Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Telat


__ADS_3

...Haiii,,, Selamat membaca ya πŸ€— Maafkan typo yang bertebaran πŸ€­πŸ™...


...🌸🌸🌸...


"Kok telat terus sih kamu itu Dion?? Mama paham kamu itu pengantin baru tapi kan juga jangan menganggu kinerja kerja dong. Apa kata anak buahmu nanti?? Selama ini kan juga kamu yang selalu mengajarkan mereka untuk on time."


Mama Herna langsung mulai ceramahnya begitu Dion dan Karin sudah duduk di meja makan bersamanya dan papa Hengki.


"Yah mama,,,Dion telat sekali aja dimarahi. Emangnya Karin aja yang boleh telat??? Dion kan gak mau kalah sama Karin." ucap Dion.


Karin hampir tersedak susu yang diminumnya mendengar suaminya bicara begitu. Tidak paham juga kenapa suaminya bicara begitu. Memangnya kapan ia telat berangkat kerja?? Orang dia hanya di rumah saja selama ini. Jadi kenapa juga suaminya tidak ingin kalah darinya dalam hal ini.


"Karina kan emang gak kerja. Mana bisa dia telat kerja. Mengada ada saja kamu itu." sungut mama Herna.


Pas,,, Seperti itulah pikiran Karin saat ini.


"Yang bilang telat kerja juga siapa sih ma?? Belum juga selesai ngomong tadi Dion." Dion masih buat teka teki.


"Lha terus apa dong maksudmu?? Pagi pagi sudah bikin mama migrain aja kamu ini."


"Nahhh pas tuh. Mumpung mama lagi migrain nih,,,"


"Mamanya sakit kok kamu senang sih Dion???" papa Hengki tidak terima.


"Papa juga nih,,, belum juga Dion selesai bicara udah disamber aja." sungut Dion.


"Ya sudah cepat katakan kamu itu mau ngomong apa sebenarnya??" mama Herna sudah tidak tahan dikerjai putranya.


"Karin telat ma,,," Karin mendahului suaminya.


"Nah itu,,,,Tokcer nih anak mama. Kaku maaa kaku." Dion berseru.


"Telat apalagi ini sih?? Tokcer apaan? Kaku apanya yang kaku??? Mama pusing sama kalian berdua. Dari tadi ngomong telat telat mulu. Kamu telat kerja,,, Terus Karina telat juga??? Telat apa Karina??" mama Herna tidak bisa berpikir jernih saking sudah terlanjur kesal.


"Ya telat haid dong ma. Dan Karin udah tes,,, hasilnya positif." Karin menjelaskan dengan rinci.

__ADS_1


Mama Herna yang awalnya memijit kepalanya langsung menoleh dan memandang menantunya dengan pandangan ingin dijawab keraguannya.


"Iya ma,,, Karin hamil." Karin paham dengan arti tatapan mertuanya itu.


"Beneran ini kamu hamil Rina???" mama Herna yang belum percaya menghampiri Karin dan mengelus perutnya.


"Iya mama. Beneran. Sudah tes tadi. Dan hasilnya positif." Karin sekali lagi memantapkan penjelasannya.


"Alhamdulillah,,,, Ya tuhan akhirnya ini mama bisa segera punya cucu. Papa jadi kakek ini." mama Herna senang sekali.


"Tua dong papa???" protes papa Hengki.


"Ih si papa mah suka gitu. Mending jadi tua karena punya cucu kan daripada tua nganggur." sungut mama Herna kesal.


"Hahaha,,, Iya iyaaa. Selamat ya Rin,,, atas kehamilan pertamamu ini. Jaga baik baik cucu papa. Anak ini harapan baru buat keluarga kita. Penerus keturunan papa. Terima kasih ya sayang,,, sudah mau menjadi perantara dan jadi ibu dari cucu papa." papa Hengk- memcium kening Karin sebagai tanda sayangnya kepada menantunya yang sudah membawakan kabar bahagia ini.


"Terima kasih papa. Karin akan jaga sebaik baiknya." jawab Karin.


