Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 107


__ADS_3

"Siapa kau? kenapa memeluk suamiku?".


"Apa?", Nara terkejut mendengar pernyataan itu dari mulut seorang perempuan yang matanya juga bengkak oleh tangis.


"Maaf nyonya, kami salah orang", sahut Alea menarik tangan Nara pelan agar menjauh dari jenazah.


Nara menatap Alea bingung.


"Dannis belum mati, kau terlalu berpikir jauh ayo ruangan suami mu di sebelah sana", ajak Alea lagi seraya terkekeh geli dengan tingkah iparnya itu.


Nara hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan pipi yang merah karena malu.


Bibi Tina tertawa pelan sambil menyusul langkah dua perempuan cantik yang mendahuluinya.


Dannis hanya diam menatap kosong ke lain arah, pria itu tidak bergerak dari tempat tidur pasien meski keluarganya baru saja lega bahwa Dannis telah sadar dari tidur yang disebabkan oleh anastesi operasi kakinya yang mengalami patah tulang.


"Nara", panggil mama El berbinar saat melihat menantu perempuannya itu datang bersama Alea.


Belum juga Nara menjawab mertuanya, Dannis lebih dulu melihat ke arah istrinya yang berdiri di ambang pintu, pria ini langsung mendudukkan diri ketika menyadari bahwa benar Nara yang berdiri di sana.


"Sayang, kau datang?", panggil Dannis bahagia.


Nara berjalan mendekat pada suaminya dengan langkah pasti, sambil mengangguk dan kembali menangis Nara memeluk Dannis erat, pria itu menerimanya dengan senyum.


"Kau kenapa bisa seperti ini? Dannis kau selalu membuat ku takut", ucap Nara menangis memegang perban luka di kening suaminya dengan pelan.


"Ini bukan apa-apa, aku bahagia kau kemari. Sayang maafkan aku tentang kemarin, jangan marah aku mohon".


"Lupakan yang kemarin, aku mencintaimu jangan tinggalkan aku Dannis", ucap Nara lagi memeluk suaminya.


"Apa aku terlihat mau mati?", canda Dannis.

__ADS_1


Nara tersenyum, mereka menyatukan kening dengan mata saling menatap penuh cinta, semua orang melihat mereka berciuman dengan kesal namun tentu saja ikut berbahagia akan kembalinya Nara pada suaminya.


"Sepertinya mereka butuh ruang untuk berdua, aku rasa kita bisa mengobrol di kantin saja", ajak mama El pada besannya bibi Tina yang mereka telah bertegur sapa beberapa saat lalu.


Bibi Tina mengangguk dan tersenyum, begitupun Alea yang perlahan menjauh dari hadapan sepasang suami istri itu.


Nara menatap heran kaki Dannis yang telah selesai di operasi, perempuan ini memegang kaki Dannis yang terbungkus perban elastis yang melilit sempurna pada tulang bagian kaki pria itu.


"Sayang, kakimu patah?".


"Darimana kau tahu ini patah?".


"Kak Reyhan pernah mengalami seperti ini ketika terjatuh saat masih kecil, aku tahu ini akan pulih dalam waktu yang cukup lama, lain kali berhati-hatilah mengemudi aku tidak mau kau terluka Dannis".


"Apa kau malu punya suami yang akan cacat?".


Nara menggeleng sebelum mengecup bibir Dannis lalu tertawa pelan.


"Aku akan mendampingimu hingga kau mendapat kesembuhan sayang, kau tidak akan cacat hanya karena patah tulang, ini akan membaik dan kau akan berjalan normal dalam beberapa bulan saja".


Nara mengangguk lagi, "Percaya padaku, kak Reyhan sudah pernah mengalaminya aku melihatnya sendiri".


Membuat bola mata Dannis berputar dengan kesal.


"Jadi Reyhan namanya", jawab Dannis datar.


"Dia kakakku, kenapa kau cemburu padanya juga dia datang kemari untuk menikah bukan untuk berkelahi dengan mu".


Dannis tersenyum.


"Maaf, baiklah lupakan katakan padaku kau datang bukan untuk pergi lagi bukan?.

__ADS_1


"Tergantung", jawab Nara menggoda.


"Sayang maafkan aku sungguh", Dannis meraih kedua tangan istrinya dengan wajah sesal.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, pamanku telah merestui kita aku akan pulang denganmu, dengan suamiku ini dengan calon bayi kita", jawab Nara seraya meletakkan telapak tangan Dannis pada perutnya yang masih datar.


Dannis tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


"Sayang? coba ulangi?".


Nara mengangguk, "Kita akan menjadi orang tua Dannis, aku hamil sekarang, kau akan menjadi ayah".


Dannis terdiam.


"Kau tidak senang aku mengandung?".


"Sayang, aku bahkan bingung ingin mengekspresikan kebahagiaan ini seperti apa? kakiku bahkan tidak bisa bergerak sekarang, kau tahu aku seperti ingin lompat-lompat saat ini", jawab Dannis memegang wajah Nara dengan mata berkaca-kaca.


"Aku mencintaimu Nara, aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku oke? aku memang payah, aku suami yang payah aku bahkan tidak bisa menggendongmu sekarang".


Dannis mengecup perut istrinya dengan perasaan terdalam lalu di akhiri dengan adegan ciuman yangg cukup lama hingga perawat yang ingin masuk saja mengurungkan niatnya untuk memberikan obat siang.


"Kenapa kau tidak jadi masuk?", tanya mama El dan bibi Tina serta Alea yang sudah berdiri di depan kamar rawat Dannis.


"Maaf nyonya, saya tidak ingin mengganggu",jawab sang perawat sopan.


Alea mengintip ke dalam, istri Abrar ini hanya bisa menggeleng kepala dibuat pemandangan di dalam sana.


"Huh.... aku rasa kita juga akan mengganggu, sebaiknya kita pulang saja dulu", sela Alea.


Membuat mama El dan bibi Tina tersenyum satu sama lain.

__ADS_1


"Mereka kebahagiaan ku", ucap mama El menggenggam tangan bibi Tina.


"Akupun sama denganmu Eliana, tidak ada hal yang lebih penting selain melihat anak-anak kita bahagia".


__ADS_2