
Nara mengerjapkan mata setelah merasakan hembusan angin di wajahnya, ia melihat sekeliling dan melirik jam tangan yang sudah menunjukkan bahwa hari sudah mulai siang.
Awan gelap dan angin berhembus lumayan kencang tanda bahwa hujanpun akan turun sebentar lagi, membuat gadis yang masih duduk di sebuah toko itu menjadi gusar.
"Astaga.... apa aku tidur sangat pulas? ini sudah siang, hujanpun akan turun. Apa tuan Dannis belum juga kembali?", Nara bertanya sendiri sambil berdiri melihat ke arah jalan raya yang lalu lalang kemudian matanya menatap gedung di seberang jalan.
Hujan mulai rintik, Nara terpaksa menanggalkan rasa malu dan segera menyeberangi jalan menuju kantor itu.
"Permisi pak".
"Iya nona ada yang bisa saya bantu?", jawab seorang lelaki paruh baya yang memakai pakaian security.
"Maaf, apa benar ini tempat bekerjanya tuan Dannis?".
"Nona ini siapa? benar sekali ini kantor tuan Dannis".
"Tidak, aku bukan siapa-siapa, apa boleh aku bertemu dengannya? aku dari kampung ingin mengembalikan dompetnya", jawab Nara tanpa basa basi.
Membuat satpam itu tercengang menatap heran gadis itu.
"Dompet tuan Dannis?".
Nara mengangguk, dan memperlihatkannya.
"Darimana anda mendapatkannya nona? maaf sebelumnya tidak sembarang orang yang bisa menemui tuan Dannis terlebih orang asing", jawab satpam sambil melirik penampilan Nara yang membawa tas jinjing pakaiannya.
Nara terdiam, ia tidak tahu bahwa bukan semudah membalikkan telapak tangan untuk bertemu pria tampan itu sekarang, pikirannya ternyata jauh dari kenyataan, Nara merasa lesu.
"Tapi pak aku mohon, antarkan aku bertemu tuan Dannis, aku hanya ingin mengembalikan ini dan berterimakasih padanya telah menolong dan meminjami aku uang beberapa waktu lalu", bujuk Nara.
Satpam itu terlihat heran.
"Lihatlah ini, benar dompet tuan Dannis bukan? aku juga ingin mengembalikan jasnya yang ku pinjam tempo hari", Nara mengeluarkan sebuah paper bag dari tas jinjingnya menunjukkan bahwa ia berkata benar dengan jas itu.
"Nona? anda ini siapa tuan Dannis sehingga jas dan dompetnya berada padamu?", tanya satpam itu lagi setelah ia yakin bahwa dompet dan jas itu milik bosnya.
"Aku? aku.... aku.... Nara pak, aku harus berterimakasih pada tuan Dannis setelah kejadian di hotel malam itu", jawab Nara polos.
Membuat mata satpam itu membesar oleh ucapan Nara.
__ADS_1
"Hotel? ya Tuhan..... baiklah nona boleh masuk dan temuilah bagian informasi yang berada di sana, nona bisa menanyakan lebih lanjut kemana anda harus menemui tuan Dannis", tunjuk satpam pada Nara.
Nara mengangguk semangat dan segera meninggalkan satpam tersebut setelah berterimakasih.
"Hotel? nona cantik? jas dan dompet? apa tuan Dannis sudah mulai membuka hati nya untuk perempuan lain atau sebagai pelampiasan saja?", gumam satpam geleng kepala menatap punggung gadis itu.
"Ya sudahlah... nama juga laki-laki muda, tampan dan sukses, anak muda jaman sekarang mainnya di hotel bukan seperti aku dulu main di kolong jembatan, tuan Dannis tuan Dannis", oceh satpam itu merasa heran sekaligus geli.
******
Setelah berdebat lama dan memohon untuk diantarkan menemui pria penting di kantor itu, akhirnya perempuan yang menjadi pekerja di bagian informasi itu terpaksa mengantarkan Nara menemui sekretaris Dannis namun sedang tidak ada di ruangannya.
Karena Nara memaksa dan terus memohon terpaksa ia mengantarkan Nara langsung ke ruangan pria yang menjadi bos di sana.
Dengan gugup receptionist itu memberanikan diri mengetuk pintu, beruntung langsung dipersilahkan masuk membuat Nara tersenyum senang.
Dannis masih fokus pada beberapa berkas yang sedang ia periksa di atas meja, pria itu belum menoleh pada siapa yang datang.
"Tuan Dannis", sapa Nara dengan senyum.
Dannis menoleh, membuat pria itu membesarkan matanya ketika melihat wajah gadis yang tempo hari merepotkannya.
"Kau?", ucap Dannis terkejut.
"Kau boleh pergi", ucap Dannis pada pegawainya.
Nara menunduk berterimakasih pada perempuan yang mengantarnya tadi.
