulan depan, kau punya saingan sekarang Dannis", ucap Nesya terkekeh dengan nada bercanda.


Dannis melirik sejenak wajah manis itu "Kita lihat saja apa kau bisa menyaingiku?", jawab Dannis tak kalah bercanda, merekapun tertawa bersama.


Sampai pada persimpangan lampu merah, mereka berhenti masih dengan cerita-cerita menarik diantara keduanya, Dannis membuka kaca mobil.


"Tuan Dannis? iya itu tuan Dannis, aku ingat betul wajah tampannya", gumam Nara yang tengah berada dalam angkutan kota menuju alamat kantor Dannis.


Karena terlalu semangat tanpa sadar gadis ini ingin keluar dari mobil berniat menghampiri pria yang ia lihat juga tengah berhenti di lampu merah.


"Nona apa yang kau lakukan? ini di lampu merah mana boleh keluar", cegah sang sopir angkutan umum tersebut.


Suara itu membuat Nara menghentikan niatnya, namun sekarang ia melihat Dannis menutup kembali kaca mobilnya bersiap untuk jalan lagi.


"Tuan.... tuan Dannis, tuan Dannis.....", panggil Nara berulang kali namun sia-sia saja.

__ADS_1


Membuat penumpang lain menatapnya heran sekaligus geleng kepala atas tingkah gadis itu memanggil nama Dannis dengan sangat kencang.


"Pak bisa ikuti mobil itu?", pinta Nara pada sang sopir.


"Maaf nona, tujuan kita berbeda dari mobil itu lihat saja dia belok ke kanan sedang kita akan lurus sesuai alamat yang nona tanya tadi bukan?", jawab sopir itu terheran.


"Tapi pak, orangnya ya itu yang dalam mobil mewah tadi, bagaimana bisa dia berada di lain arah, sedang alamat kantornya saja lurus kenapa dia belok kanan?".


"Sepertinya nona baru ya di kota ini? namanya juga orang kaya nona, tidak harus melulu ke kantor, dia juga bisa ke tempat lain nona.... lagipula mana kita tahu urusannya apa dan kemana", jawab sopir tertawa.


Nara hanya menggigit bibir bawahnya merasa malu.


"Lantas apa yang harus ku lakukan pak sedang tuan itu berbeda arah dengan ku, padahal niatku ke kota akan bertemu dengannya, bagaimana nasibku?", Nara mengoceh kebingungan.


Membuat sopir itu geleng kepala "Kau memang polos nona, tentu saja nona bisa menunggu di kantornya bukan? memangnya nona tidak punya tujuan lain selain kantor itu?".


Nara hanya menggelengkan kepala pelan.


Setelah sampai di depan sebuah gedung yang diyakini adalah kantor seperti tertera di kartu nama.


Membayarkan ongkos pada sopir, lalu Nara keluar dengan tas jinjing di tangannya.


Gadis ini menatap heran gedung kantor yang berada di hadapannya.


"Apa benar tuan Dannis sekaya ini? apa yang harus ku lakukan sekarang? menunggu di sini atau masuk ke sana?", Nara bertanya sendiri.


Karena tidak berani dan merasa malu sekaligus tidak percaya diri ketika melihat penampilan para pekerja kantor itu yang berlalu lalang membuat Nara pun memilih menunggu di sebuah toko yang sedang tutup di seberang jalan sampai ia yakin bahwa mobil yang ia lihat di lampu merah tadi kembali.

__ADS_1


Karena mengantuk sebab berangkat ke kota pagi-pagi sekali membuat Nara menguap berkali-kali hingga akhirnya gadis ini tertidur di kursi itu sambil bersedekap dada dalam posisi duduk seorang diri.


__ADS_2