
Dannis membaringkan Nara di atas ranjangnya.
"Aku ada pekerjaan bersama Nesya, kau tunggulah di sini hingga sore akan ku jemput untuk pulang".
"Apa hari minggu juga bekerja?", tanya Nara pelan.
"Bukan aku, tapi urusan Nesya dia butuh sedikit bantuanku", jawab Dannis seraya membuka sepatunya berniat akan mandi.
"Baiklah.....", sambung Nara kecewa.
"Satu hal, kau jangan memakai pakaian ini lagi. Kau bisa memakai kaos ku saja jangan yang itu".
"Memangnya kenapa? ini baju perempuan tentu aku lebih memilih ini daripada pakai kaos mu yang besar-besar", jawab Nara polos.
"Karena baju itu oleh-oleh yang ku bawa untuk Naya namun dia lebih dulu pergi sebelum aku memberikannya, jangan membuatku terus mengingatnya dalam dirimu, kau mirip dengannya saat mengenakan itu", jawab Dannis kemudian ia berlalu ke kamar mandi tanpa menunggu tanggapan dari istrinya.
Nara tercengang mendengar kenyataan tersebut, dadanya kembali berdenyut nyeri saat Dannis mengatakan ia mirip dengan almarhum kekasih pria itu.
Nara menatap baju yang ia pakai, baju mahal yang tampak biasa saja namun sangat pas dan cantik ketika dipakai.
"Semua yang ada di lemari itu bahkan menyimpan semua kenangan kekasihnya, huh aku benar-benar menyedihkan, sadar Nara sadar posisi mu", gumam Nara menguatkan dirinya sendiri seraya ekor matanya menatap sebuah figura kecil menampilkan senyum gadis yang hampir berada di posisinya saat ini.
"Aku benar-benar cemburu sekarang, kau bahkan menguasai hati suami ku sedalam ini".
*****
Meski bosan berada di rumah besar mertuanya, namun Nara mengikuti perintah suaminya agar menunggu dijemput sore ini.
Mengisi waktu sendirinya dengan membaca buku di perpustakaan mini papa Kemal, menyiram tanaman mama El hingga ia menikmati teh hangat disore yang masih cerah itu seorang diri sambil menunggu mertua hingga suaminya pulang.
Namun belum juga ada tanda-tanda mereka kembali sampai secangkir teh itupun habis, Nara merasa sangat bosan ia berniat ingin masuk rumah karena sekarang ia tengah berada di teras.
Sebuah mobil masuk halaman, Nara menoleh ia mengenali mobil itu.
Reno keluar mobil seorang diri, ia tidak mengira akan bertemu gadis pujaannya di sana.
"Reno?".
"Nara".
Nara menunduk hormat saat pria itu mendekat, namun siapa sangka Reno kembali memeluk gadis itu tanpa permisi.
"Aku merindukanmu, lama tidak bertemu", ucap Reno di balik pelukannya.
__ADS_1
Nara segera tersadar dan melepas paksa dekapan pria yang pernah mengisi hatinya.
"Reno maaf jangan seperti ini".
"Kenapa? aku merindukanmu tentu melepasnya lewat pelukan bukan?", Reno berkata enteng.
"Berhenti bercanda, ada apa kau kemari?", tanya Nara kesal.
"Apa kau lupa ini rumah pamanku sayang?", ucap Reno menggoda Nara dengan meraih jari-jari lentik gadis itu.
Nara hanya memutar bola matanya malas seraya melepas tangannya dari genggaman Reno tentu saja itu sia-sia karena Reno menggenggamnya dengan erat, namun tidak mereka sadari Dannis pun telah pulang.
"Apa mantan sepasang kekasih ini sedang bernostalgia?", sindir Dannis tajam.
"Jika iya memangnya kenapa? apa pedulimu, kami memang berniat bernostalgia masa lalu yang pernah kami lewati bersama", jawab Reno tak kalah tajam namun mengejek.
Nara menelan ludah saat menatap mata Dannis yang memerah.
"Aku mohon lepaskan tanganku Reno", cicit Nara memohon.
"Apa kau takut pada suamimu ini? oh tidak maksudku lebih tepatnya adalah majikanmu", balas Reno tersenyum sinis melirik Dannis.
"Jika ingin bermesraan jangan di rumah orangtuaku", ucap Dannis jengah, pria ini bahkan sudah mengepalkan tangannya geram.
"Bukan urusanmu Reno, pergilah sebelum kesabaranku habis", jawab Dannis tajam.
Namun Reno tidak mengindahkan ucapan saudaranya itu, ia tetap memegang erat kedua tangan Nara seakan enggan untuk melepasnya.
"Reno, aku mohon jangan bertengkar di sini.... kita bisa bicara lain waktu, ayo lepaskan tanganku", ucap Nara memohon.
Pria itu menggelengkan kepala mantap, berbeda dengan Dannis, ia mulai kehilangan akal menghadapi Reno terlebih saat matanya menangkap bagaimana tangan Reno menggenggam erat kedua tangan istrinya.
