Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 43


__ADS_3

Mama Bella tidak bisa menyembunyikan tangisnya ketika Abrar datang membawa Arkan dengan keadaan yang mengkhawatirkan, dimana Arkan tampak berdarah pada beberapa bagian wajahnya karena dipukul saudara sulungnya.


Arkan meringkuk bersimpuh di kaki mamanya, ia meminta maaf atas apa yang telah ia lakukan, papa Ricko berhasil melerai kedua bersaudara itu ketika Abrar kembali merasa emosi terhadap Arkan yang mengatakan bahwa ia juga mencintai Melati istri keduanya, Arkan mengakui bahwa ia telah menyakiti semua anggota keluarga dengan perbuatannya ini, lelaki itu juga menangis meminta maaf pada sang mama yang sudah pasti lebih terluka dari siapapun.


Vina hanya diam, ia tidak tahu harus berkata apa setelah mengetahui semuanya, menangis adalah satu-satunya cara untuk mengeluarkan apa yang ia rasa, karena memang Vina sudah mencurigai sikap suaminya yang berubah bahkan sejak beberapa waktu sebelum menikah dengan Arkan.


"Sekarang kau tahu arti buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya bang Arkan, iya....kau mengalaminya sekarang, mama memang kecewa padamu namun semua sudah terjadi sekarang tinggal bagaimana kau mau menjalani ini, bagaimana Vina bisa menerima mu yang mempunyai istri lain di luar sana, kau juga tidak bisa meninggalkan salah satu dari mereka sebab mereka sama-sama mengandung anakmu sekarang" ucap mama Bella dengan raut sedihnya, papa Ricko hanya bisa mengusap pundak istrinya agar sabar dengan ujian yang tengah menimpa anak keduanya itu.


Abrar hanya diam, wajahnya merah padam. Sungguh ia tidak menginginkan melihat mamanya menangis.


"Aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku ma, aku tidak ingin meninggalkan keduanya....aku akan buktikan bahwa aku tidak seperti papa yang tidak bertanggung jawab, aku mengaku salah ma...maafkan aku, aku berjanji akan adil dan tidak akan meninggalkan salah satunya" jawab Arkan sambil terisak.


"Sebaiknya kau bicarakan dulu dengan istrimu Vina, mama sudah mengetahui ini mama harap kau memegang ucapanmu, mau tidak mau mama pun harus menerima takdir salah satu putra ku meski mama merasa gagal dalam mendidikmu"


Ricko mengangguk setuju dengan apa yang istrinya katakan, karena dengan marahpun tidak akan menyelesaikan masalah, tugas mereka sebagai orangtua hanya bisa mengarahkan anak-anaknya agar menjadi lebih baik lagi.


Vina berlari masuk ke kamarnya, ia merasa kecewa atas ucapan mertuanya yang seakan menyetujui suaminya berpoligami.


Arkan mengejar istri pertamanya itu, ia ingin menjelaskan pada Vina tentang Melati.


"Aku tidak tahu apa aku bisa menerimanya atau tidak, aku sakit mengetahui ini semua....berilah aku waktu untuk memikirkannya" ucap Vina dengan tangisnya yang tidak berhenti.


"Maafkan aku Vina, aku mengaku salah.....kau boleh manamparku kau boleh memukulku, aku akan bertanggungjawab atas kalian berdua, aku janji akan adil padamu, aku tidak ingin menjadi pria brengsek yang hanya habis manis sepah dibuang, izinkan aku bertanggungjawab terhadap Melati juga, kalian sama-sama istriku sekarang" ucap Arkan sendu pada istrinya.


"Baiklah......sekarang aku hanya butuh waktu untuk menerima ini semua, aku juga tidak ingin berpisah darimu...."


Arkan memeluk istri pertamanya dengan sayang, memang benar yang Arkan katakan ia mencintai kedua wanita itu dengan tulus, tidak ada niat untuk bermain-main pada salah satunya, meski caranya saja yang salah dengan tidak bersikap terbuka di awal.


*****


Bella memeluk anak sulungnya sambil menangis.


