
Nara menutup mulutnya ketika masuk kamar yang telah menunggu paman dan bibinya di sana dengan kue dan balon berwarna biru muda menghiasi kemeriahan kejutan ulang tahun Nara yang ke dua puluh tahun, selain paman Harun dan bibi Tina semua pelayan pun dihadirkan di sana.
Nara meneteskan airmata, ia tidak pernah mengharap yang lebih dari hidupnya, hidup terarah dan ada tempat bernaung saja sudah membuatnya sangat bersyukur, tidak pernah meminta lebih meski paman Harun adalah paman kandungnya sendiri.
"Selamat ulang tahun sayang", ucap paman Harun dan bibi Tina berbarengan.
Nara meniup lilin setelah berdoa terlebih dahulu, ia tersenyum lebar menatap satu persatu wajah para pelayan yang begitu menghormatinya.
Perempuan cantik yang masih berstatus sebagai istri orang ini tidak menyangka mendapat kejutan di saat ia begitu lelah dari kuliah yang memaksanya berpikir dan belajar lebih keras karena tentu tidak mudah bagi Nara yang kuliah mendadak seperti sekarang yang bahkan ia tidak pernah membayangkan sebelumnya.
Paman Harun memberi sebuah kotak kado, Nara menerimanya dengan bahagia.
"Bukalah.... paman harap itu akan mengobati rasa rindu mu", ucap paman Harun penuh arti.
"Ayo buka, bibi penasaran apa isinya", sahut bibi Tina pura-pura tidak tahu.
Nara mengangguk, tangan cantiknya membuka perlahan kotak kado tersebut, dahinya berkerut menatap heran tentang isi nya.
Sebuah sertifikat terlihat dari bagian luarnya, Nara beralih menatap paman Harun, pria itu mengangguk tidak melepas senyum.
Nara membuka dan membacanya dengan teliti, kembali ia menutup mulutnya lagi karena begitu terkejut.
"Paman? apa ini rumah orangtuaku?", tanya Nara yang sudah menangis.
Paman Harun mengangguk, bibi Tina mengusap pundak keponakan suaminya dengan haru.
"Bagaimana bisa?".
"Rumah itu berharga untukmu Nara, kenangan masa kecil dimana ibumu masih ada, paman ingin rumah itu selalu ada untukmu".
__ADS_1
"Paman", rengek Nara manja, ia berhambur dalam pelukan kakak kandung ibunya itu.
"Apa paman membelinya lagi dari orang itu? memangnya mereka mau menjualnya lagi?".
"Tentu saja mau jika harganya lebih tinggi", jawab paman Harun enteng.
"Siapa yang akan menolak sayang, jika pamanmu membelinya dengan harga tiga kali rumah itu", sahut bibi Tina terkekeh.
"Ayahmu tidak memiliki apapun ketika menikahi adikku, semua harta adalah pemberian orangtua kami, paman sangat kecewa mendengar bahwa ayahmu tidak memperlakukan kau dengan baik disaat adikku sudah tiada".
"Aku sudah melupakannya paman, aku sangat bersyukur bisa bertemu paman lagi, itu sudah sangat cukup bagiku, aku tidak meminta lebih dari ini", ucap Nara sedih.
"Rumah itu punyamu sekarang, kau bebas kapanpun kau mau berkunjung ke sana tentu jika kuliah mu tidak terganggu, kau bisa pergi setiap akhir pekan jika merindukan pulang ke sana", tawar paman Harun.
"Benarkah? apa aku boleh ke sana akhir pekan ini?", tanya Nara berbinar.
Paman dan bibinya mengangguk semangat.
"Aku bukan anak kecil paman, aku bisa sendiri naik bus ke sana".
"Tidak tidak, kau bisa di antar sopir dan pengawalmu".
"Paman ayolah, aku malu dikawal hanya untuk ke desa, nanti orang mengira aku sedang pamer menjadi orang kaya dadakan, lagi pula tidak ada orang jahat di desa, mereka mengenal ku paman".
"Nara, bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? di bus juga sering terjadi kejahatan", bibi Tina menimpali.
"Bibi dan paman percaya padaku, aku sudah terbiasa naik bus ke sana, aku tidak nyaman pergi bersama dua bodyguard itu mereka lelaki terlebih akan memakan waktu berjam-jam lamanya perjalanan, lain halnya dengan kuliah yang tidak terlepas dari keramaian", rengek Nara lagi.
"Baiklah, kau sudah dewasa sayang kau tahu yang terbaik untukmu segera hubungi paman atau bibi jika kau kesulitan".
__ADS_1
Nara tersenyum mendengarnya, betapa ia tidak sabar menunggu hari esok dimana ia akan kembali memasuki rumah yang telah lama ia rindukan itu.
*****
Pagi menjelang, membangunkan dua insan berbeda tempat namun di waktu yang sama.
Nara dan Dannis sama-sama bangun dari tempat tidur, melakukan ritual mandi yang menenangkan bagi Nara, namun berbeda dengan Dannis, pria itu mandi dengan perasaan terus mendamba pertemuan yang sangat ia harapkan hampir tiga bulan mereka terpisah.
Maju mundur semangatnya dalam menanti Nara hadir dalam kenyataan bahwa di persimpangan dua desa itu pula mereka akan bertemu lagi, Dannis yakin Nara berada di desa sebab ia menurunkan dan berpisah di sana, jika Nara tidak di desa lalu kemana dia, begitu lah pikiran Dannis yang selalu memilih optimis untuk tetap menunggu di persimpangan bahkan setiap hari sejak ia sembuh dari sakit nya ketika itu.
Nara berulang kali memeriksa tasnya untuk memastikan bahwa kunci rumah telah ia masukkan di dalam tas, perempuan ini juga menyiapkan payung kecil di tas yang sama karena cuaca di musim penghujan tentunya, berniat menginap sampai hari minggu untuk membereskan dan menata ulang rumah masa kecilnya itu setelah makan siang nanti.
Nara yang telah diantarkan oleh sopirnya menuju terminal, perempuan ini menaiki bus jurusan desa tempat kelahirannya itu dengan santai karena telah terbiasa.
Memulai perjalanan dengan mata mengantuk karena telah kenyang makan siang, Nara yang duduk di tengah itu pun mulai memejamkan matanya karena ia tahu perjalanan baru akan di mulai yang memakan waktu hingga lima jam itu artinya Nara akan sampai pada sore harinya.
Dannis yang telah sampai siang itu pun kembali harus kecewa bahwa Nara nya belum juga menampakkan diri di sana.
Dannis bersandar di kursi kemudinya, memejamkan mata dengan perasaan sakit tak kasat mata.
"Haruskah aku menyerah sekarang? ini sudah hampir tiga bulan Nara, kemana kau sebenarnya jika bukan di sini? kita suami istri mana boleh berpisah selama ini, aku merindukanmu istriku".
"Kembalilah padaku, kembalilah Khinara.... aku menantimu, mendamba mu, mencintai mu, kau boleh marah dan memukul ku tapi kau tidak boleh pergi lagi, tidak boleh... kau milikku, akan selalu menjadi milikku".
"Alea benar, cinta setelah menikah itu berbeda aku merasakannya sekarang. Tidak pernah sedalam ini, bahkan tidak dengan Naya sekalipun"
Mata Dannis tetap tertuju pada jalan raya tempat dimana ia menurunkan Nara dan berpisah di sana, mata lelah selelah penantiannya.
__ADS_1
#####
Bertaruh rindu si Dannis.