Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Ambil Saja


__ADS_3

...Selamat membaca...


...❤️❤️❤️❤️...


"Kamu juga!! Gak usah sok sok nangis gitu. Kamu pastinya senang kan keponakanku meninggal. Kamu pikir kamu akan bisa menguasai semuanya kan??? Sudah kebaca isi otakmu itu!!!" kecam Lisa pada Karin yang menangisi kenapa ada wanita setega ini mengatainya di saat ia masih berduka begini.


"Nyonya, maafkan saya. Sepertinya kedatangan saya kali ini tidak pada waktu yang tepat. Saya permisi dulu kalau begitu."


Pengacara Hendra merasa makin tidak nyaman berada di sana dan memilih berpamitan pada Karin.


"Siapa bilang waktunya tidak tepat. Justru ini adalah waktu yang bagus untuk memperjelas semuanya. Jadi jangan tergesa gesa pergi. Kedatangan anda kemari untuk membicarakan urusan kepemilikan harta benda keponakan saya kan?? Jadi selesaikan tugas anda itu." tegas Lisa.


Hendra menoleh kepada Karin meminta pendapat dan persetujuannya. Karin hanya menganggukkan kepalanya perlahan.


"Waahh Untung kita datang tepat waktu ya ma. Kalau tidak perempuan ini akan mengambil semuanya." sinis Celia, putri kedua Lisa yang notabene adalah keponakan Dion juga.


Celia sedari tadi mendampingi ibunya dan terus memandang Karin dengan pandangan menyelidik. Ini memang pertemuan pertamanya dengan Karin. Sebelumnya saat Lisa datang di pernikahan mereka, Celia tidak ikut.


Namun meski keponakan Dion, Celia seumuran dengan Karin karena Lisa sendiri menikah di usia yang terbilang telat. Lisa pindah ke luar negeri saat kakek Dion mengusirnya karena keras kepalanya dan sikap tidak mau diaturnya.


Dan di luar negeri, Lisa menemukan jodohnya. Meski tanpa pernikahan yang sah karena orang barat tidak suka terikat dengan pernikahan namun dengan pria itu Lisa memiliki dua anak. Satu laki laki dan satu perempuan.


Anak laki laki sulungnya bernama Valdy dan yang perempuan adalah Celia yang saat ini turut ikut campur bicara. Valdy berusia 7 tahun lebih tua dari Karin. Dan saat ini Valdy sendiri lebih memilih diam dan sibuk memandangi foto foto Dion yang berada di ruangan itu.


Ia tampak acuh dengan pembahasan yang menjadi tujuan utama ibunya pulang ke tanah kelahirannya ini. Mungkin ia tak paham dengan bahasa asli negara ibunya atau memang ia tak tertarik untuk ikut campur.


"Tante,,, Dan siapa pun namamu,,, Kalian salah paham. Aku sama sekali tidak berniat menguasai semuanya. Dan kalau memang ada hak kalian di dalamnya, maka aku sama sekali tak keberatan untuk memberikannya." ucap Karin yang belum mengenal Celia.


"Apa kamu bilang??? Tidak keberatan memberikannya?? Kenapa nadanya seolah kamu yang punya hak di sini???" ketus Lisa.

__ADS_1


"Dasar tidak tau diri!!!" Celia ikut bicara lagi.


Valdy menoleh ke arah keduanya dengan pandangan tidak suka namun ia masih enggan untuk berbicara. Ia kembali larut dengan kegiatannya yang sebenarnya tak luput dari lirikan mata Karin karena beberapa kali lelaki itu mengambil foto foto kebersamaannya dengan Dion yang berada di meja meja hias sudut itu.


"Bapak Hendra, Saya mohon jangan pergi dulu. Saya tidak mau masalah ini makin berlarut larut karenanya mumpung ada pihak yang mengklaim haknya juga di sini, maka lebih baik kita selesaikan saja sekarang juga. Lebih cepat lebih baik. Bagaimana pun saya ingin segera bisa punya waktu untuk menenangkan diri."


Akhirnya malah Karin yang meminta semua diperjelas saja. Tadinya dia yang tidak mau tapi kali ini dia yang meminta.


"Baiklah nyonya." Hendra setuju dan kembali ke duduknya.


"Baiklah tante Lisa. Mari kita duduk dan bicarakan semuanya bersama sama. Biar semua segera terselesaikan." Karin mempersilahkan.


"Jaga sikapmu itu. Aku tidak suka kamu berlagak seperti tuan rumah tunggal di sini. Aku juga punya hak di sini. Ini rumah keponakanku yang pasti juga dibeli dengan peninggalan papanya dulu. Kakakku satu satunya yang mendapat semua warisan orang tuaku." Lisa tidak bisa bicara dengan tidak ketus.


