Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 29


__ADS_3

Hari pernikahan Arkan pun tiba, dimana acara itu selenggarakan di hotel tempat Alea dan Abrar menikah tempo hari, mewah dan megah tak kalah dengan pesta Abrar ketika itu, Bella tidak membedakan anak-anaknya.


Semua tamu berdatangan memberi selamat pada kedua mempelai yang tampak bahagia, Abrar turut bahagia melihat adiknya bersanding dengan perempuan baik seperti Vina.


Abrar menghampiri istrinya yang tengah asyik mengobrol dan melepas rindu pada orangtua beserta adik-adiknya yang juga ikut hadir di pesta Arkan.


Abrar memberi salam hormat pada mertuanya, memeluk Kemal bergantian dengan sang mama mertua, tak lupa ia mengusap kelapa adik bungsu dari istrinya Baim, Alea kembali jatuh hati pada suaminya yang pandai menempatkan diri di tengah keluarganya dan selalu bersikap santun.


"Sayang.....ajaklah suamimu makan sesuatu, mama lihat dari tadi bang Abrar hanya sibuk menerima tamu" ucap Eliana pada Alea yang masih saja menempel padanya.


"Tapi aku masih merindukan mama....." rengek Alea yang masih memeluk mamanya.


"Astaga Alea, kita bisa bertemu di rumah, kau saja yang jarang berkunjung akhir-akhir ini" jawab El membelai wajah putrinya.


"Maaf....aku sibuk berjaga malam, jadi siangnya aku gunakan untuk tidur" cengir Alea.


"Sayang, hentikan kebiasaan burukmu itu, kau sudah bersuami Alea tidak baik hanya tidur saja"


"Tidur bersama bang Abrar tentunya" jawab Alea tanpa malu-malu.


Membuat Eliana menghela napas kasar mendengar jawaban Alea yang frontal.


"Astaga....kau membuat mama malu mendengarnya, apa kau tidak ber kb? kau tahu maksud mama" tanya El serius.


Alea hanya menggeleng.


"Sayang, mama hanya tidak ingin kau hamil dalam keadaanmu yang masih sibuk seperti sekarang, mama takut terjadi sesuatu padamu seperti mama dulu" ucap Eliana menggenggam tangan putrinya.


"Ma ayolah....kita tidak bisa menganggap semua itu ancaman, aku akan berhati-hati nantinya tenanglah.....aku calon dokter mama, setidaknya itu menjadi alasan mama untuk percaya padaku jika aku hamil kelak, aku tahu cara menjaganya, apa mama tidak ingin cucu?"


"Tentu mama mau sayang, mama hanya tidak ingin kau seperti mama dulu, baiklah lupakan tentang masa lalu, apa kau bahagia bersama bang Abrar?"


"Sangat bahagia" jawab Alea singkat yang membuat mamanya geleng kepala sambil mencubit pipi anaknya gemas.


Kemudian Alea menarik Abrar yang tengah bicara pada papanya untuk kembali bergabung bersama keluarga dari mertuanya.


Disana Alea menjadi kesal ketika Yura dan keluarganya hadir sebagai tamu, biar bagaimanapun keluarga Yura masih berkerabat jauh dengan Bella, mereka hadir karena di undang, berbeda dengan pernikahan Abrar yang lalu Bella tidak mengundang mereka.


Alea tidak melepas suaminya barang sebentar, ia selalu menempel kemana Abrar pergi bahkan ia juga ikut menerima tamu yang rata-rata rekan bisnis keluarga mertuanya tanpa malu-malu mengenalkan diri sebagai istri dari Abrar.


"Sayang...kau belum makan, ayo kita bisa makan di sana" ucap Alea sambil menunjuk meja vip di sudut ruangan, Arbar hanya bisa mengangguk saja.


Abrar tentu memperlakukan istrinya dengan baik, pria ini bahagia bagaimana Alea benar-benar bisa menyatu dengan acara itu meski terkesan membosankan.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Alea yang masih mengunyah.


"Apa kau begitu lapar? makanlah pelan-pelan" jawab Abrar mengelap sisa makanan di bibir istrinya, membuat Alea hanya bisa menyengir kuda.


