Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 104


__ADS_3

Dannis mengecup bibir Nara berulang kali, enggan rasanya ingin berpisah lagi namun apa daya restu paman Harun belum juga ada titik terang, terlebih Dannis sudah mencoba mengatur janji temu agar pria ini bisa bicara dari hati ke hati dengan paman istrinya namun lagi-lagi jawaban paman Harun tetap sama.


"Aku pulang bukan meninggalkan mu, ayo lepaskan aku".


"Tidak aku masih ingin bersama, ayolah ini sungguh menyebalkan", Dannis memutar bola mata malas mengingat wajah paman Harun yang dingin setiap kali bertemu dengannya.


Meski begitu, paman Harun tampak mengurungkan niat melanjutkan perceraian antara Nara dan Dannis, pria tua itu tampak melunak saat istrinya membujuk agar memberi kesempatan bagi Dannis dan Nara memperbaiki rumah tangga mereka.


"Baiklah, jika begitu ayo bagaimana jika kita membuat cemilan?", ajak Nara menarik tangan suaminya menuju dapur.


Dannis mengangguk, mereka menghabiskan waktu berdua pada suatu sore menjelang Nara pulang dengan alasan kuliah hingga sore.


Dannis sibuk memainkan bibirnya di leher perempuan yang rambutnya dicepol agar tidak mengganggu, namun pengganggu yang sebenarnya adalah suaminya sendiri.


Nara membalikkan badannya menghadap Dannis agar ia leluasa bicara dengan menatap jelas wajah suami yang semakin menempel itu.


"Apa kau begitu menggilaiku?", tanya Nara menggoda dengan mengalungkan kedua tangannya di leher Dannis.


"Tidak juga, aku hanya seorang suami yang mencintai istrinya", jawab Dannis santai.


"Oke baiklah, sekarang lepaskan bagaimana bisa jadi cemilan jika hanya sebatas adonan tepung ini saja, kau membuat leherku geli".


"Baiklah, kau menang.... lagipula kau membuatku lapar", jawab Dannis mencium hidung mancung milik Nara sebelum melepas pelukan mereka.


Nara mulai merasa aneh ketika ia memasukkan bumbu-bumbu pada adonannya, kepalanya pusing ketika mencium bau yang seharusnya membuat semakin lapar itu.


Dannis berkutat dengan ponselnya, pria itu duduk di atas kursi meja makan sambil menunggu sang istri memasak.


Nara menghampiri suaminya dengan membawa serta adonan tepung di tangannya.


"Sayang, coba kau cium ini? apa menurutmu juga aneh? kenapa jadi bau? aku merasa pusing menciumnya ketika bumbunya ku masukkan, apa menurutmu juga begitu? aku rasa bumbu ini belum kadaluarsa", tanya Nara seraya menciumkan adonan di spatulanya ke hidung Dannis.


"Tidak, ini enak.... tidak ada yang aneh", Dannis menggeleng setelah mencium bau adonan itu.


Nara menciumnya lagi dan lagi, hasilnya sama ia merasa pusing seketika mood memasaknya menjadi hilang.


"Sayang, aku rasa penciumanku bermasalah, aku sudah tidak berselera memakan ini ayo kita pesan saja bagaimana?", ucap Nara membuang adonan itu.


Dannis mengusap lehernya bingung.


"Baiklah, huh.... padahal aku sudah sangat tidak sabar menunggu masakan mu", gumam Dannis mulai membuka kembali ponselnya berniat memesan cemilan lewat delivery saja.


Nara yang baru saja selesai mencuci tangan, menghampiri Dannis dengan duduk di pangkuan pria itu yang segera melingkarkan satu tangannya di pinggang Nara.


"Kau memesan apa?".


"Menurutmu mana yang enak?", Dannis menunjukkan daftar menu pada layar ponselnya.


Bukannya melihat menu namun Nara malah terkejut melihat jam sudah menunjukkan waktu yang seharusnya ia sudah pulang sekarang.


"Kau pilih yang mana?", tanya Dannis lagi.


"Sayang, maaf kau lihat sudah seharusnya aku pulang sekarang. Huh aku hampir lupa waktu jika bersamamu", Nara segera turun dari pangkuan suaminya namun tentu saja ditahan oleh Dannis.


"Apa kau akan meninggalkan ku?", ucap Dannis kecewa.


"Dannis ayolah, paman sudah mulai melunak sekarang meski belum memberi mu maaf, setidaknya kita tidak akan dipaksa bercerai bukan? ayolah, percaya padaku kita akan bersama dalam waktu dekat jika paman sudah tidak marah lagi oke?".


Dannis hanya diam, wajahnya tampak kesal.


