Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 70


__ADS_3

Dannis keluar kamar mandi, senyumnya mengembang saat gadis yang ia ajak ke kamarnya itu telah lelap bersama mimpi.


Pria ini geleng kepala melihat Nara yang mudah sekali tertidur padahal ia hanya meninggalkannya untuk mandi.


"Tidur lagi tidur lagi", gumam Dannis melirik Nara sekilas sebelum melangkah ke lemari pakaiannya.


Pria yang telah berpakaian itu mendekati Nara yang tidur dengan mulut terbuka, Dannis memperbaiki posisi tidur gadis itu dengan pelan agar Nara tidak terbangun, ia merasa kasihan saat mengingat bahwa istrinya itu menunggunya pulang larut setiap malam beberapa waktu terakhir.


Lalu pria ini ikut berbaring untuk melepas lelah dan penat dalam menangani pekerjaan yang cukup menguras tenaga dan pikiran, tidak segan pula Dannis memeluk Nara yang sudah terlelap.


Pria itu tersenyum saat menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Nara yang wangi tentu saja membuat Dannis tenang namun juga mengingatkannya pada gadis yang membuatnya enggan membuka hati hingga saat ini.


"Wangi kalian sama, aku menyukainya", gumam Dannis pelan sebelum memejamkan mata menjemput mimpi, tentu Dannis berharap mimpi buruk tidak menghampirinya malam ini.


Benar saja, belum lama terlelap, Dannis terbangun dengan keringat dingin, mimpi buruk lagi, selain itu wajah kekasihnya lebih kerap menghampiri Dannis beberapa waktu terakhir.


Beruntung Dannis tidak sampai membangunkan Nara yang masih berkelana dalam mimpi indah meringkuk nyaman dalam dekapan suaminya, gadis ini hanya menggeliat saja.


Dannis kembali menaikkan selimut hingga dada Nara, lama ia menatap wajah istrinya dengan mata yang masih mengantuk.


"Maafkan aku Nara, aku sudah mencobanya, sepertinya aku belum bisa".


Ucap Dannis pelan seraya berdiri menuju sofa, ia memutuskan untuk tidur di sofa di sudut kamarnya.


*******


Nara terbangun, matanya berpendar melihat ke seluruh ruangan. Ia melihat dirinya yang masih memakai selimut di atas ranjang.


Ia mendudukkan diri, mengumpulkan kesadaran matanya tertuju pada sofa di sudut ruangan yang masih terdapat bantal dan selimut di sana.


Nara menghela napas panjang.


"Apa dia benar-benar tidak ada rasa padaku? huh..... dia sungguh pria setia bahkan hanya ditinggal mati seorang kekasih sekalipun, menyebalkan".


Nara bergumam kesal melirik pigura photo Naya di atas nakas.


"Oh aku yang malang, cinta sendirian itu tidak enak".

__ADS_1


"Sudahlah ditinggal ibu, tidak melanjutkan sekolah, dibenci ibu tiri, jadi upik abu, ditinggal ayah, gagal menikah, dijual bibi Atikah, terjebak pernikahan pria menyebalkan, sempat dijadikan pelayan, sekarang cinta sendirian pula", gumam Nara yang kembali menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk itu.


"Seharusnya aku sadar bahwa terlalu banyak alasan untuk tuan Dannis tidak menyukai ku, kami sangat berbeda. Semua itu membuatku malu, seharusnya aku tahu diri sebelum menyatakan cinta yang mungkin tidak akan pernah mendapat balasan ini".


"Berhenti berharap by Sheila on 7 lebih cocok untuk ku sekarang".


"Sampai nanti suatu saat tak ada cinta ku dapat", Nara menyanyikan sepenggal lirik lagu milik band yang terkenal di era 90an itu.


Gadis ini bergerak berdiri dari ranjang, segera membersihkannya dan tentu saja Nara segera berlalu dari kamar dan berniat kembali pada pekerjaan rutinnya.


