
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Haduuuhhhh."
Dion menggerutu setelah Megha menelponnya. Dari pagi sibuk dengan mual dan muntahnya malah baru bisa istirahat si sekretaris sudah telpon bilang bahwa klien barunya menolak untuk dihandle selain oleh Dion.
"Kok sudah bangun om papa? Apa sudah merasa lebih baik? Atau ada masalah apa?" tanya Karin yang baru masuk ke kamar mereka hendak mengambil sesuatu.
Setau Karin tadi suaminya itu pamit tidur untuk mengakali mual dan muntahnya. Tapi tau tau sekarang sudah duduk dengan wajah ditekuk.
"Megha telpon barusan." Dion lantas menceritakan apa yang dikatakan oleh Megha tadi.
"Kalau urusan ini Karin gak bisa bantu. Maaf ya om papa."
"Gak apa apa sayang. Setidaknya kamu bisa bantu om papa siapkan baju. Om papa mau mandi dulu."
Karin mengangguk mengiyakan lantas berdiri menuju lemari pribadi Dion yang modelnya walk in. Disana berderet koleksi pribadi Dion yang harganya jangan ditanya lagi. Karin kadang menggerutu kalau suaminya itu lagi lagi membeli barang barang branded yang harganya fantastis meski mereka memang punya uang lebih untuk membelinya.
Tapi Dion tidak pernah mengeluh kalau Karin bersikap demikian karena ia tau semua itu juga demi kebaikan mereka juga. Terutama adalah memberi contoh yang baik untuk Delvara dan calon bayi kedua mereka kelak.
Tengah asyik memilih pakaian, Karin mendengar suara Dion yang tengah muntah muntah lagi di kamar mandi. Karin mengelus perutnya yang mulai membuncit.
"Anak mama,,,jangan nakal ya. Kasihan papa tuh. Mama minta kali ini bantu papa kerja ya." Karin bicara dengan perutnya.
Dan anehnya tidak lagi terdengar suara suara Dion tersiksa dengan mualnya. Bahkan beberapa menit kemudian Dion keluar dengan wajah cerianya. Segar seperti Dion yang tidak sedang ngidam.
"Sudah sayang bajunya?" tanya Dion.
"Sudah kok. Hari ini pakai ini ya om papa."
Alis Dion mengkerut saat Karin menyerahkan sepasang pakaian untuknya. Matanya lebih fokus pada sehelai dasi hitam yang biasanya juga selalu ia pakai.
"Kok warna hitam dasinya sayang?" protesnya.
"Loh kan kalau ketemu klien baru juga selalu perfeksionis pakai setelan hitam?" Karin balik tanya mengingatkan kebiasaan Dion.
"Tapi om papa gak mau pakai itu. Om papa pingin pakai dasi warna pink hari ini." rengek Dion.
__ADS_1
"Pink????" mata Karin membulat.
Dion mengangguk dengan wajah manjanya. Tapi bukan malah membuat Karin senang melainkan tepuk jidat.
"Aduh nak. Kok malah papa dikerjain begini sih? Gak mual gak muntah tapi jadi malah feminim begini sih??" Karin jadi tutup wajah membayangkan tampilan suaminya pakai dasi pink.
"Kan cantik warna pink sayang. Boleh ya?? Biar om papa ambil sendiri saja dasi pinknya."Dion berjalan melewati Karin menuju walk in wardrobe nya.
Tidak dipedulikannya Karin yang masih menutupi wajahnya dengan sepuluh jarinya itu. Sesampainya di walk in wardrobe nya Dion langsung menuju rak koleksi dasinya. Matanya sibuk meneliti satu persatu warna dasinya. Namun ia heran kenapa ia sama sekali tak punya warna pink.
"Sayang,,," panggilnya kemudian.
Karin mendekat sejurus kemudian masih dengan tangannya yang menempel di dahinya. Pusing merasakan kelakuan sang suami.
"Kok om papa gak punya dasi pink ya?? Apa emang gak pernah beli atau kamu simpan di tempat lain mungkin?"
"Om papa mana pernah beli warna pink?" Karin mengingatkan.
"Yaaahh tapi om papa pingin pakai warna pink sekarang. Kalau kemeja pink ada gak ya?" Dion langsung beralih ke rak kemeja.
