
"Hei.... Kenapa kau berjalan seorang diri Nara? ini jalan sepi, kenapa pula dengan pakaianmu?".
"Aku.... aku diturunkan di jalan ini", jawab Nara ragu.
"Oke baiklah, tidak perlu menjawabnya. Aku ingin menawarkanmu tumpangan jika kau mau", Alan berkata seperti itu karena ia tidak ingin ikut campur apapun yang menjadi alasan gadis itu diturunkan di jalan seperti ini.
Nara mengangguk semangat, ia sangat lega bertemu dengan pria yang baik ini untuk kedua kalinya seperti ketika Alan mengantarkannya menuju pintu keluar hotel waktu itu, jika tidak ia tidak akan tahu sampai kapan ia akan tersesat.
Mereka masuk mobil dan melaju dengan pelan.
"Terimakasih tuan Alan, jika bukan kau mungkin tidak tahu aku akan sampai dimana dengan berjalan kaki seperti tadi".
"Jangan sungkan jika bersamaku, aku kebetulan lewat saja apa salahnya jika saling membantu asal jangan orang jahat saja", jawab Alan tersenyum melirik Nara kemudian kembali fokus ke jalan.
Nara membalasnya pun tak kalah senyum.
"Baiklah Nara, sekarang kau ingin aku mengantarmu kemana?"
Pertanyaan itu kembali membuat Nara terdiam sesaat, dan betapa ia merutuki kebodohannya bahwa ia adalah gadis desa yang benar-benar polos dan bodoh, bagaimana tidak ia belum mengingat dimana alamat tempat tinggal mertuanya sekarang.
"Aku.... aku tidak ingat", jawab Nara menggigit bibir bawahnya malu.
"Tidak ingat?", tanya Alan kembali heran.
Nara hanya bisa menunduk malu.
"Ayolah Nara, bagaimana bisa aku mengantarmu jika kau saja tidak ingat dimana alamatmu".
"Maafkan aku tuan, aku belum lama tinggal di kota, aku benar-benar bodoh.... aku tidak tahu alamatnya di mana aku juga sedang tidak membawa ponsel, tapi kau bisa menurunkan ku di jalan x saja bagaimana? di sana aku pernah kost, aku akan pulang ke kost saja", jawab Nara sambil mengingat ponselnya tentu akan bisa menghubungi Sheira.
Alan menatap Nara terkekeh geli.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kost saja.... kau cukup aneh Nara, kita bertemu untuk kedua kalinya dan itu juga karena kau tersesat, hmmmm di hotel saja kau bisa tersesat tentu di jalan pun kau akan lebih tersesat bukan", ucap Alan tertawa.
Nara menunduk malu, "Maaf jika aku kembali merepotkanmu".
"Hei.... Jangan bersedih, aku hanya bercanda Nara. Kau bilang baru di kota ini tentu kau tidak akan mengingat semua jalan dalam waktu singkat, aku mengerti akan hal itu".
__ADS_1
Nara melirik Alan dengan senyuman manis di bibir mungil nan merah muda milik gadis cantik itu.
"Jangan menatap ku seperti itu, bagaimana jika aku jatuh cinta padamu hanya karena sebuah tatapan", ucap Alan kembali terkekeh.
Nara terdiam, senyumnya pudar mengingat statusnya sebagai istri yang baru saja ia sandang beberapa saat lalu.
"Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius Nara itu akan membuat perjalanan kita akan membosankan".
"Aku tidak tersinggung, aku hanya merasa bodoh saja ini yang kesekian kalinya aku tersesat dan tidak tahu harus kemana", ucap Nara geleng kepala sambil terkekeh sendiri.
"Kita sudah dekat, agar kau tidak terlalu tegang mari kita beli minum dulu, aku yakin kau haus karena berjalan kaki tadi".
"Kau benar tuan, aku haus makanya tidak fokus", jawab Nara menyengir kuda.
Membuat pria itu gemas dengan wajah gadis itu.
"Ya ampun.... kau begitu menggemaskan Nara", ucap Alan menahan diri ingin mengusap kepala gadis itu sejak tadi namun tidak ia lakukan.
"Kau bisa menunggu di mobil jika tidak nyaman kalau nanti orang-orang akan menatap penampilan mu".
*****
Nara yang merasa bosan, ia keluar dari mobil untuk menghirup udara segar, mobil Alan parkir di bawah pohon rindang yang terdapat di halaman minimarket, angin bertiup membuat dedaunan bergoyang menghantarkan udara yang menyejukkan ditengah terik matahari siang ini.
