
Dannis terbangun di tengah malam karena ia merasa haus, ia tersenyum bahagia ketika membuka mata ternyata Nara masih tertidur lelap dalam pelukannya, itu artinya mereka benar-benar berada dalam kenyataan sekarang bukan sebatas halusinasi dari Dannis saja.
Pria itu merasa gemas melihat Nara tidur dengan mulut terbuka, Dannis mengecupnya berulang kali hingga Nara menggeliat membuat matanya setengah terbuka.
Dannis terkekeh melihat wajah yang selalu cantik dan menggemaskan itu.
"Sayang, apa sudah pagi?", tanya Nara setengah sadar dengan suara serak yang terdengar seksi.
"Belum, ini masih tengah malam".
"Apa itu artinya ini hanya mimpi?", tanya Nara lagi dengan mata tertutup lagi.
Dannis tersenyum, ia mengecup dan menggigit pelan leher istrinya dengan mesra.
"Apa itu terasa seperti mimpi?".
Membuat Nara kembali membuka mata ia menatap Dannis dengan senyum terbaiknya.
"Kenapa kau bangun?".
"Aku haus, lanjutkan tidurmu....", jawab Dannis seraya duduk hendak turun dari ranjang.
Nara ikut mendudukkan diri, memeluk Dannis dari belakang.
"Jangan tinggalkan aku".
"Aku hanya ingin minum", jawab Dannis berbalik badan membalas pelukan sang istri mencium puncak kepala Nara berulang kali.
"Aku ikut", rengek Nara.
Dannis terkekeh, "Baiklah, naik ke punggungku", ucap Dannis kembali membelakangi Nara.
Perempuan itu tidak berpikir lama, segera naik ke punggung suaminya dengan mengalungkan kedua tangannya dengan erat.
Nara mencium pipi Dannis seraya berbisik, "Aku mencintai mu".
Dannis bahagia mendengarnya.
"Aku juga mencintai mu", jawab Dannis mulai berjalan keluar kamar.
"Bagaimana dengan nona jahat itu?", tanya Nara di balik punggung suaminya.
"Siapa yang jahat?", Dannis mengernyit heran.
"Siapa lagi jika bukan nona Nesya, kakak mendiang kekasih yang kau cintai itu", jawab Nara memukul pundak Dannis dengan kesal.
Dannis tertawa, "Sayang, Nesya gadis yang baik tidak ada yang salah dengan dia, kami berteman baik sejak sekolah".
"Dia salah karena menyukai suamiku", jawab Nara ketus.
"Jangan pedulikan dia, itu tidak akan terjadi", jawab Dannis enteng.
"Aku cemburu", rengek Nara lagi.
__ADS_1
"Kita sudah sampai", jawab Dannis mendudukkan Nara di atas meja, lalu ia berbalik badan menghadap istrinya.
Dannis memegangi wajah Nara seraya berkata, "Aku tidak akan menyakitimu, jangan berpikir yang macam-macam, aku milikmu oke....", lalu Dannis mengecup hidung mancung Nara dengan gemas.
Mereka saling melempar senyum dan menatap penuh cinta.
******
Menghabiskan ujung minggu bersama orang terkasih amat menyenangkan tentunya, terlebih Dannis dan Nara untuk pertama kalinya kembali bersama namun berbeda dari sebelumnya, tentu kali ini mereka dalam perasaan yang sama, saling menerima dan saling mencintai satu sama lain.
Dannis memeluk Nara yang sedang menghadap cermin, menyibak rambut panjang Nara yang tergerai indah mencium wangi perempuan itu lewat lehernya yang terdapat beberapa tanda merah sebagai stempel kepemilikan yang ditandai oleh Dannis semalam.
"Aku sudah siap", ucap Nara membelai kepala suaminya yang masih menempel, ia baru saja mengikat tali dress nya dengan simpul yang indah hingga pinggangnya tampak cantik dengan itu.
Dannis menatap istrinya lewat cermin, "Aku mencintaimu".
"Kau baru sadar rupanya, selama ini kemana saja?", jawab Nara yang tertawa pelan.
"Aku ingin anak yang banyak", ucap Dannis lagi.
"Melakukannya pun baru sekali, mana bisa punya anak hanya dengan sekali sentuh".
"Salah kau juga kenapa menstruasi di saat yang tidak tepat", jawab Dannis kesal.
"Memang kau pikir aku yang mengatur siklusnya? kita bisa melakukannya setelah periode merahku berakhir, tidak akan lama hanya beberapa hari lagi", ucap Nara seraya berbalik badan lalu ia mencium bibir suaminya sekilas.
"Ini sedikit menyebalkan bagiku, aku sungguh tidak sabar..... Aku tidak akan melepaskan mu jika hari itu tiba", jawab Dannis membalas ciuman itu lebih lama, Nara menerimanya dengan perasaan berbunga, bagaimana tidak sejak semalam Dannis benar-benar memperlakukan nya layak suami idamannya selama ini.
Dannis melepas bibir Nara agar istrinya itu bisa bernapas.
