
"Kami akan pindah", ucap Dannis tiba-tiba disela makan malam keluarga.
Mama El menatap putranya.
"Sayang apa yang kau katakan? pindah kenapa mendadak?".
"Aku sudah memikirkannya ma, aku rasa kami perlu privasi", jawab Dannis melirik Sheira di sampingnya.
Papa Kemal mengangguk, "Papa setuju, ayolah sayang Dannis dan Nara memang butuh beradaptasi satu sama lain, akan lebih baik jika mereka berdua saja, mungkin saja mereka tidak nyaman dan malu ingin berduaan di depan kita, terlebih Syasya dan Baim masih kecil", ucap papa Kemal pada mama El.
"Papa.... aku sudah dewasa", rengek Syasya kesal.
"Iya jika kau dewasa itu artinya papa sudah semakin tua", canda papa Kemal mengusap kepala gadis yang duduk di sebelahnya.
Syasya memajukan bibirnya, sedang Baim hanya diam seribu bahasa.
"Aku juga setuju ma, bukankah kakak dan Nara harus lebih banyak waktu untuk berdua, itu akan lebih baik untuk segera menghadirkan anggota baru keluarga kita, Nara orang yang pemalu lihat saja dia lebih suka mengurung diri di kamar", Sheira ikut menanggapi dengan semangat.
Dannis kesal mendengar pendapat adiknya itu, selain diam Dannis bisa apa untuk tidak menyanggah keluarganya.
"Kakak.... mana kak Nara? kita semua sudah berkumpul, aku sudah lapar...", tanya Syasya.
"Dia tidak ikut makan", jawa Dannis singkat.
"Kenapa? apa istrimu sakit Dannis?", tanya mama El heran.
"Tidak.... dia sudah tidur", jawab Dannis lagi.
"Tidur? jam makan malam seperti ini mana bisa tidur, biar aku yang memanggilnya", tawar Sheira yang akan berdiri dari duduknya namun Dannis mencegahnya cepat.
"Tidak perlu, jangan ganggu dia apa kau tidak percaya dia sudah tidur?".
"Sudahlah, mungkin saja kak Nara kelelahan lagi, memangnya apa yang kalian lakukan hingga kak Nara selalu kelelahan sejak menikah, dia bahkan jarang keluar kamar", ucap Syasya menatap Dannis penuh tanya.
Membuat semua orang ingin tertawa akan pertanyaan dari gadis itu, kecuali Baim yang melirik Syasya dengan tajam, namun dibalas dengan menyengir kuda oleh Syasya yang akhirnya memberi isyarat akan menutup mulutnya.
Dannis terdiam, wajahnya mendadak merasa panas dan merasa malu akan pertanyaan adik perempuan terakhirnya itu.
"Ini belum waktunya untuk tidur Dannis, tapi adalah waktu makan malam, jangan biarkan istrimu tidur dalam keadaan lapar", sela mama El lagi mengalihkan suasana canggung akibat pertanyaan Syasya tadi.
Dannis kembali terdiam, pada kenyataannya Dannis lah yang tidak memperbolehkan Nara keluar kamar tentu saja karena luka di bibir Nara yang akan menimbulkan banyak pertanyaan bagi siapa yang melihatnya.
"Nanti biar aku saja yang membawa makan malam untuknya, ayolah jangan menatap ku seperti itu, kita bisa makan sekarang bukan?", ucap Dannis ingin segera mengakhiri percakapan itu.
"Oh so sweet nya pengantin baru", sela Sheira seraya menggoda kakaknya.
Dannis melirik Sheira kesal.
"Hummm sudah sudah, ayo kita makan.... kita bicarakan nanti tentang rencana mu ingin pindah kemana Dannis", ucap papa Kemal.
__ADS_1
Dannis mengangguk.
Benar saja setelah mereka menyelesaikan makan malam, mama El menyiapkan sepiring nasi beserta lauk pauknya di atas nampan agar Dannis mudah membawa makan malam istrinya.
Tidak ada cara lain selain membawa nampan itu dan kembali ke kamar.
"Ini makanlah", ucap Dannis datar ketika tangannya meletakkan nampan berisi menu makan malam itu di atas meja yang Nara sedang berbaring di sofa.
Nara terkejut, segera ia mendudukkan dirinya seraya menunduk.
"Terimakasih", jawab Nara singkat dan pelan.
Dannis tidak sengaja menatap bibir Nara yang masih terlihat bengkak dan berbekas luka di sana.
"Maaf".
"Apa?", tanya Nara yang merasa Dannis mengatakan sesuatu.
