Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 93


__ADS_3

Nara mengalungkan tangannya pada leher Dannis saat bibir mereka terus menyatu saling mengecap satu sama lain, berciuman dengan lama sambil Dannis terus berjalan ke arah kamar.


Nara melepas tautan bibir mereka, menatap sekeliling menyadari sesuatu.


"Kenapa?", tanya Dannis heran.


"Ini bukan ke kamar tapi jalan menuju dapur, kamarku ada di sana", ucap Nara terkekeh seraya menunjuk arah.


Dannis menghela napas kasar dibuatnya, Nara tertawa pelan lalu kembali menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Dannis yang masih basah.


Sampai pada Dannis membaringkan tubuh mungil Nara di atas ranjang, pria itu kembali meraih bibir istrinya dengan perasaan yang dalam, berciuman lagi dan lagi.


Hingga tubuhnya terasa panas meski pakaiannya masih basah, pria itu melepas Nara sejenak ia berdiri membuka pakaian bagian atasnya hingga Dannis bertelanjang dada sekarang.


Lalu kembali ia merajut rindu yang telah mereka taruhkan selama tiga bulan terakhir, Nara tidak menolak. Perempuan ini percaya pada Dannis bahwa mereka masih suami istri, Nara menerima semua perlakuan Dannis yang tampak mendambanya begitupun sebaliknya tentu Nara juga merindukan Dannis selama mereka berpisah.


Nara melenguh saat Dannis memberi tanda merah stempel kepemilikan di lehernya yang putih mulus, membuat Dannis kian bergairah, ia cukup lama berada di tengah hujan yang membuat tubuhnya kedinginan namun sekarang ia merasa sangat panas, pria itu mulai berkeringat.


Tangannya sudah kemana-mana, sampai pada Dannis menghentikan aksinya lalu menatap Nara dengan kecewa.


"Apa ini?", tanya Dannis heran saat ia menyingkap dress tidur istrinya.


Nara menahan tawa melihat raut kesal Dannis setelah menyadari benda yang menghalangi tangannya meraba sesuatu yang paling intim dari istrinya itu.


"Kau datang bulan?".


"Maaf", jawab Nara mengangguk seraya menggigit bibir bawahnya lalu ia meraih rahang berjambang tipis milik Dannis, membelainya dengan lembut.


Dannis menghembus napas kasar, Nara mencium pipi Dannis dengan mesra.


"Kau terlalu bersemangat sayang", ucap Nara menarik Dannis dalam pelukan.


Dannis hanya bisa terdiam, ia menjatuhkan wajahnya di sela leher Nara yang wangi tanpa berkata-kata lagi, sungguh menyiksa ketika harus terhenti saat sedang berhasrat terlebih mereka baru melakukannya satu kali itupun tiga bulan yang lalu.

__ADS_1


Dannis mengangkat wajahnya menatap Nara dengan tatapan cinta dan damba.


"Aku mencintaimu", ucap pria itu dengan nada terdalam, ia melihat jelas manik istrinya dari jarak yang sangat dekat.


Nara tersenyum, ia hanya membalas dengan kecupan bibir.


"Percaya padaku".


"Maaf atas semua kesalahan yang pernah ku buat padamu, kau boleh marah kau boleh memukulku jika kau mau tapi satu hal jangan tinggalkan aku lagi, jangan hilang lagi aku sudah ingin gila jika keluarga ku tidak menguatkan ku tiga bulan ini", ucap Dannis serius.


Nara mengangguk, "Aku percaya padamu", jawab Nara tersenyum setelah mencium pipi Dannis lagi.


"Apa maksudmu hilang? aku tidak hilang, aku kembali ke kota setelah dari makam ibuku hari kita berpisah".


Dannis mengernyitkan dahi, ia tampak kesal.


"Oh pantas saja ketika aku kembali kau sudah tidak ada di makam, kau tahu belum juga satu jam kita berpisah kau bahkan sudah membuatku gila hari itu juga", jawab Dannis kesal.


"Kau menyusul ku?".


