
Alea mengerjapkan matanya yang sayu ketika tubuhnya terasa melayang, ia ingin berontak namun tidak bisa karena merasa sangat tidak berdaya, ia ingin lepas dari gendongan pria yang bukan suaminya.
Pada kenyataannya Imranlah yang datang lebih dulu dan membuka villa itu atas bantuan temannya Beni, segera pria ini mendobrak pintu kamar yang terkunci yang ia yakini Alea tengah berada disana dan benar saja ia mendapati seorang perempuan yang sudah lemah dan pucat meringkuk di atas ranjang di dalam kamar yang tampak seperti kamar pengantin bagi yang melihatnya.
Baru saja mereka keluar villa, tampak sebuah mobil yang ternyata papa Kemal dan istrinya segera mama Eliana mengejar Alea yang masih dalam gendongan Imran, mama El menangis melihat keadaan putrinya yang pucat pasi, papa Kemal segera mengambil alih putrinya dari gendongan pria itu.
"Berikan padaku" ucap papa Kemal mengambil tubuh Alea.
Imran hanya mengangguk dan memberikan Alea pada papa Kemal.
"Alea....hei sadarlah sayang ini papa" ucap papa Kemal menggendong putrinya menuju mobil mereka, mama El menyusul langkah suaminya dengan panik.
"Papa" jawab Alea mengerjapkan matanya kemudian ia kembali terpejam, sungguh ia merasa lega telah berada dalam pangkuan orangtuanya.
Mama Eliana terus menangis memangku tubuh putrinya dibangku penumpang, sedang papa Kemal mengemudi kencang menuju rumah sakit.
"Mama....mana suamiku?" tanya Alea lemah.
"Sayang tenanglah kita akan ke rumah sakit, kau akan baik-baik saja oke....jangan pikirkan yang lainnya dulu, bang Abrar akan menyusul" jawab mama El menenangkan Alea.
Mendengar nama Abrar disebut membuat emosi papa Kemal kembali ke permukaan.
"Jangan tanya suamimu, bahkan sekarang kita tidak tahu dia ada dimana, kenapa sampai orang lain yang menyelamatkanmu bukan dia" kesal papa Kemal.
"Sudahlah.....kita bisa bicarakan ini nanti, Abrar juga pasti tengah pusing mencarimu, bersyukur ada Imran yang tahu tentangmu karena dia memiliki villa disana juga dan dia mencurigai tingkah dokter yang menculikmu sayang, tenanglah nanti mama akan menghubungi suamimu oke"
Alea mengangguk pelan seraya memeluk mamanya kembali dengan erat, ia sungguh takut jika mengingat wajah dokter Bayu.
"Mama aku haus"
"Oh astaga.....mama lupa" ucap mama El yang segera mengambil botol air mineral dari tangan papa Kemal yang sigap mendengar keluhan putrinya.
Mama El memberikan Alea minum.
__ADS_1
"Sayang minumlah pelan-pelan" mama El melihat bagaimana Alea minum seperti sudah lama tidak bertemu air.
*****
Abrar dan Arkan menghembus napas kasar dan kembali frustasi ketika mereka sudah sampai pada sebuah villa kosong tiada berpenghuni yang Imran tunjukkan alamatnya.
Abrar mengusap wajahnya kasar dan menendang ban mobilnya geram, ia sungguh merasa bodoh percaya pada Imran yang jelas-jelas adalah pesaing bisnisnya sekarang, pria itu licik sudah tentu.
Kemudian tidak lama Arkan menerima panggilan dari mama Bella bahwa Alea telah dibawa ke rumah sakit oleh papa Kemal, dan mama Bella juga mengatakan bahwa pria lainlah yang telah menyelamatkan menantunya itu.
"Apa?" Abrar begitu terkejut ketika mendengar penjelasan Arkan.
"Shit.....awas kau Imran, sepertinya dia sengaja menjebakku disini" gumam Abrar kesal kemudian dengan cepat ia dan Arkan kembali masuk mobil menyusul ke rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh karena Imran menunjuk villa kosong yang cukup jauh dari kota yang memakan waktu hingga 2 jam menuju rumah sakit pusat kota, namun biar bagaimana pun Abrar lega bahwa istrinya telah selamat sekarang.
*******
Dokter Shopia yang tidak lain iparnya papa Kemal yang menangani Alea tentu saja karena keadaan Alea yang tengah mengandung.
"Bagaimana Alea Shopia?" tanya papa Kemal cepat.
Kemal mengepalkan tangannya kuat mendengar Alea tidak diberi makan dan minum selama dua hari lebih, namun ia baru saja mengetahui bahwa Alea ternyata juga mengandung bayi kembar seperti istrinya dulu.
Mama El masih menangis, ia ditenangkan oleh Shopia dan mama Bella tentunya, tidak di pungkiri semua orang disana merasa bahagia mendengar Alea hamil kembar dan keadaannya baik-baik saja, namun yang membuat papa Kemal merasa geram hingga sekarang Abrar pun belum muncul disana.
"El....tenanglah, Alea baik-baik saja sekarang" ucap bibi Shopia mengusap punggung iparnya dengan pelan.
