Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Menghilang


__ADS_3

...Selamat membaca 🍭...


...🌸🌸🌸...


"Mau kemana kamu??" bentak mama Herna sembari menghela tangan Karin yang hendak berjalan mengikuti kemana suster membawa papa Hengki.


"Karin cuma mau memastikan papa baik baik saja ma." jawab Karin.


"Gak perlu!! Gak usah sok baik!! Ini kan yang kamu inginkan?? Puas kamu sekarang?? Anakku Dion belum jelas nasibnya dan sekarang suamiku juga butuh pertolongan. Puas kamu buat keluargaku hancur begini??? Puas??!!!"


Mama Herna memaki maki Karin dengan lantangnya. Security yang berjaga menghampirinya dan menegurnya.


"Maaf nyonya. Ini rumah sakit. Mohon pelankan suara anda. Dan kalau ada urusan pribadi mohon diselesaikan di luar saja." ucap security.


"Saya minta tolong seret wanita ini dari sini pak. Wanita ini yang menyebabkan anak dan suami saya menderita. Saya tidak ingin melihat wajahnya." ucap mama Herna.


"Baik nyonya."


Selaku salah satu petugas rumah sakit tentu sang security hanya ingin kepuasan para pengguna jasa rumah sakit tersebut. Karenanya kemudian dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada orang lain, security itu meminta Karin pergi.


"Mohon pengertiannya nyonya. Kehadiran nyonya di sini mengganggu ketenangan para pasien." usir security halus.


"Tapi saya,,, Saya ini,,,"


"Bukan siapa siapa kami. Saya minta kalau wanita ini datang lagi ke rumah sakit ini langsung diusir saja." belum selesai Karin bicara mama Herna sudah memotong.


"Ma,,," lirih Karin dengan sedihnya.


"Jangan pernah panggil aku mama lagi. Kamu kehilangan hak untuk itu." bentak mama Herna.


"Ma,,, Mama gak bisa usir Karin begini. Karin ini istri Dion dan hanya Dion yang bisa memutuskan masihkah kita ini punya hubungan atau tidak. Kalau Dion sadar dia pasti akan mencari Karin ma. Dion butuh Karin ma." Karin mengingatkan.


"Kamu gak puas juga ya dengan semua yang terjadi ini? Masih belum sadar diri juga ya kalau kamu dan anak haram ini yang membawa sial dalam keluargaku??" sengit mama Herna.


Seketika Delvara tersentak dan menangis dengan kencangnya.

__ADS_1


"Cup cup sayang,,, sayang,,," Karin menimang nimangnya agar mau berhenti menangis tapi tangisan Delvara makin kencang saja dan membuat security mulai tidak sabar menghadapi dua wanita yang tengah berseteru ini.


"Cukup nyonya. Cukup. Silahkan tinggalkan rumah sakit ini. Demi kenyamanan bersama." usir security tegas.


Karin hanya mengangguk terpaksa meski ia sangat tidak ingin pergi dari sana sebelum ia tahu pasti kondisi suaminya.


"Dan jangan pernah berani berani kembali ke sini." tambah mama Herna.


"Sudah nyonya sudah. Jangan memancing keributan lagi. Saya mohon." security mulai pusing.


Mama Herna mengiyakan saja yang penting dilihatnya Karin sudah makin menjauh dari tempatnya berdiri. Baginya yang terpenting saat ini adalah mengusir jauh jauh wanita pembawa sial itu. Selanjutnya mama Herna hanya tinggal berpikir apa yang akan dikatakannya jika putranya mencari istrinya. Begitu pula jika suaminya juga menanyakan menantunya.


"Dengan keluarga pasien Dion?" suara dokter terdengar.


Mama Herna langsung menoleh begitu mendengat nama Dion disebut. Sedari tadi hanya suara itulah yang paling dinantikannya.


"Saya dok." mama Herna pasang badan.


"Bisa kita bicara di ruangan saya nyonya. Ini mengenai kondisi pasien."


"Sebaiknya kita bicara di ruangan saja ya." dokter mempersilahkan dan membuka pintu ruangannya untuk mama Herna lebih dulu.


Mama Herna duduk dengan sangat tidak nyamann dan dokter paham akan hal itu.


