Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 53


__ADS_3

Mama Bella telah bicara pada kedua putranya tentang papa kandung mereka, harapan perempuan paruh baya itu Abrar maupun Arkan bisa menerima dan memaafkan papa Agung setelah ia memberi pengertian dan kembali merajut hubungan baik terlebih pria tua itu membutuhkan dukungan dari kedua putranya dalam menghadapi krisis penyakit yang kian hari tidak juga membaik.


Abrar dan Arkan hanya diam saja mendengarkan setiap kata dari mulut sang mama, memang tidak mudah bagi keduanya namun mereka juga tidak bisa menolak keinginan mamanya itu demi kebaikan bersama.


Masih dengan pikiran masing-masing Abrar dan Arkan pun menyudahi percakapan antara ibu dan anak tersebut, Arkan kembali ke kamarnya untuk memikirkan kembali apa yang ibunya katakan.


Abrar memilih untuk mengajak istrinya segera pulang, sungguh pikirannya lelah akan sesuatu hal yang terasa menghimpit dadanya, Alea melihat raut suaminya jadi mengerti dan tidak banyak bicara lagi, perempuan ini menuruti suaminya yang ingin segera pulang dan memutuskan untuk tidak ke kantor hari itu.


Sesampainya di rumah, Abrar langsung memeluk istrinya seakan menumpahkan dilema yang ia rasa untuk saat ini, Alea mengusap punggung suaminya dengan pelan.


"Sayang....aku harap kau mau mengerti apa yang telah mama katakan tadi, sungguh kami ingin yang terbaik untukmu dan bang Arkan, mari berdamai dan akhiri kebencian dihatimu untuk papa, kasihan papa sedang sakit....dia membutuhkan kita semua sekarang"


"Entahlah.....aku sedang tidak ingin membahasnya saat ini" jawab Abrar yang mengeratkan pelukan pada tubuh kecil istrinya.


Alea hanya bisa menghela napas mendengar jawaban suaminya, ia tidak ingin memaksa yang akan membuat pria itu kian tidak bisa berpikir jernih sekarang, Alea mengangguk dan mengajak suaminya duduk di sofa agar bisa lebih tenang. Abrar berbaring di paha istrinya seraya memejamkan mata seakan memang ingin melupakan sejenak permasalahan yang ia hadapi sekarang, Alea terus membelai rambut suaminya hingga senyumnya mengembang ketika mendengar suara mendengkur halus dari bibir Abrar.


"Huh....ternyata kau juga mengantuk sayang" gumam Alea pelan sambil mencium pipi suaminya.


******


Vina melihat suaminya lebih banyak diam sejak masuk kamar setelah bicara dengan Abrar dan juga mama Bella tadi siang.


"Apa kau juga akan seperti mama dan Alea yang bisa memaafkan papamu begitu saja?" tanya Vina tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.


"Entahlah Vina....aku juga bingung, aku masih belum menyangka ini terjadi namun mama ada benarnya juga" jawab Arkan yang masih tidak bergeming dari posisi berbaring yang berbantalkan kedua tangannya menghadap ke atas langit-langit kamar sambil memikirkan sesuatu.


"Ck....tentu saja kau akan cepat memaafkannya karena kau juga sama sepertinya" jawab Vina begitu saja membuat Arkan menoleh pada istrinya itu.


"Apa kau menyindirku Vina?"


"Kenapa merasa tersindir? Memang kenyataan bukan"

__ADS_1


"Tapi aku bertanggung jawab Vina, tidak seperti lelaki itu yang meninggalkan kami" jawab Arkan kesal.


"Terserah, bagiku kau sama saja....aku heran kenapa Alea begitu berpengaruh pada kalian semua, mama saja bisa langsung melunak ketika mengetahui hal ini dari Alea, huh.....apa hebatnya dia" umpat Vina.