Semua keluarga sudah diperbolehkan menjenguk Alea yang sudah di pindahkan ke ruang rawat terbaik di rumah sakit itu, mama Bella terus menghubungi anak-anaknya karena belum juga terlihat hingga sekarang, ia baru tahu bahwa Abrar dan Arkan tengah dalam perjalanan menuju kesana bahkan mereka sudah hampir keluar kota mengikuti petunjuk Imran tadi.
Abrar berlari masuk rumah sakit meninggalkan Arkan yang masih memarkirkan mobilnya.
Baru saja ingin masuk dan melihat istrinya, bertepatan dengan papa Kemal yang keluar dari kamar Alea bersama papa Ricko, melihat wajah menantunya kembali papa Kemal merasa emosi, ia mencengkram kerah baju Abrar kasar dan menatapnya tajam.
"Kemana saja kau Abrar? huh....aku sungguh kecewa padamu, kau bahkan tidak ikut menyelamatkan putriku, kemana kau hah? kenapa bisa pria lain yang mengetahui keadaan putriku?"
__ADS_1
Belum sempat Abrar menjawab papa Kemal melepaskan dan mendorong tubuh Abrar kasar.
"Pergi kau dari sini, jangan temui putriku sebelum dia sembuh dan tidak merasakan trauma lagi, aku sedang tidak ingin ribut enyahlah kau dari hadapanku Abrar....aku tidak mengizinkanmu menemui Alea, biar aku yang mengurusnya dia putriku, aku masih berbaik hati tidak membunuhmu sekarang karena aku menghargai orangtua mu yang merupakan sahabatku jika tidak sudah ku pastikan kau tidak melihat matahari lagi besok, bukankah sudah ku ingatkan sejak penculikan yang pertama, sepertinya kau mengabaikan ucapanku Abrar, kau tidak menjaga putriku dengan baik hingga hal ini terjadi lagi dan lebih mengecewakan ku kau bahkan baru datang sekarang, Alea baik-baik saja dia akan pulang ke rumah orangtuanya, jangan temui sampai Alea sembuh dan kau benar-benar menyadari hal ini Abrar, pergilah aku tidak ingin melihatmu disini" ucap papa Kemal dengan amarahnya.
"Papa.....dengarkan aku dulu, aku dijebak oleh Imran, dia menunjuk arah yang salah hingga aku tidak berada di tujuan yang tepat percaya padaku, aku mohon aku harus menemui istriku" jawab Abrar mencoba menjelaskan dengan mata berkaca-kaca.
"Itu urusanmu dengan Imran, aku sudah tidak peduli.....pergilah sebelum aku muak melihatmu, putriku biar menjadi urusanku.....jika saja putriku tidak sedang mengandung sudah ku pastikan kalian berpisah" jawab papa Kemal lagi.
"Papa aku mohon, ini hanya salah paham....aku harus melihat istriku pa aku mohon, papa boleh memukulku tapi jangan seperti ini....aku harus tahu keadaan istriku sekarang" Abrar kembali memohon namun papa Kemal menepisnya.
"Pergilah sebelum aku benar-benar kehilangan kesabaran Abrar" jawab papa Kemal dingin.
Papa Ricko merangkul Abrar menjauh.
"Tenanglah...mertuamu sedang marah saja saat ini, Alea dalam keadaan baik jangan memaksa atau kau sendiri yang menyesal nantinya jika papa mertuamu bisa saja lebih marah dari ini, kita harus mengerti dia sebagai orangtua yang sedang mengkhawatirkan anaknya"
"Tapi pa aku juga sudah berusaha menemukan istriku, aku tidak mengabaikannya....aku memang di jebak oleh Imran sialan itu, dia menunjuk arah yang salah" ucap Abrar menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Papa percaya padamu, tenanglah yang terpenting Alea dan kandungannya baik-baik saja sekarang, lebih baik kita urus dokter Bayu yang sudah berada di kantor polisi sambil menunggu amarah mertuamu reda"
Mereka duduk disebuah bangku tunggu, papa Ricko dan Arkan hanya bisa menenangkan Abrar saja, terlebih papa Ricko sudah paham akan sifat sahabatnya jika sedang marah, lebih baik mengalah dulu.
Namun Abrar tidak bisa diam saja, ia sungguh ingin menemui Alea dan melihat keadaan istrinya, wajahnya merah padam jika teringat wajah dokter Bayu dan Imran ketika di depan minimarket tadi pagi.
"Awas kau Imran....apa maksudmu dengan semua ini" gumam Abrar dalam hati sambil mengepalkan tangannya geram sambil matanya masih tertuju pada kamar vip tempat istrinya di rawat sekarang..
Abrar tidak bisa berbuat apa-apa selain mengalah, karena ia tidak ingin urusan dengan mertuanya tambah rumit dengan ia memaksa menemui Alea sekarang, ia sungguh ngeri jika ingat perkataan papa Kemal tentang pisah dari putrinya itu, tidak sungguh Abrar tidak menginginkan itu ia merasa beruntung setidaknya kehamilan sang istri menyelamatkannya hari ini meski belum bisa menemui perempuan yang menjadi sumber masalah semua yang terjadi.
####
untung ya bang Abrar ga langsung di pecat jadi menantu, ngeri ih sama papa mertua yang kadang ga nyadar dulu mama el aja sering di selamatin pak aras, aduhhh papa kemal suka lupa ingatan deh....
sabar bang abrar sabar, saran author mah temuin aja pas papanya ga ada ya kan hi hi hi.
__ADS_1
lanjut yaaaa