"Bang Abrar......jangan seperti ini lagi oke, dia saudaramu, meski kita semua kecewa namun berkelahi bukanlah jalan yang tepat untuk memberinya pelajaran apalagi bisa menyelesaikan masalah, kita bisa bicara dengan baik-baik. Itu sudah menjadi takdir adikmu, kita tidak bisa berbuat apa-apa sekarang, Arkan sudah dewasa mama percaya dia tidak akan seperti papa mu....ayo kita berdamai dengan keadaan ini, mama tidak ingin putera-putera mama terpecah belah" ucap Bella mengelus rahang Abrar.


Abrar kembali memeluk mamanya.


"Maafkan aku ma...." hanya itu yang mampu terucap dari bibir tipis lelaki milik Alea tersebut.

__ADS_1


"Pulanglah....istrimu pasti menunggu, Arkan biar menjadi urusan mama"


Mendengar kata istri, demi apa Abrar baru mengingatnya bahwa Alea ia tinggalkan di rumah Melati dengan kening terluka.


"Astaga....aku melupakan istriku" Abrar mengusap wajahnya kasar.


"Jangan marah padanya oke.....bicaralah baik-baik, bukankah kau sudah dengar sendiri adikmu lah yang menyuruh Alea tetap diam setelah dia mengetahui ini bahkan jauh sebelum kita, mama tidak ingin kau bertengkar karena Arkan, kita hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian ini bagaimana mencintai dua wanita itu tidaklah mudah terlebih bagi Vina yang akan berbagi suami dengan Melati, biarlah ini menjadi urusan mereka semua sudah terjadi mama cukup senang bahwa adikmu tidak berniat main-main dengan sebuah pernikahan, mama harap kau tidak seperti Arkan sayang, Alea anak yang baik jangan pula sampai kau menyakiti menantu ku itu, mama rasa tidak ada alasan untuk kau menduakannya atau kau akan dibunuh Kemal bang Abrar" ucap mama Bella seraya bercanda di ujung kalimatnya.


"Tidak.....mana bisa aku menyakitinya, dia hidupku ma, maaf aku terlalu emosi sehingga meninggalkannya di rumah Melati sejak kejadian ini, baiklah aku akan pulang istriku pasti juga sudah pulang sekarang" jawab Abrar sendu, ia mengingat wajah pucat istrinya yang ia tinggalkan tadi.


Mama Bella mengangguk, Abrar pamit pada papa Ricko dan segera berlari menuju mobilnya.


*****


"Huh.....kenapa lama sekali, apa yang terjadi disana, aku begitu ingin kesana tapi aku takut....aku bahkan tidak mau membayangkannya, astaga.....bang Abrar pasti sangat kecewa padaku, bahkan ini sudah malam dia juga belum kembali, apa dia tidak melihat keningku terluka tadi, huh....aku memang payah" ucap Alea berulang sambil berjalan kesana kemari menunggu suaminya pulang.


Tidak lama mobil Abrar terdengar, membuat jantung Alea serasa ingin lepas, ia begitu gugup bagaimana menghadapi kemarahan suaminya nanti.


Alea masih berdiri kebingungan di ruang tamu, kemudian Abrar masuk dan mata mereka bertemu, lama saling menatap membuat Alea menelan ludah kasar ia sudah siap akan kemarahan suaminya itu.



"Sayang.....maaf aku sudah membuatmu terluka" ucap Abrar menatap wajah Alea sendu dengan mata yang berkaca-kacar tangannya tergerak menyentuh perban luka di kening Alea.


Alea menggeleng pelan.


"Tidak.....ini bukan apa-apa, akulah yang bersalah, luka ini tidak sebanding dengan rasa kecewamu bahwa aku sudah ikut berbohong tentang kebenaran bang Arkan, maafkan aku bang Abrar....aku tidak bermaksud menyembunyikannya" jawab Alea yang bahkan sudah menangis.


Abrar pun menggeleng pelan dan kembali membawa Alea dalam pelukannya, ia membawa istrinya untuk duduk di sofa, Alea masih diam ia belum bisa berkata apa-apa is sungguh masih gugup Abrar pun diam, lelaki ini hanya memeluk istrinya dengan erat seakan ingin mengeluarkan kekesalannya terhadap Arkan dalam pelukan hangat Alea.


