
Dannis tampak menelepon seseorang, pria itu bicara sambil melirik perempuan yang masih terlihat mematung dalam posisi berlutut, tampak pula gadis itu seperti ingin menangis.
"Berdirilah, aku tidak menyuruhmu berlutut di hadapan ku", sergah Dannis tajam.
Segera Nara berdiri, ia tidak tahu harus kemana sekarang jika memang tidak bisa meminta bantuan pria itu lagi terlebih Dannis tampak begitu dingin sejak tadi.
Nara memungut tas jinjingnya yang berada di lantai, gadis ini terlihat lesu. Namun Dannis terlihat sudah duduk kembali di kursinya, melihat itu Nara berpikir bahwa Dannis memang tidak ingin melihatnya lagi.
"Maaf jika aku mengganggu mu tuan Dannis, terimakasih atas kebaikanmu atas jas dan uang yang ku gunakan tempo hari, baiklah jika kedatanganku telah membawa pengaruh buruk pada mood bekerjamu hari ini, aku akan pergi sesuai perintahmu", Nara bicara menunduk dengan nada lesu.
Ia tidak menunggu tanggapan pria itu lagi, segera ia pamit ingin keluar dari ruangan, ia menyadari sekarang bahwa tidak mudah untuk bekerja di kota terlebih tidak punya modal ijazah sekolah tinggi, apalagi ia bertemu Dannis hanya dua kali sejak di hotel.
"Mana mungkin dia mau menampungku untuk kedua kalinya, huh.... aku memang tidak tahu diri", gumam Nara dalam hatinya, gadis ini berbalik badan ingin segera keluar.
Namun belum juga mencapai pintu, ternyata masuk seorang pria di sana.
"Ada apa tuan memanggil saya?", tanya pria itu pada Dannis.
Dannis menoleh pada siapa yang datang.
"Oh kau sudah datang, kemarilah....".
Pria itu maju ke hadapan Dannis melewati Nara yang masih berharap sesuatu dari Dannis.
"Kau urus wanita ini, tampatkan dia pada pekerjaan yang sesuai ijazahnya!", perintah Dannis pada pria yang diketahui adalah bagian HRD dari perusahaan Dannis.
Kata itu mampu membuat mata Nara membesar sekaligus senyumnya kembali mengembang, badan gadis ini kembali menghadap Dannis.
"Tuan?", ucap Nara senang.
"Kau ikuti perintah Ardi, jika kau masih ingin bekerja di sini jangan membantah ikuti saja dimana kau bisa bekerja sesuai ijazah yang kau punya", ucap Dannis pada Nara yang masih tersenyum senang.
"Terimakasih tuan, terimakasih banyak tuan Dannis", ucap Nara menunduk hormat berulang kali.
Ardi hanya bisa mengangguk atas perintah bosnya, meski ia penasaran siapa perempuan yang meminta langsung pekerjaan itu pada Dannis, karena perusahaan mereka tidak sedang membuka lowongan pekerjaan.
Karena tidak ingin membantah, segera pria yang menjadi pegawai HRD itu undur diri dan mengajak sang wanita ikut dengannya.
Mata Dannis menatap lama punggung gadis yang sudah dua kali merepotkannya itu, entah apa yang ada di hatinya namun rasa percaya itu datang begitu saja.
__ADS_1
*****
Nara berputar-putar menghadap cermin, gadis itu berpakaian rapi memakai kemeja putih dipadu dengan rok hitam, Nara begitu senang memakai seragam tersebut.
"Ini hari pertama aku bekerja, semoga semua berjalan dengan baik. Aku takut mengecewakan tuan Dannis yang sudah berbaik hati kembali membantuku", gumam Nara menatap lekat wajahnya.
Gadis cantik ini mengikat rambut panjangnya dengan rapi.
Khinara menyewa sebuah kamar kost khusus perempuan yang tidak jauh dari kantor tempatnya bekerja hingga ia bisa berjalan kaki ke sana.
Beruntung ia mempunyai sedikit uang tabungan yang ia bawa dari desa untuk bertahan hidup beberapa bulan saja.
Nara berjalan kaki dari kost menuju kantor pagi-pagi sekali, gadis ini begitu bersemangat untuk memulai hidupnya yang baru setelah beberapa kejadian menyakitkan yang menimpanya beberapa waktu lalu.
"Aku akan mulai hidup baru, sendiri.... iya sendiri, tanpa ibu dan Ranti. Aku pasti bisa, lagi pula di rumah juga mereka tidak pernah menganggapku ada", gumam Nara berdecak kesal mengingat wajah ibu dan Ranti.
Sesampainya di kantor Nara langsung saja ke ruangan dimana ia ditempatkan untuk bekerja. Nara bekerja pada bagian petugas kebersihan, tentu saja hanya itu posisi yang pantas sesuai ijazahnya.
Nara segera membersihkan bagian yang menjadi tanggung jawabnya yaitu ruangan administrasi yang berada di lantai dua.
"Ah.......", pekik salah seorang wanita tidak jauh dari Nara.
Membuat Nara menoleh dan gadis ini membesarkan matanya ketika wanita itu baru saja terjatuh di lantai yang baru saja ia bersihkan.
Wanita itu menepis kuat tangan Nara yang ingin menolongnya.
"Lepaskan, kau baru di sini tapi sudah ingin mencelakakan seseorang, kau tidak tahu cara bekerja dengan baik hah? kenapa tidak kau pasang papan tanda lantai ini licin?", ucap wanita itu kesal.
