Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
S3 bagian 95


__ADS_3

Dannis tersenyum saat melirik Nara yang tertidur di sampingnya, mobil mereka telah sampai kota hampir senja.


Dannis berniat akan langsung membawa Nara ke rumah orangtuanya untuk memberitahu bahwa ia telah bertemu istrinya dan lebih membahagiakan lagi adalah Nara telah menerima Dannis kembali memaafkan pria itu dan meneruskan pernikahan mereka.


Nara menggeliat, perlahan ia membuka mata saat tangan besar Dannis membelai wajahnya.


"Apa kita sudah sampai?", tanya Nara mengusap matanya seraya mengumpulkan nyawa.


"Belum, tidak lama lagi akan sampai lanjutkan tidurmu sayang", jawab Dannis sambil kembali menyetir dengan fokus.


Nara menggeleng, "Aku sudah tidak mengantuk", jawab Nara yang melihat ke luar jendela mobil di mana matanya menangkap jalan utama yang sedikit sepi pengendara yang berlalu lalang.


Nara melirik Dannis dengan senyum saat pria itu meraih tangannya dan mengecupnya beberapa kali.


"Aku mencintaimu Khinara Aldaniah", ucap Dannis dengan nada santai.


"Sepertinya kau sangat hafal nama panjangku", jawab Nara tersenyum.


"Tentu aku mengingat nama istriku dengan baik", Dannis mengusap kepala Nara dengan gemas.


Kemudian ia kembali fokus ke jalan namun tidak lama ia terpaksa berhenti mendadak karena sebuah mobil menghalangi jalannya dengan sengaja melintang di depan, tidak lama satu mobil lain pun berhenti tepat di belakang mereka.


Senyum Nara memudar saat menyadari mobil siapa yang telah menghadangi mereka saat ini.


"Tunggulah di sini, sepertinya mereka mencari perkara denganku", ucap Dannis geram.


Nara menelan ludah dan menghela napas panjang dibuatnya.


Dannis keluar mobil dengan kesal, disusul oleh istrinya dengan segera.


"Tuan Harun kau, aku kira siapa, maaf apa ada masalah dengan mobil kita? kenapa menghalangi jalanku?", tanya Dannis sopan saat melihat siapa yang keluar dari mobil yang menghadangnya.


Nara terdiam saat hendak bersuara ketika melihat raut dingin pamannya.


"Paman", ucap Nara gugup.


Dannis menoleh pada Nara, seketika pria itu menyadari bahwa pria paruh baya yang telah lama ia kenal sebagai rekan bisnisnya di luar negeri itu adalah Harun paman sang istri.


Dannis menatap paman Harun dengan senyum, ia melangkah maju hendak mengambil tangan pria yang sebaya dengan ayahnya itu untuk ia salami berniat mengenalkan diri sebagai suami Nara.


Namun urung saat paman Harun lebih dulu bicara pada istrinya.


"Paman tidak akan bertanya sesuatu padamu di jalan seperti ini Nara, masuk mobil ayo pulang", ucap paman Harun dengan nada tajam.

__ADS_1


Nara menjadi ciut, tak berbeda dengan Dannis, ia menatap paman Harun dengan penuh tanya.


"Tuan Harun, aku suaminya Nara.... kita bisa bicara baik-baik soal kami, maksudku dia istriku, tentu akan pulang bersamaku", bantah Dannis.


"Aku tidak akan membiarkan keponakan ku bersama lelaki yang tidak baik apapun alasannya", jawab paman Harun.


"Paman", cicit Nara takut.


"Masuk sekarang, apa kau sudah mulai goyah hanya karena sebuah rayuan? kau bahkan membohongi pamanmu".


"Tidak, paman kami bisa menjelaskannya", jawab Nara mendekat ke arah Dannis.


"Kita bisa bicara di rumah, masuk sekarang!", perintah paman Harun dengan tegas.


Nara menelan ludah, "Baik paman".


Nara segera berjalan ke arah mobil pamannya seraya melirik Dannis dengan menggelengkan kepala seolah memberi kode untuk tidak melawan.


"Sayang", panggil Dannis.


"Aku tidak akan berbasa basi, teruskan hidupmu jangan ganggu apalagi menyakiti lagi keponakan ku, lanjutkan perceraian kalian karena aku tidak akan memaafkan mu sebagai mana kau tidak pernah menerima Nara di masa lalu", ucap paman Harun dengan marah namun tetap tenang.


