
Tidak lama berselang, Ricko datang setelah di beritahu Kemal bahwa istri pria itu ada di kantornya, namun ia tidak langsung ke ruangan Kemal karena ia bertemu Bella di lift ketika perempuan tersebut baru saja dari lobby menjemput kedua putera nya yang baru saja diantarkan sopir untuk memenuhi janji akan bermain bersama si kembar Alea dan Dannis.
"Huh.....kau sungguh beruntung menjadi perempuan, kau bisa memenangkan hati Kemal, kau juga menjadi wanita sempurna bisa melahirkan anak kedunia ini, aku iri padamu" ucap Tiara tiba-tiba di sela keheningan yang tercipta antara Tiara dan Eliana.
El menarik napas dalam lalu berkata "Semua wanita di ciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing nona, jangan merasa kecil akan hal itu, kau telah memiliki segalanya"
"Kau benar....aku memiliki segalanya, namun sekarang perlahan semua meninggalkan ku, popularitas, kekasihku, ayahku, aku hampir saja memiliki seorang bayi, sekarang aku juga akan bercerai dari suami ku dan lebih parah lagi penyakit mematikan ini ikut menggerogotiku"
Kembali airmata jatuh di wajahnya yang pucat, membuat Eliana terdiam, ia mengelus lembut pundak Tiara.
"Kau bisa memperbaikinya jika kau mau nona, tuan Ricko banyak berkorban untukmu....kau membutuhkan seorang suami yang mendampingimu dalam keadaan seperti ini, semangatlah....kau pasti bisa sembuh"
"Kau bicara begitu mudah, kau tidak akan bisa merasakan apa yang terjadi padaku sekarang, rasanya aku mau mati saja" Tiara mulai terisak, membuat Eliana serba salah.
"Tenanglah nona, kau pasti bisa melewati ini semua jika kau bisa berlaku adil pada dirimu sendiri, kau berhak bahagia dan kau pasti sembuh jika kau terus berusaha dan tetap berpikir positif"
"Umurku tidak akan lama lagi.....sikap kalian padaku akan memperpendek umurku yang kian terpuruk ini, kau tahu....aku hanya memiliki Kemal dan Andra sebagai sahabatku, kau lihat sendiri suami mu tidak menghiraukanku begitupun Andra, hubungan ku akan segera berakhir dengan Ricko, aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk berbagi"
El kembali terdiam, sampai Kemal merasa jengah akan keluhan Tiara yang pasti akan mempengaruhi perasaan istrinya.
Kemal berdiri ingin menghampiri dua perempuan yang masih duduk di sofa, namun langkahnya terhenti tatkala Ricko masuk ruangan tersebut.
"Bagus kau datang tepat waktu, antarlah istrimu pulang, dia butuh istirahat jika masih disini dia akan tambah sakit" ucap Kemal pada Ricko.
Ricko hanya menatap Tiara dengan sendu, pria itu juga tidak ingin Tiara berada dalam kesedihan dan terpuruk seperti sekarang, namun apalah daya keputusan Tiara untuk berpisah darinya kian mantap, bahkan mereka akan menghadapi sidang perceraian minggu depan.
"Ayo aku antar kau pulang, ini sudah siang kau harus istirahat dan minum obat" ucap Ricko pelan sambil menggenggam tangan Tiara.
Namun Tiara menepis tangan suaminya, ia menggeleng.
"Aku bisa pulang sendiri, jangan memperlakukanku seperti orang yang mau mati"
Tiara bicara sambil berdiri, ia mengambil tas nya yang berada di atas sofa.
"Kalian semua sama saja......" tatap Tiara tajam pada Ricko bergantian dengan Kemal dan Eliana sebelum ia berlalu dari ruangan itu.
"Tuan Ricko, ayo susul istrimu....kasihan dia" El menatap Ricko heran, karena lelaki itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya.
"Tidak ada gunanya El.....dia akan tetap seperti itu, aku bahkan tidak punya kesempatan untuk merawatnya disaat dia sakit, dia sudah tidak menginginkan ku lagi"
"Oke baiklah.....kau ingin makan siang bersama?" tanya Kemal pada Ricko, pria itu sudah berada disamping istrinya merangkul tubuh kecil itu sambil mengusap pelan pundak Eliana.
