Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 78


__ADS_3

Nara tersenyum menatap wajah lelap Dannis saat pertama ia membuka mata pagi ini, tangan Dannis masih melingkari tubuhnya yang mungil sedang kepala pria itu meringkuk nyaman dalam dekapan Nara.


Nara mengecup kening suaminya yang masih terpejam, perempuan itu melepas pelukan Dannis secara perlahan menaruh kepala pria itu pada bantal di sana.


Lama ia menatap wajah suaminya, menyusuri garis wajah dan rahang berjambang tipis milik Dannis itu dengan seksama.


"Aku mencintaimu Dannis", ucap Nara pelan seraya memberi kecupan di kening pria itu.


Nara melepaskan diri perlahan, ia memungut pakaiannya yang tergeletak di lantai, memakainya kemudian berlalu ke kamar mandi meski jalannya menjadi lebih pelan sebab ia masih merasakan sakit pada pangkal paha.


Lama Nara duduk bermenung di bawah guyuran air yang membasahi seluruh tubuhnya, karena air itu pula lah yang menyembunyikan suara tangis perempuan itu.


Setelah merasa lebih tenang, Nara keluar kamar mandi dengan memakai jubah handuk milik Dannis, ia berjalan menuju meja yang mana map berisi surat gugatan perceraian berada.


Nara duduk, ia membacanya lagi dan lagi, menarik napas dalam dan melirik Dannis yang masih berada di alam bawah sadarnya yang tidur sembarang di atas ranjang.


Dengan senyum Nara pun pada akhirnya menandatangani surat perceraian itu, senyum yang luka, perempuan itu akhirnya menyerah juga pada perasaannya.


Ia taruh lagi map itu di tempat semula, kemudian ia berdiri menatap Dannis sekilas lalu ia meninggalkan pria itu seorang diri di sana.


Kembali ke kamar yang sudah hampir tiga bulan ia tempati sejak menikah dan pindah ke rumah itu, Nara membereskan semua barang pribadi miliknya yang tidak terlalu banyak, ia masukkan ke dalam tas jinjing yang tidak terlalu besar, meninggalkan semua pakaian pemberian Sheira di lemari, sebab ia pikir mungkin ia tidak akan pernah bisa memakainya lagi.


Nara menyiapkan sarapan untuk Dannis, tidak lupa ia juga mengisi perutnya yang belum makan sejak semalam, Nara juga telah membereskan semua pekerjaan rumah sebelum Dannis terbangun.


Tidak tertinggal, Nara juga menyelipkan sebuah surat di bawah sarapan di atas meja makan.


Menarik napas dalam, ia yang telah memesan taksi itupun keluar dari rumah yang cukup meninggalkan kenangan bagi dirinya dan Dannis.


Nara tersenyum saat taksi datang di depan rumah mereka, tanpa berpikir panjang perempuan itu masuk dan memberikan alamat tujuannya.


******



Dannis menggeliat di bawah selimut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya saja, tangannya meraba ke samping namun terasa kosong, ia membuka mata perlahan menatap sekeliling mencari sesosok perempuan yang berhasil menaklukkannya semalam.


Dannis mendudukkan diri, ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan seraya mengumpulkan nyawa dan kesadaran penuh kembali menatap sekeliling namun tidak juga ia menemukan Nara di sana.

__ADS_1


Dannis melihat jam di dinding, betapa ia terkejut saat jam itu menunjukkan waktu sudah hampir siang.


"Ah sial..... aku tidak pernah tidur selelap ini", gumam Dannis seraya bangun dari tempat tidur ingin menuju kamar mandi namun urung saat menyadari bahwa tubuhnya polos tanpa busana.


Setelah mandi dan berpakaian segera Dannis turun dari kamarnya menuju dapur ia pikir Nara pasti sedang memasak di sana.


Namun sampai dapur istrinya juga tidak menampakkan diri, Dannis menatap sarapan yang telah siap di atas meja, Dannis mendekat bukan hendak memakannya melainkan karena matanya menangkap sebuah kertas di sana.


Dannis membacanya perlahan.


'Terimakasih banyak atas kebaikan tuan selama ini, maaf belum bisa menjadi istri dan pelayan yang baik untukmu, aku sudah menandatangani surat yang kau berikan kemarin, maaf juga aku tidak pamit langsung karena kau tidur dengan lelap, sarapan dan hiduplah dengan baik, aku memilih untuk pulang kampung saja'.


