
Nara membuat sarapan, meski tubuhnya masih meriang namun ia tetap memakai seragam dan mengerjakan tugasnya dengan baik.
Gadis ini sudah tidak peduli apa yang akan Dannis lakukan padanya, ia cukup lelah belum satu bulan menikah ia harus melewati kehidupan yang cukup rumit dari sebelumnya.
"Terkadang aku menyesal kembali ke kota, andai aku sedikit lebih bersabar pada waktu itu mungkin ibu tidak akan mengusirku, mungkin saja kami tetap hidup seperti biasa di desa, oh aku rindu suasana rumah ku", gumam Nara menghapus airmatanya sambari terus memasak.
Bahkan gadis itu kian terisak ketika memori kenangan masa kecil hingga besarnya di rumah yang kini sudah menjadi milik orang lain.
"Nasibku tidak lebih baik dibanding tinggal bersama ibu dan Ranti".
Dannis mendengar gerutu istrinya itu ketika ia hendak ke dapur langkahnys terhenti mendengar sebuah tangis di sana.
Lama Dannis terdiam di belakang Nara tanpa disadari perempuan cantik dengan rambut ia cepol ke atas menggunakan sumpit yang berada di dapur.
Dannis menatap lekat leher jenjang nan putih mulus meski di tutupi sebagian anak rambut yang masih terburai indah, lalu Dannis menatap bagian bawah tubuh gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu dimana terlihat kaki dan betis sampai diatas lutut yang mulus karena Nara hanya memakai rok beberapa centi saja dari atas lutut.
Sesekali Nara menghapus airmatanya dengan kesal jika mengingat perlakuan Dannis padanya.
Sampai pada ia menyelesaikan masakannya dan hendak menghidangkan di atas meja, mata mereka bertemu dimana membuat Nara terkejut akan suaminya telah berdiri di sana.
Segera Nara menunduk tanpa berkata-kata.
"Jangan GR, aku tidak menatapmu sejak tadi aku baru saja turun.... jadi jangan kau berpikir aku mengagumi mu saat memasak", kata itu muncul begitu saja dari mulut Dannis yang tergagap saat bertatapan dengan istrinya.
"Silahkan sarapan tuan, maaf aku akan mengerjakan pekerjaan lain", Nara hendak menghindari Dannis karena saat ini hatinya masih sedih bukan hanya karena perlakuan Dannis namun juga karena gadis ini rindu akan kampung halamannya.
Dannis menarik lengan Nara sebelum gadis itu melewatinya.
"Ada yang lain tuan?".
"Temani aku sarapan".
Nara menoleh, ia menjadi heran karena sebelumnya Dannis tidak pernah mau sarapan bersama.
Nara mengangguk saja, ia segera menuruti kemauan suaminya itu tanpa banyak bertanya.
"Kenapa kau diam?", tanya Dannis ketika mereka sudah duduk bersama.
Nara menggeleng pelan.
"Bukankah kau tidak menyukai jika aku banyak bicara tuan Dannis?".
__ADS_1
"Ayo beri aku makan", ucap Dannis setelah mendengus kesal.
Nara segera memberikan piring berisi sarapan untuk suaminya itu, lagi-lagi Dannis kesal karena gadis itu hanya diam dan menurut saja sejak tadi.
Dannis mulai makan, namun ia melirik Nara dengan tajam.
"Tidak enak.... tidak ada rasanya".
"Oh benarkah? biar ku cicipi", pinta Nara mengambil alih namun dicegah oleh pria itu.
"Tidak enak ya tidak enak.... sekarang buatkan lagi sarapan ku".
Nara memutar bola mata malas, ia sungguh enggan meladeni Dannis maka darinya ia segera kembali menghidupkan kompor demi menuruti kemauan tuannya itu.
Dannis tersenyum menatap Nara dari belakang.
"Nyanyikan aku sebuah lagu".
"Apa?".
