
...Selamat membaca ...
...🌸🌸🌸🌸🌸...
"Bagaimana kondisimu sayang? Apa sudah lebih baik?" sapa mama Herna pada Hana yang sedang dibantu perawat membersihkan dirinya.
"Iya ma Hana sudah lebih baik. Hanya beberapa lebam akibat benturan kemarin saja yang belum hilang bekasnya." jawab Hana tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu. Mama senang dengarnya." Mama Herna mengusap punggung Hana dengan penuh kasih sayang.
"Ma,,, Gimana keadaan Dion?" tanya Hana kemudian.
"Nah itu dia yang mau bahas sama kamu sayang."
Mama Herna memberi isyarat pada Hana untuk menunggu dulu sampai perawat selesai tugasnya. Hana mengangguk mengerti. Dibiarkannya dulu perawat itu membantunya sampai selesai.
"Terima kasih." ucap Hana begitu perawat selesai.
Perawat mengangguk dan tersenyum sopan lalu keluar meninggalkan mama Herna, Hana dan Mela di ruangan itu.
"Jadi kenapa Dion ma?" Hana mengulang pertanyaannya begitu perawat menutup pintu.
"Dion sempat tersadar kemarin Han, tapi,,, hiks,,," mama Herna menangis sedih.
"Tapi kenapa ma?? Mama cerita dulu jangan nangis dulu!! Hana kan penasaran. Buruan mama cerita!!" titah sang wanita kesayangan.
"Mbak Karin mana pernah sebelagu ini sama nyonya. Dasar non Hana tidak tau diri.Sudah disayang sebegitunya sama nyonya malah berani bicara seolah menghardik nyonya." Mela membatin dalam hati dan mengutuki Hana.
Mama Herna sedikit terperangah mendengar nada bicara Hana itu namun kemudian beliau berusaha mengerti kalau Hana berbuat demikian karena sabar dan sangat ingin tau kabar Dion.
__ADS_1
"Hana kan cinta mati sama Dion. Wajar kalau begitu." batin mama Herna.
"Dion sekarang koma Han." lirih mama Herna.
"Apa?? Koma?? Kenapa bisa begitu ma?" desak Hana.
"Entahlah. Mama tidak paham urusan medis begini. Yang jelas sekarang dokter meminta kita bersabar dan membantu menstimulus kesadaran Dion dengan sering sering mengajaknya berkomunikasi. Orang orang terdekatnya akan sangat berpengaruh dalam hal ini. Dan menurut mama,, kamulah orang yang harus selalu bersamanya sayang." ucap mama Herna.
"Hana??"
"Iya,, kamu sayang. Kamu kan wanita yang sangat dicintai Dion. Meskipun itu sudah lama sekali tapi mama yakin Dion masih punya rasa itu. Wajar kan kalau mama berharap padamu. Kamu adalah bagian penting dalam hidup Dion. Kamu wanita pertama yang membuatnya sampai tau apa artinya berkorban demi cinta. Kamu istri pertamanya sayang." ucap mama Herna meyakinkan.
"Istri kedua tepatnya setelah ada Ratna sebagai istri sirinya." Hana membenarkan pernyataan mama Herna.
"Mama tau itu tapi bagi mama kamulah yang sah jadi istri pertamanya. Ratna itu tidak sah sayang jadi kamu jangan pernah merasa kalah dengannya."
"Nyatanya Hana memang kalah ma. Pernikahan Hana dengan Dion kandas karenanya kan?"
Apalagi mengingat kecelakaan yang merenggut suami dan anaknya juga. Hana jadi bimbang sendiri sebenarnya perasaan apa yang ada padanya untuk Dion. Kadang ia masih sangat menginginkannya karena kepergiannya dulu juga terpaksa dengan membawa sejuta luka. Namun kadang ia merasa ia hanya dendam saja pada Dion.
Dan sekarang wanita tua yang menyayanginya itu memintanya sendiri untuk kembali mengurus putra satu satunya yang telah berkali kali meninggalkan bekas luka di hatinya.
Mampukah Hana menerima tugas itu?