"Apa maksudmu Vina? Alea tidak ada hubungannya dengan ini, memang benar Alea mengetahui ini lebih dulu tapi kenapa kau bicara seperti itu?"


"Apa kau tidak merasa Alea mempengaruhi kalian semua? Huh....perempuan menyebalkan, bahkan kau sering membelanya...atau jangan-jangan kau juga menyukainya?" selidik Vina.


"Kau ini bicara apa Vina? Kau sama sekali tidak mengenal Alea, dia sudah seperti adik bagiku kami sudah dekat jauh sebelum papa Ricko dan mama menikah bahkan sejak umurnya 2 tahun, kau salah jika menilainya begitu, jangan membuatku tambah pusing dengan bicaramu yang tidak jelas, aku heran kenapa kau tidak menyukai Alea, biar bagaimanapun dia iparmu" jawab Arkan yang bangkit dari posisinya.


"Tentu saja aku tidak menyukainya, kalian semua seakan tunduk dengan perempuan manja itu, kau lihat bahkan mama memperlakukannya seperti anak kandung bukan seperti menantu, dia selalu seenaknya saja di rumah ini, mungkin karena dia merasa bangga menjadi menantu pertama sekaligus menjadi istri dari abangmu yang seorang pemimpin perusahaan, dan kau apa? Kau hanya wakilnya saja....selalu jadi yang kedua" ucap Vina panjang lebar.


Membuat Arkan mengusap wajahnya kasar.


"Aku tidak menyangka kau bisa berpikir seperti ini Vina, aku kecewa padamu....aku sedang pusing sekarang aku tidak ingin berdebat, terserah apa katamu aku akan pulang ke rumah Melati malam ini" jawab Arkan menatap tajam istrinya.


"Tidak masalah....bukankah sudah pernah ku katakan kau boleh menemui wanita simpanan itu jika kau bisa mendapatkan posisi bang Abrar di perusahaan, aku rasa kau lebih pantas dari dia, aku muak melihatmu menjadi yang kedua tidak di rumah maupun di kantor, abangmu hanya sibuk mengurus istrinya yang manja itu, kau punya istri dua seharusnya kaulah yang menjadi bos sekarang"


"Ck....aku merasa kau seperti tidak menghargaiku Vina, aku memang salah telah menduakanmu namun tidak begini juga hubungan segitiga kita tidak ada kaitannya dengan bang Abrar maupun Alea apalagi posisiku di perusahaan, kau benar-benar membuatku kecewa Vina, aku berharap kau bisa berubah setelah pindah ke rumah ini, kau bebas menikmati setiap fasilitas disini bahkan Alea tidak mendapatkannya, kau seperti sedang menggadai suamimu sendiri" ucap Arkan dengan mata memerah dan berkaca-kaca.


Pria itu bangkit dari ranjang meraih kunci mobil dan memakai mantel hendak pergi dari sana.


"Kau mau kemana? Berani kau pergi meninggalkan ku malam ini, aku tidak akan sungkan untuk menemui dan menyakiti istri simpananmu itu, aku akan buat wanita itu meninggalkanmu" ancam Vina tanpa takut.


Arkan berhenti sejenak lalu menatap wajah Vina yang memerah.


"Kau pikir aku takut? Aku sudah sangat bersabar menghadapimu selama ini Vina, coba saja kau berani menyakiti Melati jika bukan kau yang enyah dari hidupku" jawab Arkan tajam kemudian pria itu membanting pintu kamar dan berlalu dari sana.


"Kau benar-benar menyebalkan Alea, bahkan semua orang membelamu....." gumam Vina kesal menatap pintu yang baru saja tertutup kasar oleh suaminya.


******

__ADS_1


Keesokan harinya, untuk membujuk kembali kedua putranya mama Bella memutuskan akan menjenguk papa Agung bersama Arkan dan Vina.


