
"Bibi, apa boleh aku bicara sesuatu?".
"Tentu saja Nara, kau ingin mengatakan apa? tenanglah, aku tidak akan membiarkan putraku menghancurkan harga dirimu dengan menjadikan kau pelampiasannya saja, maafkan Dannis ya", ucap mama El lembut pada gadis itu ketika mereka sudah sampai rumah besar tempat tinggal keluarganya.
"Tidak bibi jangan bicara seperti itu, bibi salah paham atas maksudku ketika di kantor tadi, kami memang tidak mempunyai hubungan apapun, kami hanya....", Nara terdiam ketika mama dari Dannis itu menatapnya lain.
"Nara, jangan katakan bahwa kalian hanya cinta satu malam? sudah hentikan bibi tidak ingin mendengarnya, yang bibi inginkan kalian harus menikah, agar kalian bisa bebas melakukannya jangan seperti di kantor tadi, huh membayangkannya saja membuat darahku naik".
Umpat El kesal ketika mengingat kejadian di kantor yang ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Dannis mencium bibir seorang gadis seraya menindih tubuhnya.
"Bibi, bukan itu maksudku....", jawab Nara lagi.
"Sebaiknya kau istirahat, kita tunggu papa Dannis pulang untuk membicarakan ini lagi.... bibi harap untuk segera menemui ayahmu".
"Maaf bi, ayahku sudah tiada begitupun ibuku", jawab Nara.
El terdiam, lama ia menatap manik cokelat gadis berambut panjang nan indah itu, wanita paruh baya ini merasa kasihan.
"Maafkan bibi, bagaimana dengan keluargamu yang lain?".
"Aku tinggal bersama ibu dan saudara tiriku bi ketika di desa, di kota aku tinggal sendiri saja", jawab Nara seadanya.
"Lalu siapa yang akan menjadi wali mu jika kalian menikah nanti?".
"Bi, aku bukan menolak tetapi kami tidak bisa menikah karena kesalahpahaman ini, benar kata tuan Dannis bahwa yang terlihat bukanlah yang sebenarnya", Nara mencoba untuk mencari celah agar mama Dannis itu mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Lantas apa yang kau lakukan ketika di hotel?", tanya Eliana tanpa basa basi.
__ADS_1
"Sebenarnya aku dijual oleh istri dari adik ibuku, aku dipaksa dan tuan Dannis....", kembali ucapan Nara menggantung ketika El berdecak kesal.
"Ck.... dan Dannis yang membeli mu begitu? oh apa ini, Dannis benar-benar ingin membunuhku", El menangis lagi.
"Bibi, bukan itu maksudku..... bisakah bibi memberiku sedikit waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi, ini benar-benar salah paham".
"Jangan lanjutkan lagi Nara, kau membuatku takut.... kau tahu aku pernah punya ingatan yang buruk tentang hotel, jadi aku tidak ingin mendengarnya, Dannis akan bertanggung jawab atas apa yang telah kalian lakukan".
Belum juga Nara akan bersuara lagi namun Eliana menggelengkan kepalanya membuat gadis itu ciut terlebih ia melihat ibu dari bosnya itu menangis lagi.
"Nara, bibi tahu kau gugup tapi tenanglah. Kau bisa istirahat, aku akan bicara pada suamiku tentang ini", bujuk mama El mengusap lengan Nara.
Eliana seraya bergumam sendiri berjalan meninggalkan kamar tamu yang di dalamnya terdapat gadis yang masih berdiri mematung.
"Aku tidak ingin Dannis menjadi Kemal dengan bermain perempuan sebagai pelampiasan atas kehilangan Naya, ini benar-benar konyol, Dannis menuruni papanya, jika tidak menikah maka siapa yang akan menerima gadis itu karena sudah dirusak oleh putraku, ya Tuhan.... membayangkan nya saja membuatku sakit jantung", gumam El pada dirinya sendiri sambil memijat keningnya.
Nara berjalan ke sana kemari, ia tidak bisa duduk tenang ketika mendengar sebuah pertengkaran di luar yang terdengar hingga ke kamar tamu tempatnya berada.
Dannis tersungkur, ia memegang sudut bibirnya yang berdarah oleh bogem mentah ayahnya sendiri, mama El hanya bisa menangis tanpa bisa menolong putranya.
"Bangun, kau pikir kau bisa lari dariku?", ucap papa Kemal geram kembali ia menarik kerah kemeja putra sulungnya.
"Papa dengarkan aku dulu ini salah paham", jawab Dannis.
"Aku pernah sangat menyesali perbuatanku dimasa lalu, tapi aku tidak pernah berharap itu terjadi padamu juga....".
"Papa dengarkan aku dulu", ucap Dannis lagi.
__ADS_1
"Kau ingin mengatakan apa? bahwa kau telah membeli gadis itu dan kalian berniat kembali melakukannya di kantor begitukah?".
Dannis merasa sangat geram, pria ini hanya bisa menarik napas dalam ketika melirik mamanya yang menggelengkan kepala agar Dannis tidak melawan orang tuanya.
Dannis menghampiri mama El yang masih terlihat menangis.
"Tidak kah mama percaya padaku?".
"Mama percaya kau akan bertanggung jawab atas perbuatanmu", jawab mama El dingin, membuat Dannis tidak berkutik jika sudah berurusan dengan wanita yang melahirkannya itu terlebih jawaban dengan nada dingin pertanda bahwa mama El terluka akan kejadian itu.
Dannis mengusap wajahnya kasar, ia memilih diam dan pergi dari sana tanpa berkata-kata lagi.
Sampai pada ketika ia akan masuk ke kamar, ternyata Nara menyusulnya dengan tergesa-gesa.
"Beraninya kau menunjukkan wajahmu di depanku.... apa tujuanmu sebenarnya? apa kau sengaja? beritahu aku, kau mau uang? berapa? asal jangan bersandiwara di hadapan orang tua ku seakan kau adalah kekasihku", ucap Dannis tajam, bahkan pria itu mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Tuan.... aku tidak seperti itu, kau.....", Nara membesarkan matanya ketika Dannis menghempaskan tubuhnya ke dinding dan ******* bibirnya secara kasar dan memberi sedikit gigitan di sana hingga menyebabkan bibir Nara sedikit berdarah.
"Apa? bukankah ini yang kau inginkan? iya... kita akan menikah karena aku tidak bisa menyakiti mamaku, tapi kau yang telah memilih menyakiti dirimu sendiri".
"Menikah untuk terluka, agar kau tahu rasanya karena telah berani memasuki kehidupanku", ucap Dannis lagi dengan kilatan amarah di matanya.
Dannis melepaskan Nara dengan kasar lalu meninggalkan gadis itu seraya melirik tajam dan membuang ludah.
"Cuih...... menjijikkan", ucap Dannis mengelap sudut bibirnya.
Membuat Nara meneteskan airmata dengan bibir yang bengkak dan memerah oleh perlakuan kasar pria yang bahkan masih sangat asing bagi Nara.
__ADS_1