******


Nara dijemput Dannis untuk makan malam bersama keluarga besarnya dan keluarga Iqbal calon suami Sheira yang sudah tiba untuk pernikahan yang akan digelar dua hari ke depan.


Tentu Nara juga harus bertemu dengan Delila adik perempuan Dannis yang ketiga, yang juga sudah tiba di rumah orangtuanya.


Sungguh gadis ini gugup, ia belum mempersiapkan diri untuk bertemu keluarga besar mertuanya, apalagi ia terus merasa minder mengingat Dannis bukan dari kalangan biasa saja, terlebih keluarga calon suami Sheira juga dari kalangan atas seperti mereka.


Nara diam, ia enggan untuk turun dari mobil membuat Dannis menatapnya heran.


"Tunggu apa lagi? ayo turun", ajak Dannis membuyarkan lamunan Nara.


"Apa? jika begitu cepatlah masuk apa kau ingin buang air di mobilku?".


"Enak saja, bukan itu maksudku.... aku akan mulas jika sedang cemas, aku takut masuk".


Membuat Dannis menatap Nara kesal.


"Kau kenapa? ayo jangan bercanda, semua sudah datang, apa kau gugup karena mantan mu juga pasti ada bukan?".


"Bukan Reno yang ku maksud, aku merasa malu.... aku minder, aku rasa aku ingin pulang saja, aku takut bagaimana banyak yang tidak menyukai ku, kalian para orang kaya dan berpendidikan sedang aku....", ucap Nara lesu.


"Ayolah, aku malas berdebat sekarang.... semua menunggu kita, Delila ingin bertemu dengan mu".


"Aku malu tuan..... aku tidak pantas berada di sana, aku aku aku", elak Nara.


Namun Dannis memaksanya keluar mobil dan menggenggam tangan gadis itu berjalan menuju rumah.

__ADS_1


Nara menelan ludah saat mereka masuk, benar saja semua mata tertuju padanya.


Nara segera menunduk malu, ia meremas tangannya yang berkeringat saat mendapat tatapan dari semua keluarga yang sudah hadir.


Tak terkecuali keluarga dari Iqbal, mereka saling menoleh satu sama lain.


"Kenapa kakak lama, aku merindukanmu", ucap Delila berhambur memeluk Dannis.


"Kenapa kau kurus? apa Kenzo tidak memberimu makan", canda Dannis.


Delila menepuk dada kakaknya itu.


"Enak saja, suamiku mengurusku dengan baik, aku tidak bisa makan sejak hamil, aku mual dan muntah hebat, tapi sekarang lebih baik", jawab Delila.


Membuat semua orang tersenyum melihat keakraban kakak beradik yang lama tidak berjumpa itu.


Delila menutup mulutnya saat menyadari sesuatu.


"Apa dia kakak iparku?", tanya Delila melirik Nara yang diam sejak tadi.


Dannis hanya mengangguk saja.


"Kau bahkan lebih cantik dari photo, kenapa kak Dannis memperistrimu yang sangat muda seperti ini, kau bahkan lebih cocok menjadi pacar Baim", ucap Delila terkekeh, ia tidak segan meraih tubuh Nara dan memeluknya.


Sungguh Nara tidak menyangka semua adik Dannis bersikap baik padanya, bahkan Delila baru saja bertemu langsung.


Nara merasa malu saat menyandingkan penampilan adik Dannis yang satu ini, bagaimana penampilan Delila sungguh berkelas, yang ia saja merasa sangat beruntung dipeluk perempuan bergaya bak artis itu.


Selain tersenyum tidak ada lagi yang bisa ia ucapkan.


Sampai pada orang tua Iqbal bertanya padanya.


"Siapa nama mu nak?".


Belum juga Nara menjawab, Sheira lebih dulu menjawab pertanyaan itu.


"Namanya Khinara paman".

__ADS_1


Membuat Iqbal yang berdiri di samping calon istrinya itu cukup terkejut, lelaki itu menoleh pada ayah dan ibunya bergantian dengan raut sulit diartikan.


__ADS_2