"Pasien mengalami cedera berat di bagian kepala. Benturan yang sangat keras membuat kepalanya mengalami pendarahan di otak. Hal ini membuat pasien tidak bisa lagi menggunakan seluruh fungsi saraf saraf tubuhnya dengan normal. Untuk saat ini kami dengan berat hati menyampaikan bahwa pasien mengalami kelumpuhan total."


Meski tidak tega namun tetap menjadi tugas seorang dokter untuk menyampaikan keadaan pasien seburuk apa pun kepada keluarganya.


"Lumpuh total?" tangis mama Herna pun pecah.


"Benar nyonya. Tapi saya tidak mengatakan bahwa ini akan permanen atau tidak karena harus ada pemeriksaan lebih lanjut dengan pasien. Semoga saja dengan terapi fisioterapi bisa membantu pasien untuk segera pulih." ucap dokter membesarkan hati mama Herna.


"Tapi apa ingatannya terganggu dok?" tanya mama Herna dengan harap harap cemas.


"Sejauh ini kami masih belum bisa memastikannya nyonya. Kami harus menunggu pasien sadar terlebih dahulu untuk bisa mengkonfirmasi apakaj ingatannya terganggu atau tidak." jelas dokter.

__ADS_1


Mama Herna mengangguk mengerti namun jauh dalam hatinya sebenarnya beliau berharap agar Dion hilang ingatan saja. Agar putranya itu bisa melupakan wanita pembawa sialnya itu. Dengan begitu juga mama Herna tak perlu berpikir panjang lebar untuk mengakali drama ketidakmunculan Karin.


Sungguh tidak rela mama Herna jika Dion harus kembali pada Karin. Kebenciannya pada Karin makin membuncah dengan terjadinya kecelakaan ini dan oh ya,,, mama Herna baru ingat menanyakan kondisi Hana juga.


"Lalu menantu saya bagaimana dok? Apa kandungannya baik baik saja?"


"Pasien Hana mengalami luka yang tidak separah pasien Dion. Dia akan pulih dalam beberapa hari. Tapi kami mohon maaf,,,kondisi kejiwaannya harus dijaga baik baik karena pasien harus kehilangan janinnya. Ini akan jadi pukulan berat baginya. Dari hasil pemeriksaan kami tampaknya janin tersebut memang sudah ada masalah sebelum kecelakaan terjadi. Apa benar demikian nyonya?" tanya dokter.


Mama Herna mengangguk mengiyakan dan sedikit bercerita pada dokter bahwa memang tadinya mereka akan ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Hana tapi malah kecelakaan.


"Jangan khawatir nyonya. Menantu anda masih bisa hamil lagi. Tidak ada masalah dengan rahimnya."


"Terima kasih dok." singkat kata mama Herna mengucapkan terima kasih atas semua usaha dokter untuk menyelamatkan Dion dan Hana meski hasilnya tidak sebaik yang mama Herna harapkan.


Dion lumpuh dan Hana kehilangan bayinya. Sekarang mama Herna hanya perlu memastikan kondisi papa Hengki. Mama Herna keluar ruangan dan mencari keberadaan sopir yang mengikuti suster yang membawa papa Hengki tadi.


"Gimana tuan?" tanya mama Herna begitu menemui sopirnya.


"Belum sadar nyonya. Tapi kata dokter sudah lewat masa kritisnya."


"Ah syukurlah,,," mama Herna menghela napas lega.


Setidaknya masih ada satu kabar melegakan hari ini. Tapi tetap saja mama Herna tidak boleh lengah dengan tidak memberitahukan apa rencananya selanjutnya pada sopir dan asisten rumah tangganya.


"Kalian dengar baik baik ya. Kalau ada yang tanya kemana Karin,,, kalian jawab saja tidak tau. Karin tidak pernah datang. Tidak ada kabarnya. Menghilang." ucap mama Herna.


"Loh nyonya,,, tapi kan,,,"


"Kalian masih mau kerja gak??" ancam mama Herna.


"Bbb,,,ba,,,baik nyonya. Kami menurut saja." keduanya gelagapan diancam dengan pekerjaannya meski dalam hati merasa kasihan pada Karin.


Tapi apalah daya,,,mulai sekarang mereka hanya harus mengingat satu kalimat,,,


"Karin menghilang."

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2