Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 67


__ADS_3

"Dannis?", ucap mama El dan papa Kemal berbarengan dengan tatapan penuh tanya setelah Reno benar-benar telah pergi dari sana.


Menghela napas kasar pria itu menjawab santai, "Jangan dengarkan Reno, pria yang cemburu bisa melakukan apa saja bukan? aku rasa dia belum move on dari istriku", Dannis berkata sambil meraih tangan istrinya.


Nara yang semula menunduk takut pun tidak menyangka bahwa Dannis akan menjawab seperti itu.


Mama El dan papa Kemal saling melempar tatapan.


"Baiklah, aku kemari ingin menjemput Nara. Kami akan pulang sekarang juga", ucap Dannis seraya menarik tangan istrinya menjauh menuju mobilnya berada meski kaki Nara terlihat berjalan pincang sebab terkilir tadi pagi.


Bahkan Nara tidak sempat berpamitan pada mertuanya karena Dannis lebih dulu mengajaknya pulang.


"Kau yakin mereka baik-baik saja?", tanya papa Kemal menatap istrinya setelah anak dan menantunya menghilang dari pandangan.


Mama El menjawab, "Entahlah".


"Apa kau mengingat Andra?", canda lelaki beranak enam itu seraya terkekeh.


"Kenapa? apa kau merasa de javu setelah melihat Dannis dan Reno bertengkar karena seorang perempuan?", jawab mama El tertawa menatap suaminya dengan mata sipit.


"Tapi akulah pemenangnya", jawab Kemal merangkul pundak Eliana mengajaknya masuk rumah.


"Memangnya aku barang taruhan?".


"Iya taruhan hidupku", jawab Kemal tertawa.


Mama El hanya tersenyum seraya geleng kepala.


*****


Dannis diam seribu bahasa selama perjalanan pulang.


"Tuan, apa kau marah?", tanya Nara membuka percakapan.


Dannis menoleh sinis.


"Untuk apa aku marah, terserah apa yang ingin kau lakukan dengan pria manapun tapi tidak di rumah orangtua ku", jawab Dannis dingin.


Nara menelan ludah, ia menarik napas dalam mendengar kata-kata Dannis yang mampu membuat matanya berkaca-kaca.


"Maaf....", lirih Nara pelan sambil menundukkan wajahnya.


Hening.


Sampai pada mereka sampai rumah pun Dannis masih sama, diam seribu bahasa.

__ADS_1


*****


Keesokan paginya Nara bersikap seperti biasa, bangun tidur segera ia melakukan pekerjaan rumah yang sudah menjadi tugas rutinnya setiap hari.


Dannis belum juga turun dari kamarnya membuat Nara heran, biasanya lelaki itu akan bangun pagi sekali untuk ke kantor.


Lamunan gadis ini buyar saat bell rumah berbunyi, ia mengernyit heran menebak siapa yang datang dipagi buta seperti ini.


Nara membuka pintu, raut wajahnya menjadi kesal saat tahu siapa yang datang.


"Nona Nesya?".


"Iya ini aku, kenapa kau terkejut? mana Dannis? tidakkah kau menyuruhku masuk terlebih dahulu", jawab Nesya tanpa basa basi.


"Baiklah, silahkan masuk", jawab Nara lesu.


Nesya masuk mengikuti langkah Nara yang berjalan lebih dulu.


"Tuan Dannis belum turun, tunggulah di sini", ucap Nara saat mereka melewati ruang tamu.


"Aku akan ke kamarnya saja", jawab Nesya berjalan melewati Nara.


Gadis yang berstatus istri Dannis itu benar-benar kesal oleh tingkah Nesya yang tidak tahu malu ingin bertamu langsung masuk ke kamar.


"Kami akan pergi ke kantor bersama karena satu arah, aku juga sedang banyak pekerjaan yang ku tangani bersama Dannis, ini sudah jam berapa jika menunggu pria itu turun sendiri jadi biar ku bangunkan dia, tentu kau tidak berani masuk ke kamarnya bukan?".


