
...Selamat membaca 🌹...
...❤️❤️❤️...
"Tidurlah. Aku juga mau tidur." ucap Dion.
"Iya..Istirahatlah juga."
Hana memejamkan matanya begitu Dion membantu menyelimuti tubuhnya. Dion menuju ke sofa yang ada di ruangan itu. Merebahkan dirinya dan menutup matanya dengan tangan kanannya ditekuk di wajahnya.
Hana melihat dan memperhatikan semua itu karena ia tidak benar benar tidur dan hanya pura pura tertidur. Bukan karena ingin tau apa Dion akan benar benar menemaninya malam itu melainkan pikirannya melayang layang jauh.
"Sayang,,, Sedang apa kamu di sana?? Apa Putra kita bersamamu saat ini? Aku rindu kalian berdua. Maafkan aku yang belum sempat memberitahu kalian ada mahkluk kecil di perutku saat ini." Hana mengusap perutnya pelan.
"Sayang,,, Jangan khawatir. Mama akan tetap menjagamu. Mama akan berusaha sebisa mungkin agar kamu tetap punya papa. Lihat itu,,, Itu namanya papa Dion. Kita berjuang bersama ya biar papa Dion bisa jadi milik kita." Hana bicara sendiri meski lirih.
Tapi saat sekelebat bayangan Bryan mendiang suaminya melintas di ingatannya,,, Hana seperti tersadar apa yang dilakukannya itu tidak benar.
"Apa sebenarnya yang aku lakukan? Apa perlu aku merebutnya dari istrinya? Bukankah aku tau betul bagaimana rasanya kehilangan suami karena wanita lain? Apa yang ku kejar saat ini? Apa yang ingin ku raih??"
Hana mulai bingung dengan dirinya sendiri. Ia bisa merasakan pedihnya hati istri Dion nantinya kalau ia nekad masuk kembali ke dalam kehidupan Dion tapi ia juga tak mau hidup sendiri menanggung akibat dari perbuatan Dion.
Benar,,,Awalnya ia memang ingin berdamai dengan orang yang menabrak mobil mereka. Hanya saja saat tau orang itu adalah Dion,,, Timbul kebencian yang amat sangat pada diri pria itu.
Luka lama itu menganga kembali seiring dengan hati dan cinta lama yang berusaha dikuburnya dalam dalam meski sulit selama ini.
Cinta lama?
Selama ini meski telah bersama dengan Bryan, Hana tak pernah berhasil membenci Dion setelah semua yang dilakukannya. Bahkan kadang masih sering Hana menyesali keputusannya meninggalkan Dion dulu.
Ia menyesal karena tak mau sedikit lagi bersabar saat Dion masih terjebak dengan permainan Ratna dulu.
__ADS_1
Tidakkah ia mencintai Bryan?
Cinta,,, Tapi tak sebesar cinta ia pada Dion. Bryan memang awalnya hanyalah pelarian baginya dan Hana tak memungkirinya. Hanya saja dulu ego dan emosinya pada Dion membuatnya makin egois dengan berpura pura bahagia bersama Bryan.
"Maafkan aku sayang. Aku sungguh masih mencintainya selama ini." lirihnya lagi dan permintaan maaf itu ia peruntukkan pada Bryan.
Pikiran Hana kembali melayang pada wanita muda yang tengah mengandung anak Dion. Bisa ia tebak mungkin sebulan atau lebih sedikit wanita itu akan melahirkan.
Sungguh wanita yang beruntung karena mengenal Dion saat Dion sudah menjadi pria sehat dan sempurna. Tak seperti saat bersamanya dulu. Memikirkan itu membuat hati Hana diliputi rasa iri berlebihan.
"Bahagia sekali pastinya wanita kecil itu bisa mengandung benih Dion. Sedangkan aku yang lama mendampinginya dulu tak berkesempatan untuk itu." Hana kesal sendiri.
"Tapi pantaskah ia ku korbankan?? Ia tak salah apa apa padaku hingga aku punya alasan untuk menyakitinya." sisi baik seorang Hana berontak.
