Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S2 Part 42


__ADS_3

Kemal membaringkan istrinya ke ranjang dengan pelan, Eliana tidak bisa menyembunyikan tawa yang sejak tadi ia tahan.


El menutup mulut agar meredamkan suara tawa, membuat Kemal mengernyit heran.


"Sayang....kenapa kau malah tertawa? jangan membuatku takut"


"Kau sangat lucu sayang.....astaga, apa kau pikir aku akan bunuh diri dengan pisau tadi?"


Kemal terdiam.


"Tidak.....jangan berpikir terlalu jauh sayang, aku hanya ingin memotong buah bukan memotong urat nadi, lagi pula pisau itu sangat tumpul....tidak berguna sama sekali"


"Benarkah?" Kemal menatap dengan dalam.


"Lagi pula kenapa harus bunuh diri di dapur segala, itu tidak mungkin.... ha ha ha" El masih terkikik geli, ia sungguh menikmati raut bingung sang suami.


"Hentikan kenapa kau terus tertawa, itu tidak lucu....aku benar-benar takut jika kau berbuat konyol, aku tidak ingin itu terjadi sungguh....."


"Hei....tenanglah, itu tidak akan terjadi....aku tidak akan melakukan hal bodoh itu sayang, aku merasa bosan di kamar, bukan berarti aku depresi juga, aku baik-baik saja"


"Aku hanya takut karena pasca keguguran, kau bisa saja stress dan berpikir pendek dan konyol, karena dokter bilang itu sangat mungkin terjadi"


"Astaga....apa karena itu kau terlalu protektif sekarang? percayalah...aku tidak akan berbuat seperti itu, meski jujur aku masih sangat sedih kehilangan calon bayi kita, namun tidak sama sekali menyurutkan imanku untuk berbuat yang tidak-tidak"


El berbicara sambil mengelus rahang berjambang suaminya, Kemal tersenyum dan merasa lega mendengarnya.


"Syukurlah.....aku sungguh takut kehilanganmu, aku tidak ingin terjadi hal buruk padamu....kau bisa mengatakan apa yang kau mau, jangan dipendam di dalam hati... kita bisa berbagi kesedihan, aku tidak ingin kau menanggungnya sendiri"


Kemal mengecup punggung tangan Eliana.


"Hei.....kenapa jadi melow lagi, aku sudah jauh lebih baik...bukankah kau sendiri yang bilang aku akan hamil lagi setelah ini, aku juga tidak ingin sedih yang berkelanjutan....aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk itu"


"Aku akan ada untukmu sayang" Kemal mengecup pipi Eliana.


"Baiklah, aku rasa kau sudah bisa ke kantor besok....jika kau tidak keberatan bolehkah aku ikut? aku sungguh bosan di rumah"


"Tentu saja.....kau bisa ikut aku ke kantor mulai besok"


Saling melempar senyum, diakhiri sebuah kecupan hangat di bibir.



(Author juga mau diginiin baaaang, baaaang. baaaang abaaaaang)


*******


Keesokan harinya, Kemal dan Eliana berangkat ke kantor karena memang sudah banyak berkas yang membutuhkan tanda tangan.


"Hai....nona Bella" sapa El pada Bella ketika sampai di depan ruangan suaminya.

__ADS_1


"El....kau sudah sembuh?"


Mereka berpelukan.


"Sayang aku masuk duluan" ucap Kemal karena tidak ingin terlibat obrolan sesama wanita.


El mengangguk, dan Kemal segera berlalu.


"El...maaf sekali aku belum sempat menjengukmu"


"Tidak masalah....aku sudah lebih baik sekarang, aku mengerti kau pasti lebih repot di sini bukan ketika suamiku menyerahkan banyak pekerjaan padamu"


"Iya....banyak sekali yang harus ku urus ketika Kemal tidak masuk beberapa hari ini, aku turut berduka atas musibah yang menimpa mu....kau pasti sangat bersedih" Bella mengelus punggung Eliana.


"Hmmmm.....benar, aku sangat sedih.....mungkin ini sudah takdir, aku sudah mengikhlaskannya, aku bosan di rumah makanya aku ikut kesini"


"Aku senang kau tidak berlarut dalam kesedihan, oke....baiklah nyonya kita bisa mengobrol lagi nanti, maaf ya aku akan menyiapkan berkas untuk meeting pagi ini"


"Tentu saja....silahkan, aku akan ke dapur saja membuatkan kopi untuk suamiku, lagi pula aku merindukan Fatimah"


Bella mengangguk, mereka berpisah karena Bella sedang banyak pekerjaan, El memutuskan ke dapur menemui teman nya Fatimah.