Nara hanya menunduk takut, memang benar, ia terlalu bersemangat bekerja hingga lupa meletakkan tanda bahwa lantai licin dan baru saja ia bersihkan.
"Maafkan saya nona, maaf", hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Wanita itu masih mengaduh pada bokongnya yang sakit.
"Baru bekerja sudah buat masalah, kau lihat rok ku menjadi kotor, aaah sial kau buat aku kesal pagi-pagi buta ini", oceh wanita itu meninggalkan Nara.
Nara hanya bisa menarik napas dalam, beruntung tidak ada orang lain di sana hingga tidak terlalu ramai yang akan menghujatnya.
"Oh Nara, baru pertama bekerja sudah buat masalah.... oke baiklah aku harus tenang, ini ujian di hari pertama bekerja, ayo letakkan papan tanda ini agar tidak ada yang menjadi korban kedua kalinya", Nara mengoceh sendiri sambil meletakkan papan tanda lantai masih licin.
__ADS_1
Gadis itu melanjutkan pekerjaan sampai selesai, ia sudah berkenalan antar sesama petugas kebersihan namun ia merasa malu dan minder karena sebagian dari mereka terlihat tidak menyukainya.
Nara istrihat seorang diri di ruangan khusus tempat mereka melepas lelah.
"Kenapa mereka tidak ada yang ingin berteman denganku? apa gadis desa seperti ku terlihat menjijikkan? padahal mereka juga petugas kebersihan kenapa gayanya sudah seperti pegawai yang tinggi saja, sama-sama rendahan juga", gumam Nara kesal sendiri.
Gadis itu membawa bekal untuk ia makan, tentu saja dari yang ia beli sebelum berangkat bekerja.
"Apa tuan Dannis hanya bekerja di ruangannya saja? enak sekali....", Nara bicara sendiri.
*****
Di hari berikutnya Nara masih seorang diri, belum ada yang ingin berteman dengannya meski sesama petugas kebersihan. Entah apa penyebabnya ada beberapa orang yang bekerja sepertinya di ruangan itu namun semuanya tidak acuh padanya meski begitu Nara senang mereka tidak menindasnya sebagai pekerja baru.
"Hai Nara....", sapa seorang pria dengan senyum manis menatapnya.
"Oh hai juga tuan Aldo, kenapa datang pagi-pagi sekali?", jawab Nara pada salah seorang pegawai pria yang bekerja di ruangan itu.
"Tentu saja untuk melihatmu, ha ha tidak.... tidak.... aku hanya bercanda, aku hari ini ada pekerjaan yang mengharuskan datang pagi buta seperti ini, bagaimana pekejaanmu? aku lihat kau belum ada teman, bersabarlah kau baru beberapa hari bekerja di sini, mereka memang begitu jangan di ambil hati oke".
Nara mengangguk, "Tidak tuan, aku memaklumi saja tidak mudah menerima kehadiran pekerja baru di sini, aku senang karena masih ada tuan Aldo yang mau menyapaku".
"Iya, tapi aku rasa di sini semua tahu bahwa kau dekat dengan tuan Dannis, tapi aku heran kenapa tuan Dannis menempatkanmu pada pekerjaan seperti ini ya?", ucap pria itu terheran.
"Apa? dekat bagaimana? aku tidak dekat dengan tuan Dannis, aku saja cuma dua kali bertemu dengannya", jawab Nara polos.
"Benarkah? setahu ku gosip yang beredar mengatakan bahwa kau.... hm maaf Nara jika aku lancang, kau pernah tidur bersamanya".
Nara membesarkan mata dan tersedak ludahnya sendiri.
"Astaga siapa yang mengatakan seperti itu tuan Aldo? ya Tuhan, apa karena ini mereka tidak mau berteman dengan ku? apa aku terlihat murahan? mereka salah, tuan Dannis telah dua kali menolongku, tidak pantas jika mereka menggosipkannya dengan wanita rendahan seperti ku, tidak masuk akal juga kan petugas kebersihan tidur bersama bosnya?".
"Aku juga tidak tahu gosip itu dari mana namun semua tahu kau bekerja di sini karena perintah tuan Dannis, bagiku tidak masalah jika kau bekerja seperti ini yang penting halal bukan? sudahlah jangan diambil hati, hanya kau yang tahu sebenarnya.... lebih baik ambil jantung ku saja".
Nara terdiam menatap Aldo.
"Ayolah Nara, aku hanya bercanda..... aku percaya padamu, lagi pula kau jangan merasa minder dengan pekerjaan ini, nasib seseorang tidak ada yang bisa menebaknya, kau tahu dulu ibunya tuan Dannis juga sama seperti mu, bekerja sebagai petugas kebersihan namun bisa membuat bosnya bertekuk lutut, mereka tampak bahagia hingga tua seperti sekarang punya anak yang banyak lagi", ucap Aldo tertawa pelan.
"Apa?", Nara ternganga mendengarnya.
__ADS_1
"Kenapa terkejut? aku tidak bercanda tentang itu Nara, semua di kantor ini tahu kisah ayahnya tuan Dannis bersama nyonya Eliana dahulu, jadi jangan malu dengan pekerjaanmu oke", tepuk Aldo pada lengan Nara sambil tertawa.
Nara hanya menyengir, ia masih tidak menyangka kenapa bisa ada yang tahu bahwa ia pernah bermalam bersama bosnya, padahal ia tidak pernah bercerita pada siapapun tentang kejadian di hotel waktu itu.