Dannis mendekatkan kening mereka hingga menempel, "Aku mencintai mu Nara, aku akan mengatakannya setiap hari".
"Aku tidak akan bosan mendengarnya", jawab Nara terkekeh.
"Oh sial, aku menginginkan mu sekarang", ucap Dannis menatap wajah Nara dengan mendamba seraya tangannya meraba pangkal paha Nara.
"Dannis berhenti bercanda, kita akan pulang aku sudah siap, tunggulah beberapa hari lagi".
"Aku maunya sekarang", rengek Dannis.
"Mana bisa, itu dilarang sayang", jawab Nara geli sendiri melihat raut Dannis yang tiba-tiba berubah seperti semalam.
"Bukankah kita bisa melakukannya tanpa penetrasi", ucap Dannis yang semakin menempel, tangannya yang lain sudah berada di dada berisi milik Nara.
"Dannis, aku tidak mengerti".
"Aku akan menjadi mentormu dalam hal ini sayang, kau hanya perlu melakukan beberapa hal saja untuk ku melepaskan hasrat yang tertahan semalam agar perjalanan pulang kita menjadi aman".
Jawab Dannis yang telah menggiring tubuh Nara kembali ke ranjang, mencium dan memainkan bibir istrinya tanpa ampun, membuat Nara kalah juga, perempuan ini tidak menolak meski ia belum mengerti apa yang dimaksud oleh Dannis.
*****
Nara terus mengulum senyum sepanjang jalan apa yang mereka lakukan sebelum berangkat, mereka telah berada dalam perjalanan menuju pulang ke kota setelah berhenti untuk makan siang.
__ADS_1
Dannis mengemudi dengan santai, pria itu tidak melepas genggaman tangan mereka, sesekali Dannis mengecup punggung tangan Nara dengan perasaan penuh cinta.
Tiba-tiba Dannis menghentikan mobilnya, membuat Nara heran.
"Sayang kenapa berhenti?".
"Ayo berikan aku semangat", ucap Dannis memberikan pipinya.
Nara geleng kepala dengan tingkah Dannis sejak tadi, Nara mengerti maksud Dannis itupun meraih wajah suaminya bukan pipi melainkan bibir pria itulah yang ia kecup dengan lama.
"Aku mencintai mu, ayo jalan lagi kapan kita sampai jika seperti ini terus", ucap Nara mengusap bibir Dannis yang sedikit menempel pewarna bibirnya.
Dannis terkekeh, "Baiklah, sebaiknya kau berpegangan sepertinya mobil ini ada nos nya, apa kau tahu Lewis Hemilton? dia juara F1 tahun lalu".
"Aku tidak tahu, aku hanya tahu Michael Jordan saja", jawab Nara terkekeh.
"Itu pemain basket sayang, tidak ada hubungannya dengan nos mobil", jawab Dannis menatap Nara gemas.
Nara tertawa.
"Berhenti bercanda, mana ada mobil ini hal yang seperti itu".
"Kau tidak percaya? Ayo berpegangan", ucap Dannis sebelum menancapkan gas mobilnya dengan kencang.
Nara terkejut, "Dannis berhenti bercanda, aku bisa mabuk perjalanan jika mengebut", Nara memukul lengan Dannis agar segera melambat.
Dannis memelankan mobilnya, ia tertawa melihat raut ketakutan Nara.
"Aku sungguh beruntung memiliki istriku ini, masih muda, cantik, baik, pandai mengurus rumah, virgin pula, aku tidak akan menemukannya lagi dimana pun", ucap Dannis mengecup tangan Nara dengan mesra.
Nara terharu mendengarnya, "Aku juga bersyukur punya suamiku ini, tampan, baik, mencintaiku, kaya raya lagi", jawab Nara membalas Dannis sambil tertawa.
Dannis melirik Nara dengan senyum terbaiknya.
"Ingin bernyanyi untukku? ayolah agar aku tidak mengantuk", tawar Dannis seraya menghidupkan musik yang berasal dari radio.
Kebetulan lagu yang diputarkan adalah lagu-lagu sedih akan putus cinta.
"Kenapa lagu sedih, ganti yang lain saja".
"Lagu sedih pun akan terasa membahagiakan jika yang bernyanyi adalah istriku ini, bukan lagunya melainkan suara penyanyinya".
Nara tertawa mendengarnya.
Benar saja mereka melewati perjalanan panjang menuju kota sambil bernyanyi dengan gembira meski bait dan nada lagu itu adalah lagu sedih sekalipun.
Bahagia, Dannis dan Nara tengah berbahagia, meski tanpa mereka sadari ada dua orang lelaki yang mengintai dan mengikuti mereka bahkan sejak kemarin sore.
#####
Sadarlah pemirsa, Nara yang dulu bukanlah yang sekarang, aduh kaya lagunya tegar ya....
Di daerah author lagi hujan, pas banget ngebayangin apa yang dilakukan sepasang suami istri di atas sebelum pulang ke kota, author senyum-senyum mesem sendiri soalnya.
__ADS_1
Suami mana suami, yang belum bersuami jangan coba-coba adegan di atas.
pusing ah.