
...Selamat membaca...
...❤️❤️❤️❤️...
"Apa?? Gak dapat pengacara??" Yusuf dengan nada kesalnya dan mata melotot ke arah Hana yang mengunjunginya di rumah sakit.
"Gak usah bentak bentak gitu dong. Kamu itu harus ingat kalau kamu juga cuma minta tolong sama aku." Hana merengut dibuatnya.
Sudah cukup hari ini dia mendapat perlakuan buruk dari orang orangnya. Hana tidak mau kalau Yusuf pun ikut ikutan membuatnya kesal.
"Tapi kamu sudah janji. Tepati dong. Selama ini juga kalau aku yang janji selalu kamu tagih." tuntut Yusuf.
"Aku gak suka ya kamu bentak bentak dan atur atur begini. Aku ini Hana,,, orang kaya yang jumlah kekayaannya melebihi yang kamu punya. Di sini aku yang berhak atur." ketus Hana.
Keduanya kini sama sama merasa paling dibutuhkan oleh satu sama lain. Sama sama besar kepala sok merasa diri sendiri yang terhebat.
Yusuf terdiam dibuatnya. Dia memang merasa kekayaannya tidak sebanding dengan Hana.
"Baik. Aku minta maaf. Jadi bagaimana selanjutnya? Apa ada yang bisa bantu aku?" akhirnya Yusuf merendahkan diri.
"Gitu dong. Kan manis,,,Entahlah. Aku masih cari cari kalau ada pengacara handal lainnya. Lagian kamu itu kenapa sih kok bisa begini? Diborgol di rumah sakit sendiri,,, gak lucu tau." ucap Hana yang belum begitu paham dengan silsilah kepemilikan rumah sakit itu.
Selama ini setau Hana, Yusuflah pemiliknya mengingat semua orang segan padanya. Itu juga kan yang membuatnya tertarik untuk mendekati Yusuf. Dan membuat Karin kehilangan dia,,, itu misi paling utama.
"Kacau,,,semua kacau. Tiba tiba ada orang baru masuk dan mengacaukan semuanya." jawab Yusuf.
"Siapa memangnya?" tanya Hana.
"Wah wah wah,,, jadi ini sponsornya." suara yang dikenal oleh Hana terdengar membuatnya langsung menoleh.
"Levi??" mata Hana terbelalak.
__ADS_1
Hana kenal betul siapa yang berdiri itu. Keponakan angkat yang pernah begitu disayanginya dulu. Dan kini ia tampak gagah dengan balutan jas mahalnya. Hana tidak heran kalau anak sulung Darren itu mewarisi semua tentang mendiang ayahnya.
"Halo tante. Apa kabar?" sapa Levi ramah di awal.
"Bb,, baik. Kamu kok bisa di sini?"
"Seharusnya Levi yang tanya begitu. Tante kok bisa di sini? Dengan orang ini. Kemana saja tante selama ini? Kenapa tidak hadir di pemakaman ayah? Begitu cara tante menganggap ayah? Kurang sayang apa ayah sama tante selama ini?"
"Cukup Levi. Kamu masih kecil tidak tau apa apa." ketus Hana tidak suka diprotes seperti itu.
"Meski kecil, Levi sudah tau banyak tentang semua. Tentang tante yang bisa dibilang sudah tidak pantas dianggap saudara lagi. Tentang om Dion dan tante Karin. Dan sekarang tante juga yang ada di pihak pria ini." tunjuk Levi pada Yusuf.
Hana tidak mengerti maksudnya.
"Tuhan begitu baik mempertemukanku dengan kalian berdua di sini. Sekali tepuk, dua nyamuk kena." Levi menyunggingkan senyum mencibir.
"Apa maksudmu??!!" Hana mulai kesal.
"Hahahaha,,, Tunggu dulu. Apa urusannya aku denganmu dan mendiang ayahmu?? Lalu Dion,,,Apa yang mau dituntutnya dariku? Jangan mengada ada deh kamu Levi. Jangan karena kamu sekarang sudah berjas rapi terus kamu bisa menekan tante begitu. Mana sopan santunmu??" ketus Hana.
"Aku menuntutmu karena kamu telah menyalahgunakan wewenang yang kuberikan."