"Gak boleh capek capek ya Rina. Pokoknya mulai sekarang gak usah bantu bantu kerjaan si bibi kayak biasanya. Kamu cukup istirahat dan pikirkan kesehatan cucu mama. Minum vitamin,,, minum susu. Nanti biar mama semua yang belikan buat kamu." mama Herna semangat sekali.


"Makasih Rina. Mama senang banget. Kamu udah bawa senyum bahagia yang sudah kami nanti nantikan selama ini." mama Herna pun memeluk dan mencium kening Karin dengan penuh kasih sayang.


"Sama sama mama." Karin balas peluk.


Dion tersenyum sendiri di kursinya meski ia dilupakan saat ini oleh mama papanya. Tapi Dion bahagia karena itu artinya bidadari kecil tak bersayap yang ia bawa ke rumah ini diterima dengan baik oleh orang tuanya.


Meski sempat mamanya protes kenapa harus menikahi gadis muda yang terpaut jauh darinya tapi sekarang melihat mamanya memeluk erat bidadari pilihannya itu,,,Dion banyak banyak bersyukur.


"Berarti belum periksa ke dokter ini ya??" tanya mama Herna pada Karin.


"Belum ma. Baru pagi ini soalnya tes. Itu kenapa om papa jadi kesiangan dan telat deh." ucap Karin.


"Oh begitu. Ya udah gak apa apa. Kalau begitu setelah sarapan kita semua ke dokter ya anterin kamu periksa Rina." kata mama Herna.


"Semua ma?? Tapi om papa kan mau kerja." Karin mengingatkan.

__ADS_1


"Dion,,, suruh Megha yang atur semuanya. Kamu pokoknya ikut ke dokter. Ini kan anak kamu. Jadi suami dan papa siaga dong!!!" sungut mama Herna.


"Nah kan,,, begitu ingat sama Dion cuma ingat buat ngomel aja nih mama. Tadi giliran peluk peluk Karin dan senang aja lupa sama anak mama yang kece badai ini." protes sang anak yang sudah merasa dilupakan sejak tadi.


"Bawel deh ah. Sana buruan telpon Megha biar dia gak nungguin kamu." titah mama Herna.


"Iyaaa iyaaa mama bawel." sungut Dion sambil merogoh ponselnya di saku jasnya.


Dion gak benar benar kesal karena omelan mamanya karena ia juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan mereka saat ini. Bahkan mungkin boleh dibilang saat ini dirinyalah yang paling bahagia atas kehamilan Karin.


"Gak sia sia berobat mahal. Ikhtiar mahal. Berdoa. Hasil emang gak pernah menghianati usaha. Terima kasih tuhan sudah percaya sama hambaMU ini. Setelah sekian lama akhirnya hamba ini punya juga kesempatan jadi seorang ayah." batin Dion.


"Malah ngelamun nih anak." mama Herna menjewer telinga Dion.


"Aduuh mama apaan sih?? Sakit nih,,," Dion nyengir kesakitan.


"Suruh telpon Megha malah bengong." mama Herna melepaskan jewerannya.


"Iya ini juga mau telpon."


Dion langsung menelpon Megha dan meminta Megha untuk lebih smart lagi dan menggantikan posisinya menghandle klien cerewet itu.


"Pokoknya aku percayakan ini sama kamu. Kalau kami benar benar bisa menghandle ini,,, aku akan berikan bonus besar untukmu. Aku sedang sangat bahagia Megha. Istriku hamil. Jadi ku harap kamu juga bisa membawakan aku berita bahagia dengan berhasil menghandle klien kita." seru Dion.


"Baik pak saya usahakan yang terbaik. Selamat ya pak atas kehamilan ibu Karin. Tolong sampaikan salam saya pada ibu. Nanti kalau ada waktu akan saya temui langsung." ucap Megha ikut senang dengan berita ini.


"Terima kasih Megha. Akan ku sampaikan."


"Aku sudah dengar kok. Megha itu baik ya om papa. Oh ya,,memang akan beri bonus besar apa nantinya??" tanya Karin.


...🌸🌸🌸...


...Masih slow up 🀧...


Dukung author dengan vote, like dan komen πŸŒΈβ€οΈπŸ™

__ADS_1


__ADS_2