Nara hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan kesal.


Namun Nara menjadi lega saat matanya menangkap sosok pria yang sedang mereka bicarakan tengah menuruni anak tangga seraya mengancingkan kemejanya.


"Nesya? kau kemari?", tanya Dannis heran.


"Aku diantar sopir ayahku, mobilku di bengkel untuk beberapa hari aku akan ikut denganmu ke kantor".


"Begitukah? Baiklah ayo apa kau sudah sarapan?", ajak Dannis tidak banyak bertanya lebih lanjut lagi, pria itu menuju meja makan.


Nara hanya bisa diam saja tanpa berani membantah.


Nesya mengangguk semangat, "Aku belum sarapan", susul Nesya mendudukkan diri di meja makan.


Begitupun Nara, gadis itu menyiapkan sarapan di piring suaminya.


"Untukku?", ucap Nesya menatap Nara seraya melirik piringnya.


"Ini, makanlah yang banyak nona", jawab Nara sambil menaruh nasi goreng yang banyak di piring Nesya.

__ADS_1


"Nara, apa kau ingin aku gendut sarapan sebanyak ini?", Nesya tampak kesal.


"Makanlah, kenapa bertengkar kau gendut juga tetap cantik", canda Dannis.


Nara bungkam mendengar pujian Dannis pada gadis berpenampilan elegan itu.


"Andai kau berkata sebenarnya Dannis", jawab Nesya melirik pria itu dengan tatapan mendamba.


Nara hanya diam saja saat Dannis dan Nesya asyik mengobrol sambil makan, meski ia juga berada di meja yang sama namun sejak tadi Dannis sama sekali tidak menyapanya.


Sampai mereka menyudahi sarapan, meninggalkan Nara membereskan meja makan sendirian.


"Tuan Dannis bahkan tidak bicara padaku sejak semalam dan apa tadi dia bahkan memberi pujian pada nona menyebalkan itu", gumam Nara sedih saat mencuci piring.


Nara sedang asyik berkelana dengan pikiran dan hatinya saat ini, ia dibuat terkejut saat Nesya kembali ke dapur untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di atas meja.


"Nara, aku harap kau tidak tersinggung.... asal kau tahu aku dan Dannis sudah berpacaran", ucap Nesya sengaja menghadap pada gadis yang tercengang mendengar kata-kata itu.


"Apa?".


"Iya, aku rasa kau mendengarnya".


Nara sungguh ingin menangis sekarang, bagaimana kenyataan itu ia dengar pagi ini.


"Jangan berlebihan, kita hanya berpura-pura", jawab Dannis enteng sambil membuka kulkas dan mengambil minuman dingin di sana, pria itu datang tanpa disadari oleh dua gadis itu, tidak berselang lama Dannis kembali berlalu meninggalkan keduanya.


Nara menatap Dannis penuh tanya, namun Nesya menatap Dannis dengan raut kesal.


"Tidak masalah berpura-pura dahulu nanti bisa benaran kemudian", sela Nesya cepat.


Nara mencerna percakapan itu sejenak, lalu rautnya yang semula sedih sekarang berubah geli ingin tertawa.


"Berpura pacaran? oh nona Nesya, meski aku tidak tahu apa urusan kalian hingga bersandiwara seperti itu".


"Tapi sekarang apa boleh aku tertawa?", sambung Nara lagi menahan tawa.


Nesya menghentakkan kakinya kesal karena Nara terlihat mengejeknya, dengan cepat ia berbalik badan menyusul Dannis.


#####


Maaf author slow up dua hari ini ya pemirsa, maklum gabut nunggu THR masih beku kayak hatinya si Dannis.


lanjut yaaaaa....


meski dilarang mudik tapi belum dilarang beli baju lebaran, jadi ayo beli baju lebaran aja....

__ADS_1


__ADS_2