"Bukankah besok kita bisa bertemu lagi?".


*****

__ADS_1


Nara menerima telepon dari bibi Tina ketika ia di dalam perjalanan pulang.


"Benarkah? baik bi aku akan segera ke sana", jawab Nara sebelum menutup telepon.


Wajahnya tampak bersemangat ketika mendengar kakak sepupunya yang akan menikah telah tiba di bandara, karena paman Harun dan bibi Tina terkena macet, maka darinya Nara disuruh ke bandara lebih dulu karena jarak rumah Dannis dan bandara tidaklah jauh.


Tidak lama Nara tiba di bandara, ia duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya memakai headset, perempuan ini lupa mengabari Dannis bahwa ia belum sampai rumah melainkan mampir ke bandara.


Seseorang menatapnya lama dari kejauhan yang tidak lain adalah iparnya Alea dan Abrar.


Alea berniat menghampiri istri dari saudara kembarnya itu karena Alea telah mengetahui bahwa Dannis dan Nara kembali bersama, namun terhenti saat melihat Nara berdiri dan berlari berhambur memeluk seorang pria yang membuat Alea dan Abrar saling menoleh satu sama lain.


"Jangan berpikiran buruk sayang", ucap Abrar yang mengerti maksud tatapan istrinya.


Alea tidak menjawab melainkan langsung menghubungi seseorang yang diyakini Abrar adalah Dannis.


"Dannis, kau dimana?", tanya Alea cepat ketika Dannis menjawab teleponnya.


'Ada apa? aku di rumah', jawab Dannis polos.


"Kau bersama istrimu?".


'Tidak, dia sudah pulang kau tahu tentang itu kenapa repot bertanya'.


"Kau yakin dia pulang? aku melihatnya di bandara sekarang".


'Apa? di bandara? apa maksudmu Alea', tanya Dannis mengernyitkan dahinya.


"Aku yakin kau akan terkejut melihat siapa istrimu sebenarnya, aku rasa kau harus kemari untuk melihatnya sendiri, Nara bersama seorang lelaki tampan mereka berpelukan", jawab Alea dengan mata masih mengarah pada Nara dan seorang pria yang sedang melepas rindu.


'Apa? Alea jangan bercanda', jawab Dannis kesal, namun sambungan telepon mereka telah diputus oleh Alea sepihak.


Membuat pria itu tanpa berpikir panjang mengikuti saran Alea untuk menyusul ke sana.


"Memangnya kenapa Dannis saudara ku, setahuku Nara tidak punya saudara laki-laki, mana tahu Nara punya lelaki lain ketika mereka berpisah dulu bukan? apa kau tidak lihat mereka berpelukan, dan kau tahu Dannis baru saja bilang Nara sudah pulang, dia tidak tahu istrinya di bandara sekarang itu artinya Nara berbohong".


Abrar kembali melirik Nara yang masih mengobrol dengan lelaki itu, mereka tampak sangat akrab, sesekali lelaki itu mengusap kepala Nara dengan senyum merekah.


"Sebaiknya kita hampiri saja mereka, jangan menduga-duga dari jauh nanti bagaimana jika ini salah paham", ajak Abrar menengahi.


"Tidak, kita tunggu Dannis mungkin sebentar lagi dia akan datang, aku ingin lihat bagaimana reaksi pria itu melihat istrinya bersama pria lain di sini", jawab Alea kesal.


Di lain sisi, Nara begitu bahagia bertemu kakak sepupunya bagaimana tidak mereka bertemu lima tahun lalu tentu rindu akan saudaranya itu begitu besar terlebih pria itu kembali ke tanah air untuk menikah.


"Apa kau lapar? Bagaimana kita makan dulu sebelum ayah dan ibu datang, kakak rasa kau cukup banyak cerita tentang suamimu", tanya Reyhan pada adik sepupu rasa adik kandung baginya karena ia tidak memiliki adik perempuan.


Nara mengangguk semangat.


"Aku memang lapar menunggu kakak datang, ayo....", jawab Nara tertawa.


Reyhan merangkul pundak Nara dengan erat, mereka tampak mesra dengan tangan Nara melingkar pada tubuh Reyhan dan mereka tertawa karena Reyhan menceritakan hal lucu yang ia alami selama perjalanan pulang.


Alea yang tidak ingin melepas Nara yang perlahan menjauh berjalan berniat menuju restoran cepat saji yang berada di sana, itu pun ingin mengikuti namun urung saat matanya menangkap Dannis yang sudah berlari ke arahnya.


"Dannis", panggil Alea melambai tangan.