"Tuan Harun, kita bisa bicara baik-baik, aku mengaku salah namun tidak seperti ini juga, dia istriku kami tidak akan bercerai, tidak akan pernah, percaya padaku kami akan memulai hubungan ini dengan baik sekarang, aku mencintainya".


"Ucapkan itu dalam mimpi mu nak", paman Harun seraya berjalan meninggalkan Dannis masuk mobilnya lagi.


"Lepaskan aku, dia istriku tidak ada yang boleh mengambilnya dariku", teriak Dannis ingin melepaskan diri berniat mengejar mobil paman Harun yang telah berjalan meninggalkan Dannis.


Namun sia-sia karena tubuhnya dikunci oleh dua lelaki bertubuh kekar itu.


Kedua orang itu langsung melepaskan Dannis saat mobil yang membawa bos mereka telah menghilang dari pandangan.


Dannis menatap mereka dengan kesal.


"Menjauh dariku", ucap Dannis kesal seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


******


Paman Harun hanya diam saja selama perjalanan yang membawa mereka pulang.


"Paman, aku mohon kita bisa bicara baik-baik... aku dan Dannis, kami...", ucapan Nara di sela cepat oleh paman Harun.


"Jangan ulangi lagi seperti ini, jika kau tidak ingin mengecewakan paman, kau ku sayangi layak putri kandung ku, aku tidak menerima maaf dari pria yang sudah menyakiti mu".

__ADS_1


"Paman, kami tidak berpisah, ini hanya salah paham".


"Paman ingin yang terbaik untukmu, pria itu akan tetap sama akan tetap menyakitimu di masa depan, jangan bahas ini lagi lanjutkan hidupmu kuliah dengan benar, menikah dengan pria pilihan paman, biar urusan perceraian akan menjadi tugas paman".


Nara ingin bersuara lagi namun urung saat mendapat bantahan lewat tangan.


"Jangan buat paman kecewa, paman hanya tidak ingin mendiang ibumu sedih cukup saja nasib buruk menghampiri mu dimasa lalu, tidak akan paman biarkan itu juga menimpamu di masa depan, sekali dia bisa menyakitimu itu akan tetap terjadi seterusnya, kau tidak bisa menjamin bukan?".


"Paman".


"Jangan mudah percaya pada mulut lelaki, kau masih polos Nara.... kau mudah dibohongi, apa kau bisa menjamin Dannis benar-benar berubah?".


Perkataan paman Harun membuat Nara terdiam, ia sungguh tidak berpikir sejauh itu.


Dan Nara kembali goyah, ia membenarkan alasan paman Harun, hati dan otaknya mulai berpikir keras tentang kesungguhan Dannis, ia membenarkan pula bahwa ia terlalu cepat percaya hanya dengan rayuan kata cinta dari pria itu.


Kata cinta yang bisa juga adalah bagian dari drama hidup Dannis, otaknya kembali berputar mengingat betapa Dannis mencintai Naya dalam hidupnya meski perempuan itu telah tiada sekalipun, mengingat jelas bahwa Dannis pernah mengatakan bahwa ia tidak bisa membalas perasaan Nara ketika itu.


Dada Nara mulai terasa sesak, ia menjadi sulit bernapas ketika mulai berpikir bahwa Dannis bisa saja hanya sedang bermain-main dengan kata cinta yang terlalu tiba-tiba baginya.


"Mungkin paman benar.... aku terlalu cepat percaya".


"Untuk itulah paman ada untuk mu, kau masih harus banyak belajar tentang kehidupan Nara, jangan mudah ditipu oleh hal yang membahagiakan sekalipun".


Nara menatap paman Harun dengan berkaca-kaca.


"Ingin liburan?", tanya paman Harun dengan senyum, pria itu telah kembali pada wajahnya yang biasa, ramah dan menyenangkan.


Nara memajukan bibirnya ke depan.


"Paman, maafkan aku" , rengek Nara memeluk pamannya.


"Paman mengerti, tenanglah paman tidak marah padamu, ada pria yang jauh lebih baik darinya, kalian akan bertemu tidak akan lama lagi", jawab paman Harun mengusap kepala Nara dengan sayang.


Nara terdiam, ia ingin membantah namun tidak berani.


"Liburan ke pulau jeju? Hidrangea mekar sempurna bulan ini".


Nara mengernyitkan dahi heran.


"Di mana itu?".


"Oh paman lupa kau tidak pernah ke luar negeri", jawab paman Harun terkekeh.

__ADS_1


"Paman mengejek ku?".


"Kita akan trip ke pulau Jeju akhir bulan, itu pilihan bibi mu".


__ADS_2