
...Hai,,,Selamat membaca ya π€ Maafkan typo yang bertebaran π€π...
...πΈπΈπΈπΈ...
"Sepertinya aku harus minta maaf pada Megha karena sudah berburuk sangka padanya." gumam Karin pagi itu.
Kejadian kemarin,, Sedikit mengganggu pikirannya. Sikap kasarnya langsung berlari meninggalkan Megha kemarin juga membuatnya merasa tidak enak pada Megha karena sudah menunjukkan cemburu butanya.
"Padahal Megha itu wanita baik yang sudah banyak membantu suamiku. Huh bodohnya aku yang main percaya saja kata kata tiga wanita licik itu. Seharusnya aku juga berpikir kenapa mereka tiba tiba baik padaku." Karin mengutuki dirinya sendiri.
Ia bertekad menemui Megha secepatnya meski tanpa ditemani Dion.
"Ngelamunin apa sih sayang?? Pagi pagi sudah bengong gitu. Ntar kesambet loh." Tegur Dion yang keluar kamar mandi dengan lilitan handuknya yang hanya menutupi tubuh bagian bawahnya saja.
Sudah jadi kebiasaan Dion tidak pernah memakai baju saat masih di dalam kamar mandi meski kamar mandinya cukup luas dan bersih. Menurut Dion kamar mandi ya hanya untuk mandi atau bercinta dengan istrinya,,, bukan untuk ganti pakaian.
Aroma wangi sabun mandi mahal itu menyeruak menusuk hidung Karin membuatnya langsung menoleh dan memghambur kepada suaminya.
"Om papa,,,, miss you so much." Karin memeluk dan menciumi leher Dion.
"Eh,, Ada apa ini kok pagi pagi sudah manja manja begini?? Masih kurang ya jatahnya??" goda Dion begitu Karin menciumi lehernya.
"Akhir akhir ini Karin suka banget sama wangi tubuh om papa. Menenangkan." Karin kembali menciumi leher Dion.
"Memangnya sebelumnya gak wangi apa?? Kok baru akhir akhir ini aja suka nyiumnya??" Dion heran.
"Entahlah,,, Pokoknya Karin suka dan om papa jangan protes." Karin makin merapatkan tubuhnya dan tak mau melepaskan tubuh Dion.
"Hhmmm Kalau udah begini,,, endingnya cuma satu." ucap Dion langsung menyambar tubuh Karin dan membopongnya ke atas ranjang.
"Bukannya om papa mau kerja?? Jam berapa ini?? Nanti telat loh,,," Karin mengingatkan.
Tapi Dion yang sudah melepaskan handuk tidak mempedulikan lagi. Tubuh polosnya segera saja naik ke ranjang dan dengan bertumpu pada kedua lututnya,,, disodorkannya Joni ke bibir Karin.
Bibir mungil itu pun mengerti apa yang harus dilakukannya. Dengan semangat bibir itu melahap seluruh kepala dan setengah badan Joni,,, bak anak kecil yang sibuk menyesapi permen lolly pop rasa strawberrynya, Karin tak juga puas memainkan joni dengan bibirnya.
__ADS_1
Membuat Dion merem melek merasakan kehangatan rongga mulutnya sudah menjadi keahlian Karin selama ini. Dan itu juga sangat membuat Dion terus mabuk kepayang. Dulunya Dion bukan tipe laki laki yang senang dipermainkan bagian vitalnya tapi sejak bersama Karin,,, itu adalah hal wajib sebelum benar benar menyatukan tubuh keduanya.
Puas dimainkan,,, Joni pun meminta lebih. Karin sudah membuka lebar kakinya memberikan ruang agar lebih leluasa bagi Dion melakukan ritual akhir penyatuan mereka. Penyatuan yang cukup panas pagi itu diakhiri dengan meledaknya joni didalam gua terdalam Karin.
"Sudah lima kali semalam,,,paginya masih minta aja lagi kamu itu sayang. Tapi gak apa apa,,, Om papa malah suka kalau kamu begini." Dion mengecup kening Karin sebelum mencabut pusakanya.
"Hari ini jangan kerja ya,,," rengek Karin.
"Om papa ada meeting hari ini. Kamu gak lagi sakit kan??" Dion heran dengan permintaan Karin.
