
Dannis menangkap tubuh istrinya, menahan lama agar ia mampu menguasai wajah perempuan yang mulai berisi itu dengan mudah.
"Sayang ayolah bisa diam tidak", rengek Nara.
Mereka berada di kamar mandi, dengan pisau cukur di tangannya Nara memegang wajah suaminya agar mudah mencukur dan membersihkan rahan berjambang milik Dannis.
"Aku mencintaimu".
"Iya", jawab Nara singkat, ia mulai fokus dengan pisau cukur.
"Jangan tinggalkan aku lagi".
"Iya".
"Nara ayolah setidaknya jawab yang lebih panjang".
"Iya iya iya iyaaaaa, diamlah kau bisa terluka".
"Apa kau keberatan merawatku?".
"Iya, yang patah hanya kaki tapi semua aktivitasmu aku yang lakukan bahkan mencukur dan mandi sekalipun, dasar manja".
Dannis menghentikan tangan Nara dan menatapnya lama.
"Aku hanya bercanda, aku senang dan ikhlas melakukannya kau tahu itu jadi jangan repot bertanya atau kita akan berada di kamar mandi selama tiga jam, aku lapar".
Dannis tersenyum seraya mengelus pelan perut Nara yang kehamilannya sudah memasuki bulan keempat, mereka saling melempar tatapan penuh cinta kemudian dilanjutkan dengan adegan mandi bersama disuatu pagi yang indah.
Dannis beraktivitas menggunakan tongkat penyangga yang bisa membantunya berjalan selama proses penyembuhan patah tulang yang dialaminya beberapa waktu lalu.
Menjadi lebih manja dan tentu lebih merepotkan istrinya dalam hal apapun, namun Nara senang melakukannya, hidup bersama dalam bingkai cinta dan pernikahan tentu saja menyenangkan, perempuan hamil muda ini pun memutuskan untuk cuti dari kegiatan kuliahnya selama kehamilan agar lebih fokus mengurus Dannis dan kehamilannya.
Dannis mulai merasa jenuh meski Nara berada di dekatnya sekalipun, pria ini mulai memikirkan untuk segera kembali ke kantor yang telah lama ia tinggalkan.
*****
Menyibak rambutnya yang tergerai, Nara yang baru keluar dari mobil Dannis itu menebar senyum pada sang suami yang telah mengulurkan tangan agar mereka bergandengan.
__ADS_1
Nara menerima uluran tangan Dannis dengan suka cita, berjalan dengan mesra melewati loby menuju lift yang akan membawa mereka menuju lantai dimana ruangan Dannis berada.
Tampak posesif dan tatapan pria itu tak jauh-jauh dari wajah istrinya yang sejak tadi merona, sesekali pria itu mengecup punggung tangan Nara yang terus di genggamannya.
Tak khayal Nara merasa sungkan dan malu sepanjang jalan semua mata tertuju pada mereka, perutnya telah membesar dengan usia kehamilan memasuki bulan ke tujuh hingga jalan perempuan itu menjadi lebih lambat.
Hampir tak pernah absen Nara menemani suaminya ke kantor beberapa bulan terakhir sejak kaki Dannis berjalan dengan normal.
Menjadi nyonya tentu banyak yang belum percaya bahwa gadis yang pernah menjadi petugas kebersihan di kantor itu sekarang benar-benar menjelma sebagai istri dari bos mereka, dicintai dan didamba oleh Dannis tidak siapapun yang berani menyangkalnya sekarang, itu terlihat dari perlakuan Dannis yang memang posesif pada istrinya itu terlebih Nara tengah hamil besar.
"Aku mencintaimu", ucap Dannis sebelum meninggalkan Nara menuju ruang rapat.
Mengecup bibir dan perut sang istri membuat Reta sebagai sekretaris Dannis hanya bisa menelan ludah setiap kali melihat pemandangan itu.
"Pergilah, aku ingin menelepon bibi Tina aku akan menunggu mu di sini".
Dannis mengangguk dan pergi meninggalkan Nara sendiri di sana.
Berbicara lama dengan ponselnya membuat Nara berjalan keluar ruangan, ia mengakhiri percakapan dengan bibinya saat matanya menangkap sesosok lelaki yang berjalan ke arahnya.
"Aldo".
"Hai Nara, kau ke kantor lagi?".
"Jangan terlalu lelah, bagaimana jika kau melahirkan di sini".
"Hei jangan didoakan begitu, ini masih tujuh bulan".
Aldo tertawa.
"Kau sudah menerima undanganku?".
Aldo mengangguk.
"Aku akan datang, tenanglah".
Mereka mengobrol ringan tentang resepsi pernikahan bagaimana tidak Dannis sengaja menunggu perut Nara membesar untuk melaksanakan niat yang telah lama tertunda terlebih Dannis sengaja ingin pamer kehamilan sang istri di hari resepsi pernikahan mereka dua minggu akan datang, percakapan mereka terhenti saat Nesya datang dan menyela.
"Bukannya istirahat di rumah, kenapa kau suka sekali ikut Dannis kemari? apa kau tidak bosan ke kantor setiap hari dengan kehamilan besar seperti ini? Aku tidak menyangka kau begitu posesif dengan suamimu, apa kau takut Dannis selingkuh denganku?".
__ADS_1
Nesya melirik Aldo di samping Nara.
"Atau kau sengaja karena ingin bertemu seseorangkah?.
Nara tahu kemana pembicaraan Nesya itupun hanya terkekeh seraya tangan bersedekap ke dada.
"Terserah padamu nona Nesya, Dannis suamiku dia milikku jangan lupakan itu".
"Sayang kau di sana rupanya, aku mencarimu", tiba-tiba Dannis datang menghampiri mereka, memeluk pinggang istrinya dengan mesra.
Nesya menatap keduanya dengan kesal.
"Kau menyebalkan Dannis", Nesya memilih pergi dengan menghentakkan kakinya kesal.
Nara tertawa melihat punggung gadis itu yang menjauh.
"Kau juga kenapa masih di sini? jangan terlalu berani bicara pada istriku atau pekerjaan mu yang akan menjadi sasarannya", ucap Dannis pada Aldo.
"Dannis itu tidak adil, kau terdengar tidak profesional, kami hanya mengobrol", bela Nara.
"Bukankah bicara dengan istri bosnya pada jam pekerjaan seperti ini juga sebagai bentuk tidak profesional?".
Aldo menelan ludah.
"Maaf nyonya, aku permisi maaf jika mengganggu", pamit Aldo sopan, pria ini tidak ingin terlibat lama dalam percakapan suami istri itu.
"Bagus", jawab Dannis.
"Apa? kenapa dia memanggilku nyonya, itu menggelikan".
Dannis menatap lekat istrinya.
"Kau datang kemari sebagai istriku, bukan sebagai teman siapapun jadi tidak ada yang boleh memanggil namamu di sini".
Nara tersenyum dan mengecup pipi Dannis.
"Aku mencintaimu, berhenti mengoceh ayo kita makan siang aku sudah lapar".
"Oke baiklah, maafkan aku", jawab Dannis merangkul istrinya kembali ke ruangan kerjanya berada.
__ADS_1
"Apa putraku nakal ketika aku meninggalkan mu ketika rapat?".
"Tidak, dia baik.... kau tahu aku sudah tidak sabar ingin melahirkan".