
"ini apartemen gua, lo akan tinggal disini. sekaligus semua kekacauan ini akan menjadi pekerjaan lo. faham?" ucap Arya saat ia membawa masuk Ayesha ke apartemen nya.
"wahh berantakan sekali" ucap ayesha. perkataan itulah yang sedang menggambar kan arti kata kekacauan yang diucapkan arya.
Apartemen ini begitu besar dan mewah tetapi semuanya sirna ketika melihat begitu banyak sampah berserakan mulai dari sampah makanan hingga minuman. serta baju yang berserakan dimana-mana.
"Gua balik ke kantor. mulai saat ini lo harus bereskan semuanya jangan ada yang tersisa. untuk makanan semuanya bahan sudah tersedia di kulkas." Arya pun langsung pergi.
"tunggu" panggil Ayesha yang menghentikan langkah Arya.
"ada apa?"
"apa aku akan tinggal berdua dengan...."
"tinggal berdua? dengan siapa?"
Ayesha hanya menunduk.
"maksud lo dengan gua?" ucap arya sambil menunjukkan jari ke dirinya sendiri. "iya. memang kenapa?"
Ayesha terkejut mendengarnya,sebab bila dikampung halaman jika ada sepasang laki-laki dengan perempuan tanpa ikatan pernikahan tinggal satu rumah maka akan digrebek warga dan di arak satu kampung. Dan dinikahkan secara paksa. Ia tak mau hal itu terjadi, apalagi menikah dengan laki-laki yang baru ia kenal.
"apa tidak apa-apa?" tanya ayesha.
Arya tidak mengerti maksud perkataan Ayesha. maklumlah kan dia sedari kecil tinggal di kota. Dan tidak tahu tentang hal seperti itu.
"Tidak apa-apa gimana? maksud lo apa? sudahlah tidak usah banyak tanya. lakukan saja apa yang harus diselesaikan." ucap Arya membuat gadis itu pun merasa aneh." oh ya, nama lo siapa?"
"namaku Ayesha"
"oke"
"tunggu,ma..af... kalau lancang. boleh aku panggil kamu mas? karena Ayesha kira kamu Lebih tua dari Ayesha. bo..boleh?"
"terserah lo ."
Tanpa percakapan apapun lagi, Arya langsung pergi ke kantornya.
✨ ✨ ✨ ✨ ✨
ketika arya hendak masuk ke dalam ruangan nya, ia melihat ada seorang gadis dan laki-laki tua yang bukan lain adalah ayahnya sendiri.
"Ayah? sedang apa disini?"
"Ayah hanya ingin melihat perkembangan perusahaan ini ketika berada ditangan mu"
"Tentu saja bagus ayah. bisnis kita akan semakin besar karena kenapa? ayah harus tahu tadi pagi Arya baru saja mendapatkan keuntungan yang besar dari klien baru."
"wah, hebat sekali kau nak"
"tunggu, kenapa ada Vira disini?"
Vira gadis cantik, dari keluarga kaya yang memiliki perusahaan besar. Dan dialah sang pemuja ketampanan arya selama bertahun-tahun.
"Hai, Arya sayang" ucap vira yang langsung cipika cipiki dengan Arya. Arya menolak nya dengan memundurkan tubuhnya menjauh dari vira.
"stop do it! Gua gak suka lo melakukan hal ini vira."
"kenapa? aku kan calon istri mu"
Dalam hati Arya rasanya ingin muntah " istri? sorry gua gak tertarik dengan cewek kayak lo"
__ADS_1
"tunggu, apa kurangnya aku coba? udah cantik, kaya , idaman para laki-laki. dan kamu semudah itu nolak aku?"
"sorry tapi gua gak tertarik"
"well, its ok. Gak masalah. Mungkin setelah menikah kamu akan jatuh cinta dengan aku. seperti pepatah benci bisa jadi cinta"
"Gak! ayah, kenapa ayah ngundang dia kesini?"
"Ayah tidak mengundang vira. Vira sudah ada di ruangan mu sebelum ayah datang. Ayah kira kalian sudah menjalin hubungan"
"apa?! hubungan? ha..ha.. tentu saja tidak ayah" arya tertawa renyah.
"yasudah lah, ayah cuma mau bilang. kamu kapan mau pulang ke rumah? secepatnya pulang ke rumah. ibumu merindukan mu" ucap ayah nya Arya yang kemudian langsung meninggalkan mereka berdua diruangan itu.
Emang sih, udah lama gua gak pulang ke rumah. mama pasti khawatir dan rindu sama gua. habis, mau gimana lagi? kalau gua tinggal disana masih dalam keadaan sibuk gini. Mama pasti selalu nanyain tentang kapan nikah. Males juga. - Batin arya bergeming.
Arya termenung memikirkan ucapan ayahnya barusan. ia berdiri menatap kepergian ayahnya. Dan benar adanya bahwa ia memang merindukan sang ibu yang sudah berbulan-bulan tidak pulang ke rumah utama.
Saat arya melamun, ada seseorang yang mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Vira merangkul tangan arya menyandarkan kepalanya di bahu kiri arya. Mengusap-usap dada bidang arya.
"aku tau kamu sedang merindukan Mama Dita. Setiap aku bertemu mama dita, dia selalu menangis dan menyebut-nyebut namamu Arya. mama ingin kamu pulang.Dia sangat rindu padamu" ucap Vira mencoba masuk ke dalam suasana.
Arya kemudian tersadar, dan menarik tangannya dari rangkulan vira.
"aish! Lepas dong! ..... kita sudah tidak ada urusan apapun kan? sebaiknya lo pergi deh. Dan satu hal lagi! Berhenti mengganggu kehidupan Gua!" arya sedikit memberi penegasan pada kata terakhir yang diucapkan.
