Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 26


__ADS_3

Pagi menjelang, gadis yang akan menikah beberapa waktu lagi itu tentu tidak bisa tidur dengan baik, bagaimana tidak ia tidak hanya memikirkan tentang pernikahan yang seharusnya tidak terjadi antara ia dan Dannis, namun Nara juga memikirkan bagaimana jika ia bertemu Reno nantinya.


Sungguh diluar dugaan Nara bahwa ia kembali akan berhadapan dengan mantan tunangannya nanti, belum lagi pikirannya dikacaukan oleh rumah yang dijual oleh ibu dan Ranti, ia menyayangkan akan banyak benda dan barang berharga peninggalan ibu kandungnya di rumah tersebut yang tidak tahu dikemanakan oleh ibu dan Ranti.


"Hei.....", kejut Sheira pada Nara yang melamun dengan pikiran yang jauh.


Nara hampir menjatuhkan gelas minum yang berada di tangannya.


"Ah..... nona Sheira, kau mengagetkanku", ucap Nara menghembus napas dalam.


Mereka berada di dapur dengan waktu bersamaan.


"Berhenti memanggilku nona, kau akan menjadi kakak iparku, panggil namaku saja meski aku lebih tua darimu aku akan menghormatimu sebagai kakak iparku", ucap Sheira terkekeh.


Nara menjawab dengan tersenyum tipis saja.


"Kenapa kau sedih? apa kau tidak mau menjadi iparku?".


"Ayolah nona Sheira, seharusnya aku tidak berada di sini, rumah ini bukan tempatku, tuan Dannis tidak seharusnya menikah dengan gadis yang bahkan kalian tidak tahu asal usulku".


"Jangan sembarang bicara Nara, kau akan menjadi nyonya sebentar lagi.... kami menginginkanmu Nara sayang, jangan berpikiran yang tidak-tidak sebaiknya kita persiapkan segalanya yang serba dadakan ini", jawab Sheira menenangkan gadis bertubuh mungil itu.

__ADS_1


"Hanya kau yang menginginkan ku Sheira, tidak tuan Dannis, orang tuamu hanya terpaksa saja karena salah paham ini. Aku ragu nona, bagaimana jika kita jujur dan batalkan selagi bisa kasihan kakakmu jika harus terjebak pernikahan yang sama sekali tidak diinginkan nya", bujuk Nara.


"Tidak..... tidak.... enak saja ingin batal, aku sudah menunggu momen ini Nara, ku pikir kau adalah gadis yang tepat untuk kak Dannis, siapa yang akan menolak pesona mu Nara, hanya masalah waktu saja, percaya padaku tidak ada cinta yang tidak hadir di dalam sebuah pernikahan, kau akan merasakannya nanti".


"Lagi pula bukankah kau sudah tidak punya keluarga? ayolah sayang, kami keluarga mu sekarang, kami menerima mu dengan tangan terbuka Nara, meski kita baru kenal tapi kau mampu mengambil hatiku, aku menyukaimu sejak kita bertemu, dan kau tepat untuk mendampingi kakakku, kak Dannis butuh perempuan lembut seperti mu untuk melunakkan hatinya yang membatu", ucap Sheira panjang lebar sambil memeluk Nara dengan gemas.


"Tapi.... aku rasa ini akan sulit, pernikahan bukan hal yang patut untuk dipermainkan nona, aku benar-benar takut karena ini diawali dengan kebohongan. Tuan Dannis tidak menyukaiku".


"Akan suka jika kau tidak banyak mengeluh seperti sekarang, percaya padaku Nara....", kembali Sheira meyakinkan Nara.


Nara hanya diam.


"Baiklah jangan terlalu dipikirkan, akan indah pada waktunya..... perutku mulas, aku akan ke belakang", ucap Sheira memegang perutnya sambil berlari ke toilet yang juga berada di dapur.


Iya Nara selalu membantu para pelayan selama ia tinggal di sana, tidak heran jika ada sebagian pelayan yang menganggapnya lebih cocok menjadi pembantu ketimbang menantu di rumah tersebut karena penampilan sederhana yang terlihat sangat berbeda dari anak-anak majikan mereka.


Baru juga akan melangkah meninggalkan dapur, Nara yang berjalan menunduk itu pun mengaduh ketika keningnya menabrak sesuatu.


"Oh.... tuan Dannis, maaf maaf aku tidak sengaja", ucap Nara cemas ketika matanya menatap Dannis yang berwajah datar.


Dannis tidak bersuara namun, ia terus melangkah maju membuat Nara terpaksa mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Tuan.... maaf, aku akan kembali ke kamar", ucap Nara seraya terus menunduk takut.


"Bukankah kau senang jika bertemu denganku? Kenapa sekarang ingin lari?", ucap Dannis terus mendekati Nara hingga punggung gadis itu menabrak kulkas.


Nara terus menunduk dan memejamkan mata ketika Dannis kian mendekatkan tubuhnya hingga menempel, tidak segan pria itu memegang pinggang Nara membuat darah gadis ini berdesir akan sentuhan tangan besar Dannis.


Nara masih terpejam takut, ia merasakan bahwa wajah Dannis kian mendekati wajahnya hingga ia merasa bulu kuduknya meremang saat Dannis bicara pelan di tepi telinganya.


"Apa kau berharap aku akan menciummu seperti kemarin? jika iya, teruslah bermimpi", ucap Dannis sarkas di telinga Nara.


"Awas, kau menghalangi kulkas", ucap Dannis lagi dengan nada dingin.


Dannis menarik pinggang Nara dengan kasar seraya menjaukannya dari pria itu hingga Nara hampir tersungkur, kemudian Dannis membuka kulkas tanpa menghiraukan Nara lagi.


Nara menarik napas dalam dan berkata "Maafkan aku tuan..... aku tahu kau tidak menyukaiku, namun setidaknya hargailah aku sebagai perempuan dimana kau juga punya adik perempuan jangan berbuat kasar terhadap perempuan, bagaimana jika posisi ku terjadi pada adik-adikmu dan diperlakukan kasar oleh seorang lelaki yang semula ku anggap baik dan penolong, lagi pula jika bukan seorang perempuan kau tidak akan lahir ke dunia ini, tidak apa-apa kau tidak menerimaku namun mari kita saling menghargai", ucap Nara dengan mengusap sudut matanya yang berair.


Gadis itu pergi begitu saja tanpa menunggu tanggapan pria yang tercengang menghadap kulkas.


"Ck...... apa dia sedang melawanku?", gumam Dannis berdecak kesal sambil ekor matanya menatap punggung Nara yang menjauh.


Sheira bertepuk tangan yang membuat Dannis kaget dan menatap adiknya tajam.

__ADS_1


"Sungguh luar biasa, kakakku diceramahi oleh gadis desa yang sederhana di pagi buta ini, kau akan merasakan sisi lain dari Nara yang tidak kau temukan dari gadis manapun setelah menikah nanti, aku sangat mendukung pernikahan ini", ucap Sheira menepuk pundak Dannis dan ikut pergi meninggalkan pria itu mematung.


__ADS_2