"Entahlah....aku pusing, tidak berselera makan" jawab Ricko yang menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Bersabarlah.....kau akan terbebas sebentar lagi dari istrimu itu, aku rasa itu yang terbaik"
"Sayang.....kenapa bicara seperti itu, nona Tiara masih temanmu, kasihan dia"
Ucap Eliana sambil mencubit pelan perut suaminya.
"Kau lihat sendiri bukan, Tiara yang menginginkan perpisahan....dia juga menyalahkan orang lain tentang keadaannya, kasihan pria ini, biar dia kembali bebas"
Jawab Kemal enteng, Ricko hanya geleng kepala dengan tanggapan Kemal.
"Huh....kau ini" El kembali menepuk pelan dada suaminya.
*******
Mereka makan siang bersama, ditambah kehebohan si kembar yang ikut meramaikan acara makan siang itu.
__ADS_1
Setelah makan siang si kembar kembali berlarian ke ruangan Bella untuk melanjutkan bermain bersama Abrar dan Arkan, si Kembar yang sudah akrab dengan Ricko pun menarik tangan pria itu menuju ruangan Bella.
Ricko tentu merasa senang, pria itu menyukai anak kecil.
"Bella...apa kalian sudah makan siang?" tanya Ricko berbasa basi.
Bella hanya mengangguk pelan, ia sambil membereskan berkas yang akan ia berikan pada bosnya.
"Apa aku mengganggumu?"
"Hmmm tidak, aku hanya menyiapkan laporan ini untuk Kemal, kenapa kau tidak pulang bersama istrimu?"
"Kami akan segera berpisah, dia sudah tidak menginginkan ku lagi" jawab Ricko canggung. beruntung ia menetralisirnya dengan meraih Alea dan menggendong gadis kecil itu.
Bella menatap Ricko sejenak, kemudian selesai dengan beberapa berkas laporan ditangannya.
"Aku akan ke ruangan Kemal, kau ingin disini atau?"
"Aku akan disini, mereka masih ingin bermain dengan ku" jawab Ricko melirik anak-anak yang masih heboh tidak bisa diam.
"Baiklah....kau ingin kopi?"
"Boleh....jika kau tidak keberatan"
Bella mengangguk dan berlalu dari hadapan Ricko.
Masuk ke ruangan Kemal, seperti biasa Bella harus menahan kesal karena selalu mendapati pasangan itu tengah bermesraan.
"Huh...ayolah, kapan kalian akan berhenti mesra sehari saja, hargai aku yang tidak punya pasangan ini"
El mendorong pelan dada suaminya yang menghimpit tubuh mungil itu di sofa, mereka sedang berciuman ketika Bella masuk.
"Nona Bella, maafkan aku.....mungkin aku harus absen datang kesini besok agar kau tidak tersakiti" jawab Eliana bercanda.
"Ha ha ha jika kau merasa begitu, segeralah buka hatimu untuk pria lain" Jawab Eliana.
Kemal berdiri mengambil berkas di tangan Bella.
"Kau akan mendapatkan pasangan setelah ini" Kemal berucap ambigu.
"Apa maksudmu? siapa yang ingin menikah dengan janda beranak dua seperti ku, astaga kalian benar-benar mengejekku"
"Mungkin pria yang akan menjadi duda dalam waktu dekat ini" jawab Kemal enteng seraya berjalan menuju meja kerja nya.
Bella terdiam, pun Eliana yang masih mencerna ucapan suaminya.
Raut wajah Bella bersemu merah. Ia segera berbalik badan menuju pintu keluar tanpa berpamit lagi.
"Sayang...apa maksudmu?" tanya El pada suaminya.
"Kau sendiri bukan yang bilang jika Bella dan Ricko sama-sama malu jika bertemu, mungkin mereka jodoh" jawab Kemal santai.
El menutup mulutnya terkejut, ia lupa akan Bella dan Ricko mantan kekasih yang akhir-akhir ini sering bertemu dikantor itu.
"Sayang....kau ini jahat sekali, mereka belum resmi bercerai dan kau sudah bicara tentang hal ini, bagaimana jika mereka tidak jadi bercerai?"
"Hei aku kan cuma bilang mungkin saja, sudahlah....apa kau terus ingin membahas mereka? sekarang ceritakan padaku bagaimana perkembangan kuliah mu? apa Aras masih suka mendekatimu?
Kemal sudah kembali mengunci pergerakan Eliana.
__ADS_1
******
Ricko menikmati secangkir kopi yang disuguhkan oleh Bella, mereka mengobrol ringan tentang pekerjaan sesekali Ricko menanyakan tentang kehidupan pribadi mantan kekasihnya itu.
