
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
Diam diam Megha memperhatikan gerak gerik Dion saat mereka tengah melakukan presentasi. Bosnya itu tumben kelihatan tidak fokus. Beberapa kali juga tampak merasa menahan sesuatu. Intinya bosnya itu sedang merasa tidak nyaman.
Tapi untungnya bosnya itu berhasil juga menyelesaikan presentasinya tepat waktu dan disambut hangat oleh klien. Kerjasama terjalin dan tinggal menjalankan langkah langkah selanjutnya.
Para klien pun pamit untuk kembali ke kantor mereka.
"Pak,,, Bapak tidak apa apa?" tanya Megha setelah semua bubar.
Megha bertanya begitu karena ia melihat Dion yang langsung duduk dan memegangi pinggangnya. Wajahnya sedikit pucat.
"Entahlah. Pinggangku dari tadi pagi rasanya sakit Gha. Apa ini ya yang namanya encok? Sudah tua beneran aku ya?" tanya Dion dengan mimik wajah seolah belum terima kalau ia disebut tua.
Memang sih di usia seperti dirinya hal seperti ini bisa menimpa siapa saja. Bahkan ada yang merasakannya lebih awal. Kadang semua itu juga dipengaruhi oleh gaya hidup masing masing.
"Pak,, Sakit pinggang itu tidak melulu karena encok atau faktor usia. Kadang ada penyebab lainnya juga. Jadi jangan disepelekan. Sebaiknya bapak periksakan saja sebelum terlambat." Megha menyarankan.
"Kamu tau kan Karin bagaimana kalau sampai tau aku sakit?? Periksa ke dokter nanti yang ada dia panik duluan. Tadi pagi saja dia sudah menangis tersedu sedu karena tau aku sakit pinggang. Padahal ku rasa ini hanya encok."
"Saya tau bagaimana ibu. Ibu sangat mencintai anda makanya reaksinya seperti itu. Tapi daripada paniknya belakangan dan sudah terlambat pak." Megha kekeh pada usulannya.
"Ah sudahlah. Sepertinya aku hanya kelelahan. Aku hanya butuh istirahat. Usiaku ini benar benar tidak bisa lagi diajak kompromi. Aku istirahat saja sebentar ya. Tolong kamu tahan semua telpon untukku. Sisanya kamu urus saja. Biar gak percuma dong aku naikin gaji dan jabatanmu." seloroh Dion.
"Baiiiikkk bapak bos yang baik hati mau menaikkan gaji dan jabatan sayaaaaaa. Terima kasih lho sebelumnya." Megha pun menjawab dengan selorohan.
Mereka berdua tertawa lantas berkemas meninggalkan ruangan khusus meeting ini untuk kembali ke ruangan masing masing.
__ADS_1
Dion meminta waktu sejam untuk istirahat. Sebenarnya lumayan waktu sejam bisa untuk telponan atau video call dengan anak istrinya. Itu akan ia lakukan kalau ia merasa baik baik saja. Tapi kali ini Dion memilih tiduran saja di kasur yang tersedia di dalam ruangannya.
Meski tak pernah dipakai namun ruangan yang ada di balik pintu kecil di sebelah pintu kamar mandi itu tetap dijaga kebersihannya. Peralatan serba lengkapnya pun juga masih berfungsi dengan baik semuanya.
(Maklum bos,,, ruangan kerja pun lengkap perabotannya hehehe,,,)
"Astaga. Rasanya baru kali ini aku menggunakan ruangan ini. Hadeeeehhh." Dion mengusap usap pinggangnya dan tangan satunya melonggarkan tali dasinya.
Sakit yang ia rasa makin mengganggu dan Dion memaksa matanya yang tidak terbiasa untuk tidur siang itu untuk tidur. Dibantu dengan bantal bantal yang ia tata untuk menyangga pinggangnya, Dion pun mulai rebahan.
"Barangkali setelah tidur aku merasa enakan." begitu pikirnya.
Meski awalnya susah namun akhirnya Dion tertidur juga.
Sejam berlalu,,, dua jam dan hampir memasuki jam ketiga, Dion tidak bangun bangun juga. Megha mulai merasa cemas dengan kondisi bosnya itu. Diberanikannya masuk ke ruangan bosnya dan langsung menuju ruangan pribadi Dion.