"Han,,,Mama tau apa yang dilakukan Dion dulu adalah sebuah kesalahan yang mungkin tidak bisa kamu maafkan sayang. Tapi kamu juga tau bahwa itu semua juga karena andil besar Ratna yang meracuni pikiran Dion. Bukankah kalau tidak ada Ratna, Dion adalah suami yang baik bagimu sayang? Terlepas dari kekurangan apa yang kalian miliki saat itu,,, ketidakhadiran buah hati atau apa pun itu,, kalian bahagia saat tidak ada Ratna."
"Tapi ma,,,"
"Mama bukan sedang membela putra mama. Mama justru ingin meminta maaf padamu atas nama putra mama yang lalai itu. Mama meminta kesediaanmu untuk memberikan Dion kesempatan kedua." potong mama Herna.
__ADS_1
"Mama bicara begitu seakan mama lupa ada wanita lain lagi yang saat ini mengambil kendali atas diri Dion. Dan Hana sudah berkali kali dikalahkannya. Sampai Hana juga harus kehilangan janin Hana ma. Kenangan terakhir atas suami Hana direnggutnya." Hana makin sentimentil.
"Wanita yang kamu bicarakan itu sudah mama singkirkan jauh jauh. Tidak akan ada yang tau kemana dan di mana dia saat ini. Bahkan keluarganya di Indonesia juga tidak akan pernah tau karena mama sudah mengikatnya dengan sebuah perjanjian yang mengharuskan dia menjauh dari kita dan siapa pun yang dekat dengan kita termasuk Darren dan keluarganya. Semua yang berkaitan dengan Dion harus dijauhinya."
Hana mengerutkan dahinya seakan tak percaya wanita tua ini bisa secerdas itu.
"Dan Karin setuju begitu saja?" tanyanya kemudian.
"Memangnya dia bisa apa? Mama memberinya pilihan tersulit yang mau tidak mau tetap harus diambilnya. Dion atau ayah dan anaknya? Dan dia tentu saja akan memilih opsi kedua itu karena dia takut mama berbuat macam macam pada anaknya kalau dia menyerahkannya." mama Herna tersenyum licik.
"Serius ma??" mata Hana berbinar.
"Iya dong sayang. Dan kamu harus tau,,,semua ini mama lakukan demi kamu sayang. Biar kamu bisa kembali mendapatkan apa yang sebenarnya adalah milikmu." ucap mama Herna.
Hana masih tak menjawab. Mama Herna sepertinya mengerti apa yang tengah dipikirkannya.
"Tapi agar tak terkesan merayumu berlebihan, mama akui mama juga sebenarnya melakukan ini untuk Dion juga. Mama ini ibunya. Yang melahirkan dia. Mama tau persis yang mana yang bisa membuatnya bahagia. Dan kebahagiaan Dion yang sesungguhnya adalah kamu sayang. Bukan Karin,,, Karin hanya obsesinya. Mungkin perempuan nakal itu genit di ranjang dan yaaaah hanya itu saja yang menahan Dion. Sementara kamu,,, kamu memiliki hati dan cinta Dion."
"Mama yakin?" tanya Hana.
"Sangat yakin sayang. Memangnya di bagian mana lagi yang membuatmu ragu?" tanya balik mama Herna.
"Hana ragu dengan kebahagiaan Hana sendiri ma. Apa benar Hana akan bisa bahagia lagi bersama Dion? Dion koma dan kalau pun dia sadar,,, dia lumpuh ma. Maaf,,, Hana bukan tidak mau menerima kondisinya seperti itu tapi Hana apa bisa berharap Dion kelak bisa memberikan Hana seorang putra? Apa dengan tidak hadirnya putra kembali dalam kebersamaan kami nantinya tidak akan memicu perpisahan lagi?" tanya Hana.
Mama Herna terdiam. Beliau memang tidak berpikir sejauh itu. Yang dipikirkannya hanya bagaimana caranya menyatukan keduanya kembali setelah menyingkirkan Karin.
"Apa mama tidak merasa bagi Hana ini seperti membaca novel yang sama? Tiap bagiannya sudah bisa Hana tebak akan seperti apa. Bahkan endingnya pun Hana sudah tau seperti apa." pungkas Hana.
"Mama mohon sayang,,, berikan Dion kesempatan kedua. Please,,," mama Herna menangkupkan sepuluh jarinya di depan Hana dengan penuh harap.
__ADS_1
...🌸🌸🌸🌸🌸...