Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Jangan Percaya


__ADS_3

...Selamat membaca 🌹...


...â¤ī¸â¤ī¸â¤ī¸...


Karin sampai di rumah dan disambut oleh mama Herna yang tampak panik.


"Rina,, Kamu dari mana saja?? Mama cari cari kamu lho. Si mbak bilang kamu perginya gak pamitan. Papa juga sampai bingung cari kamu. Kamu itu tanggung jawab kami selama Dion gak ada di rumah sayang. Ayo coba bilang sama mama,,, Kamu dari mana??"


Mama Herna cemas bukan main saat tidak bisa menemukan Karin di kamarnya malam malam begini. Mama Herna hendak membawakan susu untuk Karin tadinya tapi malah menantunya itu tidak ada.


"Karin dari rumah sakit saja kok ma." jawab Karin dengan nada baik baik saja.


"Rumah sakit??" mama Herna tidak percaya.


Ya siapa juga yang percaya menantunya yang biasanya manja jalan saja sudah susah dan biasanya hanya di rumah saja tiba tiba keluar sendiri malam malam ke rumah sakit.


"Iya ma. Rumah sakit. Karin cuma bawakan makan malam untuk om papa saja." Karin menegaskan dan masih menggunakan kata om papa di depan mama Herna meski saat bersama Dion tadi ia tak menggunakan panggilan itu.


Menurut Karin kekecewaanya atau apa pun masalah rumah tangganya saat ini adalah rahasianya dan Dion saja. Mama Herna tak perlu tau dulu meski mungkin mertuanya itu sudah duluan tau.


"Kan bisa suruh Dion pesan makanan saja Rina. Kamu lagi hamil besar begini malah ambil resiko di jalan. Kalau terjadi apa apa di jalan bagaimana? Bukan hanya harus pikirkan keselamatanmu tapi juga keselamatan cucu mama dong sayang."


"Iya ma. Karin gak akan ulangi lagi hal seperti itu." janji Karin.


"Ya sudah. Mama buatkan susu dulu ya untukmu. Susu yang tadi sudah keburu dingin." mama Herna tersenyum.


"Ma,,, Sebenarnya Karin sedang gak ingin minum atau makan apa pun. Karin kenyang ma."


"Mana boleh seperti itu. Kamu gak boleh hanya memikirkan energimu saja tapi cucu mama juga butuh asupan gizi. Pokoknya mama buatkan susu dan kamu harus minum." mama Herna tak menerima alasan apa pun lagi.


Sekilas sikap dan perkataan mama Herna tak menunjukkan tanda tanda bahwa beliau akan setuju atau membenarkan apa yang terjadi di rumah sakit tadi antara Dion dan Hana.


Mama Herna masih tetap memikirkan keselamatannya dan bayinya. Tetap memperhitungkan kesehatannya dan bayinya. Tidak mungkin rasanya wanita yang selalu memikirkan hal baik untuknya itu akan tega melakukan hal buruk juga padanya.

__ADS_1


Tapi entahlah kenapa hati Karin tak merasa selega itu di dekat mama mertuanya itu. Perasaan Karin berkata lain namun Karin sendiri belum bisa menafsirkan apa yang dikatakan hatinya.


Intinya hanya jangan percaya saja.


"Ini susunya. Ayo minum dulu selagi hangat Rina." mama Herna datang dengan segelas susu.


Entah kenapa Karin enggan menerimanya. Ia takut sesuatu telah dibubuhkan dalam cairan putih itu. Mirip dengan sinetron atau drama rumah tangga yang menceritakan tentang mertua dan menantu di stasiun televisi berlogo ikan terbang.


"Rina,, kenapa?? Ayo diminum. Untuk tumbuh kembang calon cucu mama." perintah mama Herna lagi.


"Ya tuhan,, Apa sih yang ku pikirkan ini? Kenapa aku jadi parno dan berpikir macam macam pada mama?? Selama ini juga aku selalu meminum susu yang sama dari tangan beliau. Dan aku tetap baik baik saja. Sepertinya kejadian tadi membuat moodku benar benar kacau." batin Karin.


"Rin,, Kok malah ngelamun sih?" tegur mama Herna.


"Eh maaf ma." dengan cepat Karin menerima susu itu dan meneguknya sampai habis.