"Pak,,, Bapak,,," Megha mengguncang sedikit tubuh Dion.
"Astaga!!! Aku ketiduran lama ya?? Jam berapa ini???" tanyanya.
"Sudah mau jam pulang pak. Makanya saya bangunkan bapak. Nanti takutnya bapak terlambat pulang dan kena marah ibu." Dalam hati Megha merasa bersyukur karena bosnya itu baik baik saja.
Dion bangun. Merapikan kemejanya dan mengikat kembali tali dasinya. Rambutnya juga tak luput untuk dirapikan sedikit. Ia merasa tubuhnya terasa sangat bugar.
"Apa sakit pinggangnya sudah hilang pak?"
"Sudah. Aku merasa bugar sekarang. Waaah ternyata benar ini semua karena aku sudah tua Gha. Buktinya aku yang gak pernah tidur siang, sekalinya tidur siang eh kebablasan tapi bangun bangun semua terasa lebih baik."
Megha tersenyum saja mendengarnya. Bosnya itu sudah ia temani sedari ia masih baru lulus kuliah dulu sampai ia kini sudah jadi ibu. Maklum saja kalau usia makin menggerogoti. Untungnya kebaikan bosnya itu tidak pernah termakan usia.
__ADS_1
Bosnya itu tetap humble,, murah hati tapi tetap disiplin dan perfeksionis.
"Kalau begitu saya kembali ke meja saya dulu ya pak. Mau merapikan semuanya sebelum pulang." pamit Megha.
Dion mengangguk mengiyakan. Dibiarkannya Megha keluar dari ruangan itu. Dion kembali mengusap usap pinggangnya. Sakit itu sama sekali tak terasa lagi. Setelah yakin semua kembali seperti normal, ia pun bangkit dari duduknya.
Kembali ke meja kerjanya. Memeriksa kalau ada berkas berkas yang perlu ditandatanganinya atau tidak. Biasanya Megha menyiapkannya diatas mejanya kalau memang ada. Tapi hari itu tidak ada satu pun berkas.
Dion mengecek ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Karin berupa foto dan video Delvara yang tampak riang di sekolah barunya. Ia bermain bersama teman teman barunya.
Ada juga foto Karin bersama Delvara yang tersenyum manis melihat ke arah kamera yang pastinya dipegang oleh Karin karena itu adalah foto selfie.
Dion mengusap usap layar ponselnya saat layar itu menampilkan foto itu.
"Bidadariku,,, Pangeranku,,,, Aku ingin selamanya menemani kalian. Aku ingin bisa melihat wajahmu mulai dihiasi kerutan. Melihat rambutmu memutih. Melihat Del dan Zoya tumbuh besar. Dan bila dimungkinkan juga melihat mereka berumah tangga."
Sampai di situ Dion terdiam. Tiba tiba ia merasa bersalah pada Karin.
"Maafkan om papa yang tidak tau diri ini Sayang. Om papa lupa umur. Sekarang om papa baru sadar dan paham apa yang jadi ketakutan terbesarmu. Dan itu sebenarnya salah om papa. Seandainya saja om papa tidak terus mengejarmu, mungkin sekarang kamu akan menikah dengan pria lain yang seumuran atau hanya terpaut usia sedikit saja denganmu. Kamu tidak perlu takut akan ditinggal mati lebih cepat karena suamimu sudah kehabisan waktu."
Dion tanpa sadar menangis membayangkan jika suatu saat ia memang harus pergi. Tapi tak lama berselang ia pun menghapus airmatanya itu karena merasa ada hal yang jauh lebih penting dan harus ia siapkan sebelum semuanya terlambat.
Dion meraih ponselnya. Jarinya bergerak cepat mencari nama pengacara terbaiknya. Dan begitu ketemu yang dicari langsung ditelponnya.
"Saya mau bertemu besok. Ada yang ingin saya sampaikan dan anda buatkan." ucap Dion tanpa basa basi begitu pengacara itu menjawab telponnya.
"Baik tuan."
Telpon yang singkat namun membuat Dion merasa lega. Ia pun lalu berkemas dan bersiap siap pulang. Anak dan istrinya pasti sudah menunggu.
__ADS_1
...❤️❤️❤️❤️...