"Kenapa kau bisa ada di sini?", tanya Dannis tajam.
Membuat Nara menelan ludah, lalu gadis itu mengeluarkan jas beserta dompet milik pria tersebut.
Dannis mengernyitkan dahi ketika Nara berjalan ke arahnya.
"Aku ingin mengembalikan ini tuan, maaf uang di dalam dompet itu aku gunakan untuk ongkos pulang kampung....", ucapan Nara menggantung saat Dannis menyela.
"Kau pikir aku masih mau memakai jas itu? ternyata kau yang mengambil dompetku? sudah ku duga kau punya rencana buruk ketika menumpang tidur di kamarku malam itu".
"Tidak tuan, aku sama sekali tidak mengambilnya, dompet ini ku temukan di saku jas yang kau pinjamkan ini ketika di hotel, aku tidak punya niat jahat tuan percayalah".
__ADS_1
"Lantas kenapa kau ke sini? bukankah sudah ku katakan terakhir kita bertemu anggap saja tidak mengenal satu sama lain, jangan ganggu aku dengan hal kecil seperti ini, aku tidak membutuhkan lagi benda ini kau boleh membawanya", tunjuk Dannis pada jas dan dompet yang ditaruh oleh Nara di atas meja kerjanya.
Nara ternganga oleh perkataan Dannis, mata gadis ini melirik jas dan dompet yang semula akan ia jadikan sebagai tawaran untuk meminta pekerjaan.
Nara tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, untuk bertemu pria itu saja tidak mudah, jika ia pergi begitu saja hari ini tentu ia tidak punya kesempatan lain lagi apalagi Nara tidak punya tujuan lain di kota ini begitu pikir gadis cantik itu.
"Tuan.... aku mohon tolong aku sekali ini saja, tujuanku datang ke sini bukan hanya untuk mengembalikan jas dan dompet itu namun juga ingin meminta pekerjaan padamu tuan Dannis".
"Apa? kau tahu namaku? oh iya tentu saja karena kau sudah memeriksa identitasku bukan, coba ulangi? kau meminta pekerjaan?".
Nara mengangguk polos.
"Ck..... sudah tidak tahu malu tidur di kamarku, mengambil dompet dan menggunakan uang ku sekarang kau juga meminta pekerjaan? apa ini? hei kau coba lihat aku!", ucap Dannis kesal.
Tanpa mereka sadari ada seseorang yang tengah menguping pembicaraan keduanya. Iya pada kenyataan bahwa Reta sekretaris Dannis ingin masuk ke ruangan namun terhenti ketika mendengar suara bosnya dan suara seorang perempuan.
"Apa? astaga..... tuan Dannis? hotel? jas? bermalam dengan seorang perempuan? ya Tuhan...... ternyata dibalik kesetiaannya pada satu wanita yang telah meninggal terpatahkan oleh kenyataan hari ini, huh....sudah ku duga lelaki tetaplah lelaki bukan? oh aku tidak percaya ini", gumam Reta dibalik pintu sebelum ia mengurungkan niat untuk masuk.
*****
Nara yang semula menunduk memberanikan diri menatap wajah tampan yang tampak kesal padanya.
"Tuan, ayolah aku mohon.... kali ini saja, aku tidak punya tujuan lain di kota ini selain bekerja padamu", ucap Nara dengan wajah memelas.
"Apa? kenapa aku? kau tahu di sini bukan tempat mengemis, huh kau membuat mood bekerja ku hilang", jawab Dannis tajam.
Pria itu berjalan ke arah Nara.
"Tuan, aku meminta pekerjaan bukan sedang mengemis, kau bisa mempekerjakan aku sebagai apa saja tuan aku mohon, aku tidak tahu harus kemana lagi di kota ini", Nara pun tidak segan untuk memohon dan berlutut agar Dannis simpati padanya.
Membuat Dannis bertambah kesal, ia terkejut ketika gadis cantik di hadapannya ini berlutut dan memohon padanya untuk kedua kali setelah malam itu.
"Ya Tuhan..... kenapa berlutut lagi", gumam Dannis pelan.
Menarik napas dalam pria itu pun bertanya dengan nada kesal.
"Memangnya kau punya ijazah apa sehingga berani minta pekerjaan di kantorku?".
Nara menatap Dannis tersenyum, ia pikir pria itu sudah mulai melunak.
__ADS_1
"Tuan, sebenarnya aku hanya punya ijazah SMP saja, aku tidak sekolah tinggi seperti kalian... tapi tuan tenang saja, aku bisa bekerja apa saja, memasak, mencuci, semua pekerjaan rumah aku bisa lakukan tuan", jawab Nara seadanya.
"Kau kira ini rumah sehingga kau bisa bekerja jadi pembantu? ini kantor bodoh.... tentu kau harus punya ijazah jika ingin bekerja di sini", jawab Dannis geleng kepala.