
"Kau tahu Dannis.... Aku dan bang Abrar tidak seperti yang terlihat saat diawal pernikahan", ucap Alea yang tengah bersandar di bahu saudara kembarnya.
Mereka tengah duduk bersantai di kursi pinggir kolam renang, si kembar milik Eliana Kemal itu begitu akur dan saling menyayangi hingga mereka dewasa, saling mendukung satu sama lain, Dannis yang telah kembali dari rumah sakit itu merasa bersyukur atas orang-orang terdekatnya yang tidak meninggalkan disaat ia menjalani masa sulit seperti sekarang.
"Apa maksudmu?", Dannis mengernyitkan dahi menatap Alea penuh tanya.
"Aku rasa karena kita kembar, jadi nasib kita tidak jauh berbeda.... percayalah aku dan bang Abrar melewati banyak hal yang berharga sebelum mencapai kebahagiaan seperti sekarang, ada sebuah cerita terselip yang mengawali perjalanan kami, cerita yang hanya aku dan dia yang mengetahuinya".
"Aku tidak berbeda denganmu Dannis, aku menganggap semuanya mudah ketika diawal, satu hal yang harus kita sadari bahwa pernikahan bukanlah sebuah permainan dimana kau bisa mengatur dan mengakhirinya kapan saja jika penyesalanlah yang akan datang setelahnya".
Dannis masih diam mendengarkan Alea yang bicara santai namun serius, tangan mereka saling menggenggam.
"Belum juga satu bulan aku telah jatuh cinta padanya, terlalu cepat bukan? bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya, itulah pernikahan Dannis.... selalu akan hadir cinta di dalamnya meski tidak diawali dengan niat yang baik sekalipun, cinta sebagai suami istri itu berbeda, aku merasakannya Dannis".
"Alea", Dannis kembali menoleh pada perempuan yang telah menyandang gelar dokter namun lebih memilih menjadi ibu rumah tangga yang mengurus anak-anaknya langsung meski dibantu para pelayan tentunya.
Alea mengangguk, "Kau tahu apa yang berbeda dari kisah kita?".
Dannis masih menatapnya penuh tanya.
"Aku menyadarinya lebih awal sebelum sempat berpisah jika tidak mungkin sekarang kau akan benci padaku karena bisa saja aku akan menjadi perebut suami orang, berbeda denganmu saat ini kalian berpisah Dannis.... sekarang bahkan kau tidak tahu istrimu ada di mana".
Dannis kembali terdiam.
"Tidak ada orangtua sebaik papa dan mama kita, tidak ada suami sebaik bang Abrar itu yang ku rasakan, aku rasa kau juga begitu tidak ada perempuan sebaik istrimu jadi cari dia sampai dapat sebelum pernikahan kalian benar-benar berakhir".
__ADS_1
"Tidak akan berakhir Alea, aku tidak akan melepaskannya tidak akan pernah", jawab Dannis menatap Alea yakin.
"Tentu akan berakhir bodoh, jika kau tidak memberi nafkah lahir dan batin dalam kurun waktu tertentu, sebaiknya kau baca dan pahami lagi apa yang tertuang dalam buku nikahmu Dannis, kau membuatku kesal", cerca Alea lagi menatap Dannis dengan tajam seraya memukul lengan pria itu dengan geram.
"Alea berhenti, aku tahu.... tapi aku harus cari kemana?".
"Kemana saja! lagi pula aku heran, desa sekecil itu bisa menghilangkan istrimu, jika tidak di sana lalu kemana dia?".
"Apa kau akan diam dan menunggu dia pulang begitu? Nara tidak akan pulang Dannis, Nara berasal dari daerah yang sama dengan mama itu artinya kau telah melepaskan perempuan sebaik mamamu".
"Oh tidak... kau akan gila Dannis, karena lambat laun kau akan melihat Nara berbahagia dengan pria lain dan itu lebih menyakitkan daripada menangisi sebuah makam seperti yang kau lakukan selama ini", ucap Alea yang tidak memberi kesempatan Dannis menjawab perkataannya.
"Sial.... kenapa kau menyumpahiku?".
"Aku tidak menyangka aku punya saudara sebodoh kau Dannis, baru juga satu minggu kau bahkan sudah jatuh sakit", Alea berkata tanpa takut.
