
Nara terbangun saat bus yang ia tumpangi telah memasuki area perkebunan teh yang terhampar luas, sejauh mata memandang hanya keindahan dan udara yang basah oleh hujan, beruntung Nara telah menyiapkan payung di dalam tasnya benar saja hujan turun sepanjang jalan.
Menguap beberapa kali, Nara mengeluarkan cermin melihat wajah mengantuknya yang terlihat masih sangat cantik.
"Aku memang cantik, mengantuk pun tetap cantik", gumam Nara tertawa memuji diri sendiri.
"Tapi sayang.... aku sudah janda, iya aku rasa waktu tiga bulan cukup untuk urusan perceraian, baiklah tuan Dannis aku akan menghubungi mu untuk kejelasan status ku", gumam Nara lagi mengeluarkan ponselnya.
Ia sudah menghubungi nomor ponsel Dannis yang telah dihafalnya sejak menikah, namun sayang ponsel pria itu tidak aktif.
"Apa dia berganti nomor ponsel?", Nara bertanya sendiri.
"Apa perlu aku ke rumahnya? hah tidak tidak aku tidak akan sanggup bertemu nona jahat itu, belum juga bercerai dia sudah berhasil mengambil suamiku aku yakin dia akan mengejek ku nanti, menyebalkan", Nara menggigit bibir bawahnya geram mengingat wajah Nesya yang terang terangan menyukai Dannis.
"Kakak beradik sama saja, sama-sama menguasai suami ku", Nara tiba-tiba ingin menangis sekarang lalu ia menarik napas dalam agar airmatanya tidak jadi jatuh.
"Paman ingin menjodohkan ku, oh bagaimana aku bisa menolaknya..... ini terlalu cepat untukku, aku belum siap", gumam Nara lagi setelah mengingat beberapa hari lalu paman Harun menyampaikan niatnya untuk kembali menjodohkan Nara pada pria lain agar keponakannya itu tidak terlalu lama menyandang status janda.
Hujan mulai reda ketika bus yang membawanya kian dekat pada tujuan Nara.
Seketika senyum Nara mengembang, menatap ke luar jendela bus yang ia buka sedikit agar ia bisa merasakan dinginnya udara menembus kulit wajahnya.
Nara terus mengulum senyum, ia sudah tidak sabar ingin kembali masuk ke rumah yang sangat ia rindukan, rumah dimana kenangan ibu dan ayahnya ketika ia masih kecil yang berkesan di hati dan ingatan perempuan ini.
Nara memegang liontin kalungnya yang berbentuk hati pemberian sang ibunda.
"Aku merindukanmu bu.... rumah kita sudah kembali, kembali padaku, aku akan merawatnya dengan baik", gumam Nara pelan, ia sungguh bahagia sekarang terlebih bus yang membawanya telah sampai pada pemberhentian para penumpang tujuan dua desa yang sudah di depan mata.
__ADS_1
Tidak jauh dari sana terdapat sebuah mini market, Nara berniat membeli cemilan karena ia tidak membawa apa-apa dari kota, belum lagi perutnya yang kembali lapar setelah perjalanan jauh, perempuan itu menuruni bus dan langsung menuju mini market.
Dannis yang entah dari mana, pria itu tidak memakai payung meski hujan masih saja merintik kasar mengguyuri tubuhnya, berjalan menyusuri perkebunan teh yang terhampar luas, berjalan seorang diri berniat ingin kembali ke mobilnya yang tidak jauh dari sana.
Sepi, tidak ada seorang pun di sana kecuali pria dengan wajah lelah akan penantian yang setiap hari ia lakukan, tatapan kosong Dannis menatap lurus arah ke jalan setapak yang ia lalui sekarang.
Pria ini berniat untuk kembali pulang ke kota sebelum senja tiba.
Matanya yang fokus pada jalan pun berhasil menghentikan langkahnya ketika menangkap sesosok kaki cantik seorang perempuan tidak jauh dari arahnya berdiri saat ini.