"Akan menjadi urusanku jika menyangkut Nara, gadis ini seharusnya menjadi istriku bukan budakmu".
"Kenapa tidak kau nikahi dia? kenapa dia bisa menikah denganku?", Dannis sudah benar-benar kesal.
"Dengan senang hati Dannis, ceraikan dia sekarang juga, tentu mudah bagimu bukankah dia hanya kau anggap pelayan saja? ayo lakukan aku ingin mendengarnya, saat kau mengatakannya maka saat itu juga akan ku bawa Nara pergi dari rumah ini", tantang Reno tanpa takut.
"Reno?", ucap Nara dengan mata berkaca-kaca, ia tidak menyangka Reno bisa berkata seperti itu terlebih tentang sesuatu yang sakral.
Dannis pun tercengang mendengar kata cerai dari mulut saudara jauhnya itu, kata yang mungkin belum terpikirkan olehnya sejauh pernikahan ini.
Giginya gemertak geram, sungguh Dannis marah mendengar kata-kata menohok Reno.
__ADS_1
Tanpa berpikir panjang, Dannis menarik kasar kerah kemeja Reno hingga pegangan tangan antara Reno dan Nara pun terlepas.
"Kurang ajar kau", Dannis tidak segan memukul rahang Reno.
"Tuan", ucap Nara terkejut, ia tidak mengira mereka akan saling memukul, tentu Nara menahan tubuh Reno yang hampir terhuyung karena pria itu berada di dekatnya.
Melihat itu Dannis bertambah kesal.
Reno meraba rahangnya sambil terkekeh, lalu ia menatap Dannis tanpa takut.
"Kenapa memukulku? apa ada yang salah dari perkataan ku? apa kau tersinggung hei saudaraku? aku benar bukan? gadis ini hanya pelayan mu saja, sudah seharusnya kau melepas Nara dari ikatan itu, lebih baik dia benar bekerja sebagai pelayan dalam arti sesungguhnya daripada menjadi pelayan namun berkedok istri yang tidak pernah bisa kau menerimanya".
"Aku mengenalmu Dannis, kau hanya mencintai satu wanita saja yaitu Naya, lantas apa sulitnya melepas Nara? atauuuuuu.....", Reno memberi jeda dengan mengambil napas dalam lalu ia melanjutkan.
"Atau kau ingin mengatakan padaku bahwa kau mulai ada rasa pada gadis ini? tidakkah itu terlalu serakah? mencintai Naya namun tidak ingin melepaskan Nara", ucap Reno yang lagi-lagi mampu membungkam Dannis.
"Berhenti mencampuri urusanku, aku bukan meminta pendapat mu, terserah padaku ingin ku apakan gadis ini dia milikku sudah menjadi istriku, menjadikannya budak atau tidak itu bukan urusanmu", bantah Dannis tajam.
Nara hanya diam sejak tadi, ia bingung namun sungguh ia terluka diperdebatkan dua orang pria yang tidak menghargainya saat ini.
"Aku mencintai Nara, aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk kau sekalipun kau suaminya Dannis, aku tidak takut padamu".
Dannis ingin memukul Reno lagi namun urung saat mama El memekik dari jauh.
"Dannis, apa yang kau lakukan?", mama El berlari menuju mereka.
Orang tua Dannis baru saja pulang dan terkejut melihat pertengkaran di ambang pintu rumahnya.
Dannis yang semula mengepalkan tinju sekarang urung karena kedatangan orangtuanya.
"Sayang jangan bertengkar, ayo masuk dulu nak Reno kita bisa bicara di dalam, bibi sudah mengira jika kalian bertemu pasti akan seperti ini", ucap mama El menenangkan keduanya, perempuan yang menjadi ibu dari Dannis itu mengerti perasaan Reno yang tidak lama ini mengetahui pernikahan gadis yang ia cintai itu.
Papa Kemal mengusap punggung putranya agar menurunkan emosi yang tampak jelas di wajah Dannis.
"Tidak perlu bi, aku sudah selesai. Sebenarnya aku kemari ingin memberikan oleh-oleh titipan bunda ku untuk bibi, tapi aku tidak sengaja bertemu dengan Dannis yang pengecut ini hingga aku benar-benar muak olehnya", ucap Reno yang terdengar ambigu oleh mama El begitu pun papa Kemal.
"Pengecut? apa maksudmu Reno?", tanya papa Kemal menatap Dannis penuh tanya.
Nara menggeleng saat Reno menatapnya, seakan memberi kode agar pria itu tutup mulut.
"Aku rasa paman bisa menanyakannya langsung pada putra paman ini, aku rasa dia punya banyak hal yang harus diberi tahu pada kalian tentang apa yang telah dia lakukan pada istrinya", ucap Reno melirik Dannis penuh arti.
Kata-kata Reno mampu membuat mama El dan papa Kemal beralih menatap Dannis seakan mencari jawaban.
__ADS_1
Tanpa menunggu tanggapan mereka, Reno kembali pamit dan segera berlalu dari sana setelah menatap wajah Nara sekilas.