Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 82


__ADS_3

Dannis menghabiskan waktu setiap hari hanya untuk bolak balik kota ke desa begitupun sebaliknya.


Menunggu jika saja Nara muncul di persimpangan tempat mereka terakhir bertemu dan berpisah.


Namun hingga hampir satu minggu tidak juga membuahkan hasil, meski begitu Dannis tidak menyerah, seakan perjalanan yang hampir lima jam dari kota itu ia anggap telah menjadi perjalanan biasa baginya.


Pekerjaan kantor mulai terbengkalai, banyak orang yang mempertanyakan keberadaan Dannis sekarang, pria itu tidak peduli apapun selain hanya bolak balik kota ke desa.


Reta yang menjadi sekretarisnya di kantor mulai tidak bisa memegang kendali tanpa bosnya, banyak pekerjaan yang harus ditangani hingga gadis itu menghubungi ayah dari Dannis untuk meminta solusi terbaik atas sikap Dannis yang tidak acuh sekarang tanpa alasan yang jelas.


Papa Kemal merasa heran kenapa Dannis yang memang akhir-akhir ini sulit dihubungi itu bersikap demikian.


Papa Kemal mengajak istrinya untuk pulang lebih cepat, setidaknya ia telah memastikan bahwa keadaan putri ketiganya itu telah baik-baik saja.


"Ada apa dengan Dannis?", tanya mama El yang baru tahu dari suaminya.


"Entah lah, dia bahkan sangat sulit dihubungi begitupun Nara, ponselnya tidak aktif hingga sekarang, aku rasa Dannis sedang dalam masalah, dia tidak pernah seperti ini", jawab papa Kemal mulai curiga, karena dari keterangan Reta putranya itu sudah hampir satu minggu tidak masuk kantor dan tidak juga menghiraukan pekerjaannya tanpa alasan yang jelas.


"Tenanglah, kita pulang besok, setidaknya aku lega Delila sudah lebih baik sekarang", jawab mama El mengusap lengan suaminya menenangkan, perempuan yang telah melahirkan Dannis itu belum memikirkan hal yang lebih jauh tentang putra sulungnya itu.


*****


Hari ini Dannis kembali pulang tanpa Nara, pria itu mulai tidak terurus, rumah yang tidak dibersihkan, kamar yang berantakan, pakaian yang tidak dirapikan, bahkan Dannis makan tidak teratur, selain menghabiskan waktu diperjalanan saja Dannis tidak melakukan kegiatan apapun selain bermenung diri mengingat betapa banyak kesalahan yang telah ia perbuat pada Nara sejak awal menikah.


Hanya karena satu kali tidur bersama bercinta sebagai pasangan halal dan sama-sama pertama kali dalam melakukannya, namun sungguh efeknya mulai menggilai pria itu.


Bagaimana Dannis mengingat jelas bibir yang membalas ciumannya dengan lembut, jari-jari lentik milik Nara memeluk erat punggungnya, ia merasakan bahwa Nara memberikan seluruh perasaan padanya, melayaninya dengan penuh cinta dan memberi sentuhan-sentuhan yang memabukkan yang sekarang selalu membayanginya ketika pulang ke rumah.


Malam yang penuh kenangan, jejak percintaan yang membekas di kasur yang alasnya bahkan belum diganti hingga sekarang.


Hingga Dannis kembali memejamkan mata berharap waktu cepat berganti agar esok ia bisa kembali ke desa dimana Nara akan memunculkan diri menyambut tangannya.

__ADS_1


Tanpa Dannis sadari sejak perpisahan itu pula, bayangan Naya sama sekali telah menghilang dari benaknya yang kini berganti istrinya yang belum kembali, iya istrinya yang bernama Khinara Aldaniah.


Pagi pun menjelang, badan Dannis mulai kurang sehat, entah karena tidak teratur makan atau karena terlalu sibuk menantikan Nara hingga lupa makan dan berolahraga, jangankan olahraga kantor pun sama sekali tidak diingatnya.


Dannis berbeda dengan Kemal ketika muda dulu, jika papanya selalu menumpahkan masalah pada alkohol dan rokok ketika dulu namun berbeda dengan Dannis, pria itu sama sekali tidak mewarisi perangai buruk masa lalu ayahnya.


Tidak merokok apalagi alkohol, Eliana telah mendidiknya dengan baik meski Dannis lama bersekolah dan dipengaruhi budaya buruk luar negeri, hanya saja Dannis lebih suka menyendiri tanpa membebankan siapapun atas masalahnya, oleh karena itu pula banyak yang mendapat dampaknya terutama kantor yang diberi kuasa penuh papa Kemal pada putera sulungnya itu.


Dannis terbangun saat matahari mulai terbit, ia membuka mata hal pertama yang ia lakukan adalah mengambil ponselnya dan kembali menghubungi Nara, namun lagi-lagi nihil.


"Kenapa semuanya sibuk menghubungi ku, apa tidak lihat aku sedang fokus mencari istriku", gumam Dannis kesal karena terlalu banyak panggilan dan pesan yang masuk tanpa ia jawab satupun.