"Tapi kalau dulu aku saja juga jadi korban,,, kenapa dia tidak? Aku dulu juga tidak salah apa apa sama Dion tapi aku juga menderita karenanya. Dulu aku juga gak punya salah sama Ratna tapi dia tega menyakitiku. Lagipula ini semua salah Dion. Dia yang menyakitiku dulu dan sekarang dia juga yang lagi lagi membuatku menderita dengan membuat Bryan meninggal."
Hana geleng geleng kepala sendiri pusing dengan apa maunya sendiri. Ia terjebak antara perasaan benci dan cinta pada Dion.
Benar benar dilema. Ingin balas dendam tapi tau itu tidak baik namun tidak juga bisa menerima begitu saja semuanya ini.
"Dekati saja mama Herna kalau Dion susah kamu kendalikan. Kamu tau kan Dion nurut sama mamanya." Ide semacam itu membuat Hana tersenyum lalu terlelap.
Keesokan paginya saat ia bangun ia sudah tak mendapati Dion di kamar. Hanya ada dua orang perawat yang menemaninya.
"Selamat pagi ibu Hana. Bagaimana perasaan anda pagi ini?" sapa salah seorang suster yang menyadari ia telah bangun.
"Pagi sus. Saya baik baik saja. Di mana suami saya?" tanya Hana.
Suami,,,perlu ditegaskan dan perlu diikuti saja apa yang sudah terlanjur terjadi. Dari awal pihak rumah sakit mengira Dion adalah suami Hana dan Hana tak ingin merubah itu.
Biar saja begitu karena Hana juga akan membiasakan diri menyebut Dion sebagai suami lagi.
__ADS_1
"Suami anda sudah pergi pagi pagi tadi. Dan beliau meminta kami menggantikannya sementara menunggu orang tuanya datang menggantikan beliau."
Hana mengangguk mengerti dan membiarkan para perawat itu membantunya membersihkan diri. Sebentar lagi ia akan bertemu mama Herna dan ia akan bebas bicara dengan wanita itu. Ia bisa meyakinkan wanita tua itu untuk lebih memilihnya menjadi menantu satu satunya.
...🌹🌹🌹...
"Sudah pulang rupanya. Kok ditinggal sendirian mbak Hana? Nanti kalau histeris lagi bagaimana?" tanya Karin saat Dion membuka pintu kamar mereka.
Dion langsung memeluk bidadari kecilnya itu.
"Kamu mau berjuang bersamaku sayang?" tanya Dion.
"Berjuang untuk apa?" tanya Karin heran.
"Untuk rumah tangga kita. Untuk baby D."
"Aku tidak mengerti maksudmu." Karin melepaskan diri dari pelukan Dion yang membuatnya tak nyaman itu.
Ya wanita mana yang nyaman dipeluk ketika hatinya sedang diliputi kecemburuan tanpa penjelasan.
"Om papa rindu sebutan sayangmu itu sayang. Berhentilah bicara aku kamu sama om papa. Om papa tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Om papa tidak akan biarkan rumah tangga kita porak poranda karena orang lain. Ini rumah tangga kita dan kita yang berhak memutuskan apa yang boleh dan tidak boleh dimasukkan ke dalamnya."
Karin menatap Dion dalam dalam.
"Om papa tau kamu cemburu karena melihat kejadian semalam. Tapi percayalah,,, bukan om papa yang memulainya dan om papa juga tak menginginkannya. Om papa sebisa mungkin bertahan untukmu dan baby D sayang."
Karin menunduk. Ia sedih menatap perutnya yang sudah besar.
"Hana mungkin ancaman besar bagi rumah tangga kita,, karenanya berdirilah di sisi om papa. Mari kita berjuang bersama keluar dari prahara ini karena om papa tau,,, baby D juga pasti menginginkan kita tetap bersama sama. Kamu mau sayang??"
"Karin mau om papa." tangis Karin pecah dalam dekapan hangat suami yang telah kembali kepadanya.
__ADS_1
...❤️❤️❤️...
Ayo mana nih vote, like dan komen serta hadiah buat author?? ❤️🌹🌸