"Memangnya hanya kalau Karin sakit saja om papa baru mau nemenin?? Pokoknya Karin mau om papa nemenin Karin seharian ini. Karin gak mau jauh jauh dari om papa." rengek Karin lagi.
"Sayang,,, bukannya om papa gak mau nemenin. Tapi hari ini benar benar gak bisa. Besok saja ya om papa cuti." bujuk Dion.
Meeting penting hari ini memang tidak bisa ditinggalkannya atau diwakilkan pada Megha. Harus dirinya sendiri yang menghandle karena klien yang ini lumayan banyak maunya dan Dion kurang percaya pada staffnya walaupun itu Megha.
"Om papa jahat!!!!"
Dion terkejut dengan ledakan emosi Karin. Tambah terkejut lagi karena bidadarinya itu malah menangis.
"Jahat,,, Jahat,,,Karin benci sama om papa!!!"
"Sayang kamu kenapa hari ini?? Serius ini kamu ngambek karena om papa gak bisa cuti?? Om papa gak bohong sayang. Biasanya juga kamu om papa tinggal kerja tapi gak segininya. Apa ada masalah lagi sayang?? Kamu jangan bikin om papa cemas gini dong sayang." Dion kewalahan dengan sikap Karin yang malah makin histeris.
"Makanya jangan tinggalin Karin. Sedetik pun jangan tinggalin Karin. Karin mau sama om papa terus." Karin memajukan dua tangannya seperti minta dipeluk Dion.
"Astaga,,, Kenapa jadi manja begini sih istriku ini??" Dion mau tak mau menuruti maunya Karin.
"Entahlah,,, Yang jelas Karin mau deket terus sama om papa dan Karin gak bisa tahan perasaan itu. Dipeluk on papa begini terasa sangat menenangkan." Karin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Dion.
"Eh tunggu deh,,, Ini aneh nih,,, Kamu sudah haid sayang??" tanya Dion ketika terbersit sesuatu di benaknya.
Karin tampak berpikir sejenak lalu menggeleng pelan.
"Udah berapa hari telatnya??" tanya Dion penasaran.
__ADS_1
"Seminggu lebih sih." jawab Karin sambil menghitung jarinya.
"Cek lagi sayang. Siapa tau kamu lagi isi." seru Dion.
"Ah Karin gak mau kecewa lagi. Bulan lalu telat tapi juga ujungnya dapat tamu bulanan. Mungkin kali ini juga begitu. Hanya mundur biasa." jawab Karin tak bersemangat.
"Hmmm apa perlu om papa panggilin dokter spesialis biar langsung dia yang cek kamu??" tantang Dion.
"Ehhh gak usah. Nanti malah bikin malu kalau hasilnya negatif lagi. Ya udah Karin tes aja sendiri ya. Tunggu di sini. Jangan ditinggal kerja. Awas kalau kabur yaa,,," Karin beranjak membuka nakas tempat ia menyimpan stok testpack.
"Iya om papa gak akan kemana mana."
"Janji??"
"Janji sayang. Om papa gak akan pergi." Dion meyakinkan.
Karin masuk ke kamar mandi. Dion harap harap cemas dan mondar mandir di depan pintu kamar mandi. Sudah persis dengan suami yang tengah cemas menunggu istrinya lahiran saja.
"Om papaaaaaaa,,,,"
Suara teriakan Karin membuatnya tersentak dan langsung membuka pintu kamar mandi yang rupanya gak dikunci oleh Karin.
"Kenapa sayang??? Kenapa teriak??" Dion cemas mengira Karin terpeleset tapi bingung melihat istrinya hanya masih duduk di toilet duduknya dan menangis.
"Kenapa nangis lagi?? Om papa kan gak kemana mana??" tanya Dion.
Karin tidak menjawab. Airmatanya makin deras mengalir membasahi kedua pipi mulusnya. Dion makin bingung dengan ulah istrinya pagi itu.
"Sayang ngomong dong ada apa?? Sudah test?? Negatif lagi?? Jangan sedih berlebihan begini sayang. Kalau pun hasilnya masih negatif. Sabar sayang." Dion membelai lembut kepala Karin.
...πΈπΈπΈπΈ...
...Masih slow up ya π€§...
Dukung author dengan vote, like dan komen πΈβ€οΈπΉ
__ADS_1