"Mama...apa boleh abang ajak adik-adik ini bermain diluar?" tiba-tiba Abrar menghampiri ibunya untuk meminta izin membawa Alea dan Dannis bermain di luar ruangan.
"Boleh sayang...kalian pasti bosan di dalam sejak tadi, ingat kau harus hati-hati jaga adik-adikmu dengan baik"
Abrar mengangguk, mereka berlalu keluar ruangan di awasi kedua pengasuh Alea dan Dannis, meninggalkan Bella berdua dengan Ricko.
"Kau beruntung sudah memiliki dua putera yang manis, sepertinya kau mendidik mereka dengan baik"
"Seharusnya kau juga sudah memiliki anak sekarang jika kau tidak menyia-nyiakan waktu muda mu bersama Kemal dan Andra yang terlena di dunia malam" sindir Bella sambil tersenyum.
"Biasa......lelaki memang begitu, selalu terlambat menyadari"
*****
Bella dan Ricko sama-sama panik ketika mendengar suara tangis dari arah luar.
Benar saja, Abrar datang menggendong Alea yang sedang menangis kesakitan karena terjatuh di ujung koridor sedang berlarian, lututnya lecet sedikit, karena Alea anak perempuan yang tentu lebih cengeng dari saudaranya Dannis yang juga terluka di bagian siku, namun anak lelaki Kemal itu sama sekali tidak menangis.
"Mama...maafkan abang yang tidak bisa menjaga adik-adik dengan baik, mereka terjatuh ketika mengejar abang" ucap Arkan putra kedua Bella sambil menangis ketakutan.
"Hei....anak lelaki pantang menangis, kau sudah mengakuinya boy....berhenti menangis, paman Kemal tidak akan memarahimu tenanglah...." Jawab Ricko mengusap pelan rambut Arkan.
Tidak lama berselang, Eliana dan Kemal ikut berlarian keluar ruangan setelah mendengar suara gaduh.
"Sayang kalian kenapa?" El cemas, ia mengambil alih Alea dari gendongan Abrar.
"Sayang tenanglah....mereka anak-anak, itu hal biasa terjadi dalam bermain, kau lihat Dannis juga terluka, hei....kau memang pria sejati sayang" jawab Kemal sambil menggendong Dannis yang memperlihatkan sikunya yang lecet, bocah itu malah tertawa geli ketika Kemal menciuminya.
"Maaf tuan, nyonya....maaf jika kami lengah" pengasuh si kembar menunduk takut.
"Sudah....ini hanya luka kecil, lain kali lebih berhati-hati lagi" jawab Kemal diangguki oleh istrinya yang masih menenangkan anak gadisnya yang masih manja.
"El....maaf, Abrar dan Arkan yang mengajak mereka bermain di luar"
"Sudah nona Bella, ini hanya kecelakaan kecil....semua anak akan mengalaminya, aku tidak marah, terimakasih abang-abang sayang sudah menjaga adik kembar dengan baik, tenanglah....bibi tidak akan marah, lain kali lebih berhati-hati lagi ya" Jawab El sambil mengusap kepala Abrar yang tersenyum.
"Benar bukan, paman sudah bilang kalian tidak akan dimarahi, ayo kalian lelah bukan istirahatlah di ruangan mama kalian" Ricko ikut menimpali.
Abrar dan Arkan merasa lega, mereka mengangguk dan berjalan masuk ke ruangan ibunya, namun Dannis dan Alea ikut turun dari gendongan mama dan papanya untuk ikut kedua anak lelaki dari Bella tersebut.
Kemal membiarkannya.
"Biarkan mereka bermain di dalam ruangan saja, mereka jarang bertemu lihat saja mereka tidak ingin berpisah" Kemal berucap pada istrinya.
"Baiklah.....biarkan mereka bermain sepuasnya, awasi saja mereka bermain" ucap El pada kedua pengasuh anaknya.
"Baik nyonya" jawab mereka serentak.
******
El menatap Ricko tersenyum pada Bella.
"Ingin bergabung?" tanya Eliana pada dua insan yang masih tidak bergeming itu.
"Ayolah....kita bisa bicara diruanganku" ajak Kemal.
__ADS_1
Keduanya mengangguk setuju, Eliana berjalan di belakang Bella dan Ricko.
"Apa benar mereka cocok?" gumam El pelan pada dirinya sendiri.