"Bang Abrar.....maafkan aku" ucap Alea sendu, ia melepas pelukan dan beralih menatap wajah Abrar yang tampak lelah.


"Tidak....ini bukan salahmu, aku hanya terlalu emosi tadi, aku benar-benar kecewa adikku membuktikan bahwa dia menuruni sifat ayah kandungku yang sangat aku cegah selama ini, aku bahkan menyakitimu sayang maafkan aku" jawab Abrar sambil mengusap-usap pelan luka Alea.


"Aku hanya tidak ingin kau berkelahi seperti tadi, biar bagaimanapun dia saudaramu....kita bisa bicara dengan baik tidak harus saling memukul, kau bisa membunuhnya jika terus mengikuti amarahmu, aku benar-benar takut"


"Iya aku hampir saja membunuhnya, hanya saja papa meleraiku....." jawab Abrar terkekeh, Alea tersenyum melihat wajah suaminya sudah lebih tenang.

__ADS_1


"Aku tahu kalian akan baik-baik saja, semua ini hanya butuh waktu saja biar bang Arkan mendapat pelajaran hari ini, bermain dengan api dia akan terbakar, pria itu sudah dewasa mungkin ini sudah menjadi jalannya, jangan kau sangkut pautkan dengan masa lalu mama Bella, aku yakin bang Arkan akan bertanggung jawab atas dua istrinya, biar bagaimanapun mereka telah mengandung tidak baik jika kita memaksa bang Arkan meninggalkan salah satunya, darah itu lebih kental daripada air sayang bagaimana pun salahnya bang Arkan dia tetap saudaramu, kau akan mudah memaafkannya"


Abrar mengecup kening istrinya, ia membenarkan apa yang Alea ucapkan bahwa Arkan tetaplah saudaranya betapapun salahnya pria itu akan dengan mudah pula ia memaafkannya.


"Apa masih sakit?" tanya Abrar seraya menyentuh kembali luka Alea.


"Tentu saja sakit, kau tidak lihat aku terpental tadi kau begitu kuat mendorongku....ini mendapat tiga jahitan padahal aku hanya ingin melerai saja" kesal Alea.


"Maafkan aku.....kau boleh membalasnya sekarang"


Alea terkekeh.


"Tidak sayang....ini bukan apa-apa, lebih baik luka ini membekas di keningku daripada membekas di hatimu, aku tidak mau itu terjadi.....aku tidak ingin kau menyimpan dendam pada saudaramu, ini juga sudah terjadi mudah-mudahan kita semua bisa lebih baik lagi"


Abrar sungguh merasa bersalah telah menyakiti istrinya hanya karena sebuah emosi yang bahkan sama sekali tidak menyelesaikan masalah, Abrar mengecup luka itu berulang kali.


"Sayang hentikan, kau menekannya itu sakit"


"Aku akan terus menciumnya agar cepat sembuh" jawab Abrar sekenanya.


"Mana bisa sembuh dengan ciuman" Alea mendorong pelan dada suaminya.


"Bisa....lihat saja besok juga hilang" kecup Abrar pada bibir istrinya.


Alea tersenyum, ia bahagia suaminya sudah melunak dan ia yakin Abrar sudah mulai menerima apa yang sudah terjadi.


"Mandi bersamaku? lagi-lagi hanya kau yang bisa memperbaiki moodku sayang, maafkan aku yang sudah membentakmu tadi bahkan telah melukai kening cantik istriku ini"


"Aku tidak marah, aku akan marah bahkan aku akan membunuhmu jika posisi bang Arkan ada padamu"


Abrar membungkam bibir istrinya dengan kecupan.


"Itu tidak akan terjadi sayang, aku mencintaimu" Abrar menggeleng sambil menempelkan keningnya pada kening Alea.


"Aku percaya padamu, oke....baiklah, mari kita lupakan.....jadi ingin ku temani mandi?" ucap Alea membalas kecupan di bibir suaminya dengan menggoda.


Abrar menjawabnya langsung dengan menggendong tubuh istrinya menuju kamar, Alea tersenyum, mereka saling berciuman sebelum mencapai tujuan.

__ADS_1


__ADS_2