Dannis mengangkat wajahnya, menatap perempuan berparas cantik berambut panjang yang di jalin sembarang menyisakan beberapa helai rambut yang tidak diikat, wajah cantik itu masih sama masih seperti tiga bulan lalu, memakai dress bunga berwarna biru muda yang membawa kantong berisi makanan yang tampak dari sebuah mini market, dan memakai payung yang melindunginya dari rintik hujan yang masih enggan untuk berhenti.
Dannis merasa sulit untuk bernapas ketika mata mereka bertemu, sama-sama terhenti dalam langkah yang berjarak kurang dari lima meter saja dari tempat mereka berdiri.
Menelan ludah berkali-kali, demi apa Dannis merasa ada perasaan lain di dadanya, pria itu berjalan mendekat pada Nara yang terdiam mematung.
Kembali mata mereka menyirat makna yang mendalam saat Dannis sudah berdiri tepat di hadapan Nara.
"Hai", hanya itu yang mampu Dannis ucapkan setelah menatap lama dan meyakini bahwa ia bukan sedang berhalusinasi sekarang.
Nara mengerjapkan matanya seraya tersenyum.
"Tuan Dannis? kau di sini?".
Mendengar suara itu sungguh Dannis benar-benar yakin itu adalah Nara istrinya.
Dannis kembali salah tingkah, ia hanya mengusap lehernya dengan canggung, iya sungguh ia merasa canggung saat ini canggung, malu dan merasa sedikit mulas saat degup jantung yang iramanya melebihi batas normal menguasai tubuhnya saat ini.
__ADS_1
Demi apa sungguh Dannis merasa seperti ada kupu-kupu berterbangan di perutnya, rasanya seperti seorang remaja yang baru saja jatuh cinta.
"Ya Tuhan.... apa yang harus aku katakan", gumam Dannis pelan, ia bingung sekarang.
"Apa? tuan bicara sesuatu?", tanya Nara lagi.
Dannis menatap Nara lagi dan lagi, sungguh ia mengakuinya sekarang sosok perempuan itu telah mengalihkan seluruh dunianya, dunia pekerjaan bahkan cintanya pada mendiang Naya sekalipun.
"Apa tuan ada pekerjaan di sini?", tanya Nara lagi berbasa basi, perempuan ini juga tengah bingung sekarang ia juga tak kalah canggung setelah lama tidak bertemu namun Nara sebisa mungkin untuk tetap tenang meski jantungnya terasa ingin lepas.
Perasaannya masih sama, tidak berubah sedikitpun, masih mencintai Dannis segenap hati meski ia telah mengikhlaskan apa yang telah terjadi diantara mereka berdua yang sudah memilih jalan berpisah dari pernikahan itu.
Dannis menggeleng, cukup lama sama-sama hening, hanya saling memandang namun dalam kecanggungan luar biasa.
"Aku..... aku, aku", ucap Dannis terbata, ia gugup ingin berkata sesuatu.
"Apa? tuan ingin mengatakan sesuatu?".
"Aku merindukanmu", ucap Dannis dengan perasaan yang dalam.
"Apa?".
Nara terkejut, tidak lama ia merasa tubuhnya terhuyung saat menyadari Dannis memeluknya dengan erat, sangat erat hingga Nara sulit bernapas, payung yang ia pegang pun perlahan terlepas hingga tubuh Nara yang semula kering kini ikut diguyuri rintik hujan yang hanya menyisakan gerimis saja begitupun dengan kantong makanan yang ia bawa perlahan jatuh seiring lemasnya tangan perempuan itu mendapat sebuah pelukan.
######
Nanti aku kasih visual yang cocok dengan part ini, kalo aku sih nghalu nya gitu ya di kebun teh diguyuri gerimis, aduh gerimis melanda hati deh kayaknya.
__ADS_1
cocok kan sendiri ya sama pikiran masing-masing.
ayo apa ya selanjutnya?