Pria itu mengusap wajahnya kasar lalu duduk di tepi ranjang berniat akan ke kamar mandi, namun ia melirik ke atas nakas yang masih terpajang figura berisi photo kenangan Naya terdahulu.


Dannis bergumam, "Sekarang aku tahu bedanya kau dan Nara yang semula aku kira mirip dari beberapa hal, namun aku salah kalian benar-benar berbeda, kau tahu bedanya apa? bedanya Khinara adalah istriku, dan kau hanya mantan calon istri yang menghalangi cintaku".


Dannis mengambil bingkai photo itu seraya berdiri, membuka lemari dan mengumpulkan beberapa barang kenangan milik Naya, memasukkannya ke dalam sebuah kotak lalu membuangnya ke tempat sampah, benar saja Dannis sama sekali tidak merasakan apa-apa pada hatinya saat membuang semua kenangan itu.


Dannis berjalan menuju makam Naya, meletakkan rangkaian bunga yang ia beli tadi.


"Maafkan aku Naya, seperti kau meninggalkan ku untuk selamanya seharusnya aku sadar bahwa kita sudah berakhir hari itu juga, aku menyerah sekarang. Aku jatuh cinta lagi, jatuh hati pada seorang gadis yang tidak sengaja menikah denganku, dia istriku Khinara".


"Aku terlihat bodoh bukan? menyadari ketika dia telah pergi, terimakasih Naya..... kau akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidupku, maaf mungkin ini yang terakhirnya aku kemari, tenanglah di sana, aku mendoakanmu mendapat tempat terbaik di sisiNya".


"Maaf juga aku harus melupakanmu, aku hanya ingin melanjutkan hidup dan bahagia bersama istriku", ucap Dannis lagi sebelum ia benar-benar meninggalkan area pemakaman kembali ke mobil yang akan ia kendarai menuju dimana Nara ia harapkan berada.


Tiba di persimpangan desa, Dannis kembali terpaku di mobil yang ia biarkan kacanya terbuka.


Hening, tidak ada sesiapa di sana. Jalan itu hanya dilalui beberapa pengendara saja termasuk bus yang pulang dan pergi membawa beberapa penumpang yang berasal dari dua desa yang bersebelahan itu, Dannis selalu menantikan bahwa Nara bisa saja salah satu dari penumpang bus itu.


Namun hingga hari ke tujuh ini Nara sama sekali tidak ia ketahui keberadaannya, namun ketika ia menatap satu gerbang desa yang menjadi akses jalan menuju villa orangtua dan rumah bibinya Karin di sana.

__ADS_1


Dannis mulai teringat sesuatu, dadanya berdebar bukan karena gugup namun karena sebuah emosi yang dirasakannya ketika mengingat bahwa Reno adalah mantan tunangan istrinya yang pernah bahkan sering kali mengatakan pada Dannis bahwa pria itu siap menunggu jandanya.


Tanpa berpikir panjang, ia mengemudi kencang melaju ke arah villa dan peternakan milik neneknya berada.


"Kenapa aku bisa melupakan Reno", gumam Dannis kesal hingga ia memukul setir mobilnya dengan geram.


Tidak membutuhkan waktu lama, ia pun sampai pada halaman luas villa yang menjadi tempat tinggal orangtua Reno.


Dannis keluar mobil dengan wajah memerah, ia bahkan tidak mendengar beberapa pelayan yang menyapanya dengan sopan.


"Reno, Reno keluar kau", panggil Dannis dengan berteriak.


Bibinya Karin lah yang keluar terlebih dahulu disusul suaminya Wahyu.


"Dannis? kau kemari? kenapa berteriak?", tanya bibi Karin heran.


"Bibi, katakan padaku dimana kalian menyembunyikan istriku".


"Apa?", Karin dan Wahyu saling menoleh satu sama lain karena cukup terkejut oleh pertanyaan itu.


"Bibi dimana Reno? katakan padaku jika Reno telah menyembunyikan istriku di sini", desak Dannis masih berteriak.


"Dannis, ayo bicara baik-baik apa yang kau katakan? kami tidak mengerti nak", bujuk Wahyu pada keponakan istrinya.


"Reno, keluar kau....", Dannis masih saja berteriak.


"Aku rasa bibi dan paman mengerti yang ku maksud, Reno masih mencintai istriku.... aku yakin dia pasti membawanya kemari".


"Nara.... Nara, keluarlah.... ayo kita pulang".


"Dannis, kau kenapa? Nara sama sekali tidak di sini, Reno tidak membawanya. Ada apa dengan mu sayang? apa kalian bertengkar?", bujuk Karin yang menarik lengan Dannis agar mereka duduk.

__ADS_1


"Pasti Reno telah membawanya pergi jauh bi, suruh Nara keluar bi, bilang aku kemari ingin mengajaknya pulang", Dannis berkata dengan suara rendahnya setelah duduk dan ditenangkan oleh bibinya.


__ADS_2