Dannis ikut berbaring, saling berhadapan satu sama lain saling menatap dengan cinta, cinta yang hadir dalam pernikahan mereka, cinta yang mampu membuat Dannis lupa pada masa lalu yang selalu membayanginya selama ini, hal apa yang tidak kalah dengan cinta seorang istri bukan.


Nara masih tidak melepas wajah Dannis dari belaiannya, "Aku tahu sekarang bahwa hatimu itu terbuat dari daging bukan batu", ucap Nara tersenyum.


"Memang kau pikir aku malin kundang? aku mengaku sekarang, kau berhasil menundukkan ego ku".


"Cinta tapi gengsi, aku rasa itu cocok untukmu.... kau bahkan memberikanku pada pria lain, huh aku kesal jika mengingatnya", ucap Nara tiba-tiba kesal mengingat wajah Alan, ia menarik jambang Dannis dengan geram.


"Ahhh, sayang apa yang kau lakukan", Dannis meraba rahangnya yang kesakitan.


"Apa kau tidak ingat tuan Alan?", Nara menatap tajam.


"Maafkan aku, itu adalah hal paling bodoh yang pernah ku lakukan, aku hanya bingung dengan perasaan ku waktu itu terlebih Alan terus memanasiku, lupakan dia... itu tidak akan terjadi lagi, aku sungguh menyesal".

__ADS_1


"Tidakkah kau merasa sesuatu ketika pria lain menyukai ku?".


"Jangan tanya itu, aku bahkan ingin menelannya hidup-hidup ketika Alan mengatakan menyukai istriku apalagi Reno, menyebalkan".


Dannis dan Nara bercerita tentang apa yang mereka lalui selama berpisah termasuk paman Harun.


"Apa? jadi benar Reno menyembunyikan mu selama ini? yang benar saja.... dia bahkan berulang kali menyangkalnya ketika aku menuduh".


"Jangan marah, dia pria baik.... dia baik padaku, dia menolongku".


"Akan ku bunuh dia awas saja, dan apa tadi? kau bilang Baim seniormu?", kesal Dannis.


Nara mengangguk "Iya, dia seniorku di kampus, apa dia tidak mengatakan padamu jika bertemu denganku bahkan hari pertama aku kuliah bulan lalu".


Dannis bahkan tidak bisa berkata-kata lagi sekarang, ia sungguh merasa sangat bodoh dimana orang sekitarnya telah lama tahu keberadaan Nara sedang dia tidak.


"Tenanglah, kalian para lelaki itu tidak rumpi seperti perempuan yang semua rahasia bisa keluar pada siapa saja, jangan marah pada adikmu, dia banyak membantuku dalam tugas kuliah", Nara terkekeh melihat raut kesal Dannis.


"Bukan soal marah atau tidak Nara, Baim tahu betul aku hampir gila karena mu, dan dia diam saja saat tahu keberadaan mu di saat aku bahkan jauh dari kata pria normal, dia adikku.... bahkan setiap hari bertemu dengan istri ku ini, huh awas saja kau bocah tengik".


"Berhenti mengoceh, aku mengantuk", Nara menyudahi percakapan dengan meringkuk manja dalam dekapan suaminya, suami yang telah membalas perasaannya.


"Kita baru bertemu, tidakkah kita banyak obrolan? aku masih ingin bicara, hmmm berapa hari biasanya kau datang bulan? maksudku kapan kita bisa melakukannya lagi? Sungguh aku tidak sabar, aku merasa seperti pengantin baru sekarang", ucap Dannis mengulum senyum.


Nara diam, Dannis heran karena tidak mendapat jawaban dari perempuan itu, ia menghela napas dalam saat menatap Nara yang telah tertidur dalam pelukannya.


"Percuma saja, aku bicara sendiri sekarang", gumam Dannis terkekeh ia memeluk tubuh Nara dengan erat.


Pria itu lega bahwa malam ini ia bisa memejamkan matanya dengan lelap.


####


kurang baik apa lagi sih author....

__ADS_1


aduhhh besok lagi yah


__ADS_2