"Apa? aku tidak mengatakan apa-apa", elak Dannis seraya berjalan ke arah ranjang namun segera berbalik badan kembali menatap Nara.
"Kau bisa mengemas pakaianmu, besok kita pindah dari rumah ini".
"Apa? pindah?", tanya Nara heran.
"Aku rasa kau belum tuli, iya kita pindah dari sini.... aku tidak ingin orangtua dan adik-adikku tahu tentang kita yang sebenarnya", jawab Dannis dengan suara jelas.
Nara mengangguk saja.
"Memangnya kita pindah kemana?".
"Ke rumah tua, biar kau ku kurung bersama para hantu di sana".
"Tuan, jangan bercanda".
"Memangnya aku terlihat sedang bercanda?", Dannis mulai kesal.
"Baiklah terserah tuan saja.... apa aku boleh makan sekarang?".
"Tidak.... kau tidak boleh makan, kau hanya boleh menatapnya saja".
"Kenapa kau begitu kejam tuan Dannis, kau membawa makanan ini untuk ku tatap saja, padahal aku sangat lapar".
"Kau ini bodoh atau apa? kau begitu menyebalkan, tentu saja untuk dimakan bodoh kenapa bertanya lagi".
"Baiklah, jangan marah", ucap Nara pelan sambil duduk sempurna menghadap nampan berisi makan malamnya.
Dannis memalingkan wajah dari istrinya itu kembali ke ranjang, baru beberapa langkah terdengar Nara memanggilnya lagi.
"Tuan".
__ADS_1
"Apa lagi? diam dan makanlah jangan membuatku berubah pikiran", sergah Dannis dengan nada marah.
"Aku hanya ingin berterimakasih, memangnya apa yang akan kau lakukan jika berubah pikiran?".
"Kau membuatku kesal", Dannis berjalan cepat menghampiri Nara yang sudah fokus pada makanan di hadapannya.
"Kau tidak boleh makan", ucap Dannis seraya tangannya menarik nampan.
"Apa?", Nara terkejut jika Dannis telah berada di dekatnya, tentu saja gadis itu juga mempertahankan nampan itu dengan kuat.
"Aku lapar tuan, bukankah kau bilang ini makan malam ku".
"Tidak jadi...", jawab Dannis menatap Nara dengan menaikkan alis matanya menantang.
"Kenapa begitu? ini makanan ku", Nara kembali menarik nampannya hingga gelas yang berada di atasnya ikut bergoyang seperti ingin tumpah.
Mereka saling tarik menarik nampan hingga gelas minum itu menumpahkan airnya ke dalam nasi.
"Tuan kau merusak makan malamku", ucap Nara kesal.
"Sudah ku bilang kau tidak boleh makan".
"Mamaaaaaaa", pekik Nara spontan.
Dannis tergagap karena suara itu.
Pria itu melepaskan nampan, namun tangannya beralih pada Nara, iya pria itu segera membekap mulut Nara.
Gadis itu tentu saja ikut melepaskan nampan yang dipegangnya lalu tangannya sekuat tenaga ingin melepas tangan besar Dannis yang menutup mulutnya meski sia-sia.
"Beraninya kau berteriak", sergah Dannis tajam.
Nara meronta-ronta ingin dilepaskan namun tidak berhasil hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan benar saja mereka sama-sama jatuh ke sofa dengan tangan Dannis masih membekap kuat mulut gadis itu namun tubuh besar itu tentu saja menindih tubuh mungil istri nya.
Kedua netra mereka bertemu, hidung mancung keduanya pun hampir bersentuhan, entah degup jantung siapa diantara mereka yang terasa getarannya hingga kepermukaan, Dannis menelan ludah dibuat tatapan mata indah yang ingin sekali ia menyangkalnya.
Hening.
"Nara... sayang ada apa kau berteriak?", mama El segera berpaling dari apa yang baru saja ia saksikan.
"Mama?", hanya suara Dannis yang terdengar tergagap, segera pria itu melepaskan istrinya lalu berdiri dari sofa.
"Maaf mama hanya mengira Nara sedang kesulitan karena berteriak tadi, kebetulan mama melewati kamar kalian, baiklah... anggap saja mama tidak masuk".
"Lanjutkan saja, mama hanya reflek saja ketika mendengar terikan istrimu", ucap mama El lagi merasa malu sendiri.
Perempuan paruh baya itu merutuki sikapnya yang main masuk kamar Dannis tanpa mengetuk pintu dahulu, tentu saja karena ia sudah terbiasa ketika Dannis masih bujangan.
Mama El mengurut dada ketika menutup kembali pintu kamar Dannis.
__ADS_1
"Huh kenapa aku lupa? mereka pengantin baru".