"Kau mendengarnya dengan baik".
"Jangan banyak bertanya".
"Aku tidak mau", jawab Nara menantang.
"Jika kau tidak mau akan ku kurung kau dalam kamar mandi lagi".
"Tidak... tidak tidak enak saja, aku tidak mau dikurung", rengek Nara, membuat Dannis menahan gemas melihat wajah cantik yang matanya bengkak oleh tangis.
"Ayo bernyanyilah".
"Aku sedang flu, tidak bisa bernyanyi itu akan terdengar lucu".
"Tapi aku ingin mendengarnya".
"Tidak mau".
"Kau membantahku?".
"Bukan itu maksudku tuan, aku memang tidak bisa bernyanyi dalam keadaan flu, napas ku terasa pendek".
__ADS_1
"Jika begitu bisakah kau berjoget saja".
"Apa? apa kau demam tuan? kenapa kau tiba-tiba ingin aku bernyanyi padahal kau tidak menyukai suaraku, sekarang menyuruhku berjoget?", tanya Nara heran.
"Kau hanya perlu melakukan perintah ku, jangan banyak bertanya".
"Aku tidak mau".
"Baiklah cepat buatkan aku sarapan baru, tapi kau harus berpuisi sambil memasak".
"Apa kau bercanda tuan Dannis yang menyebalkan? aaaa aku merasa ingin gila pagi ini, kau tiba-tiba berubah dari monster menjadi pria gila menyebalkan, awas kau", ucap Nara kesal sambil mengacak-acak rambut Dannis tanpa takut.
Dannis menghindar, ia memegang kedua tangan Nara yang sedang memegang kepalanya dengan geram.
"Kau merusak rambutku, ah sial... kau tidak lihat aku sudah rapi", bentak Dannis lagi.
"Aku mohon tuan, aku sudah menjadi pembantu di rumah suamiku sendiri, apa sekarang kau juga ingin aku menjadi gila?".
Dannis terdiam, matanya menatap lekat wajah yang sangat dekat di depannya itu.
"Ini kalungmu", Dannis bukannya menjawab ia malah melepaskan tangan gadis itu seraya mengeluarkan kalung dari sakunya.
Nara terdiam, ia melihat kalungnya masih utuh, namun ketika ia ingin mengambilnya saat itu pula Dannis kembali menari ulur kalung itu mengerjai Nara, membuat gadis itu semakin marah.
"Ah aku sudah menduga, kau sengaja mengerjai ku kemarin? kau tahu aku sudah menyelam di dasar kolam renang berjam-jam, semalam juga aku mencarinya di rerumputan seperti katamu, ternyata semua itu hanya akal mu saja".
"Aku kira nona Sheira benar, tidak ada cinta yang tidak hadir dalam sebuah pernikahan, tapi aku merasa kian hari kau semakin membenciku kau bahkan berbuat kasar padaku, mengerjaiku.... aku menerima karena aku tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan".
"Apa sebenarnya mau mu tuan Dannis? apa kau masih marah atas pernikahan ini? Baiklah mari kita akhiri, ayo kita bicara pada mama dan papa atau bahkan kau bisa membuangku sekarang, dengan senang hati aku akan pergi darimu".
Ucap Nara berapi-api, Dannis terdiam ia tidak mengira bahwa Nara bisa berkata seperti itu.
Nara ingin berlalu dari hadapan Dannis namun langkahnya terhenti ketika pria itu menahannya.
Dannis menaruh kalung itu di telapak tangan Nara yang ia raih.
Kemudian pria itu pergi meninggalkan Nara begitu saja.
Dengan dada kempang kempis karena amarah, Nara menarik napas dalam dan merutuki apa yang telah ia ucapkan. Matanya menatap kalung pemberian ibunya sebelum meninggal itu dengan sebuah tangis yang besar.
Gadis itu kembali ke kamarnya untuk menumpahkan tangis di sana.
__ADS_1