
"Aku tidak percaya ini terjadi Dannis.... kau bahkan tahu bahwa tanah mendiang adikku saja masih merah, aku tidak percaya kau melakukannya secepat ini".
"Ini tidak seperti yang kau kira", jawab Dannis datar, mata elangnya menatap jauh pemandangan senja di tepi pantai yang mana dulu ia dan Naya sering ke sana.
Nesya tersenyum sungging mendengar nya.
"Kau bahkan tidak memberiku kesempatan sekalipun, kenapa Dannis? kenapa kau malah memilih gadis rendahan itu? tidakkah dia hanya pelampiasan nafsu saja? katakan padaku bahwa kau tidak akan menikah dengan perempuan seperti dia".
Dannis menoleh pada Nesya dengan wajah kesal.
"Kita datang ke sini untuk menikmati senja, bukan untuk membahas hal yang tidak penting", jawab Dannis dengan wajah datar.
"Tidak penting? Kau akan menikah Dannis, setidaknya jelaskan padaku tentang apa yang sebenarnya terjadi kenapa secepat ini? apa kau menghamilinya?".
Dannis kembali menatap Nesya kesal.
"Apa kau sedang menuduhku serendah itu? asal kau tahu dia bukan tipe ku", jawab Dannis seraya matanya berpaling ke arah langit yang mulai menjingga.
"Kau membuat ku kesal", ucap Nesya menggigit bibir bawahnya.
"Kau temanku, kita bahkan hampir menjadi saudara ipar. Maaf jika aku tidak bisa menerima mu..... aku menganggapmu sudah seperti saudara sendiri Nesya, tidak mudah bagiku menggantikan Naya terlebih kau adalah kakaknya".
"Lantas apa wanita itu yang bisa?".
Dannis menghela napas kasar lalu ia memutuskan untuk berkata jujur tentang apa yang terjadi pada pria itu dengan gadis bernama Nara.
Nesya tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya atas apa yang diceritakan oleh Dannis.
"Kau gila..... ini pernikahan Dannis, bukan permainan, kenapa kau mengiyakannya jika ini hanyalah salah paham?", Nesya benar-benar tidak habis pikir.
"Semua ini karena mama", jawab Dannis singkat.
Nesya menggeram dalam hati, ia tahu betul bahwa pria di sampingnya itu tidak bisa membantah apalagi melawan orangtuanya terutama sang mama.
"Kau bahkan terjebak dalam kesalahpahaman tanpa berani membantah mama mu Dannis, begitu besarnya pengaruh bibi Eliana pada mu, pernikahan bukan urusan main-main dan kau menerimanya tanpa basa basi, huh wanita itu sungguh beruntung", umpat Nesya kesal.
__ADS_1
Dannis menatap Nesya sekilas.
"Ayo pulang, tenanglah.... pernikahan tidak akan mengubah apapun, aku mencintai adikmu selamanya", ucap Dannis santai sambil berjalan meninggalkan Nesya yang berdiri mematung.
"Ini pernikahan Dannis, bukan permainan, memangnya mau dia kemanakan gadis itu setelah menikah? sebaiknya aku bicara pada bibi El", gumam Nesya dalam hati seraya menyusul langkah pria itu.
******
Nesya memutuskan mengunjungi kediaman Dannis pada malam harinya, gadis ini berniat untuk tidak menunda ingin bicara kebenaran pada mama El sebelum Dannis terlanjur menikah.
Namun ia tidak bisa bertemu sebab orangtua pria yang ia sukai itu sedang tidak berada di tempat, gadis ini hanya bertemu dengan Syasya dan Baim saja.
Nesya memberitahu bahwa Dannis dan Nara hanya salah paham saja, mereka tidak bisa menikah karena hal ini, membuat Syasya menutup mulutnya terkejut.
"Benarkah? itu artinya kak Dannis tidak akan menikah dengan gadis itu? ha ha ha kenapa ini begitu lucu, apa kata mama jika tahu seperti ini? para orang tua memang suka begitu, suka salah paham", ucap Syasya tertawa geli.
