Bidadari Tak Bersayap

Bidadari Tak Bersayap
Dua Jiwa


__ADS_3

...Selamat membaca 🧁...


...🧁🧁🧁...


"Lancangnya Hana!!!" seru Dion.


"Selancang apa pun mbak Hana kalau hati om papa teguh, Karin tetap tidak gentar. Karin tetap yakin rumah tangga kita akan baik baik saja." Karin mengusap punggung Dion yang tengah emosi karena Hana mengatakan bahwa Karin sudah setuju.


"Tapi sayang,,, Kamu kan tidak pernah mengatakannya. Dia hanya menjebakmu di depan mama. Dia tau kamu tidak akan bisa mengecewakan mama makanya dia licik seperti itu."


Dion tidak terima istrinya diperlakukan begitu oleh Hana.


"Ya sudah yang penting om papa sudah tau saja. Karin harap setelah ini om papa bisa lebih bijak bersikap pada mbak Hana. Jangan lupa dia tetap tanggung jawab kita."


"Kita tidak bisa tinggal bersamanya." tegas Dion.


"Lalu dia tinggal dengan siapa? Mbak Hana tidak punya siapa siapa bukan? Dia juga sedang hamil muda sekarang. Dokter bilang masih rentan juga kehamilannya. Kalau sampai terjadi apa apa pada bayinya,,, yang ada mbak Hana akan kehilangan satu hal berharga lagi miliknya dan dia tidak akan sanggup untuk itu om papa. Tanggung jawab dalam bentuk bagaimana lagi yang bisa om papa berikan padanya jika itu sampai terjadi?"


Dion menatap mata istrinya. Dua bola mata yang isinya hanya ketulusan bahkan tulus memikirkan hal baik untuk orang yang tengah menyakitinya.


"Lagipula,,, Lihat ini." Karin menunjuk perutnya yang sudah terlihat turun.


"Baby D bisa sewaktu waktu lahir dan tidak mungkin bagi Karin tinggal terpisah dari mama dan papa. Siapa yang akan bantu Karin kalau sewaktu waktu Karin mau melahirkan? Iya kalau pas ada om papa,,,kalau tidak??" Karin memberikan bayangan dan kemungkinan buruk kalau mereka memutuskan tinggal terpisah saat ini.


Dion berpikir sejenak. Ucapan istrinya itu ada benarnya juga. Mengingat dirinya yang super sibuk juga. Bisa saja Dion mengambil cuti sepekan sebelum hari perkiraan lahirnya baby D tapi tetap saja untuk berjaga jaga siapa tau lahir lebih awal memang lebih baik jika ada papa dan mamanya menjaga Karin juga.


"Baiklah sayang om papa setuju. Tapi apa kamu yakin akan membiarkannya tinggal bersama kita sayang? Kamu siap sayang?" tanya Dion memastikan.


"Bukan Karin yang musti ditanya begitu tapi om papa sendiri. Yakin tidak akan tergoda?? Yakin akan siap menangkis semua jurus rayuannya??" tanya Karin.

__ADS_1


"Tentu saja yakin dan kuat." jawab Dion tegas.


"Yakin ya?? Pesona mantan itu kuat loh,,," Karin menggodanya.


"Lebih kuat dua bukit menantang ini."


Dion langsung mendekatkan diri dan membenamkan wajahnya di belahan bukit indah milik Karin yang makin kesini makin menjulang tinggi saja. Posisi berbaring menyamping begini membuat bulatan kenyal itu makin menantang mata saja.


Apalagi keduanya tengah berada di kamarnya dan Karin hanya mengenakan pakaian tidur tipisnya dengan potongan lebar di bagian depannya.


"Om papa,,,Nakal deh. Nanti kalau ada yang minta jatah bagaimana?? Sabar dong lagi sebentar saja baby D kan udah lahir." Karin mengingatkan.


Dion menarik kembali wajahnya dan tubuhnya dari Karin. Karin benar,,,akan lebih membahayakan kalau Joni berontak nantinya.


Mengalah sedikit lagi demi baby D. Dion melorotkan tubuhnya dan berhenti tepat di depan perut Karin.


