Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Dilema Tak Berujung


__ADS_3

...Selamat membaca 🌸...


...🌸🌸🌸...


"Istri anda tidak apa apa. Pingsan atau kelelahan itu hal yang wajar terjadi pada ibu hamil bapak. Tapi meski itu hal yang wajar,,, tetap saja lebih baik diusahakan agar hal itu tidak sampai terulang lagi mengingat kehamilan ibu Hana masih rentan. Mood ibu Hana harus dijaga juga karena tensinya cukup tinggi. Jangan sampai ibu Hana stress "


Dokter yang menyangka bahwa Dion adalah suami Hana itu berkata demikian sambil mengulas senyum.


"Hamil dok??" Dion terbelalak.


"Benar bapak. Istri anda sedang hamil 3 minggu. Selamat ya pak." dokter mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Te,,, terima kasih dok." Dion terpaksa mengiyakan saja dan menerima uluran tangan dokter.


"Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu. Ibu Hana akan segera siuman. Ingat pesan saya ya. Tolong jaga mood ibu." dokter mengingatkan sekali lagi lalu berlalu meninggalkan Dion yang hanya bisa memandang tubuh wanita yang pernah dicintainya itu dengan penuh rasa bersalah.


"Apa yang harus kulakukan sekarang?" Dion menyandar di pintu.


Pikirannya kacau. Menyadari bahwa Hana tengah hamil muda tanpa suami membuatnya tak berhenti menyalahkan dirinya atas kelalaiannya mengemudi. Belum lagi situasi hati Hana yang tentu masih kacau dan berduka tentu akan mempengaruhi kehamilannya.


Dion sadar betul bahwa wanita itu perlu pendamping atau penghibur atau penguat atau sebut saja sandaran jiwa saat ini.


"Tapi aku tidak bisa menjadi sandarannya saat ini." Dion bicara sendiri dan menepis apa isi pikirannya kala dalam otaknya tiba tiba terlintas pikiran bahwa ia lah yang harus menjadi tempat bersandar Hana.


Apa yang terjadi pada Karin nanti kalau sampai ia memutuskan untuk menjadi sandaran Hana?


Apa bisa Karin menerimanya? Sedangkan dirinya sendiri juga sudah berulang kali menegaskan bahwa Hana hanya masa lalunya yang tidak akan pernah ada dalam masa depannya bersama Karin. Apalagi sampai menjadi madu Karin.


Itu tidak boleh terjadi. Karin tidak boleh sampai menjadi korban. Dia sama sekali tak punya kesalahan atau kekurangan sampai harus dimadu. Karin juga tengah hamil tua saat ini,,, tidak boleh ada kesalahan apalagi kesedihan baginya.


"Tapi Hana hamil dan akulah penyebab ia kehilangan sandaran jiwanya. Hana sebatang kara. Orang tuanya sudah meninggal dan kamu tau itu Dion. Hana memang punya kakak angkat yaitu sahabatmu sendiri tapi bukan berarti kamu bisa bebankan sisa hidup Hana padanya. Sahabatmu itu sendiri juga tengah berjuang dengan naywanya sendiri."


Sisi lain hati Dion menolak. Dion tidak menyangkal kelalaiannya tapi sulit baginya kini menentukan apa langkah selanjutnya yang harus diambil.

__ADS_1


"Tidak mungkin aku lepas tangan begitu saja. Hanya sekedar memberi dukungan materi atau menanggung hidup Hana bisa saja kulakukan. Itu mudah. Uangku banyak dan gak akan habis kalau untuk menanggung hidup Hana dan anaknya kelak. Tapi aku yakin itu akan lebih melukai Hana lagi. Dia tidak hanya butuh uang."


Dion menggaruk kepalanya yang tiba tiba terasa gatal. Dion pusing. Semua jalan terasa buntu. Dion dilema. Ingin membahagiakan istri tanpa menyakiti rupanya susah. Ingin bertanggung jawab atas kesalahan pada orang lain tanpa menyakiti hati istri juga sepertinya susah juga.


Dion bergeser dari pintu saat ada yang berusaha membukanya.


"Dion,,, gimana Hana? Apa yang terjadi padanya?" mama Herna masuk bersama papa Hengki.


"Karin mana ma??" Dion balik tanya.


"Kamu itu jawab dulu pertanyaan mama dong. Mama ini khawatir sama Hana."


