Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Lanjutan 27


__ADS_3

"Sayang aku pulang" sapa Abrar pada istrinya yang berdiri termenung menghadap jendela di kamarnya.


Alea tidak menjawab, ia langsung berhambur memeluk suaminya dengan manja membuat Abrar mengembangkan senyum membalas pelukan itu tak kalah mesra, ia merasa letih dan lelahnya dari kantor hari ini hilang begitu saja.


"Kenapa lama sekali, aku merindukanmu" ucap Alea merengek manja.


"Maaf banyak yang harus diselesaikan, aku mandi dulu....kita ditunggu mama untuk makan malam bersama" jawab Abrar setelah mengecup kening Alea.


"Ikut"


"Ikut kemana?"


"Ke kamar mandi" jawab Alea menggoda.


Abrar kembali tersenyum, istrinya memang pandai memperbaiki moodnya ketika di rumah setelah berjibaku dengan pekerjaan yang memusingkan.


Abrar menarik pinggang Alea hingga tubuh mereka menempel, menatap Alea dengan senyum penuh arti.


Pun Alea, perempuan ini merasa geli sendiri sekaligus heran bagaimana ia bisa begitu candu dengan suaminya ini.


"Aku menunggumu sepanjang hari, kau lelah bukan? Mandi bersamaku akan lebih menyenangkan, aku pandai memijat"


"Benarkah?" tanya Abrar yang masih mengulum senyum, sambil satu tangannya mengelus bibir manis istrinya.


"Iya....sudah ku bilang aku pandai dalam hal apapun termasuk memijat, apalagi memijat ini" kembali Alea menggoda dengan satu tangannya meraba gemas pusaka suaminya.


"Astaga aku sudah tidak tahan" jawab Abrar yang tidak ingin berbasa basi lagi, maka darinya ia meraih bibir istrinya mesra sambil satu tangan tetap menahan pinggang Alea agar tidak terjatuh ketika tubuhnya menggiring Alea menuju kamar mandi.


Alea mandi dua kali sore ini, mereka menikmati keintiman suami istri di dalam bathup yang diisi busa sabun yang melimpah, canda tawa menghiasi keduanya.


Hampir satu jam lebih mereka masih asyik dalam kamar mandi, hingga sang mama yang sudah menunggu lama anak dan menantunya itu menyusul ke kamar mereka karena pasangan baru tersebut belum muncul untuk makan malam bersama.


Bella mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan kemudian ia mencoba membukanya dengan pelan seraya mengintip ke dalam kamar, ia menjadi heran tidak ada orang disana, Bella memutuskan untuk masuk.


"Alea....bang Abrar" panggil Bella pelan kemudian ia berhenti melangkah ketika mendengar suara dari kamar mandi.

__ADS_1


Bella menghela napas dan hanya bisa geleng kepala mendengarnya, dimana Alea dan Abrar masih saja terkikik geli sambil bersenda gurau dengan mesra, itu terdengar hingga ke telinga wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda.


"Aku rasa Alea sudah merubah putraku menjadi lebih hidup, bahkan pria itu sangat pendiam dan tertutup selama ini bagaimana bisa sekarang dia tertawa keras seperti itu, astaga.... Aku rasa mereka benar-benar bahagia"


Bella akhirnya keluar dari kamar tersebut dengan wajah yang terus menahan senyum.


"Mana mereka?" tanya Ricko setelah mendapati istrinya turun hanya seorang diri.


"Hmmm biasa pengantin baru selalu saja mengurung diri" jawab Bella pelan, ia meraih lengan suaminya menuju ruang keluarga.


"Sepertinya lapar tidak berlaku untuk mereka yang pengantin baru....Kita tunggu saja mereka turun jika begitu"


Bella mengangguk, mereka memutuskan akan menunggu Abrar dan Alea untuk makan bersama.


*****


Abrar dan Alea akhirnya turun sambil terus menautkan jari berjalan dengan mesra dan senyum terus terukir di bibir keduanya, hingga yang melihatnya pun ikut merasakan kebahagiaan pasangan romantis tersebut.


Di meja makan, sudah menunggu mertua dan adik iparnya Atthar namun Alea belum melihat kehadiran Arkan.


"Tidak sayang, duduklah..." ajak Bella.


Abrar memberikan kursi untuk istrinya, kemudian pria itu menyusul duduk di samping Alea.