"Aku ingat ketika mama membawa gadis itu kemari, dia seperti orang bingung jadi ini penyebabnya.... dia terlalu muda untuk kak Dannis, lebih cocok jika dia menjadi pacarmu saja Baim, wajahnya cantik dan imut bukankah kau suka perempuan yang imut?", goda Syasya pada Baim yang kebetulan juga sedang berada di ruangan keluarga.
Baim hanya diam, namun tanpa mereka sadari lelaki bungsu Kemal itu tersenyum tipis sambil terus memainkan gawainya.
Syasya menceritakan kembali apa yang baru saja Nesya katakan.
Sheira terkejut dan menatap Nesya penuh arti, lalu tanpa basa basi ia pun mengeluarkan ponselnya yang menampilkan video adegan yang membuat mereka tercengang bagi yang melihatnya.
Wajah Nesya menjadi pias setelah menyaksikan video yang ia yakini itu adalah Dannis dan Nara di dalamnya.
Video tanpa suara yang diambil dari jarak yang cukup dekat itu terlihat jelas bahwa Dannis dan Nara berciuman di depan pintu kamar pria itu.
"Apa ini terlihat seperti salah paham?", ucap Sheira menatap Nesya lain.
Nesya merasa lidahnya kelu ingin berkata, matanya menangkap jelas video yang diputarkan oleh Sheira, hanya butir bening yang jatuh tanpa permisi.
Kembali hati gadis yang memendam cinta sudah sangat lama untuk Dannis itu hancur, kenyataan berbeda dari apa yang Dannis bicarakan padanya tadi sore ketika di pantai.
Nesya terdiam, tanpa berpikir panjang gadis itu pergi begitu saja.
__ADS_1
Syasya masih ternganga melihat video kakak lelaki nya berciuman dengan gadis asing yang beberapa hari ini menginap di rumahnya.
"Kenapa terkejut? bukankah wajar jika mama ingin menikahkan mereka?", tanya Sheira pada adiknya lagi.
Syasya hanya mengangguk terheran. Tidak berbeda dengan lelaki yang baru menginjak semester tiga bangku perkuliahan itu pun hanya diam sejak tadi.
Baim memutuskan untuk segera pergi dari sana tanpa berbasa basi pada kedua kakak perempuannya itu dengan wajah sulit dimengerti.
Nesya yang baru saja keluar dari rumah besar itu menuju mobil nya berada, tanpa sengaja bertepatan dengan orang tua Dannis tiba bersama gadis yang ingin sekali ia umpat akan keberuntungannya.
"Nesya? kebetulan kau kemari ini bibi bawa oleh-oleh dari desa untuk ibumu, ayo jangan pulang dulu", ajak Eliana dengan senyum.
"Bibi, maaf aku harus pergi..... ada urusan mendadak, senang bertemu dengan bibi simpan saja oleh-olehnya untuk lain waktu jika aku kemari lagi", ucap Nesya dengan tergesa-gesa.
"Hei.... ada apa sayang? kenapa kau buru-buru?", tanya Eliana lagi.
"Aku hanya perlu waktu untuk menerima semua ini bi, maaf aku harus pergi temanku sedang menunggu", jawab Nesya ambigu sambil matanya melirik tajam Nara yang hanya diam di belakang Eliana.
Eliana mengernyit heran dengan apa yang dikatakan oleh Nesya, lalu ia hanya mengangguk saja.
Nesya melewati Nara seraya ekor matanya menatap lain gadis polos itu, Nara tersenyum dan menunduk menyapa teman dari calon suaminya.
Papa Kemal yang datang menyusul setelah memarkirkan mobilnya pun terheran ketika mendapati Nesya pergi dengan tergesa-gesa.
"Kenapa dia?", tanya papa Kemal.
Mama El hanya mengherdikkan bahu tanda ia juga tidak mengerti akan sikap gadis itu. Kemudian tanpa berpikir panjang mereka segera masuk rumah.
Belum juga mencapai mobilnya berada, Nesya kembali meneteskan airmata ketika mobil Dannis baru saja tiba.
"Nesya? kau kemari?", sapa Dannis setelah keluar dari mobil.
"Aku kecewa padamu Dannis, kau berbohong padaku....", ucap Nesya dengan wajah sendu menatap Dannis, lalu gadis ini masuk mobil dan mengemudi meninggalkan Dannis yang berdiri mematung.
"Kenapa dia?".
__ADS_1