Gadis ini tersenyum "Aku bersyukur masih bisa menikmati udara seperti ini di kota, huh.... aku merindukan suasana sejuk desa dan perkarangan rumahku", gumam Nara kembali merasa sedih mengingat rumah orangtuanya yang telah dijual oleh ibu dan Ranti.
"Dimana kalian?", Nara bertanya sendiri tentang keberadaan ibu dan Ranti dimana karena mereka pula lah kehidupan rumitnya dimulai.
"Hei kenapa melamun, ini minumlah.... maaf bisakah kau menunggu sebentar lagi aku akan ke toilet", ucap Alan mengejutkan Nara.
Gadis ini menerima botol minuman dingin yang diberikan oleh Alan tadi dan mengangguk.
"Aku akan menunggu", jawab Nara.
Alan pun kembali meninggalkannya untuk ke toilet.
Nara meminum minuman yang terasa sangat melegakan tenggorokannya saat itu, namun belum juga lepas dahaga di luar dugaan ia merasa ada yang menarik lengannya dengan kasar.
__ADS_1
"Ah......", Nara mengaduh ketika merasa sakit pada luka lecet di sikunya akibat tarikan itu.
Nara menatap pria yang baru saja menarik kasar tangannya.
"Tuan Dannis? kau?".
Dannis melepaskan tangan Nara, matanya melihat langsung siku gadis itu terlihat lecet dan berdarah, pria itu meyakini bahwa luka itu akibat Nara yang terhempas ke aspal ketika gaunnya tersangkut pintu mobilnya tadi.
"Ayo pulang", ajak Dannis dingin sambil membuka pintu mobil dan memaksa Nara untuk masuk.
Gadis itu tidak bisa berkutik selain mengikuti perintah pria yang menjadi suaminya itu.
"Tuan apa kau menyusulku?".
"Iya, karena aku tidak bisa menjawab telepon mama jika bertanya tentangmu", jawab Dannis kesal.
Pada kenyataan pria itu memang menyusul Nara ke belakang karena mama El menghubunginya, karena tidak ingin mamanya curiga maka Dannis memutar kembali mobilnya, namun apa yang dilihat sungguh membuatnya muak bagaimana bisa istrinya itu bicara pada pria yang sangat ia kenal seperti sudah saling mengenal satu sama lain dan berakhir gadis itu berani menumpang pada Alan sahabat Dannis sendiri.
"Tuan maaf.... aku belum memberitahu temanku bahwa aku pergi", ucap Nara mengingat ia belum pamit pada Alan.
"Teman? kau juga mengenal Alan? oh aku mengerti sekarang, kau memang sengaja menjebakku bukan? kau mengenal Sheira dan sekarang kau bilang sahabatku adalah temanmu, apa mau mu sebenarnya jika tidak punya niat tertentu mendekatiku, meminta tolong ketika di hotel, minta pekerjaan dan sekarang kau berhasil mempengaruhi mamaku untuk menikah denganku, apa ini sebuah kebetulan belaka? dan hebatnya kau berhasil dan membuatku terjebak oleh wajah lugu mu itu", ucap Dannis menghubungkan beberapa kejadian yang berhubungan dengan istrinya ini.
"Tuan.... aku sama sekali tidak berniat sesuatu padamu, percayalah aku juga tidak tahu kenapa semua ini terjadi, kau salah paham, aku tidak punya niat buruk padamu".
"Diamlah.... aku tidak butuh penjelasanmu", sergah Dannis dengan nada kesal sambil melajukan mobilnya dengan kencang membuat Nara harus berpegangan kuat.
"Tuan.... bisakah lebih lambat, aku tidak biasa dengan mobil yang kencang, seperti nya aku akan mabuk perjalanan", ucap Nara memohon pada Dannis ketika ia merasa perutnya mual karena laju mobil yang kencang.
"Apa peduliku", jawab Dannis cuek, pria itu tetap melajukan mobilnya dengan kencang.
Diwaktu yang bersamaan, Alan berjalan menuju mobilnya berada dan merasa heran.
"Kemana dia?", ucap Alan sambil menoleh kesana kemari mencari keberadaan Nara.
Setelah lama menunggu, tidak juga ada ta nda-tanda bahwa Nara kembali ke mobilnya akhirnya Alan memutuskan untuk pergi saja.
"Kau sungguh misterius Khinara, gadis desa polos yang tersesat dua kali namun sungguh menarik hati aku harap kita bisa bertemu lagi lain waktu", gumam Alan tersenyum sendiri seraya menjalankan mobilnya pelan.
__ADS_1