"Bang Arkan mana?" tanya Alea.


"Aku datang" jawab Arkan entah darimana, lelaki ini langsung duduk tepat di hadapan Alea.


Mereka makan malam dengan tenang, Alea sesekali menatap Arkan dalam diam, pikirannya sungguh bertanya-tanya tentang apa yang ia lihat tadi sore, ingin sekali rasanya ia bertanya pada Arkan tentang wanita yang ia peluk dan cium di luar pagar tadi, namun nalurinya berkata bahwa tidak semua urusan bisa ia ikut campuri meski Arkan adalah adik iparnya sekarang, terlebih mereka memang sudah dekat sejak dulu, Alea merasa setelah menikah ia benar-benar harus menjaga sikapnya tentu posisinya sekarang tidak sama seperti sebelum menikah.


Alea masih berharap bahwa pikiran negatifnya tentang Arkan bisa hilang, ia tidak ingin mencurigai tanpa bukti yang kuat lagi pula bukan haknya untuk mencampuri privasi Arkan.


"Sayang kau kenapa?" tanya Abrar heran ketika menyadari Alea termenung dengan tangan mengaduk-aduk nasi di hadapannya.


"Tidak.....aku merasa sudah kenyang saja" jawab Alea terkekeh, ia berusaha menutupi sikapnya.

__ADS_1


"Jika sudah kenyang jangan dipaksa, ayo minum dulu" Abrar memberi minum pada istrinya.


Bella melihat tingkah keduanya dengan senyum bahagia, ia melirik suaminya Ricko yang juga tersenyum melihat anak sulungnya bahagia.


Setelah makan malam, Abrar langsung pamit mengantarkan Alea untuk kembali berjaga malam di rumah sakit.


Alea dan Bella berpelukan "Sayang kau harus berhati-hati, jaga kesehatanmu....sering-seringlah berkunjung kesini, jangan lupa segera beri kami cucu yang banyak seperti personil papa dan mama mu" bisik Bella ketika masih memeluk menantunya dengan sayang.


Alea terkekeh mendengarnya.


"Doakan kami segera memilikinya ma" jawab Alea tersenyum sambil melirik Abrar.


"Apa kalian mengatai ku?" tanya Abrar bercanda.


"Ini rahasia perempuan" jawab Alea disusul tawa sang mertua.


*****


Seperti biasa ketika hendak keluar mobil setelah sampai di depan rumah sakit, Alea selalu enggan untuk berpisah dari suaminya.


Pun dengan Abrar, ia meraih bibir istrinya mereka berciuman lama sebelum melepaskan Alea untuk memenuhi tanggung jawabnya.


"Aku mencintaimu, berhati-hatilah.....hubungi aku jika butuh sesuatu" ucap Abrar membelai wajah Alea.


Alea hanya mengangguk saja tidak menjawab.


Alea hendak keluar mobil namun tangannya ditahan.


"Kenapa tidak menjawab, apa kau tidak mencintaiku?"


"Astaga....abang tahu jawabannya bukan, baiklah aku juga mencintaimu suamiku....ayolah aku akan semakin enggan untuk keluar jika kau terus menahanku" jawab Alea gemas, ia kembali meraih bibir suaminya.


Abrar terkekeh "Masuklah aku akan melihatmu dari sini, besok aku akan menjemput lebih cepat aku tidak mau istriku ini sampai tertidur lagi seperti kemarin, aku tidak mau di kira penculik lagi"


"Kau memang penculik hatiku sayang" jawab Alea mengecup tangan suaminya sebelum ia benar-benar meninggalkan Abrar dan masuk ke rumah sakit.

__ADS_1


"Astaga.....kenapa pikiran ku masih tertuju bang Arkan ya, huh....apa yang terjadi sebenarnya, apa aku tidak lancang jika bertanya langsung? Bagaimana jika benar bang Arkan bermain hati dengan dua wanita sekaligus, astaga....ini gila, dia akan menikah beberapa hari lagi lalu siapa wanita itu, apa lelaki memang seperti itu? Lihat saja Deni bahkan aku baru mengetahui perselingkuhannya setelah lama mereka menjalin hubungan sampai Dara hamil, ya Tuhan....aku mencintai suamiku, aku tidak rela jika seperti mereka" gumam Alea pada dirinya sendiri sambil terus berjalan menuju ruangan tempatnya berjaga.


__ADS_2