Tiba di sana, sama seperti kakaknya Arkan pun belum siap untuk bertemu sang papa, ia memutuskan akan menunggu di luar saja seperti apa yang Abrar lakukan kemarin, Alea yang baru saja pulang dari berjaga malamnya pun menyusul mama Bella dan Vina yang sudah berada di ruang rawat papa Agung sambil menunggu suaminya menjemput, karena Abrar tentu saja harus ke kantor untuk beberapa pertemuan penting pagi ini.


"Oh astaga....kalian dua beradik sama saja datang ke sini hanya untuk duduk di luar, ayolah bang Arkan bisakah kau ikut masuk, kita perbaiki hubungan ini mulai sekarang" ajak Alea ketika melihat iparnya itu duduk di kursi seperti suaminya kemarin.


"Maaf Alea sepertinya aku juga belum siap....kau saja, mama sudah disana bersama Vina" jawab Arkan pelan.


"Baiklah jika begitu, kau mau datang kesini saja papa pasti akan sangat bahagia" ucap Alea seraya berlalu menuju kamar papa Agung.


Alea masuk kesana langsung disambut kedua mama mertuanya dengan hangat, dimana mama Bella dan mama Clara bergantian memeluk Alea meski perempuan calon dokter itu belum mandi, membuat Vina memutar bola mata malas melihat adegan tersebut, berbeda ketika datang tadi Vina bahkan hanya diam saja tanpa berlaku santun seperti menyalami papa mertuanya itu terlebih ia memang mengenal papa Agung sejak bertetangga.


Vina hanya duduk diam saja, dia bahkan seperti menahan jijik melihat pria tua yang terbaring lemah dengan selang di hidungnya serta selang urin yang tergantung diranjang itu membuat ia ingin cepat-cepat pergi dari sana namun tentu saja karena mama Bella jadi Vina tidak berani melakukannya.


Mama Clara merasa sungkan dengan tatapan Vina, mereka sudah lama bertetangga namun Vina sudah sangat berubah sekarang bahkan tidak mau menyapanya ketika datang tadi.


"Naura kemana ma?"tanya Alea pada mama Clara.


"Dia mulai bekerja hari ini sayang" jawab mama Clara.


"Seharusnya tidak perlu bekerja lagi, biar dia bisa membantumu disini menjaga mas Agung Clara" ucap mama Bella.


"Jika tidak bekerja, kami bisa apa mbak Bella....Naura jadi tulang punggung sejak mas Agung sakit, aku tidak bisa menjahit dalam keadaan seperti ini"


"Kau ini bicara apa Clara, jangan pikirkan itu biar Abrar dan Arkan yang menanggung hidup kalian setelah ini, jangan khawatirkan itu oke....fokuslah menjaga mas Agung, kau juga butuh Naura untuk menemanimu disini, maaf kedua putra ku masih belum bisa kesini, aku harap kau mengerti tapi percayalah mereka akan melunak tidak lama lagi, iya kan Alea?" ucap mama Bella pada Clara dan beralih pada Alea.


"Benar, bang Abrar dan bang Arkan hanya masih malu saja untuk masuk, aku rasa mama Bella benar, sebaiknya Naura berhenti saja bekerja, biar kami yang akan memenuhi kebutuhan papa dan mama setelah ini, kita fokus saja pada sakit papa sekarang" jawab Alea sambil menaikkan selimut pada tubuh lemah papa mertuanya.


Clara hanya bisa tersenyum, kembali matanya berair mendapat perlakuan yang jauh lebih baik dari Bella dan Alea, sungguh ia menyesal dan merasa tidak pantas dimaafkan jika mengingat masa lalu mereka.


"Aku permisi ingin duduk di luar saja, aku sedang hamil jadi mudah gerah" ucap Vina tiba-tiba, ia merasa muak berada di tengah-tengah drama keluarga tersebut, tanpa menunggu tanggapan dari mertuanya Vina pun berlalu dari sana.

__ADS_1


__ADS_2