"Melepaskan bidadari dari genggaman hanya karena bayang-bayang batu nisan, itu menggelikan Dannis....", Alea terkekeh melihat raut kesal Dannis.
"Aku hanya takut jika Reno lah yang akan kembali menyambut Nara dalam pelukannya, oh tidak kau akan melihat Nara menjadi istri saudaramu nanti, itu artinya Nara akan tetap menjadi bagian dari keluarga kita, terlepas jadi menantu papa tahu-tahu menjadi menantu bibi Karin kemudian", ucap Alea tertawa mengejek seraya membayangkan betapa menyakitkan jika hal itu terjadi.
"Alea berhenti, kau sedang memberiku dukungan atau sedang menertawakanku?", Dannis kesal, ia menutup mulut Alea agar perempuan itu berhenti terkekeh geli.
"Dua-duanya, jadi tunggu apa lagi cari dia Dannis.... lebih cepat dapat lebih cepat pula kau bahagia, apa kau tidak ingin punya anak banyak? bahagia sangat bahagia Dannis memiliki suami atau istri dan anak yang banyak, untuk apa kau tampan sukses banyak uang dan karir yang bagus jika tidak ada yang menikmati nya", Alea terus saja memanasi pria itu.
Dannis yang semula kesal kembali terdiam oleh kalimat terakhir yang diucapkan Alea.
__ADS_1
"Jangan habiskan waktumu untuk menyesal, seperti pesan istrimu sarapan dan hiduplah dengan baik, bangun pagi kau harus sarapan, makan teratur dan hiduplah dengan baik Dannis jangan sakit lagi oke.... Bukankah kau harus sehat jika ingin mencari istri mu? kau akan membuang waktu jika terbaring sakit seperti kemarin, aku menyayangi mu Dannis kita semua ingin yang terbaik untukmu", Alea meraih tangan saudara kembarnya itu dengan serius.
"Percayalah konsep pernikahan itu tidak sesederhana yang kita pikirkan, akan selalu ada cerita di dalamnya.... jadikan ini cerita yang akan menjadi buku dalam kehidupan mu, buku yang akan kau simpan sebagai kenangan bahwa kau dan Nara pernah berada di dalamnya, sekarang dan seterusnya ukirlah kisah bahagiamu Dannis, bahagia bersama istrimu yang jika dijadikan buku hanya ada cinta di dalamnya".
"Alea....", Dannis memeluk saudara kembarnya dengan haru, ia memejamkan matanya sejenak merasakan ada energi baru yang baru saja Alea berikan.
******
Hari-hari pun berlalu, tidak terasa hampir tiga minggu pula Dannis tidak berhenti mencari Nara, bolak balik kota ke desa begitu sebaliknya.
Namun yang berbeda adalah semangat pria itu, hatinya dipenuhi rasa rindu, cinta dan harapan berbaur menjadi satu, berharap pertemuan dengan wajah cantik istrinya bukanlah sebuah angan, meski dari hari ke hari Dannis tidak juga menemukan jejak.
Reno bungkam, ia sama sekali tidak memberi tahu siapapun tentang Nara, meski Dannis sudah berulang kali menuduhnya.
Seperti pesan Nara, Dannis mengawali paginya dengan sarapan dan hidup dengan baik setiap hari, ia memutuskan untuk fokus pada istrinya hingga ia menyerahkan kantor kembali pada papa Kemal dibantu iparnya Abrar.
Dannis yang menyukai makanan manis sama seperti sang papa, ia teringat sudah lama tidak membeli kue di toko cake & bakery langganan keluarganya.
Pria itu berniat membeli kue untuk ia makan menemani perjalanannya menuju desa.
Menepikan mobil, masuk ke toko besar itu dengan wajah tampan nan penuh aura cinta, Dannis benar-benar optimis dengan pencariannya.
Nara yang baru saja menaruh beberapa kotak kue cokelat yang sudah ia hias di etalase kaca, ia berniat kembali ke belakang namun langkahnya terhenti saat mendengar suara yang sangat akrab di telinganya.
"Nona, bisakah kau mengambilkan kue yang ini?".
__ADS_1
####
Alea emang pintar kasih wejangan ya.