Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 25


__ADS_3

Setelah sampai dirumah, Abrar menggendong Alea sampai ke kamar, membaringkannya di ranjang agar perempuan itu bisa istirahat.


"Tidurlah jika lelah....aku akan kembali ke kantor, nanti ku pesankan makan siangmu, jadi kau tidak perlu memasak siang ini" ucap Abrar kemudian mencium seluruh wajah Alea yang kian sayu.


Alea tersenyum, ia meraih wajah suaminya dengan sayang dan membalas kecupan Abrar di bibir pria itu dengan lembut.


"Aku tidak tahu jika bukan kau yang menjadi suamiku, sekarang aku merasakan betapa beruntungnya aku ketika bisa menggagalkan rencana pernikahanmu dengan nona Yura waktu itu, jika tidak mungkin dialah yang berada di ranjang ini, dan sekarang mungkin kau akan melihatku menjadi perebut suami orang" ucap Alea sendu dengan mata berkaca-kaca. Alea memang merasakan betapa berartinya seorang Abrar baginya sekarang, ia menjadi takut kehilangan pria ini jika membayangkan banyak wanita yang jatuh ada pesona Abrar, terlebih Abrar memang layak untuk di sukai banyak perempuan.


"Ketika orangtua kita salah paham tentang drama itu, aku merasa sangat bersyukur di satu sisi aku merasa diuntungkan karena harus menikahimu yang memang ku impikan sejak dulu, meski harus mengorbankan perasaan Yura dan keluarganya, percayalah sayang aku juga merasa takdir begitu baik padaku ketika tingkah konyolmu membawa kebahagiaan bagi kita sekarang, aku mencintaimu Alea....akan tetap seperti ini sampai kita tua nanti, tidurlah kau nampak lelah"


Balas Abrar sambil membelai pipi Alea, Alea tidak menjawab lagi namun langsung meraih kembali leher Abrar agar bibir mereka bertaut semakin dalam, Abrar mulai terlena akan hal itu, Alea memang pandai membuatnya tidak berdaya.


"Jika aku tidak mengizinkanmu kembali ke kantor bagaimana?" ucap Alea seraya menggoda, ia tidak melepaskan Abrar begitu saja.


"Sayang kau lelah" jawab Abrar pelan.


"Sudah ku bilang aku tidak akan lelah jika bersamamu, ingin mandi bersamaku?" goda Alea sambil tangannya bergerak membuka kancing kemeja Abrar dan meninggalkan beberapa kecupan di dada Abrar hingga membuat pria ini melenguh seketika.


"Ini tawaran atau paksaan?" jawab Abrar tersenyum, ia paham maksud istrinya, tidak dipungkiri ia juga menggilai perempuan itu jika sedang berdekatan seperti ini.


"Sayang....kau tidak bisa lepas begitu saja" bisik Alea, kini tangannya tergerak membuka kancing atas dressnya, sengaja ia memamerkan dada berisi yang masih terbungkus bra.


Abrar tersenyum penuh makna, ia mengecup bibir Alea dalam semakin dalam, tangannya mulai bergerilya di dada sang istri.


"Dengan senang hati sayang, jangan sampai kau mengeluh nantinya" jawab Abrar seraya berbisik dan segera menggendong Alea kembali menuju kamar mandi.


Aktivitas bercinta di dalam kamar mandi menjadi salah satu adegan favorit pasangan ini, dimana hanya bunyi kecipak air dan desah-desah manja entah dari bibir siapa, mereka benar-benar menikmati kehidupan suami istri dalam arti sesungguhnya yang baru saja dimulai.


Abrar kembali terjebak akan pesona istrinya, ia memutuskan tidak kembali ke kantor demi mengiyakan permintaan Alea untuk menghabiskan waktu bersama hingga malam nanti, karena Abrar juga ingin mengajak istrinya jalan berdua sambil mencari serba serbi apa yang mereka butuhkan ketika pesta pernikahan Arkan nanti.


Setelah puas bercinta dan istirahat menjelang pergi untuk jalan-jalan, Abrar memesankan saja makan siang untuk mereka dari restoran langganan, setelah makan siang mereka bersiap-siap untuk berkencan dan berbelanja kebutuhan.


*******


Di mall, Alea dan Abrar menikmati kencan pertama setelah benar-benar menjadi suami istri, seperti pasangan yang tengah kasmaran mereka selalu menempel satu sama lain, sesekali Abrar mengecup puncak kepala istrinya dengan sayang, kebahagiaan keduanya baru saja dimulai.


Abrar tengah menunggu Alea di depan toilet wanita, pria ini sibuk dengan ponselnya.


"Abrar?" tanya seorang perempuan yang tidak sengaja melewati Abrar.

__ADS_1


"Yura? kau disini juga?"


"Iya, apa kabar....kau sendiri mana istrimu?"


"Aku baik, bagaimana denganmu? ah istriku sedang di toilet, kau tidak mengajar hari ini?"


"Aku libur" jawab Yura singkat, entah kenapa gadis ini masih saja merasa kecewa jika Abrar bersama istrinya.