"Ya gak akan ada juga."
"Tidak juga. Om papa itu bukan pink person. Jadi memang gak pernah punya sesuatu yang berbau pink. Om papa itu kan gentleman. Jadi ya mana keki lihat yang pink pink gitu."
"Aarrggggghhh,, om papa mau yang pink pink sayaaaanggg,," rengek Dion dengan mewek manjanya.
"Haduuhhh,,, kalau tau begini kan lebih baik Karin aja yang ngidam. Kalau om papa yang ngidam malah merepotkan." keluh Karin dengan mengomel pelan.
"Ahaaa,,, om papa tau,," telunjuk Dion mengacung ke atas seperti orang yang dapat ide cemerlang.
"Tau apa??" tanya Karin curiga.
"Kamu punya set daleman pink kan sayang??" bisik Dion.
"Whaaattt?? Jangan bilang om papa mau pakai itu yaaaa. Tidak tidak tidaaakkk,,," Karin menggerak gerakkan lima jarinya berkali kali di depan Dion seolah melarangnya.
"Iihhh siapa juga yang mau pakai daleman pink kamu sayang?"
"Lalu mau diapain??" Karin jadi makin curiga.
__ADS_1
Dion tersenyum nakal lalu mengajak Karin menuju ke tepi ranjang mereka. Dion lantas berbisik manja di telinga Karin.
"Om papa mau kamu memakainya sekarang. Cukup pakai itu saja. Satu set itu saja tanpa penutup lain lainnya."
"Apaaaaa????" Mata Karin membulat sempurna mendengarnya.
"Pleaseee,,,Om papa benar benar ingin warna pink.Kamu cukup rebahan di sini biar om papa yang lihatin." Dion menepuk nepuk ranjang empuk mereka.
"Om papa jangan aneh aneh deh. Ini kan sudah ditunggu sama Megha. Iya kalau nanti beneran cuma mau liatin aja. Nah kalau Joni beraksi gimana hayooo???" sungut Karin.
"Yaaaahhh,,,, bagaimana pun juga kan ini bukan keinginan om papa. Ini kan bawaan bayi kita." Dion menunjuk perut Karin.
"Adeeehhhhh,, dapat saja alasan." Karin makin bersungut sungut.
"Ayo dong sayang. Turutin ya. Memangnya kamu mau nanti anak kita bakal ngileran karena semasa ngidamnya kemauannya gak diturutin?? Gak mau kan??"
Karin menggeleng beberapa kali. Ia sangat tidak mau hal seperti itu terjadi pada anak mereka. Meski itu hanya mitos tapi nyatanya itu terjadi.
(pada beberapa orang yang mempercayainya hahaha,,, menurut author sih yaaa)
"Nah makanya. Buruan dong pakai. Kamu juga gak mau kan kalau om papa jadi telat ngantor gegara kelamaan tunggu kamu." desak Dion yang merasa ancamannya berhasil.
"Ya,,,ya,,, baiklah."
Dengan kembali tepuk jidat, Karin pun menuruti kemauan konyol Dion itu. Dion melipat tangannya membentuk siku lalu menarik sikunya dengan kuat.
"Yessss!!!" Rupanya Dion senang karena modusnya berhasil.
Lima menit kemudian Karin sudah membuat matanya terpesona. Kali ini tentu saja bukan karena warna pink yang jadi satu satunya penutup tubuh istrinya itu melainkan seluruh yang dimiliki istrinya itu.
Termasuk perut yang mulai membuncit itu. Sejak kehamilan Delvara dulu Dion sebenarnya paling suka melihat perut Karin membuncit begitu. Ia merasa berhasil dan gagah tiap kali melihat hasil dari kerja kerasnya menyemai benih benih cintanya.
Begitu pula hari ini,,, Melihat Karin hampir berpolos ria begitu hasrat Dion memuncak.
"Lupakan Megha dan klien baru." ucapnya langsung membawa Karin dalam dekapan dan menyumpal bibir Karin dengan bibirnya sendiri agar istrinya itu tidak sempat protes ataupun menolak keinginannya.
Karin meronta sejenak namun kemudian mengikuti nalurinya seiring dengan lihainya lidah dan jari jari Dion memainkan area area indahnya.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
Stop jangan diterusin nanti kalian pingin loh 😂😂