"Terima kasih ma." ucapnya sambil mengusap sedikit lelehan susu yang keluar di sudut bibirnya.


"Sudah ma. Sudah Karin berikan makan malamnya. Mama tenang saja. Dia gak akan terserang maag." ucap Karin.


"Bukan itu yang mau mama bahas." bantah mama Herna.


"Oh bukan ya. Lalu apa ma?"


"Kamu ketemu Hana juga kan pastinya? Bagaimana keadaannya?? Apa dia baik baik saja? Apa masih histeris seperti tadi siang? Mama cemas dan kasihan sekali padanya. Hamil tapi ditinggal meninggal suaminya. Kamu pasti kebayang kan bagaimana sedihnya?" Mama Herna mulai memancing reaksi Karin.


"Maaf ma. Karin tidak sesial itu harus sampai merasakan kehilangan suami saat hamil jadi Karin entah kenapa tidak bisa membayangkan rasa sedihnya." Karin tidak paham dari mana ia dapat ide bicara seperti itu.


Mama Herna tertegun dengan jawaban Karin. Ia heran kenapa bisa menantunya itu terkesan cuek dan masa bodoh dengan penderitaan wanita lain. Biasanya menantunya itu lemah lembut dan sensitif. Cepat bisa merasakan penderitaan orang lain.


"Ma,,Maaf ya. Karin lelah. Karin ke kamar dulu ya ma.Mau istirahat." pamit Karin menghindari obrolan tentang Hana dengan Mama Herna.


"Mama kan belum selesai bicara Rina."

__ADS_1


"Iya ma tapi maaf,,Karin harus istirahat. Demi calon cucu mama juga kan? Katanya Karin harus istirahat cukup dan gak boleh capek capek kalau mau bayinya sehat sehat saja? Iya kan??" Karin membalikkan kata kata yang selalu dijadikan jurus ampuh mama Herna untuk memaksanya melakukan semua kegiatan yang bersangkutan dengan kesehatan cucunya.


"Ii,, Iya. Iya benar." Mama Herna jadi gelagapan sendiri.


"Selamat malam ma." Karin pamit menuju ke kamarnya sendiri.


Mama Herna tak menjawab dan masih tertegun dengan sikap menantunya itu. Sejak kapan wanita kecil itu bisa membalikkan perkataannya? Sejak kapan ia bisa membungkam dirinya? Mama Herna tak habis pikir.


Sesampainya di kamar,,,Karin pelan pelan merebahkan dirinya di ranjang besar yang malam ini hanya akan ditempatinya sendirian. Posisi miring adalah posisi paling


PW sejak perutnya makin membesar.


Dirasa sudah mendapat posisi nyaman,, pikiran Karin melayang layang. Pada maksud ucapan mama Herna tadi dan ke rumah sakit.


"Aku benar benar tidak boleh percaya pada mama. Bukan niat hati untuk berburuk sangka tapi aku tidak boleh lengah saja. Aku harus waspada. Demi anakku." Karin mengusap perutnya.


"Bagaimana dengan mbak Hana ya? Sehisteris apa memangnya dia sampai sampai mama segitunya cemas."


...🌹🌹🌹...


"Istri anda harus selalu didampingi pak Dion. Jangan sampai jiwanya mendapat tekanan. Kondisinya masih labil dan kami khawatir ibu Hana bisa berbuat sesuatu yang bisa mencelakakan bayi dalam kandungannya."


Ucapan dokter itu terus terngiang di telinga Dion. Ingin rasanya ia jawab masa bodoh dengan semua itu. Mau Hana nekad mau tidak,,, Terserah padanya.


Tapi Dion tidak bisa melakukan hal demikian. Ia masih tetap merasa bahwa Hana adalah tanggung jawabnya kini setelah apa yang terjadi.


"Dare,,, Gue butuh bantuan lo." tulis Dion dalam pesan singkatnya untuk sahabatnya.


...â¤ī¸â¤ī¸â¤ī¸...


...Kok belum ada lagi yang kasi Vote dan hadiah ya buat author?? Jadi syediihh author,,,đŸ˜­â˜šī¸...


Ayo dong kasih author dukungan dengan vote,like dan komen â¤ī¸đŸŒšđŸŒ¸

__ADS_1


__ADS_2