"Mana bisa begitu!!!" protes sang calon mama.


"Kenapa tidak?? Sembilan bulan menahan itu berat loh,,, Lebih berat dari yang namanya rindu tau. Jadi sekalinya dibolehkan ya harus dipuas puasin dong."


"Hmm dasar papa ya baby D,,, Rakus."


Beberapa panggilan masuk dari Hana diabaikan oleh Dion malam itu. Dia tak mau meladeni wanita baik yang kini berubah licik itu. Meskipun Karin memintanya menjawab telepon itu tapi tetap diabaikannya.


"Memangnya dia mau berbuat apa lagi? Biarkan saja. Dia juga tidak akan senekad itu mengakhiri hidupnya. Kamu tenang saja sayang. Kita tidur sekarang. Besok dia akan datang dan mulai tinggal bersama kita kan? Jadi kita harus banyak istirahat biar kuat menghadapi segala trik yang dilakukannya besok."


"Iya om papa."


Dion menarik tubuh Karin yang sudah miring membelakanginya. Dipeluknya dua nyawa belahan hatinya itu dengan erat malam ini seakan tak akan pernah melepaskannya lagi.

__ADS_1


Dua jiwa berharga yang menjadi kekuatan dan alasannya untuknya terus berjuang membahagiakan keduanya. Dion tak akan bertindak bodoh lagi sampai kehilangan keduanya.


Terlalu berharga jika hanya dibandingkan dua jiwa lainnya yang salah satunya notabene bukan belahan jiwanya lagi. Mata Dion terbuka lebar bahwa Hana bukanlah wanita yang dulu dicintainya. Wanita itu sudah berubah banyak.


"Papa sayang kalian berdua." bisik Dion di telinga Karin sambil memeluk dan mengusap perut Karin.


"Jangan pernah melemah. Kuatlah untuk kami papa." Karin mengeratkan lingkaran tangan Dion ke tubuhnya.


Lalu keduanya sama sama memejamkan mata. Bersama sama mengarungi mimpi indah bersama calon putra yang sudah tinggal hitungan hari saja akan hadir menyapa.


Malam itu baik Dion dan Karin memutuskan untuk mengabaikan dulu hal tentang Hana. Mereka berdua tak ingin kebersamaannya hanya dihabiskan untuk membahas Hana dan Hana lagi.


Yang penting ada komitmen yang sama sama dijaga kuat. Komitmen untuk tetap setia pada pasangan dan menolak membagi hati bagi yang lain.


Hana kesal dan melempar ponselnya ke atas nakas.


"Dion mulai mengabaikanku. Awas saja kamu!! Yakin kamu akan bisa terus menjauhiku? Yakin kamu tidak akan jatuh dalam pesonaku lagi? Aku terlalu tau apa yang jadi kelemahanmu Dion. Aku terlalu pandai untuk tau hal apa saja yang bisa menyenangkanmu. Aku mendampingimu lebih lama dari wanita kecil penggoda itu."


Hana menarik bantalnya dan mulai merebahkan dirinya. Berusaha keras memejamkan matanya meski susah tak mau terpejam. Hana tak sabar menunggu esok pagi tiba. Dimana dia akan dibawa pulang dan mulai tinggal di rumah Dion.


Kemana pun itu,,,Mau di Singapura atau kembali ke Paris atau Jakarta atau mana pun itu. Hana akan tetap membayangi Dion. Kehamilannya itu menjadi senjata ampuh untuk menahan Dion dalam tanggung jawab.


Hana tersenyum sendiri membayangkan kemenangannya itu. Terbayang olehnya wajah Karin yang akan dipenuhi duka.


"Kamu memang tidak punya salah apa apa sebelumnya padaku Rin,, Tapi kamu terlalu berani menantangku.Jadi akan ku buktikan bahwa aku lebih punya peluang untuk menang. Bagaimana pun anakku akan punya papa."


...🧁🧁🧁...


...Hai hai,,, Kok part kemarin dikit yang komen ya? Kenapa sayang sayangku? Apa kurang seru? kurang greget? Tolong komen ya dan kasi tau author kurang bagaimana,,, 🙏😘...

__ADS_1


__ADS_2