Abrar hanya tersenyum saja, sambil sesekali melirik toilet apa istrinya sudah keluar atau belum.


"Kau bahkan menunggu istrimu sampai di depan toilet sekalipun, sungguh beruntung perempuan itu bisa mendapatkanmu Abrar" ucap Yura tiba-tiba.


"Hmmm bukankah suami memang harus begitu, apa kau sendiri saja?"


"Tidak, aku sedang menunggu seseorang, kami berniat untuk kencan hari ini" Yura sengaja menekankan kata kencan, entah apa maksudnya.


Namun raut wajah Abrar yang tampak biasa kembali membuatnya kecewa, ia pikir Abrar akan kecewa biar bagaimana pun mereka hampir saja menikah waktu lalu mungkin Abrar juga mempunyai perasaan walau sedikit padanya begitu pikir Yura.


"Aku senang mendengarnya Yura, aku berharap yang terbaik untukmu, kau gadis baik kau juga akan mendapat lelaki yang baik" jawab Abrar yang memang tidak menanggapi berlebihan.


"Iya....mungkin tidak lebih baik darimu" ucap Yura sendu.


"Sayang aku disini" panggil Abrar setelah melihat Alea kebingungan mencarinya.


Lagi-lagi Yura kecewa mendengar kata sayang dari Abrar untuk istri yang seharusnya posisi itu ada padanya sekarang, entah kenapa Yura merasa menyesal telah membatalkan pernikahannya bersama Abrar waktu itu.


Gadis ini memang sungguh jatuh pada pesona Abrar, namun apa hendak di kata sekarang posisi itu telah di isi oleh wanita lain yang telah menggagalkan rencana pernikahan mereka hanya dengan rengekan manja dari Alea malam itu.


Alea berjalan mendekati suaminya, dan segera menautkan jari mereka setelah menyadari Yura tengah berada dihadapannya.


"Nona Yura?" Sapa Alea lembut namun menusuk, ia tidak menyukai pertemuan ini.


"Iya....maaf Abrar aku kesana dulu" pamit Yura yang juga tidak menyukai tatapan tajam Alea.


Abrar hanya mengangguk saja, Yura segera berlalu dari sana.


"Sayang bagaimana bisa kau bertemu nona menyebalkan itu? aku cemburu" ucap Alea tanpa berbasa basi.


"Hei.....hentikan itu, aku tidak sengaja bertemu apa salahnya saling menyapa" cubit Abrar pada hidung mancung istrinya.

__ADS_1


"Tetap saja aku cemburu, memang apa yang kalian bicarakan?"


"Sudahlah itu tidak penting, sekarang mari berbelanja kebutuhanmu sebelum pulang" Ajak Abrar yang segera menyematkan tangan kekarnya memeluk pinggang istrinya.


Alea hanya tersenyum kecut, sungguh ia masih kesal jika Abrar berbicara dengan wanita lain terlebih itu adalah Yura.



Mereka melanjutkan berbelanja kebutuhan Alea untuk pesta pernikahan Arkan nanti dengan wajah bahagia dan tetap menempel seakan enggan terpisahkan.


******


Abrar tersenyum melihat Alea kelelahan karena terlalu bersemangat berbelanja, mereka pulang setelah makan malam di restoran ternama untuk menutup kencan hari ini.


Setelah mandi dan berpakaian nyaman, Alea meringkuk dibawah kungkungan lengan suaminya, ia tidak bicara lagi karena memang sudah mengantuk.


"Kau lelah?" tanya Abrar mengecup hidung Alea.


"Tidak akan lelah jika bersama mu" jawab Alea pelan sambil mengeratkan pelukan, selalu itu yang di ucapkannya jika Abrar menanyakan tentang kata lelah.


"Kau menggemaskan sayang" Abrar kembali merasa Alea memang menggemaskan dan memberi ciuman berkali-kali pada bibir perempuan itu.


Alea hanya menerima saja, matanya kian sayu.


"Kau mengantuk?" tanya Abrar kembali.


"Iya aku mengantuk...." jawab istrinya singkat dan semakin membenamkan wajahnya di dada Abrar.


Abrar terkekeh, ia berniat menggoda Alea.


"Yakin tidak ingin bercinta dulu?" goda Abrar kembali.


Mata Alea terbuka kembali sambil melirik Abrar dengan senyum penuh arti.


"Aku tidak menolak jika kau memaksa" jawab Alea seraya menggigit bibir bawahnya dengan tatapan seksi.


"Astaga.....kau memang membuatku gila sayang" ucap Abrar yang sudah tidak bisa menahan godaan dari Alea, segera pria ini menaikkan selimut dan posisinya berubah menindih Alea tanpa berpikir lama dengan tangan yang sudah bergerilya entah kemana, Alea melingkarkan kedua kakinya dipinggang Abrar sambil terus melenguh yang membuat suaminya kian menggila dibawah sana.


__ADS_1


Tampilan Alea ketika di ranjang, mana tahan si abang mah....lanjutkan bang.....


__ADS_2