"Iya aku lapar.....terlebih sejak nona Yura datang, membuatku ingin makan banyak untung saja aku tidak ingin makan orang sekarang" jawab Alea menggigit bibir bawahnya kesal.


"Astaga....sayang kau terlalu cemburu, Yura tidak melakukan apapun, tenanglah...."


"Tidak melakukan apapun tapi sejak tadi dia melirik suamiku terus, menyebalkan"


Membuat Abrar gemas, pria ini mengecup bibir istrinya lembut.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Abrar terkekeh.

__ADS_1


"Tetap disampingku, awas jika kau hilang" jawab Alea menggigit dagu suaminya gemas.


Mereka sama-sama tertawa Abrar memeluk istrinya gemas dan memberi ciuman yang banyak di wajah Alea, pria ini bahkan belum percaya bahwa penantian cintanya yang lama pada Alea berbuah manis seperti sekarang, ia hanya berharap Alea menerimanya sebagai suami itu saja sudah cukup namun sekarang bahkan ia mendapatkan lebih bahwa Alea juga sangat mencintainya bahkan bersikap posesif seperti sekarang.


Pemandangan itu tentu tidak luput dari pantauan Yura, karena memang benar sejak tadi mata gadis ini selalu mengikuti kemana Abrar pergi, Yura benar-benar merasa sedih dan terus merutuki keberuntungan Alea yang bisa berada disamping pria itu saat ini dan melihat bagaimana Abrar memperlakukan Alea dengan mesra.


Pun Alea, wanita ini sesekali membalas tatapan Yura tanpa takut.


Abrar menarik istrinya untuk ikut berdansa seperti kedua mempelai, mereka sedikit ke sudut, saling menatap penuh cinta, Alea mengalungkan kedua tangannya dileher Abrar tangan Abrar bertengger dipinggang ramping sang istri.


"Aku merasa kita pengantinnya malam ini" ucap Alea manja sambil memainkan hidung mancungnya di dagu Abrar.


"Kau mencintaiku?" tanya lelaki itu.


"Tidak pernah sedalam ini" jawab Alea sendu.


Abrar membalas ucapan itu dengan ciuman mesra dibibir Alea, mereka tidak peduli banyak pasang mata melihat ke arahnya.



"Kemal....kau lihat kelakuan putrimu?" Eliana memeluk suaminya dengan mata tertuju putri sulungnya yang tampak berbahagia.


"Kau ingin bernostalgia?" goda Kemal pada Eliana dengan mengambil posisi ikut berdansa.


El tersenyum, ia menerima uluran tangan suaminya dengan senang hati.


"Apa kau ingin pindah ke ranjang?" goda Alea pada suami yang tampak sangat bernafsu dengan bibirnya.


"Astaga.....kau benar, aku rasa kita sudah tidak dibutuhkan disini" jawab Abrar meraih pinggang istrinya seraya mengajak keluar dari ballroom hotel.


*****


"Sayang....kita mau kemana? kita akan pulang bukan?" tanya Alea heran.


"Iya....pulang ke kamar kita, aku sudah menyiapkan kamar untuk menginap disini, kau bilang kita juga pengantinnya malam ini bukan?"


Alea tersenyum menatap Abrar penuh arti.


"Aku mencintaimu bang Abrar" ucap Alea sambil menyandarkan kepala dibahu lelaki itu.


*****


Abrar dan Alea kembali menikmati keintiman sebagai pasangan suami istri di kamar hotel tempat mereka menginap, menjalani hubungan sakral dihiasi cinta diantara keduanya memang sangat menyenangkan.


Paginya, Abrar sudah sibuk dengan laptop karena ada sedikit pekerjaan yang mendesak untuk diselesaikan, Alea menjadi kesal sendiri dibuatnya.


"Sayang...."


"Hmmm" jawab Abrar mencium pipi Alea singkat kemudian kembali fokus ke layar.


"Abang menyebalkan, kau bilang kita juga pengantinnya disini, kenapa malah sibuk dengan pekerjaan" rengek Alea yang terus bersandar di bahu suaminya.


"Maaf....sebentar lagi juga selesai, apa kau bosan?"


"Sebenarnya tidak bosan jika abang meladeniku, tapi sepertinya laptop ini lebih beruntung daripada istrimu" kesal Alea.