Dannis menghela napas kasar setelah membacanya, ia bergegas ke kamarnya lagi dengan tujuan utama map berisi surat gugatan cerai Nara.


Setelah membuka map, Dannis segera menelepon perempuan yang tengah menguasai pikirannya saat ini.


Lama Dannis tidak mendapat jawaban dari istrinya, ponsel perempuan itu aktif namun tidak menjawab panggilan dari Dannis.


Pria itu mulai kesal sendiri, berjalan ke sana kemari membuat pikirannya menjadi buntu bahkan untuk bernapas saja Dannis merasa sulit.


Terlebih saat pria itu mondar mandir di samping ranjang yang masih berantakan, matanya menangkap sebuah noda bercak darah di sana, memori otaknya berputar akan beberapa penggal kenangan yang tercipta diantara keduanya.


******


Mama El menoleh.


"Sayang kau kemari? mana Dannis?".


"Hmmmm suamiku masih tidur, aku kemari ingin bicara sesuatu dengan mama dan papa", jawab Nara ambigu.


"Bicara apa nak? apa ada hal yang serius? maafkan mama Nara, bisakah kita bicara lain waktu mama dan papa sedang terburu, Delila mengalami kecelakaan kami akan kesana siang ini, papa sedang memesan tiket pesawat sekarang", jawab mama El dengan raut cemas memikirkan keadaan Delila.


Nara terdiam, ia menjadi tidak ingin bicara jujur tentang hubungannya dengan Dannis yang sudah berakhir, perempuan ini berniat pamit pada mertuanya itu namun urung saat mendengar berita buruk dari iparnya yang jauh.


Nara mengangguk, "Aku turut sedih, kita bisa bicara lain waktu".


El tersenyum, "Pergilah ke kamar Dannis, di sana gaunmu sudah diperbaiki, mungkin besok pihak WO datang jadi kalian bisa diskusi tentang pesta nanti, mama menyerahkannya pada mu seutuhnya Nara, kau bebas memilih konsep pesta kalian nanti maaf mungkin mama akan seminggu di sana".

__ADS_1


Nara terdiam, ia memeluk mama El erat.


"Terimakasih banyak, mama sangat baik padaku maaf aku belum menjadi menantu yang baik selama ini".


Membuat mama El heran.


"Nara? kau baik-baik saja? kenapa nada bicaramu lain nak?".


Nara menggeleng, ia tersenyum sendu.


"Tidak, aku akan baik-baik saja setelah ini. Aku hanya ingin mama tahu aku sangat menyayangi mama", ucap Nara lagi seraya melepas pelukan.


"Mama juga sayang padamu Nara, jangan sungkan oke.... maaf mama akan bersiap dulu", jawab mama El membelai pipi menantunya itu sebelum meninggalkan Nara mematung di sana.


Menarik napas dalam Nara akhirnya melanglah menuju kamar Dannis berada, senyumnya mengembang sempurna saat melihat gaun yang diberikan oleh Alea tempo hari sudah terpajang di patung dengan indahnya.


Gaun yang terlalu panjang untuk Nara kenakan saat resepsi nanti telah diperbaiki.


Nara mendekat, "Cantik sekali, namun sayang kau tidak berjodoh dengan tubuhku, aku tidak akan pernah bisa memakaimu", gumam Nara pada gaun itu.


Nara menatap sekeliling dengan senyuman, lalu ia tersadar dari lamunannya saat menyadari ada sebuah panggilan dari ponselnya yang masih berada dalam tas.


Dannis menerima telepon dari Dannis.


"Hallo tuan, maaf aku pergi tidak pamit.... sarapan mu sudah ku siapkan".


'Huh.... kenapa tidak menerima telepon ku dari tadi?'


"Maaf.... aku tidak dengar, ponselku dalam tas".


'Dimana kau sekarang?'


"Aku, aku di rumah mama. Aku akan pamit dengan baik pada orangtua mu", jawab Nara jujur.


'Huh.... kau membuatku cemas, tunggu lah aku akan ke sana sekarang'.


"Baik", jawab Nara pelan.

__ADS_1


#####


Tebak lanjutannya....


__ADS_2