Hana menoleh kaget dan makin kaget karena yang kini berdiri tegap di depannya adalah Dion.
"Dion? Kamu??"
"Iya ini aku. Dan aku sudah pulih. Itu artinya kamu harus kembalikan semua hak kepadaku. Kamu kehilangan semua wewenang karena sekarang aku mampu mengurus semuanya sendiri. Aku tidak butuh kamu sebagai wakil atau sejenisnya. Dan ya,,, kamu juga harus kembalikan semua aset yang kamu beli dengan memakai uangku."
Hana melongo mendengarnya. Otaknya berpikir keras mengingat apa isi surat pernyataan yang dibuatnya sendiri dulu dan ditandatangani Dion mengenai peralihan wewenang.
"Selama aku tidak mampu, maka kamu yang akan menggantikan posisiku. Itu isi surat yang kamu buat sendiri bukan? Kamu tau apa artinya itu? Artinya saat sewaktu waktu aku pulih dan mampu, maka kamu kehilangan semua wewenang dan otoritas.Aku hanya mengingatkan siapa tau kamu lupa."
__ADS_1
Dion begitu santai menyampaikannya namun Hana cukup ciut nyali mendengarnya.
"Dan aku juga sudah dapat banyak laporan dari para karyawan,,, ternyata selama ini dibawah kepemimpinanmu ada banyak tindak cacat dan kekurangan. Untuknya,,, aku akan minta pertanggungjawabanmu juga. Aku juga menyuruhmu untuk meminta maaf secara langsung pada mereka yang sudah kamu pecat dengan sepihak. Kembalikan semua hak mereka yang tidak kamu bayarkan saat kamu memecat mereka."
Hana makin membisu mendengar semua itu. Lidahnya mendadak kelu. Otaknya juga beku tidak bisa berpikir.
"Kamu juga terbukti melakukan penyuapan kepada dokter yang merawatku selama ini. Kamu membayar dokter itu agar mau memberikan obat yang justru memperlambat pemulihanku. Aku paham tujuanmu. Kamu tidak ingin aku sembuh dan mengambil kembali semuanya darimu. Tapi lihat,,, Tuhan masih berpihak padaku Hana. Sekarang aku tanya,,, siapa yang akan memihakmu?" tanya Dion.
Hana menelan ludah. Baru kali ini ia merasa bagai diadili. Ini belum di depan hakim tapi rasanya sudah cukup membuatnya basah oleh keringat dinginnya sendiri.
"Tante juga harus tanggung jawab kepadaku. Karena diantara semua yang setau tante adalah milik om Dion,,,itu sebenarnya milik ayah. Tante seharusnya tidak lupa bahwa ayah dan om Dion dulunya selalu menggabungkan bisnisnya bahkan menyamarkan kepemilikannya dengan bertukar nama. Sekarang selaku penerus ayah,,, Levi juga ingin menuntut tanggung jawab tante setelah tante menggunakan keuntungan bisnis untuk urusan pribadi tante."
Tambahan kalimat dari Levi itu membuat Hana hanya sempat memikirkan satu kata saja.
"KABUR"
"Aku harus pergi dari sini. Ini buruk." batin Hana.
Semua terlalu berat untuk dihadapi. Hana paham sekarang posisinya dan ia tak sanggup menghadapinya sendiri. Secepat kilat diraihnya kunci mobil dan tasnya yang tadi diletakkannya diatas nakas.
"Hana,,, Jangan lari!!!" teriak Dion.
"Tanteee!!!" suara Levi juga mengiringi.
Secepat kilat Hana berlari agar tak tertangkap oleh mereka. Sesekali ia juga menoleh ke belakang memastikan jarak mereka masih jauh darinya.
Pintu lift yang tidak bersahabat dengannya karena tak kunjung terbuka memaksa Hana untuk memilih melewati tangga darurat. Dengan rok mini dan high heels tingginya, ini menyusahkan dirinya.
Karena tak fokus,,,akhirnya Hana pun terjatuh dan terguling guling di tiap anak tangga hingga tangga terbawah. Tangga yang cukup tinggi itu menghempaskan tubuhnya hingga terbentur keras di dinding.
...❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1