"Bagaimana jika kau ke spa saja? aku akan menyelesaikan pekerjaanku sambil menunggumu" tawar Abrar agar istrinya tidak merasa bosan.

__ADS_1


"Astaga....ide bagus, baiklah aku ke spa saja tapi ingat abang tidak boleh keluar dari kamar ini, awas saja jika hilang" ancam Alea dengan mata besarnya.


"Aku milikmu sayang, baiklah selamat bersantai disana, aku tahu kau butuh pijatan yang membuatmu rileks dari lelah beberapa hari ini, aku janji tidak akan kemana-mana" ucap Abrar mengecup bibir istrinya gemas.


Alea bersemangat, ia memang merasa butuh waktu untuk dirinya sendiri dan akan sangat menyenangkan jika menenangkan diri di spa hotel tersebut.


Alea keluar kamar meninggalkan suaminya disana, ia berjalan seorang diri menuju tempat memanjakan tubuhnya disana, namun ia tidak sengaja melewati seorang perempuan asing namun ia merasa pernah melihatnya, perempuan itu juga berjalan ke arah yang sama.


"Maaf nona, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Alea dengan berani.


"Maaf kau siapa? aku rasa tidak pernah" jawab wanita itu.


"Begitukah, baiklah maaf aku kira kita pernah bertemu"


Alea menunduk tidak enak sendiri, wanita itupun berlalu lebih cepat daripada jalannya, kemudian ia kembali dibuat terkejut mendapati Arkan yang berjalan tergesa-gesa.


"Bang Arkan?"


"Alea?"


"Bang Arkan mau kemana? bukankah kamar pengantinmu ada di ujung sana?"


"Iya Alea, abang mau kembali kesana kasihan Vina menunggu lama, aku baru saja menemui seorang teman, dia ingin memberi kado pernikahan" jawab Arkan canggung.


"Mana kadonya?"tanya Alea lagi, karena Arkan tampak berjalan dengan tangan kosong.


"Hmmm itu, maksudku kadonya besar jadi aku minta pelayan hotel saja yang membawakannya nanti, kau mau kemana? mana abangku?"


"Abangmu sudah habis ku makan, suamiku masih dikamar ada sedikit pekerjaan karena ulahmu menikah jadi semuanya suamiku yang harus repot, aku ingin ke spa hotel ini" jawab Alea bercanda.


"Astaga.....ketika kalian menikah aku juga repot Alea sayang, baiklah selamat bermanja-manja di spa....abang akan kembali ke kamar, kau tahu pengantin baru bukan" usap Arkan pada kepala Alea.


"Aish....menyebalkan, cepatlah kembali sana kasihan istrimu"


Mereka berpisah karena berbeda arah.


*****


Setelah hampir dua jam memanjakan diri di spa hotel, Alea memutuskan segera kembali ke kamar mereka dengan wajah segar, seluruh tubuh telah wangi dan kembali merasa hidup.


Alea masuk ke kamarnya terkejut bukan main, dimana ranjang telah rapi, terdapat banyak balon berwarna putih berterbangan diatasnya, lilin aromateraphy menghiasi dinding, namun Alea tidak menemukan suaminya.


"Sayang.....kau dimana?" panggil Alea.


Tidak ada jawaban, membuat perempuan ini gusar.


"Astaga...apa jangan-jangan aku salah masuk kamar?" gumamnya, karena ketika ia pergi kamar itu tidak berhiaskan apa-apa, ia menjadi malu sendiri bagaimana jika benar ia salah masuk kamar.


Alea geleng kepala dan berbalik badan ingin kembali keluar sebelum pemilik kamar itu menyadari kedatangannya.


Bersamaan itu seorang pria menghalangi jalannya dengan sebuah buket bunga mawar putih yang besar mengarah pada Alea.


"Mau kemana?" tanya Abrar yang langsung menarik mesra pinggang rampingnya.


Alea menutup mulutnya terkejut, ia memang tidak salah kamar, ini sebuah kejutan dari suaminya.


"Astaga sayang kau membuatku takut, bagaimana kau melakukannya?" tanya Alea memeluk Abrar erat.

__ADS_1


"Apa perlu ku jawab?" ucap Abrar melepas pelukan dan segera meraih bibir istrinya.



__ADS_2