"ihh, kok kamu gitu sih galak banget?!" vira cemberut mendengar perkataan arya, dan pergi meninggalkan arya"yaudah aku pulang! ..... Aku marah sama kamu ARYA!!Aku pulang!!! ...... Arya..... Aku pulang loh arya."
Arya diam tanpa membalas apapun. Ia mengambil berkas dan menatapnya fokus.
" Arya? ..... Vira pulang beneran loh. gak mau ngejar nih? Yakiiiin?"
"nggak'perlu. Pulang aja, hati-hati dijalan ya vira"
Vira pergi dengan wajah merah padam. Geram melihat perlakuan arya padanya.
* * *
" Ahaha ...... wush! mantap! lo harus teraktir gua. Gua menang nih" Fathan begitu antusias dengan permainan dilayar tv besar.
"akh! sial! ....." Arya berdecik kesal.
"Ok. kita nyari makan dulu yuk? laper nih." suara riuh itu berasal dari perut Fathan.
"Fath! perut lo bisa nggak sih nahan sebentar? nanggung nih! satu kali dong, kali ini pasti gua menang!" Arya berdecak kesal sekaligus berambisi untuk menang dari fathan.
Tapi cacing-cacing diperut Fathan sudah tidak sabar sampai perutnya bergemuruh.
"Arya! lo gak denger? dari tadi perut gue udah bunyi minta asupan gizi yang cukup. Ayok makan dulu!"
"males keluar! order aja deh" Arya sedang ingin malas-malasan hari ini.
" nggak! gue mau makan di resto..."
"apa bedanya makanan orderan sama makanan restoran? yah lo order aja makanan yang dijual di restoran yang lo mau. Kan enak tinggal dianterin"
"Tapi..... kalau makan di restoran pasti lo yang bayar. kalau order gue kagak ada duit. hehe...."
"huft! bawel banget sih lo kek ibu-ibu kurang belanjaan. Oke fine gua yang bayar!" Arya mulai kesal kali ini "Gelar aja dokter! kok sekarang gua jadi meragukan lo."
"Gua dokter asli , bro! gelar gua udah sampai S2. Lo masih meragukan gua?"
__ADS_1
"Dengan gelar S2 dan Rumah sakit terbesar di Jakarta. Buat makan aja lo masih butuh traktiran dari gua?! Apa kurang pendapat lo sebagai dokter? kurang? atau tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup lo?"
"Pendapatan gua sudah mencukupi kok! cuman lagi nabung aja nih buat nikah sama Bella"
"sorry, alasan lo nggak berlaku kali ini"
Fathan pun segera memesan makanan yang dia inginkan, tapi sayang restoran tempat makanan favorit nya ternyata tutup hari ini.
"Ah, Sial!!! Arya...." fathan merengek seperti anak bayi.
"Apa lagi sih?!"
"Restoran nya tutup! huaa ........" kali ini fathan benar-benar seperti bayi yang kelaparan.
"Stop!!" dengan nada suara yang tinggi berhasil menghentikan rengekan fathan yang membuat nya geli. " Lo kan bisa pesen di tempat lain!"
"nggak! gua mau makan opor ayam dan yang jual di restoran itu"
Arya menggeram. ia benar-benar naik pitam.
"Ada apa ini rame-rame? mas Fathan mau makan opor ayam? Ayesha bisa kok bikinnya." Ayesha muncul ditengah-tengah pertikaian antara fathan dan Arya.
"Wahh.... beneran bisa? please bikinin buat gua ya?" mata fathan berbinar.
" Lo beneran bisa? yaudah langsung aja masakin apapun yang BAYI BESAR ini mau!" Arya sedikit memberi penekanan pada kata 'bayi besar' dan dia senang ada malaikat penolong seperti Ayesha.
"emm.... kalau bisa, sekalian bikin soto ayam ya? hehe..."
"iya mas. Tunggu ya aku masakin"
"iya cantik" ucap fathan yang langsung dapat tatapan tajam Arya.
"inget..... kan mau nikah sama BELLA" ucapan arya sudah mewakilkan kekesalannya pada Fathan.
"mas Arya mau dibuat kan sesuatu juga?" tanya Ayesha.
"nggak usah"
Ayesha hanya mengangguk dan langsung pergi ke dapur dan memasak.
Selang beberapa waktu, makannya sudah tersedia di meja makan. Harum semerbak makanan yang dibuat Ayesha dapat menggugah selera.
"widiih... wangi banget? pasti enak nih. sikaat" Tanpa pikir panjang, Fathan langsung melahapnya.
Arya tak bisa membohongi dirinya, harum masakan Ayesha membuat cacing-cacing diperut nya pada demo. Ayesha mendengar suara itu dan menyuguhkan semangkuk soto kepada Arya.
"mas mau juga? nih mas cobain deh" sembari menyuguhkan semangkuk soto.
"nggak kok" bantah arya tapi perutnya terus bergemuruh.
"gak usah gengsian deh! kalo mau, makan aja sih" timpal fathan yang terlena dengan makanan tersebut.
" nih mas cobain deh. Aku yakin mas pasti suka?" ujar Ayesha.
"yaudah gua coba makan. Karena lo maksa gua" akhirnya Arya mencoba mencicipi masakan Ayesha.
"mau pakai nasi mas?" tanya ayesha pada Arya.
"gua mau!" jawab fathan.
"ekhem! boleh deh" Arya berdekhem, meski masih terlihat gengsi.
__ADS_1
Mereka berdua pun makan dengan lahap berkat masakan Ayesha. Ayesha memang dari kecil sudah suka memasak dan ia pandai memasak makanan tradisional.
<<<<<<<<<<<<< Bersambung >>>>>>>>>>>>>>