Dannis berniat ke arah Alea namun terhenti saat matanya melihat Nara dan seorang lelaki berjalan dengan saling merangkul tampak akrab, benar saja emosinya muncul ke permukaan.


Bukannya menghampiri Alea, Dannis malah berlari ke arah Nara dan Reyhan.


Abrar segera menyusul iparnya itu tanpa berpikir panjang namun terlambat karena Dannis sudah lebih dulu menarik tangan Nara secara kasar hingga menjauh dari pria asing itu.


"Aaah...", Nara memekik kesakitan memegang pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Dannis?", Nara tidak menyangka suaminya ada di hadapannya sekarang.


Bukan menjawab melainkan memukul Reyhan tanpa basa basi.


"Beraninya kau merangkul istriku!", teriak Dannis marah.


Pria itu mendorong tubuh Reyhan dengan kasar namun tidak melepas cengkraman di leher kakak sepupu istrinya itu, mata yang memerah Dannis benar-benar marah.


Nara menarik tubuh Dannis agar tidak memukul lagi, disusul Abrar yang ikut melerai.


Alea menjadi cemas sendiri melihat kemarahan Dannis yang belum tentu semua yang terlihat adalah kebenaran.


"Oh jadi kau pria yang disebut suami oleh Nara? lepaskan tanganmu", tepis Reyhan kasar.


Reyhan mengepalkan tinju lalu memukul Dannis sebagai pembalasan, membuat Dannis kembali meradang akhirnya mereka terlibat perkelahian yang mengundang banyak perhatian, Abrar tidak bisa melerai karena keduanya terlalu bersemangat saling memukul.


"Berhenti", teriak Nara.


Dannis menoleh pada istrinya.


"Kenapa kau berbohong? kau bilang pulang tapi malah bertemu pria lain? jawab aku siapa pria ini? kalian berpelukan di tempat umum seperti ini, siapa dia? atau jangan-jangan kalian berselingkuh saat berpisah dariku dulu?", tanya Dannis masih dengan kemarahan.


Plak, sebuah tamparan keras melayang pada pipi Dannis oleh tangan istrinya sendiri.


"Dia saudaraku, pria ini kakak sepupuku putra paman Harun yang pulang ke tanah air hari ini, aku menjemputnya karena paman menyuruhku, maaf aku lupa mengabarimu tentang ini".


"Kau perlu tahu, pria ini kakak lelaki ku bahkan jauh sebelum aku menjadi istrimu", jawab Nara secara jelas sejelas-jelasnya.


Dannis terdiam, begitupun Alea dan Abrar yang mendengarnya.


Pria yang sudah kusut pakaiannya ini melunak seketika, ia meraih tangan istrinya namun Nara segera menggeleng.


"Maaf Dannis, aku kira kau perlu merenungkan apa yang baru saja kau lakukan, ini tempat umum tidak seharusnya berkelahi bukankah kita bisa bicara baik-baik? kau selalu saja main pukul sana sini, sebaiknya kau pulang", ucap Nara berkaca-kaca.


"Aku lelah, ayo pulang kak Rey", ajak Nara yang menarik tangan sepupunya itu perlahan menjauh.


"Sayang, sayang tidak maafkan aku", ucap Dannis mencegah Nara pergi.


Reyhan menepis tangan Dannis dari Nara.


"Aku rasa kau belum tuli dari apa yang dikatakan oleh adikku", ucap Reyhan tajam.


"Pulanglah, kita bisa bicara lain waktu aku sungguh pusing sekarang", jawab Nara menghindar.


Dannis terus menarik tangan Nara namun Abrar menahannya.


"Dannis, biarkan istrimu pulang", ucap pria yang istrinya terus menggigit bibir bawahnya bingung ingin bicara apa karena semua terjadi karena ulahnya.


Dannis harus menelan ludah dan mengalah terlebih matanya mengarah pada paman dan bibi Nara yang telah menyaksikan mereka sejak tadi.


Dannis mengusap wajahnya kasar setelah melihat Nara dan keluarganya pergi dari sana tanpa bisa mencegah, pria ini kemudian menatap Alea.


"Apa? jangan menatap ku seperti itu? aku menyuruhmu datang bukan untuk berkelahi Dannis jadi jangan salahkan aku", jawab Alea cepat membuat Abrar geleng kepala.


######


panjaaaaaaaang kan?


new rilis novel terbaruku, yang bisa jadi bahan bacaan setelah novel ini tamat gak lama lagi yah.


"Bodyguard ku suamiku", cekidot semoga suka, baru satu episod sih hihihi


jangan lupa mampir yaaaaa!

__ADS_1


Pokonya ga jauh2 deh dari cogan


__ADS_2