"Mommy,,, Please!!!"


Suara serak berwibawa itu terdengar dari bibir Valdy dan menyiratkan rasa tidak suka akan ucapan ibunya itu.


Lisa tau,Valdy memang tidak pernah suka dengan keinginannya meminta bagian atas kekayaan keluarganya. Lisa justru heran kenapa kali ini malah anak itu ikut mengunjungi rumah ini. Terbukti ketakutan Lisa bahwa anak itu akan membuat usahanya tidak berjalan mulus.


"Tetap saja semua ada aturannya!!" ketus Valdy.


"Valdy,,, mommy sudah bilang kan sebelumnya. Kalau kamu tidak suka atau tidak setuju dengan apa yang akan mommy bahas disini, lebih baik kamu tidak usah ikut mommy ke sini."


"I am done." Valdy menyingkir, memilih pergi dari ruangan itu dengan membawa sebuah foto pernikahan Dion dan Karin di tangannya.


"Tunggu!! Mau dibawa kemana foto itu? Bisa tolong kembalikan ke tempatnya?" pinta Karin.


"Aku hanya pinjam sebentar. Aku bukan mereka yang menginginkan milikmu!!" ketus Valdy dingin.

__ADS_1


"Valdyyyy!!! Jaga bicaramu!!!" ketus Lisa namun tidak ditanggapi oleh Valdy yang sudah keluar ruangan.


"Dasar anak itu." gumam Lisa kesal.


"Maaf. Apa bisa kita mulai pembahasannya?" tanya Hendra.


"Iya!! Langsung saja,,, Saya mau nama saya juga dicantumkan sebagai ahli waris. Dan saya mau setengah dari milik keluarga saya ini menjadi milik saya. Tapi saya tidak sejahat itu pada keponakan saya. Mereka tetap jadi ahli waris namun harta itu hanya akan diserahkan kepada mereka saat mereka sudah cukup umur nantinya. Sebelum itu,,, semua kepengurusannya harus dilimpahkan kepada saya karena saya tidak percaya pada wanita ini!!" tunjuk Lisa kepada Karin dan tanpa malu malu bicara seperti itu.


"Maaf nyonya. Tidak bisa begitu." tolak Hendra.


"Kenapa tidak bisa? Karena dia istri Dion?? Yakin bukan dia yang menyebabkan kematian Dion?? Yakin bukan ini yang diinginkannya?? Keponakan saya meninggal tuan pengacara!! Anda bisa jamin kalau itu murni karena sakit? Semendadak itukah??"


"Tante!! Karin mohon Jangan keterlaluan sama Karin. Karin tau banyak orang yang berasumsi kalau Karin ini menikah dengan almarhum hanya karena mengincar hartanya. Tapi bukan berarti tante bisa semena mena menuduh Karin sengaja mengatur dan menyebabkan kematiannya. Karin mencintai suami Karin dan itu kebenarannya. Mau dia miskin atau dia kaya,Karin mencintainya bukan karena dia ada apa apanya!!."


Nafas Karin begitu tersengal sengal mengatakannya. Mela dan Darwin yang mendengar keributan sebenarnya sangat ingin ikut bicara membela Karin namun mereka sadar kehadiran mereka tidak diperlukan.


"Halah sok suci!!" cibir Lisa tak percaya.


"Begini saja,,, Ambil saja berapa pun yang tante mau. Karin tidak peduli mau seberapa banyak atau mau semuanya pun tante ambil juga Karin tidak peduli. Yang jelas jangan ambil hak anak anak kami." ucap Karin dengan sadar.


Ia tak peduli jika ia tak diberi bagian sepeser pun.Toh ia juga bukan orang miskin yang akan langsung mati begitu didepak Lisa dari daftar ahli waris. Harta pembagian dari Rayya masih cukup untuk menghidupinya.


"Anda yakin nyonya??" tanya Hendra yang terkejut dengan ucapan pasrah Karin itu.


"Saya cukup sadar mengatakannya bapak. Urus saja semua biar segera kelar masalahnya."


Hendra pun mengangguk meski ia heran kenapa Karin melakukannya. Jika kliennya masih hidup ia yakin kliennya itu tidak akan sudi miliknya diambil orang lain hingga menyengsarakan istrinya begini.


"Tunggu apalagi pengacara??" Lisa melotot kepada Hendra.

__ADS_1


...❤️❤️❤️❤️...


__ADS_2