"Dion juga khawatir sama Karin makanya Dion tanya. Mama jawab saja juga apa susahnya sih?" lawan Dion.


"Kamu itu ngelawaaaan saja kerjaannya!!"


"Sudah jangan ribut. Ini rumah sakit. Karin di rumah Dion. Kami sengaja tidak mengajaknya tadi. Karin gampang lelah untuk diajak keluar di usia kehamilannya saat ini. Jangan cemas,, papa sudah suruh si mbak menemani dan menjaganya." Papa Hengki menengahi.


"Terus gimana ini Hana?? Kenapa dia sampai pingsan??" mama Herna tak sabar.


Mama Herna duduk di sebelah ranjang Hana. Mengusap keningnya yang berkeringat dan membelai kepalanya. Mama Herna memang sangat menyayangi mantan menantunya itu. Hal itu makin membuat dada Dion sesak. Ia bisa menebak apa reaksi mama Herna kalau beliau tau Hana tengah hamil.


"Kok malah bengong sih Dion??" tegur mama Herna membuat Dion gelagapan.


"Ada apa Dion? Bicara sama kami." papa Hengki bertanya dengan lebih lembut.


"Hana hamil pa." Dion tertunduk lesu mengatakannya.


"Alhamdulillah. Itu berita bagus bukan?" papa Hengki belum menyadari hal buruknya.


"Bagus sih pa tapi kan Dion jadi merasa makin bersalah sama dia. Dion membuat dia hidup menjanda saat dia butuh kasih sayang lebih dari suaminya. Saat bayinya juga butuh sosok ayah nantinya." Dion menjelaskan kegundahannya.


Papa Hengki menghela napas berat mendengarnya. Sebagai sesama lelaki beliau paham apa yang membuat putranya itu dilema.

__ADS_1


"Nikahi saja Hana. Mama akan terima bayinya sebagai cucu mama sendiri karena mama juga selalu menganggap Hana ini putri mama. Bagaimana pun juga,, kamu yang menyebabkan suaminya meninggal. Tanggung jawab berupa materi saja tidak cukup Dion."


Apa yang ditakutkan Dion akhirnya tercetus juga dari bibir mama Herna.


"Tapi ma,,, Karin,,," sela Dion belum selesai tapi sudah dipotong lagi oleh mama Herna.


"Dia akan mengerti. Sesama ibu hamil dia tentu tau bahwa tidak enak hamil kalau tidak ada suami. Istrimu itu kan manja sama kamu saat hamil,,, tentu dia paham bagaimana rasanya jadi Hana kalau dia tidak punya suami. Toh juga dia paham kalau kamu cuma mencintainya kan?? Dia juga akan paham bahwa kamu menikahi Hana bukan karena cinta tapi lebih karena tanggung jawab. Istri yang baik gak akan melarang suaminya berbuat kebaikan." cetus mama Herna.


"Tapi ma,,,"


"Kalau kamu tidak tau bagaimana caranya bicara dengannya,,, biar mama yang bicara." tegas mama Herna.


"Gak ma,,, Ini rumah tangga Dion. Biar Dion sendiri yang bicara pada Karin. Dion lebih tau bagaimana menjaga perasaannya ketimbang mama." ketus Dion.


"Sembarangan kamu Dion. Kamu pikir mama selama ini gak peduli sama perasaan Karin? Karin itu menantu mama. Dia ibu dari cucu mama. Jadi jangan bicara seolah mama tidak mempedulikan perasaannya." mama Herna juga kesal.


"Aku di mana??"


Suara lemah Hana yang baru siuman meredam ketegangan di ruangan itu.


"Sayang,,, kamu sudah sadar?? Bagaimana perasaanmu?? Jauh lebih baik? Ada yang sakit??" mama Herna sigap mendekati Hana.


"Anakku ma,," mata Hana berkaca kaca takut terjadi hal buruk pada calon bayinya.


"Dia baik baik saja. Dan akan begitu seterusnya. Ada kami bersamamu sayang. Anak ini akan tumbuh dengan limpahan kasih sayang kami." mama Herna mengusap perut Hana.


"Terima kasih ma." Hana menggenggam tangan mama Herna.


Dion menghela napas kasar. Dilemanya makin tak berujung.


...🌸🌸🌸🌸...


Dukung author dengan vote, like dan komen 🌸❤️🌹

__ADS_1


__ADS_2