*****


El berniat akan kembali ke ruangan suaminya karena sudah terlalu lama berada di dapur keasyikan mengobrol dengan teman lamanya.


Namun langkah nya terhenti ketika mendapati Ricko sedang bertatap muka dengan Bella, namun Eliana menangkap suasana aneh dan canggung di antara keduanya.


"Iya.....tentu saja, silahkan.... Kemal ada di ruangannya" jawab Bella menunduk.


Ricko lama menatap perempuan itu, kemudian melanjutkan langkah menuju ruangan suami Eliana.


Bella mengangkat kepalanya, ia berbalik badan ingin kembali ke ruangannya dengan menarik napas dalam dan memegang dadanya, namun sayang raut wajahnya yang tegang berhasil di tangkap oleh istri dari bosnya yang berdiri tidak jauh dari Bella.


"El.....sejak kapan kau di sana?"


"Sejak kalian sama-sama terlihat canggung ketika bertatap muka, apa nona Bella mengenal tuan Ricko?"


"Huh....tentu saja kenal El, kami satu SMA sama seperti aku dan Kemal"


"Oh astaga aku lupa kau juga satu sekolah dengan suamiku" El tersenyum.


"Maaf aku harus ke ruang meeting untuk menyiapkan keperluannya" pamit Bella.


"Oh.....tentu tentu saja, silahkan" El masih menatap bingung pada Bella yang terlihat salah tingkah.


"Mereka sungguh aneh, jika berteman pasti akan heboh ketika bertemu, kenapa baik nona Bella maupun tuan Ricko terlihat sangat canggung dan malu-malu"


Gumam Eliana pelan pada dirinya sendiri, ia masuk ke ruangan Kemal mendapati dua pria itu tengah merokok bersama sambil duduk di sofa.

__ADS_1


Kemal gelagapan dan segera mematikan rokoknya ketika tahu istrinya datang.


"Kau merokok?" El menatap tajam Kemal.


Pria yang sudah melepaskan jasnya, hanya menyisakan kemeja saja segera berdiri memeluk sang istri dan mencium pipinya.


"Tidak.....aku hanya mengimbangi pria galau ini saja" matanya melirik Ricko yang masih mengepulkan asap rokoknya.


El hanya geleng kepala malas.


"Kenapa menyalahkan ku...." ucap Ricko kesal.


El mendudukkan dirinya di sofa di hadapan Ricko, Kemal menyusulnya ikut duduk di samping istrinya sambil melingkarkan tangan ke pinggang ramping Eliana.


"El......senang bertemu dengan mu lagi, aku turut berduka atas apa yang menimpamu" ucap Ricko sambil mematikan puntung rokoknya.


"Terimakasih tuan Ricko, senang juga bisa bertemu denganmu...." Jawab El pelan.


Tidak lama ponsel Ricko berdering, ia mengangkatnya seraya berdiri menjauh dari pasangan yang selalu terlihat mesra dimanapun berada.


"Hentikan sayang, temanmu masih ada disini"


El menutup mulut suaminya yang terus saja mencium leher perempuan itu.


"Biarkan dia, mungkin dia akan gila tidak lama lagi karena akan berpisah dari Tiara" Kemal terdiam atas apa yang ia baru saja ucapkan.


"Apa? tuan Ricko dan nona Tiara akan berpisah?"


Kemal hanya mengangguk pelan, ia kembali menjatuhkan wajahnya di ceruk leher Eliana.


"Itu urusan mereka...." jawab Kemal santai.


"Sayang.....hentikan" El merasa geli sekaligus risih dengan sikap manja Kemal bahkan masih ada Ricko di ruangan itu.


"Tadi tuan Ricko dan nona Bella bertemu, tapi aku lihat mereka sangat canggung....padahal kalian berteman bukan"


"Ha ha astaga apa kau melihatnya sayang?"


El mengangguk.


"Itu karena mereka memiliki kisah di masa lalu, mereka mantan kekasih"


El terkejut bukan main.


"Astaga......takdir macam apa ini, kenapa kalian selalu di kelilingi mantan kekasih dari jaman sekolah" El tiba-tiba kesal sendiri, apalagi baru saja mengetahui bahwa sebentar lagi Tiara akan menjadi janda.


"Hei....Ricko yang bertemu mantan, kenapa kau yang jadi kesal?" Kemal terkekeh melihat wajah merah padam istrinya, ia merasa gemas kemudian ia mencium pipi Eliana berulang.


El memicingkan mata sipitnya tajam menatap Kemal.

__ADS_1


"Kenapa melihatku seperti itu?"


__ADS_2